
Saat itu tampak dua orang pria sedang duduk berhadapan dan saling melemparkan tatapan satu sama lain dengan serius.
Kedua pria itu Jhon Smith dengan putranya Jacob Smith.
Setelah kembali dari New York, Jacob kembali kerumah orang tuanya tentu saja untuk menginterogasi ayahnya, Jacob sangat ingin tahu seperti apa perjalanan cinta ayahnya. Apakah sesial dirinya?
Samantha mendekati kedua pria itu dan meletakkan dua gelas kopi didepan mereka, Samantha melihat suami dan putranya secara bergantian, ada apa dengan mereka?
"Jacob ada apa denganmu?" Samantha mendekati putranya.
"Tidak ada apa-apa mom."
"Jacob, kau baru pergi ke New York dengan Alice bukan?"
"Yes."
"Apa kabarnya, aku sudah lama tidak melihatnya?" Samantha mulai memeluk putranya itu dari belakang.
"She is good mom."
"Hei kenapa kau tidak mengajaknya kemari? Aku kan ingin bertemu dengannya."
"Mom, nanti aku akan mengajaknya tapi bisa mommy tinggalkan kami sebentar?" pinta Jacob.
"Jacob sayang, kok kau mengusirku?" Samantha mulai menarik telinga putranya.
"Mom, ada hal serius yang ingin aku bicarakan dengan daddy."
Jhon mengangkat gelas kopinya dan menyeruputnya dengan santai, dia tidak tahu apa yang ingin putranya bicarakan padanya sedangkan Samantha melepaskan pelukannya dan melihat putranya.
"Apa itu? Apa mommy tidak boleh tahu?" Samantha jadi penasaran.
"No mom, ini pembicaraan antara kami saja."
"Wah, aku jadi tambah penasaran." Samantha merapikan rambut Jacob yang sedikit berantakan menggunakan jari tangannya.
"Baby, bukankah kau sedang memasak?" Jhon mulai membuka suaranya, dia juga panasaran apa yang ingin putranya bicarakan.
"ya."
"Jadi sana, nanti aku akan membantumu."
"Jhon awas kau ya!"
"Mom, please." Jacob mengangkat kepalanya dan menatap ibunya.
"Oke baiklah, kalian berdua menyebalkan." Samanta menciumi dahi putranya, setelah itu Samantha segera pergi meninggalkan kedua pria itu.
"Jadi boy, apa yang ingin kau bicarakan?" Jhon kembali menyeruput kopinya.
"Daddy, apa keluarga kita dikutuk?"
"Brrushh!!" kopi yang ada didalam mulut Jhon langsung tersembur keluar.
Jhon segera menarik selembar tisu untuk menyeka kopi yang menetes dari mulutnya tapi matanya melotot pada putranya.
"Boy, jangan asal bicara kau!jika kakekmu mendengar ini maka habislah kau dipukulinya dengan tongkatnya."
"Dad, aku tidak asal bicara karena aunty Silvia yang mengatakan hal ini padaku."
"Silvia asal bicara dan kau begitu bodoh mempercayai ucapannya."
"Aku juga tidak mau percaya dad, tapi kenyataan yang ada memaksaku mempercayai ucapan aunty Silvia."
Jacob menumpu wajahnya dengan sebelah tangannya, pria itu hanya melihat kopi yang terhidang didepannya tanpa menyentuhnya.
Sedangkan Jhon kembali menyeruput kopinya dengan santai.
"Sekarang aku jadi penasaran dosa apa yang telah kakek perbuat terhadap nenek?" ujarnya.
"Boy, kau benar-benar cari mati. Untung kakekmu tidak berada disini dan mendengarnya."
__ADS_1
"Dad." Jacob mengangkat kepalanya menatap ayahnya dengan serius.
"Hmm?" Jhon meraih sebuah majalah untuk membacanya.
"Bisa kau ceritakan padaku bagaimana perjalan cintamu dengan mommy?"
Jhon menurunkan majalahnya, memalingkan matanya dan melihat putranya yang tampak serius.
"Kau seperti ini hanya untuk mengetahui perjalan cintaku dengan mommy mu?"
"Tentu saja dad, aku penasaran apa kau sesial diriku?"
"Hei boy, apa maksudmu sial?"
Jacob melirik kearah ibunya yang tampak sibuk membuat makanan, sebelum Jacob kembali bertanya pria itu mulai mengangkat gelasnya dan menyeruput kopinya sedangkan Jhon masih menunggu jawaban dari putranya.
"Dad, apakah mommy adalah cinta pertamamu?"
"Bukan."
"Berapa mantan pacar daddy?"
"Hei, apa-apaan ini?"
"Daddy jawab saja!"
"Entahlah, aku malas menghitungnya."
"Oke, ternyata kita sesama playboy."
"Tentu saja karena kau putraku."
"Jadi, apa daddy selalu melakukan hal itu terhadap mantan pacar daddy?"
"Menurutmu?" Jhon hanya menatap putranya dengan tajam.
"Oke, aku simpulkan kita sama."
