
Saat makanan sudah datang, Leta rasanya tidak nafsu sekali makan dia langsung bangkit dan mulai berjalan meninggalkan Cia dan yang lainnya.
"Eh Let lo mau kemana?" tanya Cia yang heran saat melihat Leta pergi bukannya dia makan malah pergi.
"Udah kalian makan aja gw gak laper," jawab Leta yang sengaja menunjukkan kekesalannya didepan El dan yang lain.
"Aduh si Leta kayaknya kesel banget deh sama El, kita samperin aja yok mereka," ajak Dira kepada Cia dan juga Lisya.
"Yaudah yok." Mereka pun menghampiri mejanya El dan yang lain.
šElvano dan teman-temanš
"Woi El parah sih lo segitunya buat Leta kesel," kata Cia yang baru saja menghampiri El.
"Tau tuh sampai-sampai dia gak mau makan," sambung Dira yang ikut mengompori El.
"Ya mau gimana lagi gw juga gak tega.. apa gw udahin aja ya drama ini sumpah gw kangen banget sama pacar gw itu," ujar El dengan ekspresi cemberut nya yang membuat Kevin, Cia dan yang lainnya ingin sekali muntah.
"Lebay lo!" ucap Gibran sepontan sesudah El mengucapkan kalimat itu.
"Lebay gw apa lebay lo hah dasar playboy lo," ungkap El yang membuat Gibran melorotkan matanya.
"Sudah-sudah kok kalian jadi berantem sih yang penting kan usaha buat cuekkin Leta berhasil tanggung dikit lagi El," kata Dira kepada El.
"Ehh ikut-ikut aja lo," sembur Ramon kearah Dira.
"Yee emang kenapa syirik lo."
"Mending kita samperin Leta aja yok khawatir nih gw nanti dia hilang lagi gara-gara dicuekkin El," ajak Cia yang khawatirkan Leta. Dira dan Lisya pun setuju lalu mereka mulai melangkahkan kakinya menyusul Leta.
ā”LETA POVā”
Leta berlarian kecil dengan menahan air matanya yang ingin tumpah, rasanya hati dia hancur karena terlalu berharap.
Leta menuju ke taman belakang sekolah untuk menenangkan pikirannya sebentar sambil meluapkan emosinya. Di perjalanan, Leta berpapasan dengan Gavin dan juga Aron. Aron heran dengan Leta dia seperti sedang menahan sebuah tangisan.
__ADS_1
"Eh Bang.." ucap Leta yang langsung berhenti didepan Aron dan juga Gavin.
"Lo mau kemana? gak ke kantin?" tanya Aron yang heran dengan adiknya itu.
"Emm u-udah kok barusan Leta habis dari kantin," jawab Leta dengan sedikit gugup.
"Leta duluan ya Bang.. Kak," pamit Leta yang pergi begitu saja di hadapan Aron dan juga Gavin. Aron bingung pasti ada yang di sembunyikan Leta sedangkan Gavin seperti biasa senyum-senyum sendiri saat melihat Leta.
Leta melanjutkan perjalanannya menuju ke halaman taman belakang sekolah, sesampainya disana Leta menenangkan pikiran dan meluapkan semua emosi dia lewat tangisan.
"Hiks.. El jahat! masa dia cuek gitu sama gw! terus gak ngucapin apa happy birthday pacar.. aaaaa hiksss.. padahal dia orang yang pertama aku tunggu buat ngucapin ulang tahun gw.." Leta sangat kesal terhadap El dia juga akan membalas perbuatan El kepadanya.
"Liat aja gw bakal cuek sama dia awas aja!" ucap Leta bermanolog dengan kesal lalu kembali menangis lagi.
Ada beberapa mata yang memperhatikan Leta menangis, rasanya mereka tidak tega melihat temannya seperti itu. Tetapi ini cuma sebentar nanti juga Leta bakal bahagia lagi.
āØGavin dan AronāØ
"Lo ngeliat gak sih adek gw kaya nahan tangisan gitu," kata Aron kepada Gavin.
