
Beberapa waktu lalu dirumah sakit, saat mengetahui Alice tidak berada dirumah sakit dan menghilang Jacob benar-benar marah.
Dia ingin pergi mencari Alice dan dia tidak perduli dengan keluarganya yang menahannya bahkan jahitan bekas Operasinya kembali terbuka dan mengeluarkan darah.
Dia takut Alice pergi untuk mengakhiri hidupnya karena terlalu tenggelam dalam perasaan bersalah, dia tahu Alice pasti menyalahkan dirinya sendiri saat ini.
Seharusnya dia memerintahkan Andrew untuk menjaga Alice tadi dan tidak membiarkannya pergi tapi lihatlah? Alice pergi darinya.
Karena keinginannya mencari Alice dalam kondisi seperti itu membuat Jhon memerintahkan seorang dokter untuk menyuntikkan obat bius pada putranya.
Jhon dan Edward memegangi Jacob dengan susah payah saat dokter ingin menyuntikkan obat bius ketubuhnya, Jacob sangat marah dan memaki tapi semua itu Jhon lakukan untuk kebaikan putranya.
Setelah itu Jhon memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga didepan pintu ruangan rawat inap dimana Jacob dirawat supaya putranya tidak kabur.
Dia juga memerintahkan Andrew untuk menyebarkan anak buah untuk mencari Alice Walker, bahkan dia tidak beranjak dari ruangan dimana putranya dirawat karena dia takut putranya lari.
Saat Jacob sadar dari obat biusnya, dia hanya diam saja dan tampak lesu, kenapa Alice pergi darinya?
Dia tahu Alice pasti merasa sangat terpukul dan sangat merasa bersalah, tapi kenapa harus pergi darinya?
Jacob hanya duduk diatas ranjang saat ayahnya menghampirinya dan duduk disisinya.
"Hei crazy boy, are you okay?"
"Dad, please leave me alone."
"Hei, what do you want to do?"
"Dad, please." Jacob mengusap wajahnya frustasi.
"Oke, fine." Jhon keluar dari sana.
Mungkin putranya butuh waktu sendirian untuk menenangkan hatinya karena dia tahu, ditinggal oleh orang yang sangat dicintai itu sangat menyakitkan.
Setelah ayahnya keluar dari sana, Jacob kembali termenung. Pikirannya sedang melayang memikirkan dimana keberadaan Alice saat ini bahkan dia mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi sedari tadi.
Jabob mulai kesal dan mengambil ponselnya, tapi dia melihat nomor yang tidak dikenal jadi dia melemparkan ponselnya keatas ranjang.
Walau begitu ponselnya terus berbunyi sampai puluhan kali hal itu membuat emosi Jacob terpancing, siapa yang telah berani mengganggunya disaat suasana hatinya sedang buruk?
Jacob meraih ponselnya dan menjawabnya dengan kasar, akan dia bunuh siapa yang telah mengganggunya.
"Hei bre**sek! Apa kau mau mati!!" teriaknya dengan penuh emosi.
Tapi orang disebrang sana diam saja, tidak berbicara apa-apa hal itu membuat emosinya semakin menjadi dan dia kembali berteriak.
"Jika kau tidak bicara akan aku cari kau dan akan aku bunuh kau!!"
"Jac-Jac."
Saat mendengar suara Alice dia langsung tampak senang, setidaknya Alice baik-baik saja dan ketakutannya tidak terjadi.
__ADS_1
"Alice sayang, dimana kau sekarang?"
"Jac-Jac bagaimana keadaanmu?"
"Hei jawab aku dimana kau sekarang? Aku akan segera menjemputmu."
"Jac-Jac, dengarkan aku."
"Tidak! Sekarang katakan padaku dimana kau berada, aku akan segera kesana dan jangan pergi kemana-mana."
"Jac-Jac, please dengarkan aku." pinta Alice lagi.
"Baiklah tapi setelah ini kau harus mendengarkan aku!"
Untuk sesaat Alice diam saja, dia sedang menyiapkan hatinya dan mungkin nanti akan sangat menyakitkan bagi mereka berdua.
"Jac-Jac, bagaimana dengan keadaanmu? Maaf aku tidak menunggumu sadar, maaf aku tidak melihat keadaanmu."
"Jangan kau pikirkan hal sepele seperti itu, bukankah sudah aku katakan aku tidak akan mati hanya karena sebuah tembakkan!"
"Aku tahu tapi maaf, aku yang telah melukaimu."
"Sayang jangan berkata demikian, bukan kau yang melakukannya. Bukankah sudah aku katakan jangan menyalahkan dirimu sendiri?"
"Maaf Jac-Jac, tapi kenyataannya memang seperti itu. Aku telah menembakmu dengan tanganku ini walaupun Lucas yang menekan pelatuk pistol itu tapi benda itu ada ditanganku dan aku tidak bisa memaafkan diriku." Alice kembali menangis saat mengingat kejadian itu.
"Hei apa kau menangis?"
