Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Sean dan Violla tidak lagi kedatangan tamu tidak di undang karena Clora serta Alesa sudah masuk rumah sakit. Alesa yang mendapatkan siraman kopi panas di mulutnya tidak bisa makan atau bahkan berbicara. Sedangkan Clora, dia juga di rawat karena luka di kening. Meskipun tidak separah Alesa, namun wanita paruh baya tersebut ingin di rawat karena tidak ingin lukanya membuat wajahnya jelek.


Ketika hidup Sean serta kelurga kecilnya tenang, dan kehidupan Clora serta Alesa penuh rasa sakit. Ayah Sean yang bertekat untuk mendapatkan kembali putra yang sudah dibuangnya sedang berbicara dengan seorang wanita muda yang sangat cantik.


"Aku akan membantu anda, tapi anda harus tahu bahwa setelah aku bisa tidurnya maka anda harus segera menikahkan kami. Aku tidak ingin keluarga Moxa malu, apalagi jika aku sampai hamil di luar nikah seperti wanita itu."


Daksa yang mendengar perkataan Rihana Moxa, putri dari keluarga kaya Moxa sekaligus mantan kekasih Sean yang penah di bela Violla ketika membuat drama di hadapan umum. Rihana yang awalnya hanya ingin mendekati kembali Sean karena di campakan pacarnya berakhir gagal. Karena sudah di tolak, dia pergi meninggalkan Sean dengan menikahi pria kaya lainnya, tapi sayangnya. Pernikahan itu gagal kembali, suaminya selingkuh dan meninggakannya 1 tahun yang lalu. Semenjak itulah, Rihana mulai mendekati Sean kembali.


Berfikir bahwa saat itu Sean yang sudah kaya membutuhkan seorang istri. Maka Rihana dengan percaya diri menggoda Sean dengan tubuhnya, tapi bukannya mendapatkan pandangan tertarik. Sean bahkan menatapnya jijik, sama seperti kejadian di masa lalu ketika dia meminta untuk kembali.


"Setuju, setelah berhasil tidur dengannya. Maka aku akan menikahkan mu dengannya, sedangkan untuk istrinya. Aku akan memberikannya pada putra tidak berguna ku, setidaknya kekayaan kakaknya bisa menyelamatkan keluarga kami."


Sangat tidak tahu malu, seperti itulah sifat Daksa dan Clora. Tidak jauh berbeda, seharusnya mereka memang menikah karena memiliki sifat yang sama.


"Baik, besok kau akan datang sebagai perwakilan papa dan memberikan obat pada minumannya."


"Ide yang bagus, semoga rencana kita bisa berhasil."


"Tentu saja itu akan berhasil, seorang Rihana tidak akan pernah gagal dalam hal seperti itu."


Ketika keduanya sedang berbicara. Mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mendengar pembicaraan tersebut.


Keesokan harinya, Violla yang sedang menatap kepergian suaminya menjadi tidak bahagia. Dia bahkan merasa ada sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi pada keluarga kecilnya.


"Apa sebaiknya aku meminta Sean kembali."


Perasaan Violla semakin tidak tenang ketika jam sudah menunjukan pukul 9 pagi. Dia yang awalnya tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya tiba-tiba semakin tidak bisa menahan diri untuk menelpon Sean.

__ADS_1


"Aku harus menghubungi Sean dan memintanya pulang."


Saat Violla sedang mengambil ponselnya agar bisa menghubungi suaminya. Rihana yang telah tiba di perusahaan Sean dengan pakaian seksi langsung meminta seorang OB perusahaan mencampurkan obat yang sudah disiapkannya untuk Sean.


"Ingat untuk melakukannya dengan baik, aku tidak ingin ada kesalahan apa pun."


"Tentu, Nona."


Rihana tersenyum bahagia, tidak lama lagi Sean akan menjadi miliknya, termasuk perusahaan yang sudah sangat berkembang akibat dukungan keluarga Wesly dan Rafael.


Rapat akhirnya di mulai. Sean yang awalnya tidak tahu jika Rihana akan mewakili sang papa menjadi kesal, namun berusaha tetap tenang karena tidak ingin menghancurkan reputasi perusahaanya.


OB yang di minta menyiapkan minuman untuk Sean akhirnya tiba, dia dengan tenang memberikan segelas kopi seperti biasa pada Bosnya. Dan ketika Sean akan meminumnya, tiba-tiba ponsel Sean berdering. Membuat Rihana yang berharap pria itu akan meminumnya menjadi kesal.


