
"Baiklah, ingat dengan janji mu." Setelah mengatakan hal itu, Alana langsung mengambil ponselnya, menghubungi salah satu anggotanya serta meminta Carl dan Mika membawa Sean ke rumah Rafael secara paksa.
Violla yang tidak ingin Sean dalam masalah menjadi pucat saat tahu bahwa pria itu akan segera di mintai pertanggung jawaban oleh kakaknya. Dia tidak ingin ada pernikahan tanpa cinta, namun dia juga tidak bisa melarang Rafael karena itu akan membuat sang kakak semakin kecewa padanya.
Tepat 30 menit berlalu, Carl dan Mika akhirnya tiba bersama dengan Sean yang memasang wajah pucat sekaligus marah pada Violla karena sudah membuatnya di adili oleh sang Bos. Sama seperti perkaraan Violla. Sean sama sekali tidak tertarik padanya atau bahkan mungkin pria itu masih saja berfikir bahwa Violla yang salah sedangkan dirinya hanya seorang korban.
"Mengapa kau meminta ketiga anggota mu datang?" tanya Rafael bingung.
"Salah satu dari mereka adalah sang ayah, dari keponakan kita."
Sesaat, Carl, Mika dan Sean terkejut saat mendengar kata-kata Alana. Mika bahkan langsung menatap wajah Violla yang pucat dengan derai air mata.
Rafael langsung menatap Sean, entah mengapa dia sangat yakin bahwa Sean lah yang menjadi ayah dari keponakannya. Bagaimana pun adiknya dan Sean sangat terlihat dekat beberapa bulan yang lalu, dia bahkan semakin yakin ketika memikirkan alasan adiknya menjadi pendiam beberapa minggu yang lalu.
"Katakan pada ku Sean, apa yang sudah kau lakukan pada adik ku? Dan mengapa kau sama sekali tidak berniat datang ke rumah untuk bertanggung jawab atas kehamilan Violla."
Sean terkejut saat mendengar perkataan Rafael, dia bahkan tidak menduga jika Violla akan hamil. "Aku tidak mengerti apa yang anda katakan, Tuan." Sean merasa tidak yakin dengan bayi tersebut karena yang dia ingat jika dirinya membuang miliknya di luar.
Alana, Rafael dan yang lainnya terpana saat mendengar perkataan Sean. Pria itu bertindak seolah-olah anak yang di kandung oleh Violla bukan miliknya melainkan milik pria lain.
"Apa maksud mu mengatakan hal seperti itu Sean? Apakah kau sama sekali tidak ingat bahwa kau sudah menodai Violla beberapa minggu yang lalu," ucap Alana tidak senang.
Sean menatapa sang Bos, "Aku ingat, namun aku sangat yakin bahwa aku membuangnya di luar Bos. Jadi tidak mungkin bayi itu milik ku."
__ADS_1
Benar-benar pria bre*gsek, itulah yang ada di fikirn semua orang tentang Sean. Bukan hanya menolak, pria itu bahkan menuduh Violla sebagai wanita murahan karena sudah melakukannya dengan pria lain lalu membuatnya bertanggung jawab atas kehamilan tersebut.
"Apa kau sadar dengan ucapan mu, Sean?" tanya Alana sekali lagi.
"Ya, Bos. Aku sangat yakin, lagi pula kau bisa bertanya pada wanita itu tentang kejadian tersebut."
Violla yang mendengar setiap ucapan tidak berperasaan Sean semakin terpukul. Hatinya benar-benar sangat sakit, di tolak saja membuatnya sudah terpukul lalu sekarang dia harus menerima hinaan dari pria yang sangat dicintainya.
"Kurang ajar!!!" Rafael yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung berlari menuju Sean lalu memukul pria itu hingga babak belur dan tertidur di lantai.
"Kak sudah, jangan sakiti dia. Ini salah ku, akulah yang telah menjadi wanita murahan dan lupa akan identitas ku yang sebenarnya." Violla tidak ingin kakaknya menjadi pembunuh dan lebih tidak ingin melihat pria yang dicintainya meninggal akibat dari kesalahannya.
Semua orang terpana saat mendengar ucapan Violla. Rafael bahkan segera berhenti karena tidak menduga jika adik kesayangnya begitu mencintai pria bren*sek seperti Sean..
"Aku tahu kak, tapi aku tidak merasa keberatan. Seperti yang kakak katakan, aku adalah wanita panggilan dan akan tetap menjadi seperti itu selamanya. Lagi pula, biarkan anak ini menjadi milik ku sepenuhnya, tidak masalah jika ayahnya tidak ingin mengakuinya. Jadi tolong jangan sakiti dia kak, dia sama sekali tidak bersalah."
