IPA IPS Jadi Penghalang

IPA IPS Jadi Penghalang
Asupan pagi


__ADS_3

"Siapa yang bohongin lo sih Let, coba lo lihat sendiri noh kalo gak percaya," ujar Dira sambil mengarahkan kepalanya kearah El dan Gibran.


Leta terkejut jika El memang benar ada disini.


"Gimana? bener kan gw?" tanya Dira dengan sombong.


"Iye-iye," jawab Leta dengan cuek.


"Haii semua," ucap El dengan semangat.


"Udah bangun lo? dari mana aja?" tanya Kevin malas.


"Mimpi apa kalian semalem bangun cepet gini? biasanya sampe siang kalian bangun," sambung Ramon.


"Eitss selow dong marah-marah aja," ujar El tertawa.


"Kalian nih ya gw udah telpon berapa kali sama lo pada gak pada diangkat dasar kebo," jawab Kevin dengan nada marah.


"Ya sorry bro lo pada kan udah tau kalo gw sama El tidur bangunnya siang ya kali cuma ditelpon kami gak angkat lah kalo kalian datang bangunin langsung baru," ujar Gibran sambil menunjukkan deretan giginya.


"Halah lo aja kita bangunin langsung susah banget," ucap Ramon.


"Udah-udah yang penting Leta gak sedih lagi," ujar Cia yang langsung mendapat pelototan dari Leta.


"Emang Leta kenapa sedih?" tanya El binggung.


"Biasa lah El kan gak ada lo, tadi aja dia nyariin kenapa cuma Kevin sama Ramon aja yang dateng hehe," ujar Dira dengan nada ngeledek.


"Bener nih Let lo sedih kalo gak ada gw," goda El kearah Leta.


"Apaan sih biasa aja, siapa coba yang sedih fitnah lo pada," jawab Leta dengan menyodorkan bibirnya kedepan.


"Utututu nambah cantik kalo lagi ngambek," ledek El kepada Leta.


Semua tertawa melihat El yang begitu menggoda Leta dan Leta yang menahan malunya sehingga muka nya menjadi merah seperti kepiting rebus hehehe:3


"Yok ah lanjut jalan," ajak Cia kepada yang lain.


Mereka melanjutkan joging nya mengelilingi taman sekitaran komplek Cia.


Tiba-tiba Dira terjatuh dikarenakan tali sepatunya yang tidak terikat.


"Aduh..." rintih Dira sambil memegangi lututnya.


Ramon yang melihat Dira terjatuh pun refleks untuk menolongnya dan nampaknya Ramon sangat panik, karena lutut Dira mengeluarkan darah.


"Lo sih hati-hati dong," ujar Ramon menasihati.


"Kalian bawak obat merah gak?" tanya Ramon dan mereka semua menggeleng menandakan tidak ada.

__ADS_1


"Ya udah Dira bawak aja kerumah gw kita obatin dulu luka nya gw ada kok dirumah obat merah," ujar Cia.


"Yaudah yok." Ramon langsung menegakkan badan Dira dan menuntunnya diperjalanan.


"Let lo liat gak Ramon kayaknya perhatian banget sama Dira," ucap Lisya sambil menyenggol lengan Leta.


"Iya nih gw jadi pengen," sambung Cia kearah Lisya.


"Bisa ya Pokemon se sweet itu," ujar Gibran sambil melihat kearah Ramon dan Dira yang duluan jalan didepan mereka.


"Kalian lama banget sih jalannya buruan dong ni anak orang luka kakinya nanti kenapa-napa lagi," teriak Ramon.


Mereka segera mencepatkan langkahnya untuk menuju kerumah Cia.


El dan juga Gibran menenteng sepedanya menuju kerumah nya Cia.


...🌹RUMAH CIA🌹...


Sesampai dirumah Cia, Dira didudukkan oleh Ramon di sofanya dan Cia segera mengambil obat merah untuk Dira.


Cici Maminya Cia yang melihat semuanya panik pun bertanya.


"Loh kenapa nih Dira?" tanya Cici.


"Ini Te Dira tadi jatuh pas dijalan," jawab Leta kepada Mami Cia.


"Iya Mami ini juga lagi diambil," teriak Cia dari sebuah ruangan.