"Hei boy sebenarnya apa yang ingin kau ketahui?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Tentu saja, aku penasaran."
"Dengar baik-baik boy. Your mother is the most special woman in my life and I am the luckiest man to have married her."
"I know dad."
"So?"
"Apakah waktu kalian berpacaran kau juga melakukannya dengan mommy seperti kau melakukannya dengan mantan pacarmu?"
Saat mendengar pertanyaan putranya, Jhon berdehem pelan.apa yang putranya ingin tahu? Jangan-jangan putranya tidak jauh berbeda dengan dirinya.
Tapi jangan sampai putranya tahu jika dia selalu berakhir dikamar mandi jika tidak, mau ditaruh dimana mukanya, bahkan dia rela melakukan apapun waktu itu untuk mendapatkan istrinya.
"Kenapa? Apa kau selalu gagal dengan pacarmu?" tanyanya tanpa basa basi.
"Wah, apa daddy juga mengalami hal yang sama denganku?" Jacob melihat ayahnya itu penuh dengan semangat.
"Tidak!" jawab Jhon dengan cepat.
"Daddy tidak perlu berbohong." Jacob tidak percaya.
"Untuk apa aku menipumu boy, sebelum kami menikah kami sering melakukannya."
Jacob melirik kearah ayahnya itu, apa benar? Tapi dia tidak akan percaya dengan mudah.
"Aku tidak percaya dengan daddy."
"Hei boy, sekarang aku tanya padamu, berapa mantan pacarmu?"
__ADS_1
"Seperti yang aku bilang tadi dad, kita ini sesama playboy. Sama sepertimu aku juga malas menghitungnya." jawab Jacob dengan santai.
"Jadi kau juga melakukannya dengan para mantan pacarmu?" tanya jhon lagi.
"Tentu saja."
"Dan kau tidak bisa melakukannya dengan pacarmu saat ini?"
"Seperti yang daddy tebak."
"Berapa kali kau gagal?"
"Entahlah,btiga atau empat mungkin, bahkan aku selalu gagal untuk mengikatnya." katanya frustasi.
Senyum Jhon mengembang diwajahnya, dia jadi teringat waktu dulu, sepertinya putranya mengalami hal yang sama dengannya tapi putranya tidak boleh tahu apa yang dialaminya.
"Jika demikian sebentar lagi kau akan mendapatkannya, jadi kau jalani saja hubungan kalian dengan baik."sarannya.
"Kenapa daddy bisa tahu?"
"Hei aku ini lebih berpengalaman darimu, jadi percaya saja padaku. Kau sudah gagal tiga atau empat kali bukan? Kau tinggal melewati satu rintangan lagi maka dia akan menjadi milikmu."
"Wow, daddy hebat. Sepertinya kita memang sama selalu sial." Jacob mulai memancing.
"Yah, keturunan Smith memang seperti itu." jawab Jhon pula.
"Apa daddy tahu? Kak Edward sudah gol duluan."
"Wah dia sangat beruntung."
"Benar dia sangat beruntung karena bisa melakukannya sedangkan kita, selalu gagal."
"Kau sangat benar boy,aku bahkan selalu berakhir dikamar mandi sebelum menikah dengan mommymu." Jhon berkata seperti itu karena terpancing dengan ucapan putranya.
"Aha, daddy akhirnya mengakuinya." senyum Jacob langsung menghiasi wajahnya,vternyata daddynya juga mengalami hal yang sama seperti dirinya.
"What?" Jhon langsung menyadari ucapannya sendiri.
"Boy aku hanya asal bicara." dengan cepat pula Jhon mulai menyangkal ucapannya.
"Dad, kau tidak bisa membohongiku karena kita ini tidak jauh berbeda."
"Sialan, putraku lebih licik dariku!" maki Jhon dalam hati.
Jacob segera bangkit berdiri, akhirnya dia sudah tidak penasaran lagi dan dia akan menganggap semua itu memang kutukan untuk keluarga Smith.
"Hei mau kemana?"
"Mau kerumah pacarku dad."
Jacob segera mendekati ibunya dan memeluknya.
"Mom, aku mau pergi kerumah Alice."
"Jacob, kapan-kapan ajak dia datang."
"Tentu mom."
Jacob melangkah melewati ayahnya tapi sebelum itu, Jacob menghentikan langkahnya.
"Dad, aku anggap ini kutukan untuk kita dan kakek adalah dalang dibalik semua ini." setelah berkata demikian Jacob segera pergi.
Jhon hanya melihat kepergian putranya, ternyata mereka mengalami hal yang sama, saat itu Samanta mendekati suaminya dan duduk disampingnya.
"Jhon apa yang kalian bicarakan?" tanyanya penasaran.
"kami hanya membahas tentang kutukan, baby." jawabnya.
"Wow aku ingin mendengarnya."
"Sebaiknya jangan!"
__ADS_1
"Jhon!!!!" Samantha mulai menekan kepalan tangannya.
"Sialan, sepertinya putraku benar, kami dikutuk!!" kata Jhon dalam hati.