
Tepat 3 hari berlalu. Sean membawa Violla dan putranya pulang ke rumah mereka. Pria itu sudah tidak sabar memulai kehidupan rumah tangga mereka, membuat cerita indah bersama, saling melengkapi dan mendidik anak-anak mereka bersama.
Sesampainya di rumah. Sean dan keluarga
kecilnya melihat seorang wanita paruh baya berdiri bersama pria paruh baya dan anak laki-laki yang telihat berusia sama dengan Arsean.
“Apakah kalian sudah lama menunggu?” tanya Sean pada ketiga orang tersebut.
“Tidak, Tuan. Kami baru saja tiba,” ucap
wanita paruh baya.
“Kalau begitu ayo masuk, dan siapa pria kecil ini?”
“Dia cucu saya, Tuan. Dan ini suami saya. Mereka akan pergi setelah mengantar saya.”
Sean dan Violla mengangguk paham. “Dimana suami dan cucu anda akan tinggal?” Tanya Violla.
“Mereka harus mencari rumah sewa,Nyonya. Karena tidak mungkin berjauhan, jadi suami saya akan mencari rumah sewa agar sesekali kami bisa bertemu.”
Mendengar perkataan wanita paruh baya
tersebut. Violla tiba-tiba mendapatkan sebuah ide, melihat bahwa suami daripelayan baru mereka cukup cekatan dan baik. Membuat Violla meminta izin pada Sean untuk membiarkan satu kelurga tersebut tinggal. Di tambah lagi putra mereka membutuhkan seorang teman sebaya.
“Sayang, bagaimaan jika kita membiarkan
mereka tinggal. Aku melihat bahwa suami dari bibi Lusi baik dan cekatan, kita bisa mempekerjaka keduanya. Sedangkan untuk pria kecil ini, dia bisa menjadi Arsean.”
Sean bahagia ketika Violla memanggilnya
sayang, pria itu bahkan dengan mudah mengabulkan permintaan istrinya. Membuat
bibi Lusi dan sang sumi bahagia. Mereka tidak perlu berjauhan dan cucu mereka
bisa sekolah di masa depan dengan gaji mereka.
“Tentu sayang, tapi kita harus bertanya
pada mereka sebelum menentukannya.”
Bibi Lusi dan sang suami langsung
mengangguk setuju. Arsean yang akhirnya bisa memiliki teman sebaya menjadi
bahagia lalu memulai pendekatan. Beruntungnya, cucu bibi Lusi mudah akrab dan terlihat anak yang baik.
“Kalau begitu, sekarang mari kita masuk.
Kebetulan di rumah ini sudah tersedua kamar untuk kalian, jadi kalian tidak perlu khawatir,” ucap Sean.
“Terima kasih, Tuan. Lalu apa pekerjaan
saya setelah ini, Tuan?” Tanya suami bibi Lusi.
“Anda akan saja berikan tugas sebagai
tukang kebun dan mengantar bibi Lusi berbelanja. Apakah anda bisa berkendara?”
“Bisa, Tuan. Terima kasih atas kebaikan
anda. Saya tidak akan mengecewakan anda.”
Sean mengangguk lalu mengajak semua
orang masuk ke dalam rumah. Arsean yang tengah asik dengan teman barunya bahkan
melupakan ayah dan ibunya. Mengajak sang temn baru pergi ke kamar untuk bermain
bersama.
__ADS_1
“Apakah tidak apa-apa jika cucu saya
pergi ke kamar tuan muda, Tuan, Nyonya?” Tanya bibi Lusi cemas.
“Tidak masalah. Lagi pula cucu, Bibi
Lusi baik dan putra kami menyukainya, jadi tidak masalah. Dan kami juga berencana akan menyokalahkannya bersama dengan putra kami, itu juga bibi Lusi
dan paman Larry tidak keberatan.”
Kebaikan Violla seperti sebuah berkah
Tuhan untuk mereka, jika cucu mereka bisa bersekolah di tempat yang terbaik, maka masa depan cucu mereka akan sangat cerah.
“Kami tidak keberatan, Nyonya. Kami juga
akan berusaha mengumpulkan uang sekolah untuknya agar nanti kami tidak menyusahkan, Tuan dan Nyonya.”
Sean dan Violla paham, mereka tidak akan
membiarkan bibi Lusi dan paman Larry merasa tidak berguna karena tidak bisa
membiayai sekolah cucu satu-satunya.
“Baiklah, kalau begitu. Bibi bisa langsung memasak makan siang untuk kita semua, jangan berpikir kami akan membiarkan kalian memakan sisa kami. Kalian boleh makan dari tempat kami dan tidak perlu menunggu kami selesai makan.” Berkaca dari masa lalu, pernah
Menjadi miskin dan tidak memiliki uang membuat Sean tidak ingin menjadi orang
yang sombong apalagi tidak memiliki hati karena membiarkan pelayan yang juga
manusia seperti mereka makan hasil sisa.
