IPA IPS Jadi Penghalang

IPA IPS Jadi Penghalang
Informasi


__ADS_3

"Dah dah cakep," jawab Kevin yang ikut membenarkan baju El.


"Hay... kalian udah lama dateng?" tanya Leta kepada teman-temannya.


"Emm barusan juga, eh Tante apa kabar," jawab Cia sambil mencium punggung Sonya dan diikuti teman Leta yang lainnya.


"Baik kok Cia, kamu ikut juga? mami kamu gak nganter kamu kesini hm?" tanya Sonya kearah Cia.


"Udah Tan Mami langsung pulang tadi," jawab Cia yang tampak gugup.


"Duh Mamanya cantik pantes aja Leta nya cantik gini keturunan ternyata," ucap El dalam hati tersenyum menatap Leta.


"Nih Dek tas lo," ujar Aron yang nampak ngos-ngosan karena membawa tas Leta yang nampak nya berat.


"Eh Bang Aron," sapa Gibran.


"Eh itu bis nya udah dateng tu," tunjuk Dira kearah 4 bis berukuran besar.


"Sayang kamu gak ada yang ketinggalan kan?" tanya Sonya memastikan.


"Enggak kok Mam insya Allah," jawab Leta tersenyum.


El tak henti-hentinya menatap Leta dan Sonya yang sangat mirip wajahnya.


"Aron kamu jagain Leta inget awas aja sampai kenapa-napa adek kamu!" perintah Sonya yang melotot tajam kearah Aron untuk memperingati.


"Tenang Ma ada El juga," jawab Aron sambil melirik kearah El yang nampak seperti orang salah tingkah.


"El? siapa El?" tanya Sonya ke Aron lalu Aron mengkode lewat tatapan.


Sonya pun melihat tatapan yang dituju oleh Aron, dia melihat ke seorang murid laki-laki sedang berdiri di samping Cia.


"Kamu El? El siapanya Leta?" tanya Sonya to the point ke El.


El rasanya sangat malu saat ini dia pun menjawab dengan gugup dan sedikit berkeringat. Emm gayanya aja suka godain perempuan eh takut sama Mak Mak ternyata hehe:v


"E-eh iya Tante, kenalin aku El temen Leta," ucap El yang menyodorkan tangannya perkenalan.


"Maksudnya calon pacar Tante bukan temen hahaha," sambung Gibran dan yang lain hanya tertawa melihat El yang sangat gugup itu.


"Awas aja tu Gibran gw bejek-bejek!" ucap El kesal dalam hati, bisa-bisanya El diledek seperti ini hingga malu didepan Mamanya Leta.


"Temen? calon pacar? maksudnya gimana nih?" tanya Sonya yang nampak binggung.


"Em udah Ma gak usah dipikirin mereka cuman bercanda," tutur Leta menjelaskan.

__ADS_1


Saat ingin menjelaskan lebih lanjut terdengar lah suara toa yang berbunyi.


"Tes..tes.."


"Ayok anak-anak berkumpul sebentar membuat lingkaran disini," ucap suara kepala sekolah menggunakan toa nya.


"Eh Mam Leta disuruh kumpul dulu nih," ujar Leta kepada Sonya.


"Yaudah kamu kumpul dulu gih," tutur Sonya sambil mencium pucuk kepala Leta.


"Dah Mam..." pamit Leta yang mencium tangan Sonya diikuti dengan Aron serta teman-temannya Leta.


"Cia... kamu jagain Leta juga ya nanti dia nyasar ke hutan," ucap Sonya kepada Cia yang direspon anggukan oleh Cia.


"Aron inget ya perintah Mama!" tegas Sonya lagi untuk memastikan.


"Iya Mama giliran Leta aja diperhatiin, Aron gak tu digituin em," balas Aron dengan memasang ekspresi cemburu.


Sonya dan Leta tertawa melihat tingkah Aron yang pencemburu itu.


"Malah ketawa," ucap Aron yang nambah kesal.


"Bang lo lucu tau kalo kayak gitu, gituin aja terus Mam," ledek Leta sambil tertawa melihat tingkah Abangnya itu.


Semua tersenyum melihat keharmonisan keluarga Leta termasuk El.


"Yaudah yok kesana," tutur Leta lalu mereka berjalan menuju lapangan.


