Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

"Ibu, Ar ingin tidur bersama Ayah."


Suasana menjadi sangat hening ketika mendengar perkataan setengah sadar Arsean. Violla dan Sean yang belum menikah tidak mungkin bisa tidur bersama, bukan karena mereka takut akan melakukan hal yang dewasa ketika berada di satu kamar, tapi karena keduanya ingin tidur bersama jika sudah sah menjadi suami istri.


"Biarkan Ar tidur dengan ku dan kau bisa tidur dengan ibu." Sean memutuskan untuk menjaga putranya malam ini, sebagai konpensasi di masa lalu pada Violla yang pernah menjaga putranya di malam hari ketika sering terbangun.


"Sean benar, aku dan dia akan tidur dengan Ar, lalu kau tidur dengan ibu. Lagi pula permintaan Ar sangat wajar mengingat dia hanya tahu kau adalah orang tuannya tanpa tahu kalian sudah menikah atau belum." Karena Arsean sudah kembali tertidur, Rafael berani berbicara seperti itu di hadapan keponakannya.


"Kakak mu dan Sean benar sayang, lagi pula Ar sedang kelelahan, dia tidak akan tahu bahwa malam ini kalian tidak tidur bersama."


"Aku hanya tidak ingin merepotkan, Bu. Bagaimana pun Arsean masih sering terbangun di malam hari dan itu akan membuatnya terganggu."


"Tidak masalah, bukankah itu tugas seorang ayah. Jadi sekarang biarkan Sean menjaga putra mu agar dia tahu bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah ketika sudah memiliki anak."


Sean setuju dengan ucapan Diana, dia harus bisa belajar dan merasakan seperti apa lelahnya menjadi orang tua, terutama menjadi seorang ibu.


Violla yang mendengar ucapan ibunya, akhirnya mengangguk setuju. Sean memang harus mengalami seperti apa rasanya terbangun di tengah malam agar di masa depan pria itu bisa menghargai seorang wanita.


"Kalau begitu, ayo kita tidur, Bu."

__ADS_1


"Baik.


Setelah Violla serta Diana pergi. Sean menggendong tubuh putranya lalu mengikuti Rafael yang lebih dulu berjalan menuju kamarnya. Pria itu telah menganggap bahwa rumah Sean adalah rumahnya karena sebentar lagi adik perempuannya akan menjadi nyonya Sean.


Sesampainya di kamar, Sean meletakan putranya di tengah ranjang lalu berbaring di sisi kiri sang putra, di ikuti oleh Rafael yang berbaring di sisi kanan sang keponakan.


"Apa kau benar-benar akan menunggu adik ku menerima mu lalu menikahinya?" tanya Rafael tiba-tiba.


Sean yang masih belum bisa tertidur terdiam sejenak lalu memberikan jawabannya. Diamnya bukan karena dia tidak serius dengan tujuan menikahi Violla, diamnya karena dia harus mencari kata-kata yang cocok sekaligus memuasakan untuk Rafael.


"Ya kak, aku serius dengan tujuan ku menikahi Violla. Hal itu bukan karena aku menyesal sudah membuangnya atau bahkan karena merasa bersalah akibat kehamilan tanpa pernikahan."


"Lalu apa alasan mu?"


Sean benar, hanya Violla yang berani mencinta pria yang berasal dari seorang wanita malam. Wanita yang rela menjual tubuhnya demi uang, wanita yang tanpa tahu malu merayu seorang pria beristri agar bisa menjadi nyonya kaya.


"Tapi mengapa di masa lalu kau menolak Violla? Apakah karena dia pernah menjadi wanita Kotor, sehingga kau jijik padanya."


Di hidup Sean, dia tidak pernah menganggap Violla jijik. Dia bahkan tidak pernah mengingat masa lalu wanita itu setiap kali mereka berinteraksi. Jika di tanya apa alasannya menolak Violla serta putranya di masa lalu, Sean juga masih tidak tahu apa alasan jelasannya.

