
"Apakah kau tidak ingin bertemu dengan mereka? Menggendong bayi mu dan memeluk Violla, misalnya." Alana ingin memancing Sean agar semakin termotivasi.
Sepertinya Tuhan sudah mendengar doa-doa Alana dan Devan. Tepat saat wanita itu bertanya tentang keinginan untuk bertemu Violla serta putranya, wajah Sean tiba-tiba saja mulai kembali normal. Telihat ada beberapa ekspresi yang sebelumnya hanya datar dan kosong kini beubah normal.
Alana yang melihat perubahan itu menjadi sangat bahagia. "Jika kau memang ingin, maka sudah saatnya kau bangkit. Buktikan padanya bahwa kau bukan lagi pria jahat, kau sudah pantas menjadi suami serta ayah untuk mereka. Apakah kau paham maksud ku?"
Mungkin benar, motivasi adalah obat paling mujarab untuk orang seperti Sean. Dan Alana sangat bahagia ketika melihat perubahan itu.
"Maafkan aku Bos," ucap Sean lemah.
"Mengapa kau meminta maaf?" Bahagia, begitulah perasaan Alana saat mendnegar suara Sean yang tampak normal.
"Aku sudah membuat mu dan tuan Devan kesulitan. Tidak hanya mengganggu kalian aku bahkan membuat kalian menampung pria yang gila seperti ku."
"Kami tidak pernah merasa keberatan, jadi berhentilah merasa jika diri mu merepotkan."
Sean yang mendengar perkataan sang Bos langsung memeluk wanita itu. Ia tahu bahwa tindakannya salah, namun tidak bisa menahan ingin memeluk karena Alana satu-satunya wanita yang sangat baik serta perduli padanya, mulai saat Ia masih menjadi perampok hingga sekarang saat Ia menyakiti Violla.
"Aku benar-benar merasa sangat beruntung memiliki ketua seperti mu, Bos. Kau bahkan tidak malu merawat ku di kediaman mu." Jika itu orang lain, mungkin mereka sudah membuang Sean ketika tahu bahwa dirinya sudah tidak berguna lagi. "Sejujurnya, 2 bulan yang lalu aku sudah sembuh, Bos. Hanya saja aku masih tidak bisa memaafkan diri ku yang sudah menyakiti Violla dan anak ku sehingga sesuatu dalam diri memutuskan mengurung diri di kegelapan."
Terkejut, sepertilah perasaan yang sedang Alana rasakan. Ia tidak menduga jika Sean sudah sembuh 2 bulan yang lalu namun karena beberapa alasan, pria itu memutuskan mengunci dirinya dalam rasa penyesalan.
"Syukurlah, aku senang saat tahu bahwa kau sudah sembuh. Sekarang kau harus bangkit, perbaiki diri mu hingga kau pantas bersanding dengan Violla dan menjadi ayah untuk anak kalian. Jika memang kau ingin, maka aku akan membuat kalian bertemu dalam beberapa bulan lagi."
Alana tahu seperti apa perasaan Violla saat ini, wanita itu juga sama seperti Sean. Merasa hampa dan tidak ada satu hal pun yang membuat perasan itu terisi penuh kembali, seolah-olah bagian dari jiwanya hilang setelah memutuskan pergi menjauh.
__ADS_1
"Tidak, Bos. Aku akan menunggunya, biarkan aku memperbaiki diri ku dan menciptakan sebuah rumah yang hangat untuk mereka. Aku juga ingin berada di level yang sama atau paling tidak satu level di bawah tuan Rafael agar saat mereka kembali, aku bisa menjanjikan rumah serta memenuhi kebutuhan mereka."
Sean sudah memutuskan untuk membuka usaha agar dirinya bisa mencapai level Rafael. Ia tidak ingin hidup dalam rasa kasihan, Ia ingin menjadi pria kaya hanya agar kedua malaikatnya tidak malu ketika mereka bertemu di masa depan.
"Apa kau yakin?" Alana bahagia saat melihat perubahan Sean.
