Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Mendengar pertanyaan sang kakak angkat membuat Violla sejenak terdiam. Memberitahu siapa ayah dari anaknya mungkin akan membuat hubungan mereka menjadi merenggang, Alana mungkin juga menjauhinya dan menuduhnya wanita murahan, sama seperti Sean.


Melihat perubahan Violla membuat Alana tidak bahagia." Apakah benar bahwa ayah dari anak itu adalah pria yang sudah menikah?"


Violla menggelengkan kepalanya, "Bisakah kita membicaraannya di mobil saja kak. Aku tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya, dan kak bisa tenang karena dia bukan pria yang sudah menikah."


Alana kembali tenang saat mendengarnya, setidaknya hal yang paling dia benci tidak terjadi. "Baik, kita harus membayar belajaan ini lalu pergi ke mobil. Apakah kau ingin singgah di suatu tempat sebelum pulang?"


"Tidak kak, ku pikir kita pulang saja. Aku juga sudah mulai lelah."


"Astaga, maaf aku lupa jika kau sedang hamil. Maafkan bibi, sayang," ucap Alana sambil mengelus perut datar Violla. "Kalau begitu mari kita pulang."


Violla merasa sangat bahagia ketika melihat kebaikan Alana, dia beruntung karena bisa memiliki kakak perempuan yang sangat menyayanginya.


Sesampainya di mobil, Alana langsung menyusun barang belanjaan mereka lalu masuk ke dalam mobil dan menyetir dengan pelan meninggalkan supermarket.


"Katakan pada ku siapa ayah dari keponakan ku?" tanya Alana langsung.


"Apakah kakak akan membenci ku saat mendengar siapa ayah dari anak ku?" tanya Violla balik.


"Tidak akan, selama dia bukan suami ku atau suami orang wanita lain, aku tidak akan membenci mu. Sekali pun itu kesalahan mu, aku tidak akan membenci mu."


"Terima kasih kak, sebenarnya ayah dari anak ku adalah kak Sean."


Setelah Violla menyebutkan nama si ayah dari keponakannya, Alana langsung mengehentikan mobilnya di tengah jalan. Untungnya saat ini jalan sedang sepi, jika saja ramai, mungkin Alana akan di tabrak dari belakang oleh mobil lain.

__ADS_1


"Aku aku tahu kakak pasti akan membenci ku, tapi saat itu aku tidak memiliki pilihan. Mungkin ini memang kesalahan ku yang terlalu lemah pada pria yang ku cintai, saat dia mulai menyentuh ku, seharusnya aku meninggalkannya. Seharusnya aku tidak datang, seharusnya mengetuk pintunya. Seharusnya aku tidak mencintai pria itu." Tangis Violla pecah saat menceritakan kejadian satu bulan yang lalu. Dia juga tidak berani menatap Alana karena takut sang kakak angkat akan menampar wajahnya.


Namun anehnya, dia sama sekali tidak mendapatkan tamparan itu. Malah sebaliknya, Alana tanpa banyak bicara membawa mobil dalam mode cepat lalu berhenti di sebuah taman.


"Sekarang keluar dari monil ini," ucap Alana.


Violla yang berfikir bahwa Alana sedang menurunkannya di pinggir jalan karena jijik padanya langsung membukak pintu dan keluar dari mobil. Berjalan menuju sebuah kursi yang ada di bangun pohon, menangisi nasibnya yang sudah hancur tanpa melihat bahwa sosok Alana telah duduk di sampingnya.


"Ceritakan pada ku, mengapa kejadian ini bias terjadi," ucap Alana tiba-tiba, membuat Violla yang tertunduk menjadi terkejut.


"Kakak mengikuti ku?"


"Apakah kau berfikir aku akan meninggalkan mu sendirian disini?"


Violla mengangguk, "Aku berfikir bahwa kakak akan benci serta jijik pada ku karena sudah membuat anggota kepercayaan kakak menodai wanita Kotor seperti ku. Aku bahkan sekarang sadar bahwa mungkin wanita seperti ku tidak cocok menjadi seorang ibu, posisi yang hanya bias di miliki oleh wanita baik-baik, berbeda dengan ku yang memiliki masa lalu menjijikan."


"Aku hanya takut jika kakak akan membenci ku, aku tidak ingin kehilangan kakak."


Alana paham seperti apa ketakutan Violla. "Sekarang angkat kepala mu dan tatapan aku. Cari tahu apakah mata ku memberikan mu tatapan jijika dan ingin meninggalkan mu," ucap Alana sambil mengangkat wajah Violla.


