Hot Mother And The Bos Mafia Season 2

Hot Mother And The Bos Mafia Season 2
Penggemar rahasia


__ADS_3

Jacob tampak begitu serius berbicara dengan seseorang melalui ponselnya, dia sedang berbicara dengan Andrew untuk menanyakan persiapan yang disiapkan oleh Andrew karena malam inilah malam dimana dia akan memberikan sedikit kejutan kepada Lucas Marcelo orang yang telah berani menyentuh miliknya.


Bukankah dia harus memberikan sedikit suprise untuk Lucas? Supaya pria itu sadar bahwa dia tidak boleh menyentuh milik orang sembarangan apalagi miliknya, jadi sebab itu malam ini semua yang dia rencanakan tidak boleh gagal yang pastinya tidak mungkin gagal.


Saat melihat kekasihnya yang begitu serius, Alice segera menghampiri Jacob. Dia baru saja keluar dari kamar Marry untuk membereskan kamar gadis itu.


Padahal dia ingin membawa Marry pulang tapi orang tua Jacob meminta Alice untuk tidak membawa Marry dan membiarkan Marry disana untuk beberapa hari kedepan.


Tentu Alice sangat tidak enak hati tapi mau tidak mau dia menyetujui permintaan ibu Jacob apalagi Marry sangat betah berada disana.


Alice segera memeluk Jacob dari belakang karena Jacob sedang berdiri didepan jendela dan melihat tumpukan salju diluar sana.


Alice memasukkan kepalanya kebawah lengan Jacob dan mengintip wajah kekasihnya dari sana.


"Jac, kau sedang berbicara dengan siapa?" tanya Alice pelan.


Jacob mengusap kepala Alice dan tersenyum padanya.


"Dengan pacar baruku." jawabnya asal.


Alice langsung melotot sedangkan Andrew merinding disebrang sana, dia tahu bosnya hanya bercanda tapi tetap saja membuatnya merinding.


"Master, jangan berkata seperti itu, aku jadi merinding nih." kata Andrew disebrang sana.


"Diam kau bodoh!!" teriak Jacob marah.


Alice melepaskan pelukannya dan melangkah pergi sambil tertawa, dia segera masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap karena dia mau pergi dengan Olivia dan Amanda.


Alice segera melepas bajunya karena dia ingin menggantinya, pada saat itu Jacob masuk kedalam, melangkah kearahnya dan memeluk Alice dari belakang.


"Alice sayang." Jacob menciumi leher Alice sedangkan tangannya sibuk mengusap perut Alice yang rata.


"Hmm?" Alice memejamkan matanya menikmati sentuhan kekasihnya.


"Kau mau pergi kemana?"


"Aku mau pergi dengan Olivia dan Amanda."


"Aku tahu tapi kau kemana?"


"Mau cari pacar baru."


"Kau ya!!" Jacob langsung memindahkan tangannya yang berada diperut Alice dan memasukkan kedua tangannya kedalam penutup dada Alice.


Alice mengerang pelan saat Jacob me**mas kedua dadanya dengan lembut.


"Jac, jangan!" Alice berusaha menahan tangan Jacob tapi Jacob tidak perduli, tangannya terus bermain disana sedangkan bibirnya terus menciumi leher Alice.


"Jacob!!"


"Alice sayang, aku sedang berusaha membesarkan dadamu." godanya.


"Sialan kau!!"


Jacob melepaskan tangannya dan segera memutar tubuh Alice sambil terkekeh pelan.


"Alice sayang, berhati-hatilah diluar sana, aku akan memerintahkan beberapa orang untuk mengikutimu."

__ADS_1


"Jangan Jac, jangan menakuti calon kakak iparmu."


"Apa dia akan takut?"


"Aku rasa, lagi pula kami bertiga dan ini masih terang."


"Oke baiklah, kalau begitu ini untukmu." Jacob segera mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan memberikan benda itu pada Alice.


Alice mengambil benda yang diberikan oleh Jacob dan melihatnya, sebuah pistol.


"Jika ada yang berani menganggu kalian lubangi kepala orang itu tanpa ragu."


"Tentu saja."


Senyum Jacob mengembang diwajahnya, dengan pelan Jacob mengusap pipi Alice dan meciuminya dengan lembut.


"Sayang, malam ini jangan tunggu aku." bisiknya.


"Jangan terlalu percaya diri! Siapa yang akan menunggumu!"


Jacob kembali terkekeh, dia mulai mengigit telinga Alice dengan lembut.


"Aku tidak mau membuatmu tidur diatas sofa karena menungguku."


"Memangnya kau mau pergi kemana Jac?"


"Aku mau pergi berburu?" jawab Jacob asal.


"Wow, apa kau mau berburu ba*i liar?"


"Anggap saja begitu sayang."


"Jadi berhati-hatilah diluar sana dan jangan pulang terlalu malam."


"Tentu, kau juga harus berhati-hati Jack."


"Itu sudah pasti sayang."


