Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, hidup Violla kembali ceria. Dan hal itu membuat sang ibu serta Rafael terkejut sekaligus bahagia, meskipun mereka masih belum tahu apa yang sedang di sembunyikin oleh Violla.


Violla yang sudah menerima kehamilannya sangat bahagia, setiap pagi, dia akan selalu mengelus perut datarnya lalu mengucapkan selamat pagi pada janin yang masih belum terbentuk sempurna di rahimnya.


"Selama pagi sayang, sehat-sehat di perut ibu. Ibu janji bulan depan kita akan pergi dari Negara ini dan hidup bahagia hanya kita berdua. Maaf juga karena ibu tidak akan bias dan mungkin tidak akan pernah bisa memberikan sosok ayah untuk mu, tapi kamu harus tahu bahwa ibu akan menjadi ayah sekaligus ibu yang baik untuk mu." Pengalaman di masa lalu menjadikan Violla semakin berfikir dewasa, dia bahkan mulai menerima kenyataan pahit tentang tidak akan pernah bisa menikah dengan pria yang di cintainya.


"Baiklah, mari kita pergi ke rumah bibi Ana." Selain perubahan sikapnya yang tampak lebih ceria, Violla juga semakin rajin ke rumah Alana. Bukan karena dia berharap bisa bertemu Sean, tapi karena hanya Alana yang tahu tentang kehamilannya dan dia bisa dengan bebas membahas tentang kehamilan.


Hari ini Violla sengaja menggunakan dres panjang yang longgar serta berlengan, penampilannya juga sudah berubah total. Wanita itu bahkan mulai memesan beberapa pakain khusus untuk ibu hamil, dia sengaja melakukannya agar saat pergi ke Negara K, dia tidak perlu mencari-cari lagi.


"Bu, aku akan pergi ke rumah kak Ana" ucap Violla.


"Baiklah, hati-hati di jalan dan jangan buat Alana kesulitan."


"Baik bu."


Setelah itu, Violla langsung berjalan menuju kediaman Alana. Senyumnya tidak pernah lepas saat memikirkan bagaimana nantinya bayi yang ada di dalam kandungnnya lahir keduani, dia bahkan mulai menebak-nebak seperti apa wajah anaknya. Apakah mirip dengan sang ayah atau dirinya.


Ketika Violla sedang memikirkan seperti apa wajah sang anak, dia tidak sadar bahwa sedang berjalan di hadapan Sean hingga membuat mereka saling bertabrakan. Ini kali kedua mereka bertemu setelah kejadian menyedihkan beberapa minggu yang lalu.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Violla yang masih belum menyadari sosok Sean.


Sean yang sudah tahu bahwa Violla yang menabraknya hanya terdiam dan menunggu wanita tersebut manaatapnya, ingin tahu seperti apa ekspresinya saat tahu bahwa dirinya lah yang ditabrak. Dan benar saja, ketika Violla melihat wajah Sean, wajahnya menjadi pucat namun segera normal dengan terpaksa. Senyumnya bahkan terlihat sangat aneh.

__ADS_1


"Maaf tuan, saya tidak sengaja." Setelah mengatakan hal itu, Violla langsung pergi meninggalkan Sean.


Sean yang di tingga sendiri menjadi buruk karena mendengar nama panggilan yang terdengar sangat jauh dan tidak saling kenal dari Violla. Namun bukan itu saja yang membuat Sean merasa buruk, pria itu ternyata secara tidak sengaja melihat tangan Violla yang seperti melindungi perut ratanya. Seolah-olah ada sesuatu yang berharga sedang tumbuh di sana.


Sesampainya di rumah Alana. Violla langsung masuk, dia juga tidak memperlihatkan wajah tidak enaknya akibat pertemuan dengan Sean agar kakak angkatnya tidak semakin membenci Sean.


"Halo kak, apakah kak Devan sedang di rumah?"


"Kau sudah sampai, ayo duduk. Ingat kau harus banyak beristirahat," ucap Alana. "Kakak mu sedang bekerja dan akan kembali saat makan siang."


"Baik kak, lalu kemana kedua keponakan ku?"


"Apa kau lupa bahwa mereka harus pergi ke sekolah."


"Belum, mungkin besok." Alana yang sedang membuatkan susu ibu hamil untuk Violla akhirnya selesai. "Minumlah, ini sudah tidak panas dan pas untuk di minum," ucap Alana sambal menyerahkan satu gelas susu tersebut pada sang adik perempuan.


