Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

"Ada apa? Mengapa kau menangis, Violla?" tanya Alana penasaran.


"Bantu aku kak, aku mohon. Hanya kakak yang bisa membantu ku," ucap Violla tanpa melepaskan pelukannya.


"Katakan pada ku apa yang terjadi pada mu?" Alana semakin cemas saat mendengar ucapan Violla yang seolah-olah sudah tidak lagi bisa melakukan apa pun karena masalahnya yang terlalu benat.


"Aku aku aku sepertinya hamil kak, dan itu membuat ku hampir bunuh diri."


Bagaimana petir di siang bolong  tanpa adanya hujan atau mendung, Alana terkejut ketika mendengar pernyataan Violla. Mungkin bukan hamil yang membuatnya sangat terkejut, karena Alana berfikir itu hal yang wajar mengingat kebudayaan mereka yang tidak melanggar hal seperti itu asal wanita tersebut melakukannya dengan pria yang di cintainya. Alana hanya tidak menduga saat mendengar Violla yang hamper bunuh diri, jika saja dia tidak mengingtanya, mungkin saat ini Rafael dan Diana akan hancur karena kematian yang di sengaja.


"Kenapa kau melakukan hal seperti itu Violla!! Apakah menurut mu mati bisa membuat semuanya selesai? Apakah kematian mu tidak akan membuat Rafael dan bibi terpukul!!" Alana mungkin pernah melakukan hal-hal semacam itu saat di masa lalu. Namun ceritanya dan cerita Violla berbeda, di masa lalu keluargnya sangat membencinya sehingga membuatnya lupa akan Nikmat yang sudah Tuhan berikan. Berbeda dengan Violla yang langsung menyerah dengan ujian dari tuhan dan beniat membunuh sesuatu yang tidak bersalah.


"Aku tahu aku salah kak, tapi saat itu aku tidak bisa berfikir dengan jernih karena aku takut ayah dari bayi ini akan mati di tangan kak Rafael."


Cinta yang tidak terbalas. Begitulah pendapatkan Alana saat mendengar ucapan Violla, dia sadar bahwa Violla sangat mencintai pria yang telah membuat janin yang ada di rahimnya tumbuh. Namun sayangnya sang ayah tidak berniat bertanggung jawab.


"Apakah kau yakin jika kau hamil?"


"Aku masih belum sepenuhnya yakin kak. Hanya saja gejal-gejala yang terjadi pada ku sama dengan gejal yang terjadi pada wanita hamil ketika aku membaca di sebuah artikel di internet."


"Ikut aku, kita harus memastikannya lebih dulu sebelum menyimpulkannya." Bukan Alana tidak percaya dengan ucapan Violla. Hanya saja dia ingin mencari tahu hasil yang pasti agar bisa memberikan jalan keluar untuk Violla.


"Kemana kita akan pergi, apakah kakak akan menyerahkan ku pada kak Rafael dan ibu?" Violla takut jika Alana akan menyerahkan dirinya pada keluarganya.

__ADS_1


"Tidak, kita akan ke dokter kandungan untuk mencari tahu hasil yang sesungguhnya agar aku bisa membantu mu."


"Tapi aku sudah membaca artikel di internet dan hasilnya sama dengan ku, Kak." Violla bingung dengan tindakan Alana.


"Sebaiknya ikut dengan ku agar kita bisa menyelesaikan masalah."


Melihat bahwa sang kakak tidak akan menyerah untuk membawanya ke dokter, membuat Violla memutuskan mengikuti wanita tersebut agar tidak mengundang keributan yang tidak penting.


Setelah membantu Violla mencuci muka dan mengganti pakaian. Alana langsung membawa wanita itu pergi ke dokter kandungan yang telah menjadi dokter pribadinya saat hamil Al dan Jasmine.


Sesampainya di tempat praktek, Alana membawa Violla masuk ke dalam untuk bertemu dengan sang dokter yang sengaj pulang setelah di hubungi oleh Alana.


"Apa yang bisa saya bantu, Nyonya," ucap sang dokter.


"Baiklah, saya mengerti maksuda anda. Kalau begitu, mari nona. Ikut saya untuk pemeriksaan."


