
Satu bulan setelah kejadian di apartemen, membuat Violla semakin murung. Dia bahkan tidak pernah lagi dating ke rumah Alana karena takut bertemu dengan Sean. Dia takut mengingat kejadian pahit itu kembali shingga membuatnya semakin terluka.
"Sayang, katakan pada ibu. Apa yang telah terjadi pada mu? Mengapa kau tampak snagat muruh setelah pulang dari apartemen Sean."
Sudah satu bulan Diana melihat perubahan Violla. Sejujurnya, ketika putrinya pulang dari apartemen Sean, dia tidak melihat apa pun kecuali mata yang bengkak. Namun saat dia bertanya, Violla memberikan jawab bahwa baru saja menonton filim sedih Bersama Sean sehingga tidak bisa menah tangisan. Tapi setelah itu, Violla berubah menjadi murung, tidak lagi pergi ke luar rumah atau bahkan memberikan seyum cerah seperti biasa.
"Aku baik-baik saja, Bu. Beberapa minggu ini aku hanya sedang lelah karena sering tidur larut malam akibat membaca novel melalui ponsel." Membaca buku adalah alasan yang jarang di gunakan, sehingga membuat Violla dengan santai menggunakannya.
"Benarkah? Lalu mengapa Sean tidak mencari mu untuk berlatih seperti biasa?"
Sesak, itulah yang sedang terjadi pada Violla ketika mendengar nama pria yang sudah berusaha dia hilangkan dari otak serta hatinya. Berusaha melupakan kejadian menyedihkan yang pernah di alaminya.
"K-kami sudah tidak lagi berlatih, Bu," ucap Violla gugup. "Ya, kami sudah tidak lagi berlatih karena guru mengatakan bahwa aku sudah menguasasi ilmu bela diri yang diajarkan olehnya." Begitu sakit ketika menyebutkan kata 'guru' dan mengingat kejadian sebelum peristiwa yang menambah luka itu terjadi. 'Maafkan aku bu, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada mu. Semoga kali ini kebohongan itu tidak akan terungkap, Tuhan," batin Violla.
"Kau sedang tidak berbohong pada ibu, bukan?"
"Tidak bu, sekarang bisakah ibu meninggalkan ku di kamar. Aku ingin melanjutkan bacaan ku yang terhenti," ucap Violla dengan wajah bahagia yang di buat-buat.
"Baiklah, ibu akan keluar. Tapi kau harus berjanji satu hal pada ibu. Jangan menyimpan masalah mu sendiri, kau bisa menceritakannya pada ibu dan kakak mu, kau juga bisa menceritakannya pada Alana, jika memang menurut mu kami tidak bisa memberikan mu. Apakah kau paham itu?"
__ADS_1
"Ya bu, kalua begitu sekarang ibu harus pergi. Jangan ganggu aku, panggil saja saat waktunya makan siang."
Diana menganggukan kepalanya lalu pergi meninggalkan kamar putrinya, meskipun dia masih belum puas akan jawaban dari sang putri. Namun hanya bisa menahannya karena tidak ingin Violla tidak bahagia akan pertanyaanya.
Setelah kepergian sang ibu, Violla kembali menangis. Meratapi kebodohon demi kebodohan yang sudah dia lakukan. Merutuki kesalahannya yang tega membohongi ibunya, wanita yang sudah menjaga serta membesarkannya.
'Maafkan Violla, Bu.' batin Violla.
Saat wanita itu sedang menangis tersedu-sedu dengan musik yang kuat agar tidak menimbulkan kecurigaan ibunya, tiba-tiba saja perutnya terasa sangat mual sehingga membuatnya berlari ke kamar mandi dengan cepat.
Ketika di kamar mandi, Violla mulai muntah. Namun hal yang keluar dari mulutnya hanya air, membuat Violla bingung dengan kondisinya. Muntah itu berlangsung selama beberapa menit lalu selesai.
Setelah selesai mencuci wajah serta mulutnya, Violla kembali ke ranjang dengan tubuh yang lemah. Kondisinya yang baik-baik saat pagi membuatnya cemas ketika mulai muntah-muntah setelah kepergian ibunya.
Beberapa menit berfikir panjang, Violla memutuskan mencari penyebab-penyebab yang mengakibatkannya mual untuk memastikan pemikirannya salah. Namun air matanya tiba-tiba keluar sangat deras ketika melihat penyebab yang sangat cocok untuk gejala yang dia alami.
