Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
S2 Sean Violla


__ADS_3

Setelah pemanasan dan di antar pulang oleh Sean, keduanya semakin akrab. Violla bahkan mulai menjahili Sean, hal itu membuat Sean sering salah tingkah dan mereka tidak menyadari bahwa kedekatan yang di awali antara guru dan murid telah mencipatkan sesuatu yang hangat di setiap kali mereka bertemu.


“Guru, apakah kita tidak akan melakukan misi?”


Sudah 2 bulan Violla belajar ilmu bela diri pada Sean, dia juga sudah menguasai ilmu bela diri taekwondo dalam waktu tersebut.


“Jangan meminta hal-hal yang aneh,” ucap Sean.


Saat ini, mereka sedang duduk di tempat latihan yang dimiliki oleh Black Lion, para anggota Black Lion juga sudah mengenal Violla dengan baik. Mereka bahkan senang karena setiap kali Violla datang, wanita itu akan membawa makan hasil masakannya sendiri.


“Ayolah guru, aku sangat ingin melakukan misi seperti guru dan anggota Black Lion lainnya.” Violla penasaran bagaimana rasanya menjalankan misi seperti yang di lakukan Mika dan yang lainnya.


Ketika Sean melihat bahwa Violla sangat ingin menjalankan misi, dia akhirnya memutuskan untuk mengajaknya melakukan misi yang baru saja Alana berikan padanya.


“Baiklah, tapi kau harus janji agar tidak menghancurkan misi kali ini. Maka aku akan membawa mu,” ucap Sean.


Violla yang mendengar hal itu langsung tersenyum, dia tidak menduga bahwa gurunya akan membawanya menjalakan misi.


“Baik guru,” ucap Violla semangat.


Setelah mendengar perkataan Violla. Sean mengajak wanita itu bersiap-siap, sejujurnya misi Sean tidak banyak dan berbahaya. Dia hanya harus membongkar kejahatan yang di lakukan oleh direktur pemasaran di QA Crop yang telah membuat nama perusahaan tersebut rusak.


“Pakai ini, ingat jangan memperlihatkan wajah mu dan tunggu aba-aba ku,” ucap Sean lalu memberikan satu set pakaian serba hitam serta topi yang akan menutupi wajah Violla.


“Terima kasih guru, lalu dimana aku harus mengganti pakaian ku?” tanya Violla polos.


“Kau bisa menggantinya di sini jika kau mau,” ucap Sean kesal.


“Maksud guru, aku boleh menggantinya di hadapan guru,” ucap Violla sambil menahan tawanya. Sejujurnya wanita itu sengaja menggoda Sean, entah mengapa. Baginya Sean pria yang menggemaskan dan wajahnya akan terlihat lucu ketika malu.


“Tentu, aku juga ingin melihat keberanian mu.” Sejujurnya, Sean tidak akan pernah berani melihat tubuh polos wanita lain.


“Baiklah.” Setelah itu, Violla berpura-pura membuka kancing pakaiannya. Sean yang melihat tindakan berani Violla langsung berteriak dan memalingkan wajahnya.


“Apa yang kau lakukan!” Teriak Sean sambil memalingkan wajahnya.


“Bukankah guru mengatakan bahwa aku boleh mengganti pakaian disini,” ucap Violla sambil menahan tawanya.


Saat ini, keduanya sedang berada di tempat penyimpanan pakaian untuk para anggota Black Lion. Di dalam ruangan itu juga memiliki kamar ganti, namun Violla tidak tahu dan Sean tidak memberitahunya.


“Disana ada kamar ganti, cepat masuk dan ganti pakaian mu. Aku akan menunggu mu di luar,” ucap Sean lalu pergi meninggalkan Violla.


“Baik guru,” ucap Violla lalu tertawa terbahak-bahak, dia sangat menikmati momen malu Sean.

__ADS_1


Sean yang mendengar tawa Violla langsung tersadar bahwa wanita itu sengaja menggodanya. Hal itu membuat Sean yang awalnya malu dan kesal menjadi tertawa pelan, dia tidak tahu mengapa dirinya tidak marah dengan tingkah menjengkelkan Violla. Pria itu bahkan merasa bahwa tingkah jahil Violla seperti hiburan untuknya, kehadiran Violla juga membuatnya tidak berniat mencari seorang pacar.


Setelah 15 berlalu, Violla akhirnya keluar ruangan dengan celana jeans dan jaket hitam serta topi yang menutupi wajahnya. Penampilannya membuat Sean yang sedang mondar-mondir di depan pintu akibat kesal menunggu lama menjadi terdiam.


“Apakah aku tidak cocok memakai pakaian ini guru?” tanya Violla cemas.


Sean yang mendengar perkataan Violla akhirnya sadar dan menormalkan wajahnya. Dia bahkan memasang wajah biasa agar Violla tidak mengetahu bahwa dirinya sedang kagum dengan penampilan Violla yang tidak biasa.


“Mengapa kau lama sekali?” tanya Sean tanpa menjawab pertanyaan Violla.


“Aku sedikit kesulitan guru, lagi pula aku harus memakai make up ku agar tetap terlihat cantik,” ucap Violla tidak malu.


“Kita akan menjalankan misi bukan jalan-jalan,” ucap Sean kesal.


“Aku tahu, tapi aku harus tetap menjadi cantik agar misi ku membuat guru jatuh cinta pada ku tercapai,” ucap Violla penuh tekat.


“Kau masih saja suka bermimpi,” ucap Sean.