"Apa maksud ucapanmu sayang, tidak ada yang kecewa padamu, tidak ada! Sekarang katakan padaku dimana kau berada, aku akan pergi menjemputmu." Jacob kembali frustasi,kenapa Alice tidak mau mengatakan dimana dia berada?
"Mungkin kalian tidak kecewa padaku tapi aku kecewa pada diriku sendiri, aku benci dengan diriku Jac-Jac. Akulah yang telah mencelakaimu, hal inilah yang aku takutkan sedari dulu, membuatmu terluka karena aku dan lihatlah aku yang telah melukaimu."
"Alice sayang jika kau merasa bersalah ayo kembali padaku, kembalilah dan setelah ini kita cari Marry bersama-sama, okay?"
"Jac-Jac, aku sudah menemukan Marry jadi kau tidak perlu mencarinya lagi."
"Itu bagus, aku akan menjemputmu sekarang."
"Maaf Jac-Jac, aku tidak bisa kembali!"
Jacob begitu kaget saat mendengar perkataan Alice, apa maksudnya tidak bisa kembali?
"Alice Walker apa maksudmu tidak bisa kembali?" teriaknya marah.
"Jac-Jac,bdengarkan aku. Saat ini aku tidak bisa kembali karena Marry tidak ingin kembali kesana karena trauma, dan dia sangat membutuhkan aku saat ini. Aku akan membawanya pergi sementara waktu untuk menenangkan dirinya sampai traumanya hilang."
"Aku juga ingin menenangkan diriku, mengintropeksi diriku dan berdamai dengan diriku sendiri, aku ingin menenangkan hatiku sampai aku bisa memaafkan diriku sendiri."
"Kemana kau mau pergi sayang?" tanya Jacob frustasi.
"Aku tidak tahu tapi seseorang menawarkan tempat untukku."
__ADS_1
"Jadi kau akan meninggalkan aku, eh?" Jacob menutupi wajahnya dengan tangannya, kenapa perpisahan ini terasa begitu menyakitkan.
"Maaf Jac-Jac, tapi aku berjanji akan kembali padamu jika aku sudah bisa berdamai dengan diriku dan jika aku sudah siap bertemu dengan keluargamu untuk meminta maaf pada mereka, pada saat itu aku pasti kembali."
"Berapa lama?" tanpa terasa air matanya mulai mengalir, untuk seumur hidupnya baru kali ini dia menangis untuk seorang wanita.
"Jac-Jac, apa kau menangis?" tanya Alice saat mendengar suara Jacob bergetar.
"Tidak! Seorang pria tidak boleh menangis." elak Jacob, dia segera menghapus air matanya. Jangan sampai ayahnya masuk dan melihatnya karena ini hal yang sangat memalukan.
"Aku berjanji tidak akan lama tapi jika kau tidak bisa menungguku kau boleh menikah dan carilah wanita yang lebih baik dariku yang tidak egois seperti diriku. Tapi jangan lupa kau harus membuat berita besar-besaran atas pernikahanmu supaya aku tahu."
"Jangan berkata seperti itu, hanya kau yang aku mau bukan yang lainnya."
"Thank you Jac-Jac, i love you so much but im sorry." Alice menghapus air matanya yang terus mengalir sedari tadi.
"Stupid girl, i love you too."
Untuk sesaat mereka berdua diam saja, sibuk menghapus air mata mereka dan menangkan emosi mereka berdua. Rasanya mereka tidak mau menyudahi pembicaraan mereka dan mematikan ponsel mereka.
"Alice sayang, aku akan menunggumu tapi ingat jangan terlalu lama dan pada saat kau siap untuk kembali katakan padaku, aku akan menjemputmu."
Walaupun dia berkata begitu tapi dalam hatinya terasa sangat berat, jujur dia tidak mau mereka berpisah seperti itu tapi dia akan menghargai keputusan Alice.
"Tentu Jac-Jac, terima kasih kau mau mengerti keegoisanku ini,terima kasih."
"Ingat kau hanya milikku dan jangan mendekati pria lain!"
"Aku milikmu Jac-Jac, aku milikmu!"
"Kau bodoh, rasanya aku sangat ingin menciummu dan memelukmu kau tahu?"
"Aku juga."
"Jadi kita akan mencium ponsel, eh?"
"Tidak karena ini ponsel orang lain."
Mereka kembali diam, tidak ada yang mau mengucapkan salam perpisahan terlebih dahulu sampai suara ponsel Marcos berbunyi karena kehabisan baterai.
"Jac-Jac maaf, ponselnya sudah mau mati."
"Tidak Alice sayang, jangan pergi!" teriak Jacob frustasi.
"Maaf Jac-Jac, i love you."
"Hei!!" tapi pada saat itu panggilan itu telah terputus karena ponsel Marcos telah kehabisan energi.
"Damn!!" Jacob melempar ponselnya keatas lantai hingga hancur berantakan.
Dia hanya bisa menutupi wajahnya dan menenangkan emosinya, semua ini gara-gara Lucas dan dia akan pastikan Lucas tidak akan mati dengan mudah!
__ADS_1