"Tante bikinin kalian minum dulu yah pasti kalian haus," tutur Cici lalu berjalan kearah dapur dan segera membuatkan minuman sedangkan ART dirumah Cia sedang kepasar untuk membeli bahan makanan.


"Dir biar gw bantu bukain sepatu yah," ucap Leta prihatin melihat mimik wajah Dira yang nampak kesakitan.


"Lurusin kaki lo biar nggak perih," ujar Ramon sambil menatap mata Dira kemudian meluruskan kaki Dira.


"Eh gw seneng deh liat Ramon bisa kembali bucin lagi," bisik Elvano kearah Gibran dan juga Kevin.


"Iya sama gw juga seneng, cara dia memperlakukan Dira tu beda banget," ungkap Gibran sambil melihat kearah Ramon yang sedang meluruskan kaki Dira.


"Anak-anak minumannya Tante taruh disini yah," ujar Cici sambil menaruh teko dan juga cangkir.


"Cia sini obat nya biar Mami aja yang obatin," ucap Cici yang melihat Cia membawa obat merah serta kapas.


"Iya Mi," tutur Cia sambil menyerahkan obat tersebut.


"Eh ada calon mantu Mami," goda Cici kearah Kevin.


Cici memang sudah tau bahwa anaknya berpacaran dengan Kevin karena mereka pacaran sudah dari SMP dan maka dari itu Cici dan Kevin sudah akrab dan membaur, bahkan Cici sudah menganggap Kevin seperti anak sendiri.


"Hihi iya Mi," ujar Kevin sambil menyalami tangan Cici.

__ADS_1


"Aduhh sampai lecet gini loh Dir," lirih Cici yang melihat kondisi lutut Dira.


"Sttt Te pelan-pelan," rengek Dira sambil menahan rasa pedih.


"Sabar yah Sayang, nah ini udah selesai," ungkap Cici lalu menurunkan kaki Dira.


"Makasih Tante," ucap Dira sambil tersenyum.


"Iya sama-sama," balas Cici lalu beranjak dari duduknya.


...🍑Sarapan Pagi🍑...


"Cia itu di meja makan ada Batagor tadi udah Mami beliin buat sarapan kalian," ujar Cia lalu berjalan kearah kamarnya.


"Okee Mi," balas Cia dengan acungan jempol.


"Kita sarapan dulu yok, soalnya Mami udah nyiapin sarapan buat kita," ungkap Cia sambil melihat kearah mereka.


"Kita makan disini aja deh biar enak," balas Lisya lalu beranjak dari duduknya.


"Gw bantu siapin sarapannya deh," tutur Leta lalu berdiri dan mereka berjalan kearah dapur untuk membawa makanannya ke ruang tamu.


"Nah gitu dong calon pacar, harus rajin yah biar gw makin sayang," goda Elvano sambil melirik kearah Leta.


"Apaan sih gak jelas lu," celoteh Leta yang menyembunyikan kegugupannya.


"Nih buat lo," ucap Leta sambil menyodorkan satu piring dan sebungkus batagor kearah Elvano.


"Makasih Istriku," celoteh El dengan wajah yang membuat Leta kesal.


"Vin kita makan berdua aja yah, soalnya satu lagi buat Mami," ujar Cia sambil duduk disebelah Kevin sambil menaruh Sepiring batagor.


"Iya nggak papa asal sama lo," celoteh Kevin sambil tersenyum.


Sedangkan Lisya dan Gibran makan dengan tenang tetapi beberapa menit kemudian pertempuran diantara mereka pun terjadi.


Barulah Lisya yang ingin menyuapkan satu sendok batagor kedalam mulutnya terurungkan karena Gibran tidak sengaja menyenggol lengan Lisya.


"Woi tangan lo biasa aja dong ganggu banget orang lagi makan juga," ucap Lisya dengan nada bicara yang sedikit meninggi.


"Yaelah orang nyenggol dikit doang, lagi pula gw kan gak sengaja," celoteh Gibran dengan wajah sengitnya.


"Makanya kalo punya mata tu di gunain bukan dijadiin pajangan," ungkap Lisya dengan kesal.


"Biasa aja kali," tutur Gibran tak mau kalah.


"Ehh lu lama-lama ngeselin banget yah jadi orang," ucap Lisya dengan emosi yang memuncak.


"Sya Udah-udah nggak usah berantem," ujar Leta menasehati.

__ADS_1


__ADS_2