
Violla yang di tinggalkan sendirian akhirnya pergi menyusul putranya dan Sean. Meskipun dia tidak suka pulang Bersama Sean, namun Violla harus melakukannya karena tidak ingin putranya sedih jika harus di pisahkan dari ayahnya.
Sesampainya di mobil, Arsean dan Sean sudah duduk di kursi depan sehingga membuat Violla harus duduk di kursi penumpang dengan wajah cemberut. Sean yang melihat itu melalui kaca hanya tersenyum.
"Mengapa ibu sangat lama?" tanya Arsean.
"Ibu baru saja menerima telepon paman dan bibi di Negara K, Sayang." Violla terpaksa membohongi putranya.
"Benarkah, bibi pasti sedih karena aku pergi," ucap Arsean sedih.
Violla tersenyum dan mencoba menghibur putranya, dia tidak menduga bahwa kebohongannya membuat sang putra menjadi sedih.
"Apakah Ar lapar?" tanya Sean berusaha mengalihkan perhatian putranya.
"Ya, Ar ingin makan ayam goreng, Ayah." Arsean kembali bahagia, membuat Violla merasa lega sedikit.
"Bagaimana kalau kita membuat ayam goreng di rumah. Kita bisa singgah di supermarket untuk membeli bahan serta ayamnya."
"Setuju, Ar ingin merasakan ayam goreng buatan Ar dan ayah."
"Baiklah, sekarang mari kita pergi."
Sean langsung menjalankan mobilnya, membuat Arsena tersenyum bahagai. Dia bahkan sangat antusias saat melihat pemadangan di luar yang begitu baru untuknya, untungnya Violla sudah mengajarinya menggunakan bahasa yang selalu di gunakan di Negara A sehingga Arsean tidak kesulitan ketika berinteraksi dengan Sean serta anggota keluarganya yang lain.
Sesampainya di supermarket, Sean membawa Ar masuk ke dalam dan mulai berbelaja. Interaksi keduanya menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam, membuat Violla menjadi sedikit was-was jika ada wanita yang mencoba merayu Sean dan membuat putranya merasa tidak nyaman.
"Apa kau ingin membeli sesuatu?" tanya Sean pada Violla yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Aku ingin membeli pembalut dan beberapa makanan ringan," ucap Violla asal.
Sean yang mendengar hal itu langsung mengambil beberapa pembalut yang kebetulan berada di dekatnya. Membuat Violla menjadi malu, dia tidak menduga ucapan asalnya membuat Sean melakukan hal yang mungkin tidak semua pria bersedia melakukannya.
"Katakan pada ku, yang mana biasanya kau gunakan?" tanya Sean sambil memperlihatkan beberapa pembalut di tangannya pada Violla.
"Tidak bisakah aku saja yang mengambilnya, ini sangat memalukan." Violla berbisik pada Sean karena malu dengan tingkah laku Sean.
"Untuk apa kau malu? Bukankah ini wajar bagi setiap wanita." Sean hanya berniat menunjukan rasa cintanya pada Violla namun lupa jika tindakannya membuat semua pengunjung yang berada di satu Lorong dengan mereka menatap tingkah laku Sean.
__ADS_1
"Tapi kau pria dan ini memalukan untuk wanita."
"Aku tidak malu, lagi pula ini untuk ibu anak ku. Jadi aku tidak perduli dengan tanggapan orang lain."
Melihat ketegasan atas tindakannya, membuat Violla merasa Sean sudah banyak berubah. Pria itu tidak segan-segan memperlihatkan rasa cinta serta tanggung jawab padanya.
"Ayah, Ar ingin mainan ini." Entah sejak kapan, Arsean pergi dan kembali membawa sebuah mainan anak-anak lalu memperlihatkannya pada sang ayah tanpa tahu apa yang sedang di perdebatkan ayah dan ibunya.
"Kalau begitu Ar bisa memasukannya ke troli kita."
"Terima kasih ayan, oh ya. Mengapa ayah memegang benda yang sering di gunakan ibu?"
Violla yang mendengar ucapan Arsena menjadi semakin malu, berbeda dengan Sean yang tersenyum lalu memberikan penjelasan yang semakin membuat Violla menyesal telah mengatakan pembalut sejak awal.
"Ayah hanya ingin membelikannya untuk ibu, tapi ayah tidak tahu merek mana yang sering di gunakan oleh ibu."
Arsean mengangguk paham, "Ar sering melihat ibu membeli mereka yang ada di tangan kanan, Ayah."
Sean tersenyum senang, dia akhirnya tahu barang yang sering di gunakan Violla ketika sedang kedatangan tamu. Sean bahkan dengan senang hati mencatat mereka itu di dalam ingatannya.
