
Waktu berjalan dengan cepat, sudah dua tahun berlalu dan umur Alexander serta Jasmin sudah genap dua tahun. Selama rentang waktu itu, banyak hal yang telah berubah, termasuk pernikahan Justin dan Austin yang di selenggarakan ketika usia kedua bayi itu menginjak 10 bulan.
Sekarang Alexander dan Jasmine juga sudah bisa berjalan dengan aktif, perubahannya juga sangat terlihat jelas. Alexander yang mengikuti sifat ayahnya dingin serta bijaksana serta sifat Jasmine yang mengikuti sifat Alana yang ceria sebelum kejadian itu.
“ aku berfikir Jasmine akan menjadi pendiam dan Alexander akan menjadi pria yang ceria “ ucap Devan.
“ iya, aku bahkan tidak menduga bahwa keduanya mengikuti sifat kita sayang “
Devan tersenyum bahagia karna sekarang hidupnya benar-benar sempurna. Dia memiliki istrinya yang sangat dicintainya dan memiliki dua orang anak yang sangat menggemaskan.
“ kakak Al, Jasmine lelah “ ucap Jasmine lancar.
Selain bisa berjalan dengan lancar, keduanya juga mengikuti jejak ibunya yang jenius. Kecepatan mereka dalam hal berbicara bahkan membuat semua orang kagum.
“ Pompom bawa Jasmine ke papa dan mama “ ucap Alexander.
Saat ini, mereka sedang bermain dengan anak-anak Pompom dan Brownie. Devan serta Rafael telah memberikan kepada mereka pasangan agar tidak mengganggu keduanya saat bermain dengan kedua anak mereka.
Saat Pompom mendengar perkataan Alexander, dia langsung bangun dari tidurnya dan berjalan menuju Jasmine. Dia juga segera merendahkan tubuhnya agar gadis kecil itu bisa nbaik ke punggungnya.
“ yey, Pompom yang terhebat “ ucap Jasmine bahagia ketika bisa naik ke punggu Pompom.
Alana dan Devan hanya bisa pasrah saat melihat pertemanan antara anak-anak mereka dengan kedua kucing besar itu.
“ mama, Jasmine ingin minum “ ucap Jasmine setelah turun dari punggung Pompom.
“ kemarilah, mama sudah menyiapkan jus untuk kalian “
Setelah mendengar perkataan sang ibu, Jasmine langsung duduk di pangkuan Devan dan mengambil jus dari tangan Alana.
Devan yang melihat tingkah manja sang putri hanya bisa tersenyum sambil mengelus rambut halus putrinya dengan lembut.
“ apakah itu enak sayang “ tanya Devan.
“ iya, apakah papa mau “ tanya Jasmine.
“ tidak sayang papa hanya bertanya, sekarang minumlah sampai habis “
“ baik pa, Jasmine takut jika paman Rafael datang dan mengambil jus Jasmine “
Saat ini, Rafael dan Devan telah sepakat untuk membiarkan Jasmine memanggil pria itu dengan sebutan paman karna bagaimana pun usia Jasmine masih terlalu muda untuk mengerti tentang perjanjian mereka.
“ sepertinya ada yang membicarakan paman “ ucap Rafael tiba-tiba.
Ketika Jasmine mendengar suara Rafael, dia langsung tertawa dan berlari ke arah Rafael untuk memberikannya pelukan.
“ paman datang “ ucap Jasmine bahagia.
__ADS_1
Gadis kecil itu sangat bahagia setiap kali Rafael datang ke rumahnya. Dia juga akan berubah manja ketika bertemu dengan ayah angkatnya.
“ sepertinya tadi paman mendengar bahwa ada seseorang yang mengatakan bahwa dia takut jika paman datang dan mengambil jus nya “ goda Rafael.
“ tidak, itu bukan Jasmine. Itu papa yang mengatakannya “ ucap Jasmine dengan wajah serius yang di buat-buat.
“ benarkah “ tanya Rafael.
“ benar paman, bagi Jasmin paman Lafael yang terbaik “
Saat Rafael mendengar namanya yang di ubah oleh Jasmine langsung tertawa. Dia tidak mengerti mengapa anak angkatnya itu sangat sulit mengucapkan namanya dengan benar.
Ketika keduanya sedang bercanda, Alexander yang telah selesai bermain dengan anak-anak Pompom berjalan menuju kedua orang tuanya. Dia juga tidak menyapa Rafael karna baginya pria itu cukup berisik dan menyebalkan.
“ apakah jagoan papa ingin minum “ tanya Devan.
“ iya “ jawab Alexander singkat.
Devan yang mendengar perkataan singkat putranya menjadi tersadar bahwa sikap acuh putranya di warisi olehnya. Sedangkan Alana yang mendengar hal itu hanya tersenyum, dia tahu sifat acuh putranya juga di warisi olehnya dan Quenza.
“ ma, kapan ibu akan muncul kembali “ tanya Alexander tiba-tiba.
Ibu yang di maksud oleh Alexander adalah Quenza, kedua anak kecil itu telah beriteraksi ketika umur mereka genap satu tahun yang lalu. Awalnya, Alexander dan Jasmine sering bingung dengan perubahan sifat ibunya tapi setelah penjelasan yang memakan waktu yang panjang dari Quenza dan Alana, mereka akhinya paham serta menerima Quenza sebagai ibu kedua mereka.
“ apakah putra mama merindukan ibu “
Saat mendengar perkataan putranya, Alana menjadi terharu. Dia tidak menduga bahwa putranya akan mengatakan hal yang dewasa seperti itu ketika umur mereka masih beranjak 2 tahun.