"Terima kasih kak, lihat sayang. Ibu memiliki kakak perempuan yang baik dan dia akan menjadi bibi mu juga di masa depan. Jadi jika nanti kau sudah besar, kau harus menjadi seperti bibi, kuat dan hebat sehingga tidak ada yang berani mengganggu mu," ucap Violla sambal menyentuh perut datarnya.


Alana tersenyum saat mendengar ucapan Violla yang terdengar sangat memilukan. "Ingat, jangan menyulitkan ibu mu. Jika nanti kau ingin sesuatu maka itu harus yang di buat bibi, Oke. Jadilah anak yang baik." Alana berusaha mengajak janin yang masih belum terbentuk sepenuhnya berbicara agar Violla bahagia karena ada yang mendukung serta menjaganya.


"Pasti bibi," ucap Violla dengan suara kekanak-kanakan.


Kedua langsung tertawa saat melakukan tindakan konyol tersebut, Violla semakin tenang dan rileks karena memiliki kakak perempuan sebaik Alana.

__ADS_1


"Terima kasih kak, aku merasa kehamilan ku seperti sebuah berkah untuk ku. Memiliki kakak perempuan dan akan segera menjadi seorang ibu dari anak laki-laki yang ku cintai."


Alana tertegun sejenak saat mendengar ucapan Violla, sejujurnya dia masih belum mengerti mengapa Violla bisa sebaik itu. Tidak hanya tidak membenci Sean, dia bahkan mensyukuri kehamilan yang mungkin bisa menjadi awal dari bencana untuknya.


"Terbuat dari apa hati mu, Violla?" tanya Alana.


Violla terdiam sejenak, "Hati ku seperti kebayakan orang lain miliki kak, mengapa kakak bertanya seperti itu?"


"Aku hanya belum mengerti mengapa kau bisa sebaik ini pada Sean. Jika itu orang lain yang memiliki latar belakang seperti mu, mereka sudah pasti akan menggunakan keluarganya untuk menekan pria yang sudah merusak dan membuangnya."


Violla tersenyum, "Sejujurnya, di awal aku di lecehkan. Aku ingin menggunakan kak Rafael dan kakak untuk menekan serta memaksa kak Sean menjadi milik ku, tapi di tengah pemikiran itu, aku tiba-tiba sadar bahwa itu bukan awal kebahagian melainkan awal penderitaan ku dan kak Sean. Untuk apa menikah jika salah satu dari kami tidak menginginkannya, maka sebaiknya tidak perlu ada pernikahan."


"Tapi bisa saja Sean akan mencintai mu jika kalian sering menghabiskan waktu Bersama."


"Tidak kak, mungkin 80% dari pernikahan yang di paksa akan berhasil. Namun 20% dari sisa itu cukup beresiko, aku tidak ingin anak ku tersiksa hanya karena ayahnya tidak mencintai ibunya. Mungkin juga sang ayah akan membenci ku karenat terlalu memaksakan keinginan untuk Bersama." Pengalaman melihat banyak pasangan yang menderita karena pernikahan paksa membuat Violla tidak ingin melakukan hal semacam itu.


Alana setuju dengan perkataan Violla, bagaimana pun dia sudah pernah merasakannya. Di jodohnya dengan pria yang sama sekali tidak menyukainya, tidak hanya tidak di cintai. Dia juga harus menelah pil pahit karena di mafaatkan lalu di buang begitu saja dengan wanita lain.


"Lagi pula, jika kebersamaan bisa membuatnya mencintai ku. Mengapa hingga saat ini dia tidak menemui dan meminta maaf pada ku kak, bukankah kami sudah sering menghabiskan waktu berdua ketika sedang berlatih atau menjalankan misi." Violla benar, jika memang kebersamaan bisa mendatangkan cintai. Lantas mengapa hingga satu bulan lebih Sean masih belum menemuinya dan meminta maaf padanya. "Dari hal itu aku bisa tahu bahwa dia sama sekali tidak menyukai ku atau bahkan menganggap ku spesial. Jadi buat apa di paksakan hingga membuat kami sama-sama menderita."


"Kau benar, terima kasih karena sudah memberikan pelajaran berharga untuk ku. Mencintai tidak selamanya harus memiliki, mengiklaskan mungkin menjadi salah satu pilihan yang terbaik dari pada harus bersama namun sama sekali tidak bahagia."


Violla tersenyum dan mengangguk setuju. "Semoga aku bisa menjadi wanita setangguh dan sehebat kakak, bisa menjadi ibu yang penuh kasih sayang seperti kakak. Dan bisa menjadi sosok ayah untuk anak ku juga."

__ADS_1


"Tetap jadi wanita hebat untuk kita, Violla."


__ADS_2