
"Panggil aku ayah, Nak."
"Ayah?"
"Ya, aku adalah ayah mu. Jadi sekarang panggil aku ayah."
"Sepertinya paman salah orang, ibu mengatakan pada ku bahwa aku tidak memiliki ayah karena dia tidak ingin mengakui ku."
Sakit, itulah yang Sean rasakan saat seorang bocah berusia 4 tahun yang menggemaskan dan lucu menolak memanggilnya, Ayah. Sean benar-benar menyesal karena di sama lalu mebuat Violla menderita hingga dengan teganya menolak anaknya sendiri.
"Tidak sayang, ayah sudah mengakui mu dan di masa lalu ayah salah karena sudah menyakiti kalian."
Anak kecil yang berada di hadapan Sean menggeleng, dia tampak menolak kehadiran Sean. Sosok ayah yang selama tidak ada di sampingnya.
"Paman salah orang, ayah ku adalah ibu ku. Jadi paman bukan ayah ku."
Sekali lagi, Sean merasa sangat sakit di hatinya karena anaknya sama sekali tidak ingin mengakuinya. Dia bahkan tidak sanggup menahan air matanya, begitu sakit untuknya.
"Sayang, ayo pulang. Jangan berani dekat-dekat dengan orang asing." Suara itu membuat Sean dan sang anak menoleh. Wajah Sean langsung pucat sekaligus bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan sosok wanita yang sudah dia sakiti.
"Baik, Bu. Paman, aku pergi dulu, semoga setelah ini paman bisa menjadi lebih baik lagi dan tolong jangan sakiti orang yang benar-benar menyayangi paman." Selesai mengatakan kata-kata bijaksana tersebut, Sean di tinggalkan sendirian. Kakinya juga tidak bisa bergerak untuk mengejer kadua sosok yang semakin lama menghilangan oleh kabut asap.
"Tidak, Violla jangan tinggalkan aku. Kembalilah, aku berjanji akan membahagiakan mu!!" Setelah berteriak, Sean yang ternyata sedang bermimpi langsung terbangun dan menatap kamar apartemennya yang gelap.
__ADS_1
Sejak kejadian di rumah Rafael beberapa hari yang lalu. Sean sulit untuk bangun karena tubuhnya kesakitan. Pria itu juga mengalami mimpi buruk setiap malam, mulai dari melihat Violla di penuhi darah, lalu kematian bayi mereka karena kebodohannya lalu malam ini, dia bermimpi anaknya sudah dewasa namun tidak menginginkannya lagi.
"Maafkan aku, semuanya karena kebodohan ku." Air mata membasahi kedua pipi Sean. Seperti kata kebanyakan orang, air mata seorang pria merupakan air mata yang tulus, begitu juga dengan air mata Sean. Pria itu sudah menyesal, dia ingin menebus semua kesalahannya karena sejujurnya, jauh sebelum Rafael mengetahui perbuatannya pada Violl. Dia sudah mulai merasakan penyesalan dan selalu kesepian setiap kali datang ke markas Black Lion, terutama tempat latihan mereka. Tempat yang sering kali mereka gunakan untuk berinteraksi.
Namun sayangnya, Sean masih belum menyadarinya dan berfikir bahwa hal itu hanya rasa menyesal sementara. Tapi tepat saat dia mendengar Violla dan Carl akan menikah, hatinya menjadi sakit hingga mulai menyadari perasaanya ketika merenungi semua kejahatannya pada Violla di apartemennya.
Setelah merenggangkan tubuhnya, Sean tidak sengaja melihat ponselnya yang sedang menyala dan memperlihatkan tanggal hari ini. Hari dimana Carl dan Violla menikah, hal membuatnya terkejut sekaligus bergegas bangun.
"Tidak boleh, aku harus memintanya berpisah dari Carl. Aku tidak ingin kehilangannya dan anak ku." Dengan segera, Sean mandi secepat kilat lalu memaksai jaket serta jeans. Ketika semuanya telah selesai, dia langsung mengambil kunci motornya dan lupa memakai helem karena takut terlambat meskipun dia sadar bahwa dirinya memang sudah terlambat.
"Tunggu aku, kalian tidak boleh menjadi milik orang lain."