"Heh... udah jangan kebanyakan halu lo," tegur Ramon sambil menyenggol lengan Elvano. El langsung menghentikan sesi senyum karena memikirkan Leta.


Sekarang mereka telah berkumpul dan mendengarkan pemberitahuan mengenai toor ke puncak.


...🌼INFO PERJALANAN🌼...


"Baiklah anak-anak apakah semuanya sudah berkumpul?" ucap pak Hendri memastikan anak didiknya sudah lengkap dan siap untuk berangkat.


"Sudah Pak.." ujar semua murid dengan kompak.


"Oke sebelum berangkat kalian kumpulkan tas nya disana dan biarkan anak osis yang memindahkan ke dalam bis," tegas Pak Hendri lalu mereka semua menaruh tasnya masing-masing dan anggota osis pun menjalankan tugas.


"Bapak akan membacakan nama-nama kelas yang di gabung untuk satu bis" ujar Pak Hendri sambil membuka selembar kertas yang berisikan nama-nama kelas.


"Semoga kita satu bis," ucap Cia sambil melirik kearah Kevin dan Kevin hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Semoga bisa satu bis," doa El dengan tangan yang memohon.

__ADS_1


"Ehmm... jadi anak-anak kelas MIPA akan di gabung dengan kelas IPS," ungkap Pak Hendry memberitahu.


"Bapak langsung sebutkan saja yah... MIPA 1 bergabung dengan IPS 3 memakai Bis no 1 karena siswa IPS 3 lebih sedikit, selanjutnya MIPA 2 bergabung dengan IPS 1 memakai Bis no 4, MIPA 3 dengan IPS 4 memakai Bis 2, selanjutnya MIPA 4 dengan IPS 1 memakai Bis no 3."


Setelah mendengar pemberitahuan dari Pak Hendri semua murid ricuh dengan obrolan mereka masing-masing.


"Kyaa kita satu Bis"


"Aku duduk sama lo yah"


"Yah kenapa nggak sama Mipa 3 sih"


"Eh gw duduk di pojokan yah"


"Aaa kita satu Bis"


"Gw padahal pengen satu bis sama El"


"Gw udah bawa cemilan kok"


"Yeyy kita satu Bis," teriak Cia dengan riang.


"Haha bagus deh biar kita bisa saling jaga," tutur Gibran ikut tersenyum.


"Nggak nyangka kita satu bis yah hihihi," tutur Leta ikut senang. El tersenyum kearah Leta, lalu Leta menatap El dan ikut tersenyum.


"Harap tetap konsisten..." tegas Pak Hendri lalu mereka semua senyap dan kembali mendengarkan informasi.


"MIPA 1 dan IPS 3 langsung masuk kedalam bis, selanjutnya baru kelas yang lain," tutur Pak Hendri lalu mereka semua berbaris dan masuk kedalam Bis masing-masing.


Cia duduk bersama Leta, dibelakang mereka terdapat Dira dan juga Lisya. Sedangkan El serta lainnya duduk di kursi sebelah kanan dengan El duduk bersama Kevin, sedangkan Ramon bersama dengan Gibran. Setelah mereka semua duduk kan diabsen terlebih dahulu barulah bis berjalan secara beriringan.


"Let gw duduk sama Kevin bentar yah," tutur Cia meminta izin.


"Iya nggak papa kok," ujar Leta mengiyakan. Leta memaklumi akan situasi. Mendengar jawaban dari Leta Cia pun langsung beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Kevin.


"El lo duduk sama Leta dulu bentar. Gw mau ngobrol sama Kevin," tutur Cia sambil membawa cemilan di tangannya. El yang mengerti maksud Cia pun langsung pindah ke samping Leta.


"Sya lo kan tau gw kalo naik bis harus duduk di deket jendela," rengek Dira kearah Lisya.


"Gw juga nggak bisa kalo nggak deket jendela," dengus Lisya.


"Yahh lo harus ngalah dong sama Adek," rengek Dira sambil mengguncang lengan Lisya. Gibran yang jengah mendengar perdebatan mereka pun membuka suara.


"Udah... Ribut mulu dari tadi, Dira lo duduk di kursi gw aja biar gw duduk disitu," celoteh Gibran lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Yeyy thanks Bran," ujar Dira dengan girang lalu dirinya duduk disebelah Ramon dengan posisi Dira duduk di sebelah jendela.


__ADS_2