"Tuhan, mengapa kau membuat semuanya menjadi sangat rumit. Aku tidak ingin ada yang teluka, tapi mengapa kau menghadirkan sesuatu yang mungkin akan bernasib sama dengan ku," ucap Violla berderai air mata. Meskipun dia belum yakin seratus persen, namun entah mengapa hatinya menjadi sakit ketika membaca sebuah artikel yang cocok untuk gejalannya.
Bagaikan sebuah pepatah, sudah terjatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang sangat cocok untuk Violla saat ini, hidupnya benar-benar semakin berat setelah peristiwa satu bulan yang lalu. Dia juga di liputi rasa bersalah dan ketakutan akan kebenaran yang segera terungkap.
__ADS_1
"Mungkin kematian akan membuatnya semakin mudah." Entah mengapa tiba-tiba sebuah ide untuk mati di kepala Violla. Setan mungkin sudah membuatnya kehilangan kepercayaanya akan adanya Tuhan. "Ya, kematian lebih baik untuk ku." Setelah mengatakan hal itu, Violla mengambil beberapa kain panjang untuk di sambung dan digunakan sebagai alat kematiannya.
Setelah kain itu telah terbentuk panjang, Violla pergi ke balkon untuk memulai aksi bunuh dirinya. Balkon yang berhadapan langsung dengan hutan membuat aksi bunuh diri itu akan berjalan lancar,kain yang panjang sudah di ikat di tiang balkon dengan kuat lalu mulai mengikatnya di leher sebelum terjun kebawah.
Penuh derai air mata, Violla yang sudah siap akan aksi bunuh dirinya. Tiba-tiba dia tersadar akan tindakannya yang salah, dia mundur dan menjauh dari pinggir balkon lalu terduduk di lantai dinging.
"Bodoh, mengapa kau sangat bodoh Violla. Apa yang membuat mu menjadi kehilangan akal sehat, menghadirkan air mata dan membunuh ibu mu secara tidak langsung dengan kebodohan mu," ucap Violla pada dirinya sendiri. "Kau seharusnya mensyukuri pemberian Tuhan, mungkin Tuhan memberikannya pada mu karena kau dan guru tidak akan pernah bisa bersama. Anggap ini sebagai penggati guru, rawat dia dan bahagiakan dia. Penuhi semua kebutuhannya dan jadilah bidadari tidak bersayap untuknya."
Mungkin kematian bisa menjadi jalan yang benar untuk orang yang mengalami hal yang sama dengan Violla. Dan akan membutuhkan banyak kepercayaan akan hadirnya Tuhan agar bisa keluar dari pemikiran mengakhiri hidup, Violla beruntung karena Tuhan masih mengingatkan hal yang bisa menimbulkan luka tidak berujung untuk kakak laki-laki serta ibunnya.
"Mungkin hanya kak Ana yang bisa membantu ku," ucap Violla. "Aku harus menemui kak Ana sekarang." Setelah menyakinkan dirinya, Violla melepaskan jerak kain yang ada di lehernya lalu berlari ke luar rumah dengan penampilannya yang acak-acakan.
Di sepanjang jalan, Violla meyakinkan bahwa Alana pasti akan membantunya, membantu membawanya pergi jauh dari keluarganya dan Sean. Melindungi nyawa pria yang sangat dia cintai dari amukan kakak laki-lakinya.
Ketika larinya semakin dekat dengan rumah, tiba-tiba saja Violla bertabrakan dengan Sean yang barus saja keluar dari rumah Alana. Kondisinya juga tidak terlalu baik, mengingat semua pekerjaanya menjadi terbengkalai akibat kejadian 1 bulan yang lalu, dia sangat takut jika Violla melaporkan tindakan kejinya pada sang Bos dan membuatnya di buang jauh dari Black Lion.
"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Violla lalu pergi meninggalkan Sean yang masih tertegun dengan penampilan menyedihkan Violla.
Violla yang tidak ingin melihat atau bahkan bertemu dengan Sean dengan cepat berlari ke dalam rumah. Untungnya hari ini Devan, Al dan Jasmine sedang tidak ada di rumah, membuat Violla nyaman ingin bercerita dengan Alana.
__ADS_1
"Kakak," seru Violla lalu memeluk Alana yang tengah duduk di sofa sambil melihat perkembangan perusahaan dari laptop.
Mendapat pelukan tiba-tiba Violla, membuat Alana terkejut dan mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan adik angkatnya tersebut.