Sesaat Violla ragu untuk mengikuti sang dokter wanita, namun karena tidak ingin membuat Alana malu. Dengan langkah berat, dia mengikuti dokter tersebut ke ruangan khusus.


Ketika pemeriksaan, wajah sang dokter menjadi cerah karena sudah tahu apa hasilnya. Hal itu membuat wajah Violla pucat pasi, namun untungnya tidak samapi di lihat oleh sang dokter.


"Selamat nyonya, sebentar lagi anda akan menjadi bibi untuk anak adik perempuan anda." Sang dokter yang tidak tahu permasalahan yang akan di alami Violla setelah kehamilan tiba-tiba tersebut langsung memberikan selamat pada Alana.


"Terima kasih atas pemeriksaanya, Dok. Kalau boleh aku tahu, apakah kandungan andik saya baik-baik saja? Apakah dia juga membutuhkan banyak perawatan saat masa kehamilan?" Alana tampak bahagia dan tidak memperlihatkan wajah kecewa saat mendengar berita kehamilan Violla. Lagi pula, baginya bayi itu tidak bersalah dan mungkin sang ibu juga sama tidak bersalahnya.

__ADS_1


"Ah ya, saya hampir lupa memberitahu anda. Karena pernah mengalami keguguran di masa lalu, membuat rahim adik perempuan anda menjadi lemah dan butuh perawatan ekstra. Ditambah lagi saat ini tampaknya adik anda mengalami tekanan batin sehingga bisa membuat sang janin meninggal di dalam kandungan, jadi saya sarankan. Tolong jaga adik anda dan jangan biarkan dia stress agar bayi serta ibunya sehat-sehat saja."


Alana terkejut saat mendengar laporan dari sang dokter yang mengatakan bahwa Violla pernah mengalami keguguran dan membuat rahimnya lemah.


"Baiklah, saya pasti akan menjaganya. Tolong juga berikan resep vitamin untuk membantunya tetap sehat, Dok."


"Tentu nyonya."


Setelah itu, sang dokter menuliskan beberapa daftar vitamin, susu ibu hamil dan makan-makan yang sehat untuk Violla. "Saya sudah menulis beberapa vitamin, susu ibu hamil dan beberapa makanan yang sehat untuk adik anda, Nyonya. Jika nanti ada sesuatu yang tidak baik terjadi, maka nyonya bisa memanggil ku."


"Baik, terima kasih dok," ucap Alana lalu mengambil daftar yang sudah di tulis oleh dokter tersebut.


Setelah menyelesaikan biaya administrinya, Alana langsung membawa Violla ke beberapa toko obat serta supermarket, membelikan kebutuhan-kebutuhan yang akan menjadi hal wajib untuk Violla selama masa kehamilannya.


"Apa kakak tidak jijik atau kecewa pada ku?" tanya Violla saat mereka sedang berbelanja bahan makanan dan susu ibu hamil.


"Mengapa aku harus jijik pada mu? Mungkin aku kecewa karena kau berniat bunuh diri, tapi selebihnya. Aku bahagia karena sebentar lagi akan menjadi seorang bibi." Alana tidak ingin menambah beban Violla di tengah kehamilannya dengan memasang wajah kecewa.


"Tapi aku sudah mengecewakan kakak, aku bahkan membuat kalian malu dengan kehamilan ku."


"Jangan pernah menyalahkan bayi itu, dia tidak bersalah. Seperti yang ku bilang, mungkin kami sedikit kecewa pada mu, tapi bukan kecewa dengan kehamilan mu. Kami kecewa akan sikap mudah menyerah mu yang lebih memilih mati dari pada membagikan kebahagian itu pada kami."


Alana benar, lagi pula bayi yang akan segera hadir ke dunia ini tidak bersalah atau bahkan menjijkan. Jadi untuk apa mereka membuat seolah-olah perbuatan Violla sangat menjijikan serta bayinya berdosa.

__ADS_1


"Tapi sebelum itu, katakan pada ku. Siapa ayah dari bayi ini, apakah dia seorang pria yang sudah menikah?" Alana tidak akan pernah memaafkan Violla jika dia telah hamil dari pria yang sudah menikah. Bagaimana pun di masa lalu dia sudah merasakan seperti apa rasanya di tinggalkan, jadi dia membenci wanita yang menjadi penyebab rasa sakit dari wanita lain.


__ADS_2