Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Hari dan bulan berganti dengan cepat, kondisi Sean semakin hari semakin mengkhawatirkan. Bulan pertama hingga bulan ke 5 Ia tinggal di kediaman Alana, pria itu sering histeris dan berhalusinasi Violla berada di sapingnya. Terkadang Ia akan tertawa lalu menengis hingga berbicara sendrian, setiap kali ditanya siapa teman bicaranya maka Ia akan menjawab Violla.


Kondisi itu membuat Alana dan Devan harus menahan rindu pada kedua anak mereka yang sengaja di titipkan di kediaman lama Wesly demi keselamatan keduanya jika sewaktu-waktu Sean menjadi agresif.


Lalu bulan ke 6 hingga sekarang, tepatnya bulan ke 7. Tiba-tiba saja Sean menjadi pendian, Ia sering menghabiskan waktunya di kamar sambal sesekali menangis dan menyebut-nyebut nama Violla. Membuat siapa pun yang melihat sekaligus mendengarnya akan ikut sedih.


Alana dan Devan juga semakin tidak tenang, bukan karena mereka keberataan mengurus Sean. Hanya saja mereka tidak ingin hidup Sean berakhir sia-sia dan akhirnya Violla tahu lalu membuat wanita itu ikut sedih.


"Sayang, bangun. Violla sudah melahirkan dan anaknya laki-laki, dia juga telah mengirimkan suara tangis pertama putranya."


Ucapan sang suami membuat Alana yang tidak bisa tidur dengan nyenyak selama 7 bulan langsung terbangun. Hari ini memang waktunya Violla melahirkan, sudah 7 bulan wanita itu di Negara K dan kandungannya juga sudah menginjak usia 9 bulan sehingga bayi itu harus keluar dari rahi sang ibu.


"Berikan pada ku, aku ingin memastikannya. Apakah dia juga mengirimkan foto bayinya?" Alana memang sengaja meminta Violla mengirimkan suara tangisan pertama anaknya. Alasannya cukup sederhana, Ia ingin mencoba membangunkan Sean yang sedang mengurung jiwanya jauh ke dalam dirinya yang tidak bisa di gapai oleh siapa pun kecuali Sean sendiri.


Devan langsung memberikan ponselnya. Alana memutar suara tangisan bayi yang sangat kuat, membuat siapa pun yang mendengarnya bahagia. Bayi itu terlihat sangat sehat dengan berat badan 3,9 kg dan ukuran 53 cm, seperti bayi normal pada umumnya.


"Dia sangat mirip dengan ayahnya, hanya mata serta bibirnya yang mewarisi Violla. Ini terlihat sangat tidak adil untuk wanita." Lagi-lagi Alana mengingatkan Devan tentang momen setelah Ia melahirkan. Saat itu Alana sangat jengkel karena kedua anaknya lebih banyak mewarisi penampilan Devan dari pada dirinya yang jelas-jelas sudah membawa mereka selama 9 bulan.


Devan tersenyum geli saat memikirkan kejadian konyol beberapa tahun lalu. Alana bahkan mogok bicara dengannya selama beberapa hari karena tidak bisa menerima kenyataan itu.


"Ayolah sayang, bukankah itu bagus jika anak-anak lebih mirip dengan ayahnya."


"Mungkin itu wajar, namun tidak adil untuk kamai para wanita yang sudah membawa bayi di dalam kandungan kemana pun selama 9 bulan."

__ADS_1


"Lalu apa yang istri ku inginkan? Apakah kau ingin anak lagi sehingga anak itu mirip dengan mu?"


"Apakah boleh?"


Devan langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, sudah cukup Al dan Jasmine. Aku tidak ingin kau kesakitan lagi seperti di masa lalu." Bukan Devan tidak ingin memiliki anak kembali, hanya saja baginya Al dan Jasmine sudah cukup membuat istrinya bertaruh nyawa saat melahirkan mereka. Melihat secara jelas proses melahirkan menjadi ketakutan tersendiri baginya, Ia tidak akan sanggup jika suatu hari nanti bayi ketiga mereka mengambil nyawa istrinya seperti beberapa istri rekan bisnisnya yang meninggal ketika melahirkan.


