
Siangnya, Jacob mendapat panggilan dari asistennya Andrew. Pria itu mengatakan jika Jacob harus menghadiri rapat jam satu siang dan harus menandatangani beberapa dokument.
Sebelum pergi Jacob masuk kedalam kamar Alice dan memastikan gadis itu, setelah memastikan Alice sudah tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya Jacob mengecup dahi Alice dan berangkat kekantornya
Saat ini Jacob merasa sangat bosan, setelah menandatangani semua dokument yang ada Jacob hanya duduk termenung untuk menunggu jam rapatnya tiba.
Jacob mengambil ponselnya dan mulai mengetik disana.
"Nyonya Smith, apa yang kau lakukan?" setelah mengetik pesan itu dan mengirimnya Jacob menyimpan ponselnya keatas meja, dia pikir Alice masih tidur dan tidak akan membalas pesan yang dikirimnya tapi dia tidak menyangka, ponselnya bergetar diatas meja.
Dengan cepat Jocab meraih ponselnya dan membuka pesan yang masuk disana.
"Jangan asal bicara, aku bukan istrimu!!"
Jacob tersenyum saat membaca pesan itu.
"Alice sayang, suatu hari nanti kau akan jadi istriku."
"Sekalipun kau pergi kebulan dan membuat rumah disana aku tidak akan mau jadi istrimu!"
Jacob terkekeh dan kembali mengetik diponselnya, rasanya sangat menyenangkan menggoda Alice disaat dia sedang bosan seperti ini.
"Jangan meremehkanku sayang, aku bisa membawamu kebulan jika kau mau."
"Terima kasih, tapi aku tidak punya hobi berkumpul dengan para Aliens disana."
"Sayang, apa kau sudah makan?" Jacob mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak berselera makan, perutku mual dan rasanya aku ingin muntah sedari tadi." jawab Alice pula.
Jacob berpikir sejenak, sepertinya Alice keracunan bubur yang dibuatnya bersama dengan adiknya.
Tapi sebuah ide terbesit dikepalanya, jika tidak jahil bukan Jacob Smith namanya.
"Alice sayang, jangan-jangan kau hamil!" Jacob mengirimkan pesan itu.
Sontak saja wajah Alice langsung pucat saat membaca pesan dari Jacob, ponsel yang dipegangnya langsung merosot dari tangannya.
"Tidak mungkin!!"
Alice mengambil ponselnya dan dengan cepat Alice membalas pesan dari Jacob.
"Jangan bercanda Jacob, kitakan baru sekali melakukannya."
Senyum Jacob semakin lebar, Alice gadis kelewat polos atau bodoh?
__ADS_1
"Sayang, walaupun sekali itu tidak menutup kemungkinan untuk hamil."
"Kau tahu banyak ya!!!"
"Tunggu aku kembali, aku akan membeli testpack, jika kau hamil maka kita harus segera menikah." Setelah mengirim pesan itu senyum Jacob semakin lebar, dia sudah tidak sabar melihat exspresi Alice nanti.
Alice melempar ponselnya, tidak mungkin kan?
Tidak kehabisan akal Alice meraih ponselnya kembali, mencari disebuah situs tentang gejala kehamilan.
Wajah Alice semakin pucat saat membaca situs itu, tanda-tanda yang dia alami hampir sama dengan gejala orang yang sedang hamil.
Alice kembali melempar ponselnya kesisinya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Matilah aku!" gerutunya.
Sedangkan Jacob, senyum terus menghiasi wajahnya, dia benar-benar sudah tidak sabar untuk segera menyelesaikan rapatnya dan kembali menemui Alice.
"Andrew." Jacob memanggil asisten pribadinya yang berada didepan pintu dan pada saat Andrew mendengar panggilan bosnya pria itu langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Yes master."
"Pergi beli beberapa testpack dan obat untuk keracunan makanan."
"Dan, lakukan satu hal lagi." senyum licik Jacob langsung mengembang diwajahnya.
"Yes master."
Andrew berdiri disana mendengar perintah bosnya, pria itu menelan ludahnya saat mendengar ide gila dari bosnya.
Setelah mendapat perintah, Andrew hendak keluar dari ruangan itu tapi pada saat itu pintu ruangan itu terbuka dengan kasar, tampak seorang perempuan masuk kedalam ruangan itu sambil memaki.
