Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Setelah acara pernikahan selesai. Sean dan Violla pergi ke kamar, karena pernikahan di langsungkan di rumah. Membuat keduanya tidak perlu berkendara ketika akan pulang.


Saat di kamar, Violla menjadi gugup. Dia tidak trauma atau bahkan takut, hanya saja dia sangat gugup layaknya seorang wanita yang baru pertama kali berada dalam satu ruangan dengan seorang pria.


"Baiklah, sekarang kau harus membersihkan diri. Aku dapat melihat make up mu membuat mu tidak nyaman, dan setelah ini. Kau tidak lagi boleh memakai make up seperti itu."


"Apakah aku jelek memakai make up?"


"Tidak, kau bahkan sangat cantik. Hanya saja aku tidak ingin kulit mu terluka dengan make up terlalu berat. Lagi pula aku suka wajah tanpa make up mu, seperti seorang gadis muda yang menggemaskan."


Violla yang masih gugup menjadi tertawa. Rasa gugupnya bahkan berganti menjadi santai karena perkataan Sean. Dia juga merasa sangat bersyukur karena Tuhan memberikannya sosok pria yang memandangnya dari sudut pandang yang berbeda.


"Baiklah, aku juga tidak ingin selalu memakai make up. Tapi kau harus memberikan ku uang bulanan mulai sekarang karena aku harus melakukan perawatan agar tetap cantik sehingga kau tidak akan melirik wanita lain."


Violla hanya ingin menggoda suaminya, tapi Sean tidak keberatan. Pria itu bahkan mengeluarkan dompetnya lalu memberikan semua jenis kartu yang ada di dalam. Membuat Violla tercengang sekaligus bahagia.


"Apa kau yakin?"


"Ya, lagi pula aku bekerja untuk kalian. Jadi semua yang ku miliki adalah milik kalian sejak 5 tahun yang lalu." Sejak membangun usahanya. Sean sudah memutuskan bahwa perusahaan dan segala hal miliknya adalah milik putra serta istrinya. Violla.


Violla yang mendengar perkataan Sean menjadi terharu. Pada akhirnya, dia bisa menikah dengan pria yang sangat memanjakannya dan tidak pelit padanya.


"Terima kasih, setidaknya sekarang aku tahu bahwa suami ku tidak akan mencari wanita lain di luaran sana." Berkaca pada pengalaman di masa lalu, ketika Ayahnya di angkat menjadi raja dan memiliki segalanya. Bukan membuat kehidupan mereka bahagia namun semakin menderita karena sang ayah dengan tega menghianati ibunya.


"Percayalah, Sayang. Aku tidak akan melirik wanita lain karena aku sudah tahu apa akibat dari tindakan bre*gsek seperti itu. Tidak hanya pernikahan hancur, anak yang tidak berdosa pun harus jadi korban." Sama halnya dengan Violla. Sean juga sudah mengalami apa akibat dari sebuah kekayaan.


"Senang karena aku miliki suami yang punya masa lalu hampir sama dengan ku. Jadi di masa depan, kita bisa tetap bertahan meskipun ujian pernikahan untuk kita cukup berat."


Sean memeluk Violla erat, dia berjanji akan menjadi suami yang setia. Selalu mendengarkan keluh kesah istrinya dan menjadi tempatnya bersandar di kala lelah.

__ADS_1


"Ya, dulu mungkin aku malu dan tidak yakin bisa menikah. Tapi sekarang aku yakin bahwa Tuhan itu adil, dan masa lalu bukan hal yang harus di sesali. Terima kasih atas cinta mu yang sangat besar untuk ku. Cinta mu yang berani akhirnya bisa membuat ku melupakan masa lalu ku."


"Sama-sama, begitu juga dengan ku. Terima kasih karena tidak pernah jijik ketika melihat ku, tidak malu saat menikah dengan ku dan menerima Arsean tanpa harus melakukan tes DNA."


Sean mengecup puncak kepala Violla, dia bahagia karena akhirnya penantiannya selama 5 tahun. Rasa sakit akan karma selama 7 bulan kini telah terganti dengan kebahagiaan.


"Kita pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Dan aku tidak pernah memandang seseorang dari masa lalunya, bagi ku masa lalu mu adalah milik mu dan sekarang mari kita buat masa depan kita menjadi berwarna."


Violla tersenyum bahagai. Dia bahkan semakin menempelkan wajahnya di dada sang suami. Menikmati momen manis dari sebuah penantian selama bertahun-tahun.


