Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Bercerita tentang masa lalu 1


__ADS_3

“Ana, tolong jangan sakiti diri mu.“


Devan memohon padanya, pria itu sangat terkejut ketika melihat tubuh istrinya penuh dengan darah dan ada banyak pecahan kaca yang berserakan di sekitarnya.


“Siapa kau yang berhak berbicara seperti itu pada ku?!“ Saat ini yang sedang berbicara dengan Devan adalah Quenza, sosok lain dari Alana.


Devan tentu saja terkejut saat mendengar pertanyaan Alana yang sangat aneh, meskipun pada dasarnya ia tidak sepenuhnya punya hak ikut campur. Devan juga merasa bahwa aura yang ada di sekitar mereka menjadi sangat mengerikan.


“Aku suami mu, jadi tolong jangan sakit diri mu."


“Seharusnya aku melarangnya untuk menikah saat itu!“


Mendengar perkataan itu, Devan sekali lagi terkejut. Dia tidak tahu mengapa Alana mengatakan hal seperti dia bukanlah Alana.


“Siapa kau sebenarnya?" tanya Devan.


“Apakah aku harus menjawab setiap pertanyaan mu? Jika saja dia mau membiarkan ku langsung membunuh wanita sialan itu, mungkin saat ini semuanya tidak akan terjadi dan dia tidak perlu membuang-buang waktunya untuk menikah dengan pria seperti mu!"


Perkataan Quenza membuat Devan semakin bertanya-tanya. Apa dia benar-benar Alana nya atau dirinya memang salah mengenali istrinya. Mungkin saja wanita yang ada di hadapannya bukan istri aslinya. Tapi rasanya itu tidak mungkin sebab dari caranya berbicara, mereka memang saling kenal.


“Tapi karena kau sudah ada di sini, maka mari kita bermain. Aku sudah lama tidak membunuh orang.“


Setelah itu, Quenza langsung menyerang Devan. Perkelahian yang di takutkan oleh Alana akhirnya terjadi, sisi lainnya sudah mulai menyerang suaminya dengan kasar.


Devan yang mendapatkan serangan hanya bisa melakukan semuanya dengan seluruh kemampuannya. Bagaimana pun hanya 1 orang yang bisa mengalahkan Alana dan Quenza dan itu adalah sosok pria misterius yang juga menyukai Alana.


Pertengkaran jadi semakin mengerikan, beberapa kali Devan harus jatuh dan kepalanya terbentur ke tempok kamar Alana. Darah juga mulai menetes dari sudut bibirnya dan dahinya.


Kondisi mengerikan Devan membuat Quenza menjadi sangat bahagia. Dia semakin bersemangat untuk membunuh Devan malam ini, ketika dia ingin memukul kepala Devan yang sedang tergeletak di lantai dengan kursi kayu yang ada di kamar, tiba-tiba saja terhenti.


Devan yang menyadari hal tersebut langsung melihat ke arah Alana, dia dapat melihat bahwa wanita itu menjatuhkan kursi yang di pegang dan berjalan menjauh dari Devan.


“Tidak, ini seharusnya tidak terjadi.“


Saat ini Alana sudah kembali menguasai tubuhnya. Dia sangat takut ketika melihat Quenza berniat memukul Devan dengan kursi kayu tadi.


“Kau seharusnya tidak masuk, sekarang pergilah. Jauhi aku, aku tidak ingin dia menyakiti mu lagi.“


Alana menjatuhkan tubuhnya ke lantai yang bersih, dia juga mulai menangis. Devan yang melihat perubahaan itu akhirnya mengerti. Istrinya memiliki altar ego, dan sosok yang mengajaknya berkelahi adalah diri lain dari istrinya.


Ketika melihat wajah panik dan sedih Alana, Devan langsung bangun dan berjalan menuju ke arah Alana. Sesampainya di tempat, ia memutuskan memeluk Alana agar sang istri bisa kembali tenang.


Alana yang sedang cemas, tidak bisa merespon pelukan. Dia hanya masih terus menangis tersedu-sedu ketika memikirkan kejadian mengerikan yang baru terjadi.


