Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Setelah pertengkaran 2 hari yang lalu, Sean belum datang berkunjung. Membuat Violla menjadi khawatir dan sang putra sering menangis karena sang ayah tak kunjung dating.


Violla berfikir bahwa perjuangan Sean hanya sampai mereka bertengkar dan mungkin sekarang Lilii sudah menajadi wanita Sean. Pemikiran itu selalu saja terbayang di kepala Violla hingga membuatnya semakin menyesal dengan tindakan kekanak-kanakannya.


"Mungkin sebaiknya aku mengunjunginya, setidaknya aku masih bisa meminta maaf dan memohon padanya agar dia tidak melupakan Arsean."


Setelah memikirkan semuanya, Violla langsung bersiap-siap. Dia juga menitipkan Arsean pada sang ibu, sengaja tidak membawa putranya karena takut ketika bertemu dengan sang ayah. Mereka mendapatkan kejutan yang tidak menyenangkan.


Saat Violla akan pergi keluar rumah, tiba-tiba saja dia mendengar suara mobil berhenti di depan rumah kakaknya. Telinganya dapat mendengar dan mengenali bahwa mobil itu bukan milik, kakaknya, atau bahkan Alana. Membuat Violla gugup, dia tahu bahwa mobil itu milik Sean karena bagaimana pun dia masih mencintai pria itu dan akan sangat mudah mengingat tentangnya.


Berdiri di ruang tamu, Violla menahan diri untuk tidak membukakan pintu. Menunggu sang tamu yang membukanya, ingin melihat apa yang akan dilakukan olehnya.


Ketika pintu itu terbuka, mata mereka saling bertemu. Violla menjadi semakin gugup. Penampilan Sean yang sedikit berbeda karena ada kantung mata yang menghitam akibat bergadang lalu wajah murung akibat pertengkaran mereka.


Sudah 10 menit mereka saling memandang. Violla dapat melihat ada begitu banyak perasaan rindu serta sedih di mata pria yang masih saja dia cintai hingga saat ini.


"Hai," sapa Sean yang berdiri sangat jauh darinya. Membuat Violla tidak tahan lalu berlari ke arahnya.


"Kemana saja kau selama 2 hari ini? Apakah kau sudah menemukan wanita lain sehingga melupakan ku? Apakah perjuangan mu langsung terhenti setelah aku meminta mu mencari wanita lain? Apakah kau tidak lagi mencintai ku dan putra kita?" Violla memukul dada bidang Sean dengan lembut, tampak seperti wanita yang sedang kesal pada perbuatan kekasihnya.


Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibir mungil Violla, membuat Sean menjadi gemas sekaligus bahagia. Gemas karena wanita yang selama2 hari ini sangat dirindukannya sangat cerewet dan bahagia karena akhirnya dia tahu bahwa Violla masih sangat mencintainya.


"Maaf, selama 2 hari ini aku harus mengurus perusahaan dan tidak sempat datang menjenguk kalian. Dan aku tidak pernah memiliki wanita lain selain diri mu, kau harus tahu bahwa hanya kau wanita yang berani memberikan ku cinta sehingga aku tidak bisa berpaling dari mu."

__ADS_1


Anehnya ucapan Sean membuat Violla bahagia tapi dengan air mata. Kata-kata Sean begitu sangat dalam untuknya hingga dia merasa malu karena sudah berfikir yang tidak-tidak tentangnya.


"Apakah ini karena aku? Apakah perusahaan mu mendapatkan banyak kerugian karena aku dan Ar?" Violla menjadi tidak enak pada Sean.


"Tidak, sebenarnya aku akan membuka cabang baru sehingga tidak bisa meninggalkannya." Sean terhenti sejenak lalu melenjutkan, "Jangan menangis, hati ku terluka melihat air mata mu." Sean menghapus air mata Violla, membuat air mata itu tidak ingin berhenti.


"Mari kita menikah."


Sesaat, Sean terhenti. Tangannya bahkan ikut terhenti, jantungnya berdetak dengan kencang. Mendapatkan sebuah lamaran dari wanita yang di cintainya sangat menyenangkan namun memalukan karena gagal melakukan acara lamaran lebih dulu.