Wanita itu ya si Becca, dia sangat kesal karena sangat sulit menemui Jacob.
Senyum Jacob langsung hilang dari wajahnya saat melihat Becca masuk kedalam ruangannya.
"Jacob, akhirnya aku bisa bertemu denganmu!" ujar Becca.
Jacob mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh perempuan yang bisa menghancurkan kesenangannya!
Andrew berdiri didepan pintu, tidak beranjak dari sana. Dia siap mendapat perintah jika bosnya memintanya untuk menyeret Becca.
Tapi Jacob melambaikan tangannya kearah Andrew sebagai isyarat pada pria itu untuk keluar dari ruangannya, Andrew membungkuk hormat dan keluar dari sana untuk menjalankan perintah yang telah diberi oleh bosnya.
"Becca, apa kau tuli? Aku sudah bilang kita tidak ada hubungan lagi dan buat apa kau datang kemari?" Jacob menekan perkataannya karena moodnya langsung berubah.
__ADS_1
Becca berjalan menghampiri Jacob, menyentuh dada pria itu dan duduk diatas pangkuannya.
"Jacob, aku sudah memikirkan tawaranmu. Aku akan menikah denganmu jadi ayo kita perbaiki hubungan kita."
Jari jemari Becca bermain didada Jacob, bagaimanapun caranya dia akan mendapatkan Jacob kembali.
Jacob melihat wanita itu dengan pandangan menghina, dulu mungkin dia akan tergoda oleh rayuan Becca tapi sekarang yang ada dihatinya hanya Alice Walker.
Dia juga tidak habis pikir, kenapa bisa berhubungan dengan wanita seperti Becca dan bisa kemakan rayuannya?
Jacob langsung bangkit berdiri dan pada saat itu Becca langsung terjerembab diatas lantai, wanita itu menjerit sambil memegangi bokongnya yang terasa sakit.
"Jacob, are you crazy?" terdengar nada amarah dari suara Becca.
Tapi Jacob tidak perduli, pria itu berjalan kearah jendela dan memandangi pemandangan diluar sana.
"Jacob!" Becca kembali mendekati Jacob dan memegangi tangannya tapi dengan cepat pula Jacob langsung menepis tangan Becca.
"Becca, aku tidak tertarik lagi denganmu jadi sebaiknya kau pergi dan jangan kembali lagi!" ujarnya dengan dingin.
Becca mengepalkan tangannya, marah!
"Apa gara-gara gadis itu?" tanyanya.
"Tidak, dia tidak ada hubungannya karena sebelum aku mengenalnya hubungan kita memang sudah berakhir!"
"Jangan menipuku Jacob, aku pasti akan mendapatkanmu kembali dan gadis itu akan aku lenyapkan!" ancam Becca.
Rahang Jacob langsung mengeras, dalam sekejap mata tangannya sudah berada dileher Becca dan mencekik leher wanita itu dengan kencang.
Becca memukul tangan Jacob karena dia mulai kesulitan bernafas, pria itu benar-benar tidak pandang bulu.
"Sebaiknya kau jangan macam-macam dengannya Becca, jika sampai kau berani menyentuhnya walau seujung kukunya saja maka lihatlah nanti, aku akan melakukan hal yang lebih kejam dari yang kau lakukan terhadapnya!"
"Ja..cob!" Becca kembali memukul lengan Jacob, bola matanya mulai naik keatas karena dia sudah hampir kehabisan nafas.
Jacob langsung mendorong tubuh Becca dengan kasar, wanita itu kembali terjerembab diatas lantai sambil mengatur nafasnya.
"Jangan meremehkan perkataanku dan sebaiknya kau pergi karena aku tidak ingin membunuh orang diruanganku!" Jacob kembali membuang pandangannya keluar jendela kaca besar yang ada diruangannya.
Becca menggigit bibirnya dan bangkit berdiri, Becca memandangi Jacob dan melangkah pergi.
Gadis itu pasti akan dia lenyapkan bagaimanapun caranya, dan dia tidak perduli dengan ancaman Jacob.
Setelah kepergian Becca dari sana, Jacob langsung keluar dari ruangannya untuk menghadiri rapat.
__ADS_1