“ sayang, ibu mengatakan pada mama bahwa pelatihan itu akan di ajarkan kepada Al saat umur Al sudah memasuki 7 tahun “
“ mengapa begitu lama ma, apakah ibu tidak ingin melatih Al “
“ tentu saja tidak sayang, mama dan ibu sudah sepakat bahwa Al harus berusia 7 tahun agar bisa berlatih ilmu bela diri “
“ begitukah “
“ iya, mama juga bisa melatih Al ilmu bela diri. Namun saat ini Al masih kecil dan ilmu bela diri itu membutuhkan fisik yang kuat “ ucap Alana.
“ baiklah, tapi mama dan ibu harus berjanji untuk mengajarkan kepada Al ilmu bela diri saat Al berusia 7 tahun “ ucap Alexander sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
“ mama janji sayang “ ucap Alana sambil mengaitkan cari kelingkingnya ke milik putranya.
Devan yang melihat interaksi ibu dan anak itu hanya bisa tersenyum, dia tahu bahwa putranya memiliki sifat yang sama dengan Alana dan Quenza yang berbakat dengan ilmu bela diri.
“ kemarilah, papa ingin memangku Al “ ucap Devan.
Saat Alexander mendengar perkataan sang papa, dia sedikit ragu. Namun dia juga sangat ingin berada di dekat Devan dan menikmati perlakukan yang sering diberikan kepada Jasmine.
__ADS_1
Setelah memutuskan dengan cepat, Alexander berjalan ke arah Devan. Ketika Devan melihat putranya sudah berdiri di hadapannya, dia langsung mengangkat tubuhnya dan meletakannya di pangkuannya. Dia juga mengelus kepala putranya dengan lembut.
“ apakah Al sangat ingin berlatih ilmu bela diri “
“ iya, apakah papa keberatan “ tanya Alexander.
Setelah mendengar jawaban tegas sang putra, Devan tersenyum dan memberikan kecupan ringan di puncak kepala sang putra.
“ tidak sayang, papa bahkan bangga dengan Al, papa bahagia jika Al ingin berlatih ilmu bela diri tapi Al juga harus tahu jika umur Al masih terlalu muda. Saat ini seharusnya Al melakukan apa yang sering di lakukan oleh kakak Rey dan kakak Arka, papa ingin Al seperti anak-anak lain yang suka bermain dan mengoleksi mainan. Papa tidak ingin anak papa kehilangan masa kanak-kanaknya seperti papa, apakah Al paham sayang “ ucap Devan lembut.
“ baik pa, Al akan melakukan apa yang papa ucapkan. Al juga ingin sering bermain dengan papa seperti kakak Rey dan kakak Arka , Al berharap papa sering berada di rumah “
Ketika Devan mendengar perkataan putranya, dia merasa bersalah karna terlalu sering pulang larut malam dan ketika hari sabtu atau minggu dia akan bekerja di ruang belajar.
“ oke, mulai sekarang papa akan sering di rumah dan akan menemani Al bermain. Kita juga akan membeli mainan yang Al inginkan “
“ papa janji “
“ iya sayang, papa janji “
Setelah mendengar janji sang papa, Alexander tersenyum bahagia dan memeluk Devan. Sejujurnya sikap dingin Alexander kepada Devan bukan karna dia tidak menyukai sang papa, namun itu terjadi karna Devan yang jarang beriteraksi dengannya. Dia bahkan sempat iri dengan Reynald putra Raiden dan Arka putra Mike yang selalu memiliki waktu bermain bersama sang ayah.
“ maaf karna papa selalu sibuk, sekarang papa tidak akan melakukannya lagi “
“ iya pa “
Alana tersenyum bahagia dengan interaksi antara Devan dan Alexander, dia tahu bahwa putranya membutuhkan sosok ayah yang bisa menemaninya bermain.
“ mama, papa ayo kita masuk. Paman Lafael sudah lapar “ ucap Jasmine tiba-tiba.
Sebenarnya yang lapar bukan Rafael melaikan Jasmine si gadis kecil yang jahil. Namun dia tidak ingin mengakuinya karna baginya membuat Rafael dan Devan sebagai korbannya adalah hal yang menyenangkan.
“ bukankah Jasmine yang mengatakan pada paman bahwa Jasmine sudah lapar, tapi mengapa Jasmine mengatakan bahwa paman yang lapar “ goda Rafael.
“ paman Lafael tidak boleh berbohong, kata mama orang yang suka berbohong nanti digigit Pompom atau Brownie “
Satu hal lagi kebohongan yang di lakukan Jasmine, Alana tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada putrinya namun sang putri dengan cerdasnya menakut-nakuti Rafael yang sangat takut dengan Pompom serta Brownie.
" baiklah, sepertinya memang pamanlah yang lapar " ucap Rafael kalah.
Jasmine tersenyum bahagia saat melihat pria itu kalah darinya. Alana yang melihat interaksi dan kebohongan putrinya hanya bisa tersenyum.
“ baiklah, sekarang kita masuk “ ucap Alana tersenyum.
Setelah mengtakan hal itu, Devan menggendong Alexander sedangkan Rafael menggendong Jasmine. Alana yang melihat kesigapan kedua pria itu hanya bisa diam, dia sudah terbiasa dengan hal seperti itu jadi dia memustukan untuk mengabaikannya.
Sebelum masuk ke rumah, Alana juga meminta Pompom dan Brownie untuk kembali ke rumah mereka yang telah di ubah menjadi lebih besar untuk di tempati.
__ADS_1