Menghidupkan motonya lalu menjalankan dengan kecepatan maksimal. Beruntungnya malam ini jalanan masih lenggang sehingga membuat Sean berjalan tanpa hambatan. Dan sesampainya di depan rumah Rafael, Sean langsung meminta para penjaga membuka pintu gerbang.
"Violla, aku mohon keluarlah. Aku tahu aku salah dan sekarang aku ingin menebus kesalahan ku," teriak Sean, berharap Violla akan mendengarnya. Namun sayangnya, hingga pria itu kehabisan suara karena berteriak. Violla atau bahkan keluargnya sama sekali tidak keluar.
Hal itu membuat Sean semakin panik dan memutuskan menemui Carl. Dia berfikir bahwa saat ini Violla sedang di bawa oleh Carl karena mereka baru saja menikan dia itu hal yang wajar.
Sesampainya di apartemen Carl, sekali lagi. Sean berteriak memanggil Carl, tapi tidak ada jawaban atau bahkan pintu terbuka.
"Kemana mereka membawa Violla dan anak ku." Sean pucat karena Carl dan Violla mengilang. Dia sama sekali belum mengetahui bahwa Violla sudah pergi jauh dari Negara A, meninggalkannya dalam penyesalan yang tidak akan pernah menghilang.
Waktu menujukkan pukul 8 malam, Sean yang tidak mendapatkan keberadaan Carl dan Violla sekali lagi pergi, dan kali ini dia ingin meminta Alana membantunya. Meskipun dia tahu bahwa Bosnya mungkin sudah sangat membencinya, namun Sean tidak akan mundur.
__ADS_1
Saat di perjalanan, karena kecepatan dan jalanan mulai ramai. Secara tidak sengaja Sean hamper menabrak sebuah mobil yang ada di depannya, untungnya dia bisa menghindar tapi motornya tetap jatuh hingga membuat kening, siku serta lututnya terluka.
Orang yang melihat kejadian tersebut mulai mengelilingi Sean, berniat memberi bantuan. Namun pria itu langsung berdiri, seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya dan luka itu hanya sebuah goresan untuknya.
"Anda sebaiknya ke rumah sakit terlebih dulu, Tuan," ucap seorang pengendara.
"T-tidak, aku harus segera pergi menemui istri dan anak ku. Mereka pasti sedang menunggu ku." Sean mulai menyalakan kembali motornya lalu meninggalkan kerumunan.
Rasa sakit itu tidak bisa di bandingkan rasa sakit yang Violla rsakan, begitlah yang ada di fikiran Sean saat mendapatkan luka-luka akibat kecelakaan tunggalnya.
Sesampainya di kediaman Alana. Sean langsung berlari masuk tanpa memperdulikan tatapan para pelayan dan penjaga. Membuat Alana yang sedang duduk di samping Devan sedikit terkejut.
"Bos, tolong aku." Sean bersujud di hadapan Alana dan Devan dengan kondisi yang mengerikan, Ada banyak darah di pakian serta keningnya.
Devan yang tahu akan ada momen seperti malam ini, memutuskan menjemput kedua anaknya sendirian ke rumah Raiden. Dia ingin memberikan waktu untuk sang istri Bersama Sean.
"Aku akan menjemput Al dan Jasmine di rumah Raiden."
"Baik, tolong hati-hati di jalan. Jangan buat aku cemas."
Devan mengangguk lalu mengecup kening istrinya, meninggalkan Sean dalam kondisinya todak baik. Sejujurnya, Devan sedikit kasihan pada Sean, mengingat seperti apa masa lalu pria itu dan tidak ada yang mengajarinya tentang arti keluarga yang sebenarnya membuat dia menjadi pria bren*sek seperti sang ayah.
"Bos, aku tahu bahwa aku sudah melakukan banyak kesalahan pada Violla. Dan sekarang aku ingin menebusnya."
__ADS_1
Alana sejenak menatap wajah pucat sekaligus cemas Sean, entah mengapa perkataan Violla tentang memberikan surat pada Sean jika suatu hari nanti pria itu mencarinya dengan cepat terjadi. Dia bahkan tidak membutuhkan waktu yang lama hingga Sean menyesal.