"Halo sayang, apakah ada sesuatu yang buruk terjadi?" Tanya Sean cemas karena istrinya tiba-tiba menelpon.


Ketika Sean mendengar perkataan serta suara cemas istrinya. Dia langsung berdiri dan meminta maaf pada para investor, termasuk Rihana. Pria itu juga berjanji akan melakukan rapat melalui video call.


"Maafkan saya, istri saya baru saja menelpon dan mengatakan bahwa dia merasa tidak enak. Karena saat ini tidak ada siapa pun di rumah, maka saya harus segera pulang dan melihat keadannya. Saya juga akan melanjutkan rapat melalui video call."


Para investor yang kebanyakan seorang suami sayang istri mengangguk paham. Mereka juga akan melakukan hal yang sama dengan Sean jika seseorang yang di cintai sedang sakit.


"Kami tidak masalah, Tuan. Lagi pula rapat ini bisa di wakilkan oleh sekretaris anda. Jadi anda harus segera pulang, istri adalah hal yang paling penting dari segalanya."


Rihana yang mendengar hal itu menjadi cemas. Tidak ingin kehilangan kesempatan menadapatkan Sean membuatnya berani berbicara.


"Sebaiknya tidak, anda bisa meminta kerabat atau teman anda untuk memeriksa kondisi istri anda. Sedangkan rapat ini sangat penting, bagaimana bisa anda melewatkan kesempatan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar seperti kami."

__ADS_1


Sean dan yang lainnya menjadi kesal dengan ucapan Rihana. Mungkin bagi sebagian pria, istri adalah nomor 2 setelah perusahaan. Tapi tidak bagi mereka, istri merupakan sesorang yang mampu membuat rumah terasa hangat, tanpa seorang istri. Rumah tidak lagi bisa di sebut rumah.


"Anda salah, Nona. Bagi kami, istri adalah segalanya. Mereka hal terpenting dalam kehidupan rumah yang harmonis. Mungkin bagi anda tidak penting karena suami anda tidak menganggap anda penting. Tapi untuk kami istri itu lebih dari segalanya."


Rihana menjadi malu, dia tidak menduga bahwa rencananya akan gagal. Dan saat ingin berbicara lagi, Sean sudah tidak ada lagi ti ruangan. Kopi yang sudah di siapkan juga tidak lagi berarti.


Saat Sean sedang bergegas menuju rumah, seseorang yang telah mendengarkan semua rencana Rihana dengan Daksa, sedang mengawasi kediaman Sean. Ketika dia melihat sorang pria tiba-tiba berhenti di depan mobilnya. Dia langsung meminta orang bayarannya membawa pria tersebut.


Sesampainya Sean di rumah. Violla yang sedang cemas menjadi tenang ketika melihat kehadiran suaminya. Dia bahkan memeluk tubuh Sean, membuat sang suami menjadi cemas sekaligus bingung.


"Ada apa sayang? Apakah ada sesuatu yang terjadi pada mu? Lalu dimana Arsean dan Jasson."


"Saat aku sedang menunggu mu, aku melihat rekaman cctv di depan gerbang. Melihat ada sebuah mobil terparkir di sana namun tidak melakukan apa pun. Tapi yang membuat ku semakin takut, ketika sebuah mobil baru datang. Pria berpakaian hitam turun dari mobil pertama lalu menangkap pria dari mobil kedua."


Sean terkejut ketika mendengar perkataan istrinya. Tidak menduga jika ada seseorang yang berniat buruk pada keluarganya, tapi untungnya ada yang melindungi istrinya di rumah.


"Arsean dan Jasson sedang ikut dengan bibi Lusi berbelanja bersama pama Larry. Aku juga meminta beberapa penjaga menemai kepergian mereka."


"Syukurlah, lalu mengapa kau mengatakan bahwa diri mu tidak tenang ketika ku tinggal pergi?"


"Aku tidak tahu, aku hanya merasa sesuatu yang buruk akan membuat rumah tangga kita hancur. Tapi aku tidak tahu apa penyebabnya, maafkan aku karena sudah membuat mu cemas dan menghancurkan rapat pagi mu. Violla merasa bersalah karena sudah membuat rapat Sean gagal."


"Tidak apa-apa sayang, lagi pula aku masih bisa melakukanya dari rumah. Jadi kau tidak perlu cemas."


"Terima kasih karena langsung kembali ketika aku meminta mu pulang."


"Tidak perlu berterima kasih, aku akan tetap melakukan hal seperti itu meskipun harus kehilangan banyak uang demi keselamatan mu."

__ADS_1


__ADS_2