Siapa pun yang mendengar perkataan Violla langsung menangis haru, termasuk Rafael sekalipun. Dia juga mulai menyesal karena sudah menghina adiknya akibat kemarahannya.
"Tidak, jangan katakan seperti itu. Kau, adik kesayangan kakak dan kau wanita baik-baik." Sebagai seorang kakak yang memiliki hubungan darah yang sangat dekat membuat Rafael merasakan sakit yang tidak bisa di katakan karena ucapan adiknya.
"Aku baik-baik saja, Kak. Jadi jangan pasang wajah sedih seperti itu, bagaimana jika nanti anak ku melihat wajah tua pamannya, Apakah kakak tidak malu di panggil kakek oleh keponakan kakak sendiri."
Detik itu juga, Rafael berlari menuju tubuh sang adik lalu memeluknya dengan sangat erat. Tidak ingin melepaskannya karena takut Violla semakin banyak berbicara.
__ADS_1
"Apakah kau sudah puas Sean? Aku benar-benar kecewa memiliki anggota seperti mu. Kau bahkan membuat ku malu." Sebagai seorang wanita, Alana bisa merasakan bagaimana perasaan Violla setelah mendengar penolakan Sean. "Bukan hanya kau menolaknya, kau bahkan menghinanya. Kau memang tidak pantas menjadi ayah untuk anak mu, jadi mulai sekarang ku harap kau tidak akan menyesali semua keputusan mu. Biarkan Violla aku yang menjaganya, mungkin aku akan menikahkannya dengan salah satu anggota Black Lion yang bersedia menjaga serta menerima bayi itu."
Mendengar ucapan sang Bos, entah mengapa Sean menjadi sangat buruk. Namun lagi-lagi dia menepisnya karena bagaimana pun dia sangat yakin jika anak itu bukan miliknya.
"Biarkan Carl yang menjadi ayah dari anak Violla, Bos," ucap Mika tiba-tiba.
"Apa maksud mu, Mika. Bagaimana bisa kau meminta ku menjadi ayah dari anak Sean sedangkan kita akan segera menikah." Carl yang sangat mencintai Mika tidak bisa terima jika harus menikah dengan Violla. Bukan karena dia jijik dengan Violla atau bahkan masa lalunya, hanya saja perasaan tidak di paksa dan pernikahan paksa merupakan mimoi buruk untuk pria yang mencintai kekasihnya.
"Aku tahu ini sangat keterlaluan, tapi di mata ku, hanya kau yang pantas menjadi suami yang baik sekaligus ayah yang bisa melindungi anaknya kelak . Maaf jika aku sudah membuat hidup mu menjadi lelucon, tapi kau harus tahu bahwa pernikahan ini bukan sesuatu yang ingin ku hentikan, aku hanya tidak bisa melihat sahabat ku hidup menderita." Jika boleh jujur, Mika sama sekali tidak ingin Carl menjadi milik wanita lain, tapi dia tidak memiliki pilihan lain karena di matanya Carl adalah sosok pria yang pantas menjadi suami sekaligus ayah untuk Violla serta anaknya kelak.
"Tapi kau membuat ku menderita. Kau sudah tahu bahwa hanya kau yang ada di hati ku, jadi bagaimana bisa aku menikah dengan wanita lain."
Mika tahu akan hal itu, "Aku mohon, kali ini saja. Tolong lakukan permintaan ku, aku berjanji tidak akan menikah lagi di masa depan."
"Itu terlalu berlebihan Mika, kau membuat Carl menderita," ucap Alana.
"Aku tahu Bos, tapi hanya Carl yang bisa membantu Violla. Aku juga tidak akan keberatan jika dia membenci ku, bagaimana pun aku lah yang membuat hidupnya menderita."
Sesaat, semua orang terdiam ketika mendengar ucapan Mika. Mungkin benar jika Carl adalah calon yang cocok untuk Violla, tapi keputusan itu juga membuat Carl menderita.
"Apa kau yakin dengan hal itu, Mika? Apakah kau bisa berjanji akan mengiklaskan Carl untuk ku?"
"Aku yakin, jadi sekarang kau harus menjaga diri mu baik-baik dan tolong cintai Carl seperti kau mencintai pria Bren*sek yang telah membuat mu seperti ini." Setelah mengatakan hal tersebut, Mika langsung pergi meninggalkan rumah Rafael meninggalkan Carl yang masih tidak bisa menerima keputusan tiba-tiba sang calon istri.
__ADS_1