“Seharusnya kau pergi ketika dia mengajak mu berkelahi. Jika kau pergi mungkin kondisi mu tidak akan menjadi seperti ini."


“Aku baik-baik saja.“


Devan juga melihat tingkah Alana yang sudah berubah menjadi sosok gadis muda berusia 18 tahun yang cengeng. Dia terlihat menggemaskan saat menangis, saat melihat hal itu, Devan menjadi sedih ketika membayangkan bagaimana hidup istrinya setelah di usir oleh keluarganya. Dia tahu bahwa Alana sudah melewatkan masa-masa mudanya setelah datang ke Negara A.


“Apakah kau sudah tenang?“


“Ya, kau tidak takut pada ku?"

__ADS_1


“Kenapa aku harus takut?"


“Karena aku memiliki altar ego.“


“Aku tidak pernah takut dengan hal itu. Bagi ku kau masih tetap seperti Alana yang dingin dan sombong," ucap Devan sambil tersenyum.


“Berjanjilah untuk tidak mengatakan hal yang terjadi malam ini kepada siapa pun."


“Tentu, tapi apa aku boleh bertanya. Siapa sosok lain dari diri mu?"


“Dia menyebut dirinya Quenza, dia adalah alatar ego ku. Kami sudah hidup bersama selama 5 tahun.“


“Apa dia sering muncul?“


“Tidak, selama ini kehadirannya masih bisa di hitung.“


Setelah itu, keduanya terdiam dan fokus pada pikirannya masing-masing. Setelah 5 menit Alana berbicara dan meminta pria itu meninggalkannya.


“Pergilah, biarkan aku sendirian."


“Baik aku akan pergi.“


Setelah mengatakan hal tersebut, Devan mengangkat tubuh Alana yang ringan. Mendapatkan perlakuan itu, Alana terkejut.


“Apa yang kau lakukan?“ Alana bertanya.


“Bukankah kau meminta ku pergi?“


“Lalu kenapa kau membawa ku serta?“


“Aku akan pergi bersama mu, malam ini kau akan tidur di kamar ku. Besok kamar ini akan di bersihkan."


“Tapi..."


“Aku akan tidur di sofa."


Setelah itu, Devan membawa Alana menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia langsung membawa Alana menuju kamar mandi. Devan meletakan Alana di wastafel dan menyalakan kran untuk mengisi bathup dengan air hangat.


“Kau harus membersihkan diri, aku akan menunggu di luar.“


“Bagaimana dengan pakaian ku?“


“Tunggu sebentar.“


Devan berjalan keluar untuk mengambil pakaian tidur Alana, setelah kembali pria itu meletakan pakaiannya di rak yang berada di samping bathub.


Setelah airnya cukup, Devan mematikan kran dan meletakan Alana di closet untuk membiarkannya membuka pakaiannya sendiri.


“Ketika kau sudah selesai, panggil aku."


“Hm.“


Setelah itu, Devan meninggalkan kamar mandi. Dia juga harus mandi dan mengobati luka di keningnya.

__ADS_1


Alana yang di tinggal, langsung membuka pakaiannya dan masuk ke dalam bathub. Ketika masuk telapak kaki dan tangannya yang terluka terasa sangat pedih.


Setelah selesai, Alana mencoba untuk berjalan sendiri. Dia tidak terbiasa jika harus meminta pertolongan kepada orang lain, ketika Alana keluar kamar mandi. Devan langsung membantunya untuk berjalan menuju tempat tidur.


“Aku sudah membuatkan bubur untuk mu, jadi makanlah selagi masih hangat.“ Devan tidak berusaha memperdebatkan kenapa Alana tidak memanggilnya saat keluar kamar mandi.


“Terima kasih."


Devan hanya tersenyum ketika mendengrakan ucapan terima kasih Alana, baginya malam ini adalah sebuah kejadian langka karena Alana mau mendengarkan semua perkataanya dan mereka tidak perlu berdebat.


Saat Alana sedang makan, Devan mengambil kotak P3K untuk mengobati dan membalut luka Alana.


“Kau tidak perlu melakukan itu, aku bisa melakukannya sendiri,“ ucap Alana.


