
Setelah pertemuannya dengan sang Bos beberapa hari yang lalu, membuat perubahan besar dari Sean. Pria itu mulai berhalusinasi bahwa Violla telah pulang dan sedang menunggunya di rumah Alana seperti biasanya. Dia bahkan sengaja membelikan susu ibu hamil lalu datang ke rumah Alana untuk membuatkan susu tersebut pada Violla. Hal itu terjadi karena Sean mulai mengingat memomen kebersamaan hingga menjadi sebuah ilusi.
Alana dan Devan menjadi khawatir dengan kondisi Sean, mereka juga harus mengirim kedua anak mereka kerumah Wesly selama beberapa hari agar tidak membuat banyak keributan saat Sean sedang datang.
"Aku tidak menduga jika dia akan menjadi seperti ini," ucap Devan.
"Ya, tampaknya dia sangat terpukul dan tidak bisa menerima kepergian Violla. Aku bahkan mulai menyesal karena sudah memberitahunya tentang kondisi Violla sebelum pergi."
"Jangan menyalahkan diri mu sayang, lagi pula. Hal itu memang harus di sampaikan agar Sean bisa belajar untuk menghargai Violla di masa depan."
Alana menghembuskan nafasanya dengan kasar. Dan belum selesai kegundahannya tentang Sean, tiba-tiba saja pria itu datang dengan membawa begitu banyak makan sehat serta susu ibu hamil. Tidak hany amasuk tanpa permisi, Sean juga langsung pergi ke dapir tanpa menyapa sang pemilik rumah.
"Dia bahkan mulai menganggap rumah ini miliknya."
Devan tertawa pelan saat mendengar ucapan istrinya, dia juga setuju denganya. Sean sudah tidak lagi merasa gugup atau malu ketika masuk ke dalam rumah mereka, dia bahkan pergi ke dapur lalu membuat para pelayan ketakutan sekaligus cemas.
"Sebaiknya kita memanggil dokter kejiwaan dan seorang psikiater untuknya. Kita tidak bisa membiarkannya terus-terusan seperti ini."
"Suami ku benar, kalau begitu aku akan mencoba menghubungi dokter kejiwaan dan seorang psikiater untuk pria itu."
Saat keduanya sedang membicarakan tentang kesembuhan Sean. Sang pria yang sedang di bicarakan akhirnya muncul dengan segela susu dan beberapa buah sehat, dia bahkan dengan santainya duduk di sofa yang ada di hadapan Alana. Seolah-olah mereka keluarga bukan Bos dan anggota.
"Bos, mengapa Violla lama sekali datangnya. Bukankah biasanya dia sudah datang ke rumah ini." Sean tampak seperti seorang suami yang cemas menunggu kehadiran istrinya. "Apakah sebaiknya aku datang ke rumahnya dan meminta tuan Rafael mengijinkan kami bertemu. Aku sudah membuat susu untuknya, jika tidak segera di habiskan. Maka susu ini akan dinging dan tidak bisa di minum kembali."
Sean hanya mengingat kenangan saat Rafeal memukulnya karena tidak bersedia bertanggung jawab, dan untuk kenangan lain. Sean tidak mengingatnya termasuk percakapannya dengan Alana tentang kepergian Violla.
"Atau jangan-jangan Carl sudah melarangnya bertemu dengan ku Bos," ucap Sean mulai cemas. Dia juga ingat tentang rencana pernikahan Violla dan Carl namun lupa tentang gagalnya pernikahan itu. "Mengapa pria itu sangat kejam Bos, bukankah aku adalah ayah dari anak itu. Seharusnya dia melepaskan Violla dan membiarkan ku merawat mereka." Wajah Sean mulai pucat, dia bahkan secara tidak sengaja menangis dan membuat Alana serta sang suami tidak tega.
Devan yang tahu seperti apa rasanya berjauhan dengan wanita yang di cintai memutuskan untuk menghampiri Sean lalu menghiburnya.
__ADS_1
"Violla mungkin tidak akan pulang dalam waktu dekat, bagaimana jika kau berhenti membuat susu dan menunggunya pulang." Untuk orang yang sedang terguncang seperti Sean, rangkulan dan kata-kata menghibur adalah hal yang paling di butuhkan.
"Tidak Bos, Violla akan datang dan tidak pergi jauh. Tolong jangan membuat ku membeci mu karena sudah menjelek-jelekan wanita ku." Sean tidak terima saat Devan mengatakan bahwa Violla pergi jauh dan mereka tidak akan bisa bertemu dalam waktu dekat.
"Aku tidak berbohong, dia sedang pergi ke suatu tempat untuk penyembuhan. Jadi kau harus terus sehat agar saat dia dan anak mu pulang, kalian bisa selalu Bersama."