“Kesuksesan itu berawal dari mimpi guru, jadi jika aku ingin sukses membuat guru jatuh cinta dan menjadi wanita idaman guru. Maka aku harus punya mimpi yang indah guru.”


“Maka kau harus siap-siap terluka ketika mengetahui bahwa mimpi mu tidak tercapai,” ucap Sean asal.


“Tidak akan, aku sudah memastikan bahwa mimpi ku akan tercapai dan guru akan menjadi milik ku,” ucap Violla.


Ketika Sean melihat bahwa Violla masih tidak menyerah, dia memutuskan untuk mengabaikan wnaita itu dan berlajan cepat meninggalkan Violla yang mengejarnya.


“Guru, apakah aku boleh memeluk mu? Ini sangat mengerikan dan aku tahu motor guru sangat cepat. Aku takut tertinggal ketika guru membawa motor ini,” ucap Violla takut.


“Baiklah,” ucap Sean.


Setelah mengatakan hal itu, Violla yang takut jatuh memeluk Sean. Dia juga tidak memeluk Sean secara langsung karena Sean sengaja memakai tas ransel di belakang.


“Jika kau takut kecepatan, maka kau boleh meletakan kepala mu di pundak ku,” ucap Sean yang mulai menghidupkan motornya.


“Baik guru.”


Setelah mendengar perkataan Violla. Sean langsung menjalankan motonya menuju hotel yang merapakan tempat pertemuan antara direrktur pemasaran dan kelompoknya.


Sesampainya di hotel, Sean memarkirkan motornya. Violla yang merasa nyaman dengan punggung besar Sean masih belu tahu jika mereka sudah sampai, bagaimana pun hal itu terjaid karena Violla masih ketakutan akibat kecepatan Sean saat mengendari motornya.


“Apakah kau masih saja ingin memeluk ku?” ucap Sean.


Violla yang masih meletakan wajanya di punggung Sean tiba-tiba terkejut ketika merakan getaran di punggung pria itu ketika berbicara.

__ADS_1


“Maaf guru, aku tidak tahu jika kita sudah sampai,” ucap Violla malu.


“Apakah punggung ku masih baik-baik saja atau air liur mu sudah membasahinya,” goda Sean.


“Guru, aku tidak akan membiarkan punggung nyaman guru di basahi oleh air liur ku. Jadi guru tidak perlu cemas.”


“Baguslah, jika sampai aku tahu punggung ku di basahi oleh air liur mu. Maka aku tidak akan mengijinkan mu memeluk ku di masa depan.”


“Baik guru, aku tidak akan melakukan hal seperti itu agar guru tetap membiarkan ku memeluk punggung guru di masa depan.” Violla sangat senang ketika mengetahui bahwa Sean akan mengijinkannya memeluk punggung nyaman itu di masa depan.


“Aku memberikan mu satu jengkal dan kau melangkah semakin banyak,” ucap Sean.


“Kita harus bisa memanfaatkan kesempatan guru,”


“Baiklah, sekarang ayo kita masuk,” ucap Sean lalu turun dari motornya.


Violla yang mendengar perkataan Sean juga ikut turun. Keduanya langsung masuk ke dalam hotel lalu menuju kamar hotel yang berada tepat di samping kamar sang target.


“Apa kau bisa melompat?” tanya Sean ketika mereka telah masuk ke dalam kamar.


“Bisa guru,” ucap Violla.


“Kalau begitu, sekarang ikuti.”


Violla mengangguk setuju lalu mengikuti Sean yang melompat ke balkon yang ada di samping kamar mereka. Sean memang sangaja mendengar pembicaraan targetnya dari balkon kamar sang target.


“Tetap diam disini, aku akan meletakan alat perekam di kamar itu sebelum mereka masuk.”


“Baik guru.”


Setelah itu, Sean masuk ke dalam kamar lalu mulai meletakan alat-alat yang berukuran mini di setiap sudut ruangan serta meja yang ada di samping tempat tidur. Ketika pria itu telah selesai, dia langsung keluar dan menghampiri Violla yang masih setia menunggu di balkon.


“Ayo sembunyi,” ucap Sean lalu menarik lengan Violla untuk bersembunyi di balik tirai hotel.


Beberapa menit setelah mereka bersembunyi, sang target akhirnya masuk. Direktur pemasaran tersebut membawa banyak teman yang notabennya merupakan karwayan sekaligus bawahan di defisi pemasaran QA Crop.


Sean yang melihat penghianatan orang-orang tersebut langsung tersenyum kejam, dia tidak menduga jika sang direktur pemasaran dan para bahwahannya sangat licik. Violla yang sedari tadi melihat kehadiran serta mendengar pembicaran orang-orang yang menjadi target mereka memutuskan untuk merekam kejadian itu melalui ponselnya.


“Apakah tidak apa-apa kita melakukan koropsi di QA Crop , Bos?” tanya salah satu bawahan sang direktur.


“Tentu saja tidak, lagi pula sekarang wanita itu tidak pernah datang lagi ke perusahaan dan pria bernama Lukas itu sedang sibuk dengan istrinya.”


“Tapi masih ada tuan Raiden, Bos.”

__ADS_1


“Dia sedang sibuk dengan perusahaan cabang di Negara I, jadi kalian tidak perlu cemas.”


“Aku masih takut Bos, bagaimana pun nyonya Alana sangat hebat. Dia pasti akan tahu cepat atau lambat mengenai penghianatan kita.”


__ADS_2