Violla yang melihat tatapan penuh kelembutan dan senyum tulus dari Alana menjadi tidak tahan lalu memeluknya dengan sangat erat. Mungkin, di hidup Violla, hanya sang ibu dan Alana wanita yang selalu menerimanya serta menyayanginya dengan tulus.


"Maaf kak, karena kebodohan ku. Semuanya menjadi seperti ini, kakak harus menemani ku dan bersedia mendengarkan cerita ku," ucap Violla. "Apakah kau juga bias meminta bantuan kakak? Aku berjanji ini adalah permintaan ku yang terakhir."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Tolong jangan katakana pada siapa pun tentang kehamilan ku, dan aku juga ingin kakak memperlakukan kak Sean seperti biasa. Jangan buat dia tahu bahwa aku sudah bercerita tentang kejadian satu bulan yang lalu pada kakak."


"Mengapa kau meminta ku merahasiakannya? Kau juga meminta ku bersikap seperti biasa padanya, jelas-jelas dia tidak ingin bertanggung jawab dengan perbuatannya. Mengapa kau harus baik dan melindunginya."


"Aku tidak ingin ibu dan kakak membenci anak ku, meskipun aku tahu mungkin itu tidak akan terjadi. Namun aku ingin menyembunyikan kehamilan ku hingga nantinya anak ku lahir." Violla sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan Negara A. "Dan untuk kak Sean, ku rasa ini tidak terlalu penting kak. Lagi pula akulah yang salah karena tidak mencegahnya, jadi ku pikir, biarkan aku saja yang merasakan ini, Anggap saja anak ini adalah hadiah pengganti kak Sean yang tidak biasa ku miliki."


"Mengapa ku sebaik itu? Jika itu aku, mungkin saat ini Sean sudah mati di tangan ku."


"Tidak semua tindakan harus di balas dengan kematian kak, lagi pula ini sudah menjadi takdir ku. Setidaknya sekarang aku masih bias memiliki sesuatu yang akan membuat ku selalu dekat dengan kak Sean," ucap Violla tersenyum.


"Lalu sampai kapan kau akan menyembunyikan kehamilan mu? Cepat atau lambat ini akan terbongkar dan Rafael pasti marah besar karena kau menyembunyikan hal ini darinya."


"Bulan depan aku akan pergi kak, aku sudah memutuskan pergi dari Negara A untuk memulai hidup baru dengan anak ku."


"Tidak, kau tidak bias pergi. Apa kau berfikir bahwa hidup sendiri di Negara lain mudah? Aku saja yang menguasasi ilmu bela diri harus selalu menerima ancaman dan hamper menyerah. Bagaiman dengan mu yang hanya memiliki satu jenis ilmu bela diri, di tambah lagi kau membawa anak Bersama mu. Aku tidak akan menginjikannya mu." Sebagai pengalaman di masa lalu ketika memutuskan kabur, membuat Alana tahu bagaimana rasanya hidup di Negri orang lain tanpa ada keluarga.


"Aku sudah memutuskannya kak, jadi ku mohon ijinkan aku pergi. Memulai semuanya dan kakak bisa mengawasi ku, dan anak ku. Aku juga akan kembali jika nanti anak ku sudah besar."


Melihat tekad Violla untuk pergi sangat kuat, membuat Alana tidak bias melakukan hal lain. Namun dia akan memberikan pengawal pribadi untuknya agar bisa melindungi Violla serta keponakannya.


"Baiklah, aku akan mengijinkan mu. Tapi kau harus menerima pengawal yang ku perintahkan untuk menjaga mu, dia akan menjadi teman mu serta pejaga kalian selama di Negara K. Aku juga sudah memutuskan, mengirim mu ke Negara K, disana sudah ada yang akan menjaga. Kau juga bisa bekerja di perusahaan ku sebagai design grafis." Alana tahu bahwa Violla memiliki bakat sebagai design gdrafis.


"Baik kak, terima kasih. Aku pasti akan menjaga diri ku disana dan kembali setelah anak tumbuh sedikit besar."


"Aku akan menunggunya."

__ADS_1


Setelah itu, keduanya langsung pulang ke rumah. Alana juga tidak berusaha mencari tahu tentang kejadian satu bulan yang lalu karena tahu Violla belum siapa mengatakannya.


__ADS_2