"Baiklah, sekarang mari kita lanjutkan belanjanya. Jika Ar mengingkinkan sesuatu maka Ar bisa mengambinya."
"Apakah Ar yakin?"
Arsean yang selalu mendengarkan ucapan ibunya yang melarangnya mengambil banyak barang dengan tujuan agar dia tidak boros saat dewasa menjadi bingung. Dia begitu tertarik dengan tawaran ayahnya namun takut sang ibu marah jika dirinya mengambil banyak barang.
"Ar tidak perlu takut, uang ayah adalah uang Ar. Jadi, apa pun yang Ar inginkan maka ayah akan membelikannya, tapi dengan batasan Ar harus menyukainya dan akan di gunakan. Apakah Ar paham?"
Arsean sekali lagi mengangguk lalu memeluk kaki Sean. "Terima kasih, Ayah. Ar janji akan membeli barang yang Ar suka dan tidak membuang barang itu."
"Ini baru putra ayah."
Setelah itu, keduanya melanjutkan acara belanja mereka. Sedankan Violla yang tidak terlalu di perdulikan memutuskan mengambil beberapa makanan ringan untuk dirinya sendiri.
Arsean dan Sean menghabiskan 40 menit berbelanja, setelah semua barang telah terkumpul. Sean membayar barang sedangkan Violla serta sang putra menunggu di mobil, hingga 10 menit berlalu pria itu datang tas belanjaan yang cukup banyak.
Seusai menyusun barang-barang, ketiganya pergi meninggalkan supermarket menuju rumah Sean. Sesampainya disana, baik Violla dan Arsean terpana ketika melihat penampilan rumah mewah milik Sean. Meskipun tidak semewah kediaman Alana dan Devan atau milik Rafael, milik Sean cukup mewah untuk pria yang baru saja membuka usahanya.
__ADS_1
"Selamat datang di rumah, ayo kita masuk."
Di rumah itu, Sean hanya memiliki beberapa penjaga, sedangkan untuk pelayan bersih-bersih rumah. Dia bisanya menggunakan pekerja paruh waktu, tapi sekarang dia sudah memutuskan mengambil pelayan tetap agar ada yang membantu Violla serta putranya ketika dia tidak di rumah.
"Ini sangat hebat, Ayah. Ar ingin segera bermain di taman bermainan itu." Meskipun hanya sekilas, Arsean sudah melihat indahnya taman bermain itu.
"Kita akan bermain setelah makan siang dengan ayam goreng ini. Ayah juga akan mengajak Ar main di kolam renang."
"Baik, apakah ibu juga boleh ikut?"
"Tentu, jika ibu ingin ibu boleh ikut."
Violla yang baru saja di ingat kehadiran hanya memandang wajah putranya, dia sedih karena sang putra tiba-tiba melupakannya. Berbeda sebelum mereka kembali ke Negara A.
"Ibu harus ikut bermain air, Ar ingin seperti anak-anak lain. Mereka sering bermain dengan ayah dan ibunya."
Sedih, seperti itulah perasaan Sean dan Violla. Secara tidak sengaja mereka menyakiti hati Ar, membuatnya kehilangan momen-momen bahagia bersama keluarga yang lengkap.
"Ya, sayang. Ibu akan ikut bermain bersama Ar." Violla mengusap puncak kepala putranya dengan sayang.
"Asik, Ayah. Ayo kita mulai membuat ayam goreng agar bisa makan siang lalu bermain air."
"Baik sayang, kalau begitu sekarang Ar masuk ke rumah dan ayah akan memawa barang-barang kita."
"Siap." Setelah itu, Arsean berlari ke dalam rumah yang pintunya bisa terbuka secara otomatis hanya ketika Sean berada di sekitar.
Saat Sean sedang mengambil barang belajaan, dia memberikan kunci kamar untuk Violla. Karena mereka belum menikah, maka Sean membiarkan Violla tidur dalam satu ruangan dengan putranya.
"Ini kuci kamar, karena malam ini kalian akan tinggal disini maka kau bisa beristirahat dulu sebelum makan siang."
Violla yang berfikir bahwa kunci kamar itu adalah kunci kamar Sean langsung menolak, dan membuat Sean tertawa ketika tahu alasan di baliknya.
"Meskipun aku ingin memeluk mu setiap malam sebelum tidur, tapi aku tidak akan melakukannya malam ini. Jadi jangan berfikir buruk, atau jika kau ingin maka kita bisa melakukannya nanti malam."
Violla menjadi malu lalu mengambil paksa kunci dan pergi membawa barang miliknya. Meninggalkan Sean yang sedang tersenyum bahagia atas wajah merah Violla.
__ADS_1
----------------------------------------
ADAKAH YANG BAPER ATAU SENYUM-SENYUM SENDIRI PAS BACA BAB INI?