"Tidak, seharusnya aku yang mengatakan hal itu." Sean tidak terima jika Violla yang lebih dulu melamarnya.


"Bukankah itu sama saja?" sejujurnya Violla sangat gugup ketika mengucapkan lamaran tersebut.


"Tidak, aku tidak menerima lamaran mu."


"Nek, mari kita ikut ayah dan ibu," ajak Arsean.


"Baik sayang." Sama halnya dengan sang cucu, Diana juga penasaran akan tingkah laku Sean dan Violla.


Sesampainya di tengah kebun bunga. Sean tiba-tiba berlutut di hadapan Violla, lalu memberikan setangkai bunga mawar merah milik calon mertunya yang dipertik ketika mereka berlajan ke tengah-tengah kebun bunga.


Violla yang melihat tindakan Sean menjadi gugup, sedangkan Diana serta seluruh pelayan yang ikut serta dengan keduanya karena di minta oleh Sean menjadi tersipu malu.

__ADS_1


Rafael yang kebetulan baru saja tiba di rumah, menjadi penasaran dengan keramaian lalu memutuskan ikut berkumpul. Semuanya terlihat sangat kebetulan, membuat Sean bersyukur karena tampaknya Tuhan membantunya.


"Violla Kathryn Caesar, ibu dari putra ku. Arsean Caesar Aldero. Hari ini aku, Arsean Xario Aldero meminta mu untuk menjadi istri ku, wanita satu-satunya yang akan menemani ku. Ibu dari anak-anak ku, teman yang akan selalu mendengarkan keluh kesah ku, dan seseorang yang akan selalu berada di sisi ku baik suka mau pun duka. Jadi, apakah kau bersedia menikah dengan ku?"


Violla tersenyum haru, air matanya menetes ketika mendengar rangkaian kata-kata yang mungkin biasa bagi beberapa orang namun mengandung makna yang mendalam baginya. Dia bahkan tidak menduga jika lamaran yang awalnya dia lakukan ternyata menjadi lamaran yang sangat sederhana di tengah kebun bunga dan pembuktian lamaran itu di ambil dari bunga ibunya.


"Ya, aku bersedia menjadi istri mu, bersedia menjadi ibu dari anak-anak mu, bersedia menjadi satu-satunya wanita yang akan menamani mu, bersedia menjadi pendengar keluh kesah mu, bersedia menjadi teman hidup mu. Dan bersedia menerima lamaran mu meskipun menggunakan bunga ibu yang petik sembarangan."


Sean dan yang lainnya tertawa saat mendengar perkataan terakhir Violla. Lamarannya memang jauh dari kata mewah serta romantis, bahkan terkesan dadakan karena tidak ingin dilamar oleh Violla.


"Terima kasih, aku berjanji akan menjadi suami yang selalu sabar meskipun nantinya kau akan menjadi istri yang cerewet, aku akan selalu mencintai mu meskipun nantinya tubuhnya menjadi besar karena harus mengandung anak-anak ku. Aku akan berusaha menjadi sosok pria yang bisa kau dan anak-anak kita andalkan."


"Maka jangan buat kami kecewa di masa depan."


Sean menganggukan kepalanya lalu bangkit dan memeluk tubuh Violla. Menghirup aroma dari tubuh wanita yang sangat dicintainya. Berjanji tidak akan ada air mata lagi setelah hari ini.


"Ayah, ibu. Ar juga ingin di peluk."


Arsean masih belum mengerti dengan tingkah laku kedua orang tuanya. Tapi pria kecil itu tampak sangat bahagia ketika melihat kedua orang tuanya saling berpelukan.


"Sesuai keinginan Ar," ucap Sean lalu membawa putranya berpelukan dengan Violla.


Pada akhirnya, luka dan air mata di masa lalu telah berubah menjadi air mata kebahagian. Semuanya sudah di bayar dengan kebahagiaan di masa depan.

__ADS_1


---------------------------------


Maaf ya autor cuman bisa up 1 bab tapi besok di usahain di tambah babnya


__ADS_2