“Tidak apa-apa, lanjutkan makan mu ini akan segera selesai.“


Setelah itu, semuanya berjalan seperti biasanya. Tidak ada suara yang keluar dari keduanya, setelah selesai makan. Devan langsung membereskan peralatan makan Alana dan pergi keluar.


Ketika kembali ke kamar, Devan langsung mengambil selimut cadangan dan bantal di lemari. Dia berjalan menuju sofa dan mulai membaringkan tubuhnya.


Alana yang membaringkan tubuhnya di tempat tidur Devan masih belum bisa memejamkan matanya. Wanita itu masih memikirkan semua kejadian yang sudah terjadi hari ini, hal itu membuatnya tidak bisa tidur. Devan yang melihat hal itu menjadi bertanya.


“Apa kau tidak bisa tidur?“


“Kurasa begitu.“


Saat ini Devan sedang tidur di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur. Dia bisa melihat bahwa Alana masih terjaga, sejujurnya dia juga tidak bisa tertidur. Melihat bahwa mereka masih terjaga, Devan memutuskan untuk menghampiri Alana dan duduk di tempat tidur.


Alana yang melihat hal itu juga ikut duduk dan memandang Devan dengan tatapan bingung.


“Apa kau ingin bercerita?"


“Entahlah, sejujurnya aku ingin bercerita namun aku masih tidak yakin dengan itu."


“Jika kau ingin bercerita tentang masa lalu mu maka aku akan bersedia mendengarnya, tapi jika kau tidak ingin maka kau tidak perlu memaksakannya."


“Apa kau bisa di percaya?“


“Tentu, Devano Fernandiz selalu menjadi pria yang dapat di percaya.“


Ketika mendengar perkataan Devan, Alana menjadi sedikit bimbang. Sejujurnya dia sangat ingin bercerita tentang semuanya kepada seseorang. Beginya, menyimpan semua ini sendirian selama 7 tahun sangatlah berat. Setelah mendapatkan keberanian Alana mulai berbicara.


“Aku tidak tahu harus bercerita dari mana.“


“Maka kau bisa memulainya dari awal, mungkin saat pertama kali wanita itu datang ke kehidupan mu.“


Mendengar itu, Alana menghela nafas berat sebentar dan mulai bercerita tentang kisah masa lalunya yang tragis.


“Wanita itu datang saat umur ku 16 tahun, saat itu ku pikir semuanya akan baik-baik saja. Namun pada kenyataannya semua itu adalah awal dari penderitaan ku, tepat ketika aku berulang tahun yang ke 17 tahun. Keluarga itu lebih memilih mengajaknya makan di restoran mewah dan meninggalkan ku di rumah sendirian, bahkan pria itu juga ikut menemaninya dan melupakan hari spesial ku.“


Alana sengaja tidak menyebutkan nama Julian dan mengucapkan kata-kata keluarga itu, karena baginya mereka semua sudah tidak lagi penting di hidupnya.


“Setelah kejadian itu, satu persatu dari orang-orang itu meninggakan ku bahkan membuat ku harus tidur di loteng yang sempit dengan alasan bahwa wanita itu sangat menginginkan kamar ku. saat itu, aku tidak tahu harus melakukan apa, hati ku tiba-tiba saja sangat kecewa, aku bahkan sempat mencoba bunuh diri sebanyak 3 kali.“

__ADS_1


Devan yang mendengar hal itu menjadi terkejut. Dia tidak menduga bahwa akan ada saat dimana Alana akan melakukan hal seperti itu.


“Saat itu umur ku masih 17 tahun dan hidup ku sudah seperti di neraka. Semua orang yang ku percayai satu persatu menghianati ku, hati ku sangat terluka. Ku pikir dengan bunuh diri mungkin aku tidak akan menderita lagi, aku bahkan meminum obat tidur dengan dosis yang tinggi sebanyak dua kali agar saat pagi aku tidak akan pernah terbangun lagi. Aku juga menyayat pergelangan tangan ku dengan pisau tajam, tapi sayangnya semua itu gagal karena Tuhan masih ingin aku terus merasakan penderitaan itu.“


__ADS_2