Sedikit masuk akal, membuat Sean mulai tenang. Dia bahkan menyunggingkan senyum setelah tahu bahwa Violla tidak akan meninggalkannya, namun masih sedikit cemas akan kesembuhan Violla yang sama sekali tidak dia sadar penyakitnya.
"Apakah dia sakit Bos?"
"Ya, tapi tidak parah. Jadi kau harus mulai belajar mengiklaskan semuanya."
"Mengapa aku harus mengiklaskannya, bukankah dia hanya pergi untuk sementara waktu." Sean kembali cemas setelah mendengar kata-kata 'mengiklaskan'.
Alana yang melhat bahwa usaha Devan tidak berhasil memutuskan membantu pria itu. Dia mulai menceritakan momen-momen kedekatan mereka, dan bahkan membuat cerita jika keduanya sudah menikah.
"Istri? Siapa istri ku Bos?"
"Violla, apakah kau lupa bahwa kalian sudah menikah? Bagaimana bisa kau melupakan momen seperti itu."
"Benarkah? Mengapa aku tidak ingat akan hal itu Bos. Bukankah yang akan menjadi suami Violla adalah Carl."
"Mereka tidak menikah. Bukankah kau yang sudah membuat mereka tidak menikah, kau menghalangi acara pernikahan dan kau juga sudah meminta maaf serta bersumpah setia pada Violla."
Tampak berhasil, Sean mulai tenang. Pria itu bahkan mulai tersenyum bahagia, menghayalkan kebersamaannya dan Violla.
"Kau juga menjadi guru bela diri untuknya, kalian sering melakukan banyak misi."
Sean semakin bahagia, dia bahkan mendekati Alana untuk meminta wanita itu menceritakan bagian-bagian bahagia yang tidak dia ingat dari Alana.
__ADS_1
"Lalu apa saja yang pernah kami lakukan Bos?"
Devan dan Alana semakin sedih dengan kondisi Sean, mereka bahkan harus menahan air mata karena tidak ingin Sean teringat akan kepergian dan mulai mencari Violla kembali.
"Kalian juga pernah bertengkar. Saat itu kau sedang menjalankan misi dari ku dan mantan kekasih mu si wanita jahat membuat drama di hadapan semua orang. Violla yang kebetulan berada di sana menuduh mu pria tidak baik, namun karena kau sudah menjelaskannya. Dia akhirnya percaya lalu menjadikan mu sebagai gurunya."
Semakin cerah, wajah Sean tampak kembali normal. Dia bahkan mulai memeluk lengan Alana sebagai bentuk kepercayaan serta meminta lebih banyak cerita tentang kebersamaannya dengan Violla yang sebagian besar hasil karangan Alana.
"Dia juga sering menggoda mu saat latihan, dia membawakan kue ke markas kita dan kau tidak membiarkan teman-teman mu memakannya karena kau ingin memakannya sendiran. Apa kau tahu, semua orang memanggil mu tuan posesif karena selalu menjaga Violla dari banyak pria yang mencoba merebutnya dari mu."
Sean bangga saat mendengar bahwa dia sangat posesif pada Violla, dia bahkan mulai kehilangan banyak ingatan tentang kehidupannya di masa lalu. Pria itu juga lupa tentang hubungannya dengan Alana. Di otaknya, hanya ada Violla dan anaknya.
"Lalu siapa kau? Mengapa aku memanggil mu Bos?"
Sakit, seperti itulah perasaan Devan dan Alana saat melihat perubahan Sean yang semakin mengerikan. Alana bahkan harus mengusap air mata yang hamper menetes keluar karena tdiak sanggup melihat anggota kesayangnnya berubah menjadi seorang idiot akibat kesalahannya pada Violla.
"A-aku kakak perempuan mu dan yang di sana adalah kakak ipar mu. Bukankah begitu sayang?" tanya Alana pada Devan.
"Ya, aku adalah kakak ipar mu dan yang sekarang kau peluk adalah kakak permpuan mu. Sedangkan Violla merupakan adik angkat kakak mu."
Sean menganggukan kepalanya pertanda paham, wajahnya bahkan seperti seorang anak 5 tahun yang baru saja mendapatkan jawaban yang paling di tunggu-tunggu dari keluarganya.
"Aku tidak menduga jika aku masih memiliki keluarga, aku bahkan memiliki kakak yang cantik dan kakak ipar yang tampan. Kalian pasti sangat menyayangi ku kan?" tanya Sean antusias.
"Tentu, kami sangat menyayangi mu. Jadi sekarang kau harus tetap sehat agar kami tidak sedih lagi."
"Baik kak."
Setelah mendengar ucapan Sean. Alana memberikan kode pada Devan untuk menghubungi dokter gangguan jiwa. Alana ingin dokter tersebut menenangkan Sean dengan suntikan, dia bahkan memutuskan menerima Sean di rumah agar bisa mengawasi saat sedang penyembuhan.
__ADS_1