"Ya, Bos. Aku juga memutuskan untuk mengundurkan diri dari Black Lion agar bisa fokus memulai usaha ku. Apakah kau tidak keberatan, Bos?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aku malah bahagia karena kau memiliki keinginan seperti itu. Dan aku akan menamkan model di perusahaan yang akan kau bangun, kau juga boleh memakai nama ku untuk menarik para pelanggan serta penanam modal."
Sejak dulu, Alana selalu membantu para anggotanya jika mereka ingin membuka sebuah usaha tau perusahaan. Ia bahkan tidak keberatan meminjamkan modal tanpa bunga dan tidak memberikan banyak waktu untuk mengembalikannya.
"Terima kasih, Bos. kau memang pahlawan untuk kami semua." Sean melepaskan pelukannya dan menatap Alana memuja, bukan pandangan cinta namun kagum akan kebaikan Alana.
"Baik, Bos. Apakah aku juga boleh membawa foto-foto ini?'
"Tentu, jika kau ingin sering mendengar suara anak mu dan Violla. Maka aku akan merekamkannya untuk mu."
Dari pengamatan Alana, suara Violla dan putranya merupakan sebuah kekuatan untuknya, Jadi Alana tidak kebertaan jika harus sering melakukan paggilan luar Negri agar bisa merekan suara Viola serta putranya.
"Terima kasih, Bos. Besok aku juga akan kembali ke apartemen ku dan akan dating setiap 2 hari sekali untuk mengambil suara rekaman mereka, aku juga ingin foto-foto terbaru mereka. Apakah kau tidak keberatan, Bos?"
"Bukankah aku sudah mengatakannya, aku sama sekali tidak keberatan dan akan melakukannya dengan senang hati. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan."
Sean mengangguk, "Apa aku masih boleh memanggil mu, Bos?"
__ADS_1
"Silahkah, jika kau merasa senang saat menanggil ku Bos maka lakukan. Lagi pula kau akan tetap menjadi salah satu dari Black Lion mekipun kau sudah mengundurkan diri."
"Sekali lagi terima kasih, Bos. Aku akan mengingat semua kebaikan mu."
Setelah selesai berbicara. Sean langsung meninggalkan ruanga kerja Devan sambal membawa foto-foto milik Violla dan putranya. Ia akan menjadikan foto itu sebagai album berhargnya yang akan selalu Ia buka ketika rindu dengan kedua malaikatnya.
"Sepertinya doa kita sudah di kabulkan oleh Tuhan," ucap Devan tiba-tiba.
Alana yang tidak menyadari kehadiran sang suami menjadi terkejut. "Sayang, bisakah kau tidak membuat ku terkejut dengan kehadiran tiba-tiba mu."
"Maaf, aku hanya mengkhawatirkan mu lalu memutuskan melihat ke kamar Sean. Namun kalian berdua sudah tidak ada jadi ku putuskan mencari ke ruang kerja dan tenyata kalian berada disini. Aku juga melihat Sean tampak kembali normal hingga tidak menyadari keberadaan ku."
Alana mengangguk paham lalu mengajak Devan untuk kembali ke kamar. Malam sudah semakin larut sehingga mereka harus segera istirahat.
"Besok dia akan kembali ke apartemennya, jadi kita bisa menjemput Al dan Jasmine," ucap Alana saat mereka suda tiba di kamar.
"Mengapa begitu cepat."
"Dan kenapa suami ku terlihat tenang senang seperti itu?"
"Aku hanya merasa sedikit sedih karena malam ini adalah malam terakhir ku bisa memeluk dan tidur dengan sepuasnya. Besok kedua anak kita kembali, sudah pasti mereka akan merebut semua perhatian mu seperti sebelum-sebelumnya."
Alana langsung mencubit pinggang Devan hingga membuat pria itu tertawa. Bukannya merasa sakit, cubitan itu seperti sebuah gelitikan untuknya.
"Baiklah, sekarang mari kita tidur. Malam ini aku harus memuaskan diri ku sebelum kedua perebut perhatian istri ku kembali." Devan langsung membawa Alana ke ranjang dan memulai aktivitas yang sebelumnya sudah mereka lakukan beberapa jam yang lalu.
__ADS_1