Setelah selesai berpelukan. Sean memaksa Violla masuk ke kamar mandi, sedangkan dirinya mempersiapkan sebuah tempat tidur baru di sofa. Tidak ingin terlalu memaksa Violla membuat Sean memutuskan tidur di sofa.


Lalu untuk sang putra, Diana sengaja membawa cucunya ke kamarnya agar Violla dan Sean bisa menikmati malam pengantin mereka.


Setelah selesai dengan mandi, Violla keluar dengan pakaian tidur berbentuk pyama dan rambut yang basah.


"Kemarilah, aku akan mengeringkan rambut mu." Selama 5 tahun menunggu, Sean sudah belajar banyak hal tentang menjadi suami yang baik, dan itu termasuk mengeringkan rambut istrinya.


"Bagaimana jika kau memanjangkan rambut mu kembali, aku suka ketika kau mengepang atau menggerai rambut mu seperti di masa lalu."


Setelah kepergiannya ke Negara K, Violla memotong rambutnya dan akan selalu seperti itu hingga saat ini. Dia sengaja melakukannya karena ingin memulai kehidupan baru tanpa adanya Sean. Namun sekarang pria itu meminta untuk memanjangkan rambutnya kembali.


"Tentu, setelah ini aku tidak akan memotongnya lagi. Oh ya, dari mana kau belajar melakukan hal seperti ini?"


"Selama 5 tahun menunggu, aku belajar menjadi suami serta ayah yang baik. Dan sekarang saatnya aku melakukan apa yang telah ku pelajari," ucap Sean lalu menyudahi mengeringkan rambut dan mulai merapikan rambut sang istri.


Sean benar-benar sudah berubah. Tidak ada lagi Sean dingin, tidak ada lagi Sean acuh, dan tidak ada lagi Sean baji*gan.


"Sudah selesai, sekarang kau harus istirahat dan aku akan mandi."

__ADS_1


Setelah itu, Sean mengambil handuk lalu baju tidur yang sudah dia bawa dari rumah sebelum melaksanakan pernikahan tadi pagi.


Violla memutuskan duduk bersender di kepala ranjang. Menunggu sang suami selesai mandi, dan tiba-tiba matanya terpana ketika melihat sofa miliknya yang tidak terlalu besar sudah di susun seperti tempat tidur.


"Dia benar-benar sudah berubah," ucap Violla.


Setelah 10 menit menunggu, Sean akhirnya keluar dengan handuk yang ada di kepalanya. Matanya secara tidak sengaja bertemu dengan milik Violla dan itu membuatnya bertanya.


"Mengapa kau belum tidur?"


"Aku sedang menunggu suami ku. Bagaimana bisa aku tidur tanpa ada suami di sisi ku."


Sean tersenyum ketika mendengar perkataan Violla. Dia memutuskan duduk di tepi ranjang lalu menatap wajah cantik istrinya.


"Sekarang tidurlah, aku sudah selesai mandi dan akan tidur juga. Besok kita harus bersiap-siap untuk kembali ke rumah."


"Bisakah kita tinggal disini sampai lusa. Aku masih sangat rindu dengan ibu dan kakak."


Sean merasa malu karena melupakan hal seperti itu. Terlalu semangat untuk mengajak keluarga kecilnya pulang, dia lupa bahwa istrinya masih memiliki seorang ibu serta kakak.


"Baiklah, sekarang kau harus tidur. Selamat malam," ucap Sean sambil mengecup kening Violla.


Ketika Sean akan beranjak. Tiba-tiba Violla memeluknya, membuat sang suami terhenti dan menatap bingung ke arah istrinya.


"Kita sudah menjadi suami istri, jadi kenapa kau memilih tidur di sofa kecil itu. Tubuh mu akan merasa sakit jika tidur di sana."


Sean tersenyum. "Aku tidak ingin memaksa mu, aku juga takut jika kau masih trauma dengan kejadian di masa lalu."


"Tidak, aku sama sekali tidak trauma. Dan apakah kau tahu, sentuhan mu membuat ku bisa melupakan masa lalu ku. Meskipun terdengar aneh, tapi itu adalah kebenaran yang nyata."

__ADS_1


Setelah mendengar perkataan Violla. Sean langsung melepas pelukan sang istri lalu memberikan kecupan panjang di bibir istrinya.


__ADS_2