"Tapi aku ingin mencoba yang ketiga, mungkin saja dia akan mirip dengan ku."


"Tidak sayang, jika sampai aku tahu kau sengaja membuat anak ketiga lahir maka aku akan membuat mu tidak lagi bisa hamil."


Alana tertawa, sejujurnya Ia sudah tahu jika suaminya takut kehilangannya karena melahirkan anak ketiga. yah, meskipun itu adalah kehendak Tuhan, Alana pun tidak percaya namun Ia tidak akan melakukan apa yang di takutkan oleh suaminya.


"Ayolah sayang, hanya anak ketiga. Setelahnya aku tidak akan memintanya."


Melihat bahwa istrinya sedang menggoda, Devan langsung menyerang sang istri. Ia memberikan kecupan-kecupan ringan di bibir Alana lalu menggerakan tangannya ke daerah sensitive hingga membuat Alana terlarut dan akhirnya mereka melakukan aktifitas yang selalu Devan sukai. Pria itu juga tidak pernah bosan dengan Alana, dia sangat menikmatinya lagi dan lagi.


"Bagaimana kabar mu hari ini?" Mekipun Alana tahu Sean tidak akan menjawab, Ia tetap akan selalu bertanya agar Sean tidak merasa sendiri.


"Apakah kau tahu, hari ini bayi mu sudah lahir. Dia sangat tampan dan sangat mirip dengan mu, suaranya bahkan sangat kuat, mirip dengan suara Violla."


Sejenak, Sean sedikit memberikan respon dengan menggerakan tubuhnya. Namun hanya sebatas itu, Ia melanjutkan lamunannya.


"Apa kau tidak ingin mendengar suaranya dan melihat wajah mungilnya?" Sekali lagi Alana mencoba mengajak Sean berbicara. Para dokter dan psikiater yang mereka sewa sudah menyerah akan perubahan Sean yang semakin tertutup, sehingga Alana yang harus turun tangan.

__ADS_1


Melihat ada sedikit perubaha dari Sean. Alana langsung memutar suara tangisan bayi Violla, memutarnya berulang kali hingga membuat Sean menatapnya.


"Kau ingin mendengarnya lagi?"


Sean sedikit mengangguk, tampaknya suara tangisan itu membangunkannya dari tidur Panjang di alam bawah sadarnya.


Suara itu terus saja terulang, hingga 1 jam berlalu. Alana memutuskan mematikan suara itu lalu memperlihatkan wajah menggenaskan bayi kecil itu.


"Lihatlah, dia sangat tampan dan mirip dengan mu. Dia juga memiliki ciri khas ibunya, apa kau senang?"


Sean sangat fokus dengan foto yang ada di hadapannya, Ia menatap dengan penuh minat. Membuat Alana seperti mendapatkan sebuah pertolongan dar Tuhan karena akhirnya pria itu mulai normal.


"Apa kau ingin menyimpannya? Aku juga memiliki foto tentang Violla. Jika kau memang ingin maka aku akan membuatkannya untuk mu."


Sean menganggukan kepalanya pertanda bahwa Ia ingin foto kedua sosok yang sudah menjadi separuh jiwanya.


"Baiklah, tunggu sebenar. Aku akan mencetak ini sebentar."


Saat Alana akan berdiri, tiba-tiba saja Sean menariknya. Memberikan tatapan penuh arti dan Alana tahu bahwa pria itu ingin ikut dengannya.


"Kalau kau ingin ikut, maka ayo."


Setelah itu, keduanya pergi meninggalkan kamar. Alana membawa Sean ke ruang kerja suaminya yang di dalamnya terdapat mesin cetak foto. Alana dengan telaten mulai mencetak banyak foto Violla dan anaknya, mulai dari wanita itu hamil hingga proses melahirkan Alana cetakan untuk Sean.

__ADS_1


"Apa kau bahagia melihat foto mereka?" tanya Alana dijawab dengan anggukan kepala oleh Sean.


Hingga cetakan terakhir selesai, Alana langsung memberikan semua foto itu pada Sean. Membiarkan pria itu memandang puas ke arah foto tersebut, bagaimana pun sejak kehilangan Violla 7 bulan yang lalu. Sean tidak lagi pernah melihat foto Violla.


__ADS_2