Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

"Maaf membuat mu terbangun sayang," ucap Diana.


" Tidak apa-apa, Bu. Siapa saja yang datang?"


"Ibu, ketiga kakak mu, Lukas dan istrinya." Sama halnya dengan Alana. Diana juga menjaga jarak dengan Athaya serta Mika, wanita paruh baya itu tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan kedua wanita yang menyebut diri mereka sahabat namun secara terang-terangan menambah luka pada putrinya.


Violla yang mendengar bahwa Athaya juga hadir menjadi tidak enak, namun tidak menunjukannya pada sang ibu karena tidak ingin menjadi kekanak-kanakan.


Jasmine yang sudah lama merindukan sang bibi langsung menyapa Violla. Membuat Violla yang baru menyadari kehadiran kedua keponakannya menjadi bahagia, di tambah lagi sang keponakan sudah semakin dewasa serta tampan.


"Halo bibi, Violla."


"Halo sayang, bibi sangat merindukan mu dan juga Al. Bagaimana sekolah kalian?" Violla begitu menyayangi kedua anak Alana dan Devan, selain keduanya sangat pintar serta menggemaskan. Keduanya juga sangat baik padanya.


"Kami juga merindukan bibi. Semuanya lancar, Bi."


"Syukurlah, kalian pasti sudah mengenal Arsean bukan?"


"Tentu saja, Bi. Apakah kami boleh membawa Ar ke bawah?" tanya Al.


"Boleh sayang, kebetulan bibi dan nenek kalian juga akan turun ke bawah juga."


Arsean yang jarang memiliki teman bermain karena sering di titipkan pada sang nenek ketika berada di Negara K menjadi bahagia karena akhirnya bisa bertemu secara langsung dengan kedua sepupu yang selalu menyapanya melalui video call.


Setelah sepakat untuk turun bersama, Jasmine langsung menarik tangan Ar dan saudara kembarnya ke arah tangga. Di ikuti oleh Violla serta sang ibu.


Ketika sampai di bawah, Violla yang sengaja mengabaikan Athaya berjalan menuju Alana lalu memeluk wanita yang selalu perduli dengannya, selalu mengkhawatirkan kesehatannya serta sang putra dan yang selalu menyempatkan diri menghubunginya selama 5 tahun terkahir.


"Selamat datang di rumah, Violla."


Violla tersenyum saat mendengar ucapan Alana, dia akhirnya bisa kembali ke Negaranya dan di sambut dengan hangat oleh keluargnya.


Setelah berpelukan, Violla yang masih belum siap berhadapan dengan Athaya memutuskan pergi ke dapur, menghampiri keempat pria yang sedang berada di dapur.


Melihat Violla masuk ke dapur membuat Devan menarik Rafael serta Lukas keluar. Memberikan waktu untuk Violla dan Sean menghabiskan waktu berdua.

__ADS_1


"Mengapa kau disini?" tanya Sean.


"Apakah dapur ini tidak menyambut ku?" Violla yang sedang kesal dengan kepergian ketika pria itu yang tampak sengaja membiarkannya berduaan dengan Sean menjadi semakin kesal akan pertanyaan tersebut.


"Bukan seperti itu, tentu saja dapur ini sangat menerima mu karena bagaimana pun dapur ini ku siapkan khusus untuk mu."


Mendengar dapur yang sangat besar itu di siapkan hanya untuknya membuat Violla menjadi tersentuh. Hobi memasaknya yang sudah 5 tahun tidak lagi dia lakukan akan segera kembali jika dirinya menikah dengan Sean.


"Kau terlalu percaya diri jika aku akan menikah dengan mu." Meskipun senang, lagi-lagi Violla menyangkalnya.


"Cepat atau lambat, siap atau tidak kau akan menjadi istri ku. Dan perkataan ku selalu ku wujudkan."


Violla langsung melemparkan sendok makan ke arah Sean, namun sayangnya sendok itu tidak mengenainya karena menghindar hingga sendok tersebut jatuh ke lantai dan membuat suara ribut di dapur. Alana serta yang lainnya hanya tersenyum ketika mendengar suara ribut itu.


"Maaf, lemparan anda tidak mengenai sasarannya, mohon di coba lain kali," goda Sean.


Violla menjadi semakin kesal lalu melemparkan satu genggam tepung yang ada di meja makan, membuat Sean tidak bisa menghindar. Akhirnya tepung itu membuat rambut, pakaian serta wajah Sean menjadi putih, menghadirkan tawa bahagia Violla.