“Terima kasih, Tuan.” Bibi Lusi da paman
Larry sangat bersyukur karena Tuhan memberikan mereka pekerjaan yang bagus
“Sama-sama.”
Setelah itu, Sean mengajak Violla ke
kamar. Karena waktu masih pukul 10, maka Sean ingin bermanja-manja dengan sang
istri sebelum makan siang. Di tambah putra mereka yang tengah sibuk dengan teman baru membuat aksi menjadi Sean berjalan mulus.
“Mengambil kesempatan di kala putra kita
tengah sibuk dengan teman barunya, membuat mu sangat bahagia.”
Sean tertawa, mereka yang tengah duduk
di balkon dengan pemandangan taman bunga. Dan di temani angin sejuk membuat
keduanya tidak ingin pergi dari tempat duduk.
“Aku bahagia karena sekarang kita bisa
bersama,” ucap Sean sambil menggengam telapak tangan istrinya.
“Begitu juga dengan ku, di masa lalu.
Ketika aku masih menjadi wanita tidak baik, aku selalu meminta pada Tuhan mengijinkan ku untuk menikah di masa depan dengan pria yang mencintai ku dan tidak perduli dengan masa lalu hina ku. Dan sekarang, doa itu di kabulkan oleh Tuhan. Aku bahkan bisa menjadi ibu dari pria yang ku cintai.”
“Terima kasih atas cinta mu, dan terima kasih sudah mengajarkan ku tentang memperjuangkan dan menunggu. Sekarang aku bisa menjadi pria yang lebih berguna untuk mu serta putra kita.
Violla menyandarkan kepalanya di pundak
sang suami. Menikmati momen kebersamaan yang sudah dia tunggu-tunggu.
Waktu berjalan dengan cepat, tepat saat
__ADS_1
jam menunjukan pukul 1 siang. Arsean mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya
lalu mengajak keduanya makan siang bersama. Pria kecil itu juga mengajak serta
sang teman baru pergi memanggil orang tuanya.
“Ayah, Ibu. Ayo kita makan, bibi sudah
mengatakan bahwa masakan telah siap.”
“Baik sayang, ayo kita sama-sama turun
ke bawah,” ucap Sean.
“Apakah Ar juga boleh mangajak Jasson,
Ayah.”
“Boleh sayang, Jasson adalah teman Ar.
Jadi sebagai seorang teman, Ar harus mengajak dan menjaga Jasson juga.”
“Terima kasih, Ayah.”
Jasson yang di titipkan pada sang nenek,
karena ibunya telah menikah lagi menjadi sangat bahagia. Pada akhirnya, dia bisa merasakan bagaimana makanan enak serta memiliki teman yang baik seperti
Arsean.
Sean dan Violla tersenyum ketika melihat
kebahagiaan putra mereka. Kedua juga mengikuti dua pria kecil tersebut ke bawah
lalu bergabung dengan bibi Lusi dan paman Larry di meja makan.
Makan siang perdana keenam orang
tersebut berjalan dengan harmonis. Sean yang membantu putra serta istrinya mengambil nasi dan sayuran. Sedangkan bibi Lusi membantu suami dan cucunya.
Setelah selesai makan siang, kedua
pelayan baru tersebut melakukan tugas mereka. Sedangkan Sean dan Violla
memutuskan duduk di runag tamu, mengawasi Arsean serta Jasson bermain.
Ketika sedang asik bermain, tiba-tiba
saja mereka kedatangan tamu tidak di undang. Bel pintu yang di bunyikan berulang kali membuat Sean kesal. Pria itu tidak pernah suka jika ada tamu selain keluarga barunya yang datang, sangat mangganggu dan menjengkelkan.
Bibi Lusi yang mendengar suara bel
tersebut dengan cepat membukakan pintu. Membiarkan kedua wanita dengan wajah
penuh make tebal masuk tanpa bisa di cegah.
Ketika Sean melihat siapa tamu yang
tidak di undang tersebut. Dia langsung meminta bibi Lusi mengajak Arsean dan
Jasson masuk ke kamar, lalu mengatakan pada paman Larry untuk mengantarkan dua
gelas kopi panas untuknya.
Saat bibi Lusi sedang membawa Arsean dan
Jasson ke kamar, sedangkan paman Larry sibuk membuat kopi yang sangat panas
untuk majikannya. Kedua wanta yang tidak di undang tersebut langsung menyapa Sean dengan wajah ramah yang di buat-buat.
__ADS_1