"Nahan tangisan gimana? gw rasa sih dia biasa aja tuh," jawab Gavin yang berkata jujur. Leta seperti terlihat biasa saja entah kenapa tetapi perasaan Aron mengatakan Leta tidak baik-baik saja.
"Udahlah ini kan hari ulang tahun dia kali aja itu kerjaan temen-temennya," jawab Gavin yang menyadarkan Aron.
"Owh iya lo bener juga," kata Aron yang sedikit tersenyum. Diperjalanan menuju kantin Aron dan juga Gavin bertemu dengan Cia dan yang lainnya, mereka seperti sedang mencari seseorang.
"Bang... lo liat Leta nggak?" tanya Dira yang baru saja berlari untuk menghampiri Aron.
"Leta? kayaknya tadi dia jalan kearah taman deh," tunjuk Aron kearah belakang.
š§Cia & Teman-temanš§
Kini Cia, Dira dan juga Lisya tengah mencari keberadaan Leta, mereka berjalan melewati koridor dengan pandangan yang mengamati ke segala arah tapi, mereka belum juga menemukan keberadaan Leta. Untung saja mereka bertemu dengan Aron dan juga Gavin.
"Eh itu Bang Aron, kali aja dia ngeliat Leta," tunjuk Lisya kearah Aron. Dira langsung berlari mendekati Aron dan langsung bertanya mengenai keberadaan Leta.
__ADS_1
"Bang... lo liat Leta nggak?"
"Leta? kayaknya tadi dia jalan kearah taman deh," tunjuk Aron kearah belakang.
"Owh taman yah, yaudah thanks Bang," balas Lisya yang menepuk bahu Aron dan mereka segera berlari ke arah taman belakang.
"Yaudah langsung samperin yok," ajak Cia yang berlari lebih dulu.
Mereka berlari menuju taman belakang, sesampainya di taman belakang mereka tertegun melihat Leta yang sudah menangis di kursi taman.
"Mana Letanya kok nggak ada?" tanya Dira yang mengamati sekeliling tempat.
"Itu disana.." tunjuk Lisya kearah tempat duduk di dekat pohon rindang.
"Kayak nya Leta nangis deh... gw jadi nggak tega gini sama dia," tutur Cia yang ikut prihatin pada Leta.
"Hmmm yah mau gimana lagi, ntar malem juga pasti Leta seneng," ungkap Dira yang mengingatkan Cia.
"Kita lebih baik samperin Leta deh, kayak nya dia butuh banget tempat curhat," jelas Lisya yang kemudian berjalan mendekati Leta dengan langkah kaki yang begitu pelan.
"Hikss... kenapa rasanya sakit banget hiks."
"Let.." panggil Cia yang menghentikan tangisan Leta secara mendadak.
"Hikss.. kalian," lirih Leta yang begitu pilu, lalu Cia, Dira dan juga Lisya menghampiri Leta dan duduk di sebelah nya. Leta memeluk Cia dan meluapkan semua kekesalannya ia menangis dengan sangat kencang.
"Hikss.. El jahat, kenapa dia cuekin gw," tutur Leta yang memeluk tubuh Cia.
"Shutt udah-udah lo nggak boleh ngomong kayak gitu," lirih Cia yang terus mengelus rambut Leta.
"Tapi rasanya sakit banget hikss.. El nggak pernah nyuekin gw kenapa sekarang beda," ungkap Leta yang terus menangis.
"Let lo nggak boleh ngomong gitu, di dalam hati El pasti masih ada nama lo di sana," jelas Dira yang ikut mengelus rambut Leta.
"Tapi kenapa yang gw liat itu malah beda Dir.. kenapa," sambung Leta yang mengusap air matanya.
__ADS_1
"Let dengerin gw yah.. lo nggak boleh berpikiran kayak gitu buktinya tadi pagi kan lo pergi bareng dia," ungkap Lisya yang mengucap air mata Leta.
"Terus gw harus gimana... hikss gw nggak tau lagi mau ngapain," lirih Leta yang menangis dengan sesegukan. Cia, Dira dan juga Lisya tak tegah melihat Leta yang begitu terpukul.