Alice segera mengalungkan tangannya keleher Jacob dan menciumi bibirnya, mereka berciuman sesaat setelah itu Jacob pergi dari sana bersiap-siap untuk memberi pelajaran kepada siba*i liar.


Setelah kepergian Jacob,Alice segera bersiap-siap. Setelah dia siap tidak lama kemudian Olivia dan Amanda datang kerumahnya.


Dia segera mengambil tasnya dan pergi dari sana, mereka pergi menuju kesebuah pusat perbelanjaan mencari gaun pernikahan untuk Amanda.


Mereka berjalan disepanjang toko dan pada saat mereka sedang mengomentari setiap pernak pernik yang ada disetiap toko tiba-tiba saja tangan Alice ditarik seseorang dari belakang dan mulutnya ditutupi agar dia tidak bisa berteriak.


Alice ditarik kesebuah pojokan dan orang itu menghimpit tubuh Alice ketembok hingga tubuh Alice tidak bisa bergerak.


"Hai nona manis, akhirnya aku bisa menculikmu."


"Kau!!" Alice sangat kesal melihatnya.


Lucas menangkap kedua tangan Alice dan menguncinya diatas kepala gadis itu, hal itu membuat Alice tidak bisa melakukan apapun.


"Penguntit! Kenapa kau bisa ada disini?" Alice menatap Lucas degan penuh kebencian.


"Aku mengikutimu nona manis." jawab Lucas dengan santai.

__ADS_1


"Hei lepaskan aku!!" Alice ingin menendang Lucas tapi dengan cepat Lucas menahan kaki Alice.


"Sudah aku bilang nona manis kau tidak bisa menendang aku untuk kedua kalinya."


"Hei apasih maumu?" teriak Alice kesal.


Jika tangannya tidak dipegang maka akan dia tembak kepala Lucas ditempat itu juga.


"Aku ingin dekat denganmu, ingin menjadikanmu milikku." jawab Lucas dengan penuh percaya diri.


"Jangan mimpi kau, sampai kapanpun aku tidak akan mau menjadi milikmu."


"Apa kau tahu?" Lucas memegangi dagu Alice dan mengangkat wajahnya.


"Aku suka dengan tantangan, semakin kau menolak semakin aku tertarik."


"Kau benar-benar ba**ngan!!"


Alice kembali berusaha menendang tapi lagi-lagi gagal, sedangkan kedua tangannya semakin dicengkram dengan erat oleh Lucas.


Alice tambah panik saat Lucas mendekatkan bibirnya hendak menciuminya, Alice berteriak dengan kencang berharap ada yang lewat dan mau menolongnya, jangan sampai Lucas menciuminya lagi.


Bibir Lucas semakin mendekat, hal itu semakin nembuat Alice ketakutan tapi pada saat itu seseorang memanggil Alice dan menghentikan aksi Lucas.


"Alice." Olivia berdiri didekat mereka dan menatap mereka dengan tajam.


"Olivia, lari!!" pinta Alice dengan cepat.


"Hei kau jangan sentuh sahabatku!!" Olivia menatap Lucas dengan tajam, dia tidak akan membiarkan sahabatnya dalam kesulitan.


"Wow, ternyata ada sekutunya." Lucas langsung melepaskan pegangan tangannya dan memundurkan langkahnya.


"Olivia lari." teriak Alice lagi, ini adalah kesempatan untuknya lari.


Tapi sebelum Alice lari dia langsung melayangkan kakinya disela paha Lucas, dan?


"Bhukk!!" Lucas langsung meringis dan memegangi sesuatu yang terasa nyeri dibawah sana.


"Semoga kau imp*ten!!" teriak Alice kesal.


Dia segera menarik tangan Olivia dan berlari menjauh dari sana, Alice tidak mau melibatkan Olivia dalam masalahnya. Sedangkan Lucas masih berusaha meredakan nyeri diasetnya yang berharga.


"Olivia? Gadis itu rasanya aku pernah lihat tapi entah dimana." gumam Lucas pelan.


Dia merasa tidak asing dengan teman Alice Walker tapi dia lupa pernah melihat gadis itu dimana, tapi itu tidaklah penting. Lucas segera pergi dari sana karena ada sesuatu hal penting yang harus dia kerjakan.


Sementara itu Alice dan Olivia, kedua gadis itu sedang menenangkan nafasnya karena kelelahan berlari, mereka berlari cukup jauh dan menghentikan lari mereka saat melihat Lucas tidak mengikuti mereka.


"Alice siapa pria tadi?" tanya Olivia penasaran. Dia sudah dua kali bertemu dengannya, apa pria itu kenalan Alice?


"Penggemar rahasiaku." jawab Alice.


"Kau ya!!" Olivia langsung menjepit leher sahabatnya itu.


"Olivia sakit, lepaskan."


"Haish sudahlah, untung aku datang." kata Olivia.

__ADS_1


"Thanks."


"Ayo Amanda sudah menunggu." Olivia segera menarik tangan Alice dan membawanya kesebuah butik dimana Amanda sedang menunggu mereka.


__ADS_2