Sean yang mendengar tawa Violla menjadi sangat bahagia, pria itu bahkan membalasnya hingga pada akhirnya dapur menjadi penuh tepung. Dan tanpa sepengetahuan keduanya, Arsean yang ingin meminta air minum pada ibunya tertawa saat melihat wajah kedua orang tuanya di penuhi tepung.


"Ayah, Ibu. Ar juga ingin ikut bermain."


Keduanya menjadi bingung apakah harus melanjutkan permainan dengan mengajak putra mereka atau menghentikannya namun membuat sang putra sedih.


Rafael yang sengaja mengikuti sang keponakan tertawa saat melihat tingkah laku Violla dan Sean, dia juga bahagia karena akhirnya ada tawa yang menghiasi kedua wajah pasangan yang sudah banyak menangis di masa lalu.


"Ar, jangan ganggu ayah dan ibu. Biarkan paman yang mengambilkan air minum untuk Ar."


"Kenapa Ar tidak boleh mengganggu, Paman. Bukankah Ar adalah anak ayah dan ibu, jadi Ar ingin ikut bermain tepung bersama mereka." Perkataan polos Ar membuat Rafael tersenyum dan membuat Sean dan Violla semakin malu.


"Bgaimana jika Ar bermain tepung bersama kak Al dan kak Jasmine. Karena umur kalian tidak jauh berbeda maka permainan tepung akan semakin aman. Berbeda jika Ar bermain Bersama ayah dan ibu, itu sangat berbahaya." Bahaya dalam kata-kata Rafael mengarah adegan dewasa dan Sean serta Violla dapat menangkap hal tersebut.


"Benarkah?" Ar yang tidak tahu tentang maksud Rafael menjadi percaya.


"Ya, jadi sekarang biarkan paman mengambil minum untuk Ar dan biarkan ayah serta ibu bermain tepung disini."

__ADS_1


"Baik, Paman."


Violla dan Sean hanya bias tertunduk malu, mereka benar-benar lupa tentang keberadaan putra serta keluarga mereka.


Ketika Rafael sedang membantu keponakannya mengambil air minum dan kedua pasangan itu tengah malu akibat godaan Rafael. Alana yang tidak mendengar suara dari dapur memutuskan menemui keempat orang tersebut dan wanita itu langsung tersenyum paham saat tahu penyebab heningnya dapur.


"Sepertinya aku harus memesan makan malam untuk kita semua," goda Alana, membuat Sean semakin malu.


"Kau benar, sekarang mari pesan makanan dari restauran terdekat agar kita bias makan malam," sambung Rafael.


Rafael, Arsean dan Alana memutuskan keluar setelah menggoda pasangan tersebut. Alana juga langsung memesan makan malam dari restaurant terdekat.


"Ini semua karena mu," tuduh Violla.


"Ayolah, kau yang memulainya. Jadi disini kau lah yang menjadi pelaku atas kejadian ini."


Melihat Sean tidak bersedia menjadi kambing hitam membuat Violla gemas lalu mencubit pingggang pria itu lalu lari meninggalkan kamar menuju kamar putranya untuk membersihkan diri.


Diana serta yang lainnya tersenyum ketika melihat penampilan Violla yang tengah berlari dari dapur, dan di ikuti oleh Sean yang tidak jauh berbeda dengan Violla.


Sesampainya Sean di kamar, secara tidak sengaja dirinya salah masuk kamar dan melihat Violla yang sedang berusaha membuka pakaiannya. Untung saja wanita itu langsung cepat tanggap sehingga Sean tidak sempat melihat tubuhnya.


"Kenapa kau masuk ke kamar ini," ucap Violla kesal.


"Maaf, aku tidak sengaja salah masuk kamar. Bagaimana jika kita mandi Bersama." Sean benar-benar memperlihatkan wajah polosnya ketika mengatakan hal itu dan membuat Violla menatap tajam padanya.


"Jika kau ingin kaki mu patah, maka cobalah."


"Apa kau yakin?"


"Tentu."


Violla menjadi menyesal karena sudah menantang Sean, dia baru ingat bahwa Sean ahli ilmu bela diri sedangkan dirinya hanya menguasai 1 jenis ilmu bela diri.


"Keluar sekarang atau aku akan berteriak." Violla mulai cemas saat melihat Sean yang berjalan mendekatinya.

__ADS_1


"Silahkan, setidaknya pernikahan kita akan segera di laksanakan jika mereka semua mendengar teriakan mu."


__ADS_2