__ADS_1


"Aku masih belum mengerti mengapa aku bisa melakukan hal sejahat itu. Tapi di masa lalu, ketika aku mendengar Violla hamil anak ku, yang pertama ku pikirkan adalah, apakah aku sudah sanggup menjadi ayah yang baik serta suami yang bertanggung jawab. Lalu yang kedua, apakah benar kalian bisa menerima pria yang berasal dari wanita Kotor seperti ku. Hanya itu yang ku pikirkan sehingga aku menolak bertanggung jawab, dan akhirnya mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan di hadapan kalian semua."


Rafael ahirnya sadar apa alasan di balik penolakan Sean terhadap adiknya, jika itu dia. Mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama seperti Sean, bukan karena tidak ingin bertanggung jawab, hanya saja takut keluarga dari wanita yang sudah dia hamili tidak menyukai kehadirannya.


"Seperti yang selalu kak Alana dan kak Devan ajarkan pada kami semua. Jangan menikah karena umur, jangan menikah karena cinta. Tapi menikahlah ketika kau sudah yakin bisa menemani pasangan mu saat dia susah mau pun senang, menikahlah ketika kau yakin bisa menjadi tempatnya tersenyum dan menikahlah ketika kau sudah yakin bisa menjadi tulang punggung untuk keluarga mu, bisa menjadi kepala keluarga yang baik, bisa menjadi suami yang selalu menerima perubahan dalam dirinya, serta bisa menjadi ayah yang baik untuk anak mu. Dan kakak pasti tahu bahwa saat itu, aku masih belum yakin bisa menjadi seperti apa yang di pesankan oleh kak Alana dan kak Devan."


"Kau benar, seperti kata orang-orang. Kau bisa memilih pada siapa kau akan jatuh cinta, tapi kau tidak bisa menentukan pada siapa kau akan menikah. Sama halnya tentang pernikahan, selain cinta, kau harus memiliki keyakinan agar bisa hidup dan memulai sebuah hubungan baru yang hanya di lakukan satu kali seumur hidup dengan seseorang yang telah Tuhan takdirkan untuk mu."


"Aku setuju dengan ucapan kakak, dan sekarang aku sudah memiliki semua keyakinan itu. Kejadian di masa lalu membuat ku mendapatkan banyak pelajaran, hidup tidak selamanya tentang keinginan. Kau juga harus terus belajar agar bisa mencintai dengan tulus, karena bagaimana pun tidak ada gunanya meminta mereka yang mencintai mu menuruti keingan egois mu."


"Senang karena akhirnya kau bisa menjadi pria yang baik. Kau harus tahu alasan ku menolak mu 1 bulan yang lalu. Violla adalah adik perempuan ku dan hanya aku yang bisa menjaganya, di masa lalu aku sudah merasakan bagaimana menjadi kakak yang gagal sehingga sekarang aku tidak ingin adik ku tersakiti untuk kesekian kali oleh pria."


"Aku paham kak, aku berjanji akan menjaga Violla. Terima kasih juga karena kalian sudah bersedia menerima dan membantu ku mendapatkan Violla kembali, aku benar-benar banyak berhutang budi pada kalian."


"Tidak perlu berterima kasih, kita adalah keluarga. Alana saja bisa memaafkan serta menerima mu, lalu kenapa aku yang juga pernah menjadi pria jahat tidak bisa memaafkan serta menerima mu."


Sean bahagia, dia merasa sangat beruntung karena Tuhan sudah mempertemukannya dengan Alana, menjadi anggota Black Lion lalu sekarang bertemu dengan seorang wanita yang berani memberikan cinta yang tulus. Cinta yang bahkan ibunya tidak pernah berikan padanya.


"Baiklah, sekarang mari kita tidur. Kasihan Arsean jika tiba-tiba terbangun karena mendengar pembicaraan kita."

__ADS_1


"Baik, Kak. Selamat malam," ucap Sean.


"Selamat malam."


__ADS_2