Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Sudah 2 hari Violla dan Arsean tinggal di rumah Sean. Awalnya, Violla ingin ikut pulang dengan kakak serta ibunya, namun sang putra yang mengetahui bahwa akan berpiah dengan ayahnya kembali menjadi histeris. Dan Violla dengan berate hati tinggal Bersama Sean lebih lama lagi.


Sean yang tahu bahwa keduanya tidak jadi pergi merasa bahagia. Dia juga memutuskan tidak pergi ke kantor sehingga sang sekretaris yang kebetulan seorang wanita harus datang ke rumah Bosnya. Kebetulan Violla yang membuka pintu sehingga membuat wanita itu merasa tidak nyaman.


"Selamat pagi, apakah Bos ada di rumah?" Sang sekretaris yang masih belum mengiklaskan Sean bersama Violla sama sekali tidak menaruh hormat pada wanita Bosnya.


"Ada, dia sedang bermain dengan anaknya." Violla sangat kesal dengan ketidak sopanan Lili, sang sekretaris Sean.


"Oh, bolehah kau mengatakan sesuatu pada anda?"


"Silahkan." Meskipun tidak ingin berlama-lama melihat wajah Lili, namun demi menjaga nama baiknya. Violla mau tidak mau harus mendengarkan apa yang ingin di katakana oleh Lili.


"Aku tahu bahwa Bos ssangat mencintai putranya, tapi tidak bisakah anda sebagai ibu dari anak itu memberi penjelasan bahwa ayahnya harus bekerja. Apa anda tahu bahwa perusahaan mengalami banyak kerugaian atas ketidak hadiran Bos."


Violla merasa tersinggung dengan ucapan Lili. Menurutnya itu bukan kesalahan putranya, Sean sendiri yang tidak ingin pergi ke kantor.


"Dan satu hal lagi, aku tahu bahwa anda dan Bos belum menikah. Jadi jangan terlalu sok berkuasa dengan menggunakan putra anda. Jangan sampai semua orang tahu bahwa anak itu adalah anak dari hasil hubungan anda dengan pria lain. Dalam artian dia merupakan anak haram."


Hal yang tidak pernah Violla sukai tiba-tiba saja di katakana. Putranya bukan anak harama apalagi anak dari hasil hubungan gelap dengan pria lain. Anak itu adalah buah cinta dengan Sean.


"Terima kasih atas peringatan anda, tapi Nona. Satu hal yang harus anda ketahui. Arsean adalah putra sah dari Arsean Xario Aldero. Dan nama putra ku Arsean Caesar Aldero, jadi tolong jangan hina putra ku, meskipun kami belum menikah dia tetap putra Sean."


Setelah mengatakan hal itu, Violla pergi menghampiri Sean dan putranya lalu mengambil paksa sang putra. Wanita itu bahkan tidak perduli dengan perasaan sang putra serta Sean.


Lili yang melihat perlakukan Violla menjadi sedikit cemas. Meskipun dia tahu Sean dan Violla belum menikah, namun dia sadar bahwa Sean begitu mencintai Violla sehingga tidak menikah selama 5 tahun.


Memperbaiki penampilannya, Lili masuk ke dalam lalu menyapa Sean yang masih bingung akan perubahan cepat Violla. Dia bahkan tidak tahu kapan dirinya menyinggung Violla.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bos," sapa Lili.


Sean yang tersadar akan kehadiran Lili langsung menatap wanita itu, "Pagi. Apakah kau sudah membawa berkas-bekasnya?"


"Sudah, Bos. Apa anda akan mengerjakannya disini?"


"Ya," ucap Sean tanpa melihat Lili.


"Apa anda ingin saya buatkan kopi atau teh?" Karena sudah sering mengunjungi rumah sang Bos, Lili bertindak seolah-olah nyonya rumah.


"Tidak perlu, tolong ingat status mu. Dan satu hal lagi, di rumah ini sudah ada nyonya dan tuan muda. Jadi lain waktu jangan bersikap seolah-olah aku memberikan mu kesempatan menjadi nyonya." Jika saja Sean tidak membutuhkan Lili, mungkin dia tidak akan membiatkan wanita itu menjadi sekretarisnya. Di masa lalu, hanya Lili yang tetap bertahan di perusahaanya saat perusahaan mengalami kerugian cukup besar.


"Maaf, Bos. Saya tidak bermaksud seperti itu." Lili sangat malu dengan perkataan Sean. Sejujurnya Sean sudah pernah memberitahunya bahwa dia tidak akan bisa menggantikan Violla.


"Sekarang sebaiknya kau kembali, di masa depan tidak perlu lagi dating. Jika aku membutuhkan berkas maka kau bisa meminta salah satu dari karyawan laki-laki kita mengantarnya."


Setelah pamit, Lili langsung keluar dari rumah Sean. Dia bahkan menangis ketika sudah berada di luar, hatinya sangat sakit karena pria yang selama 4 tahun menjadi Bosnya ternyata menolaknya dengan sangat tidak berperasaan.


Saat Lili sudah keluar. Violla yang telah membereskan pakaianya dan sang putra turun dari lantai 2, suara Arsean yang menangis karena tidak ingin di bawa pergi meninggalkan sang Ayah mengagetkan Sean yang tengah fokus dengan berkasanya. Sejujurnya, peusahaan sama sekali tidak mengalami hal buruk seperti perkataan Lili.


"Kemana kalian akan pergi?" tanya Sean dengan wajah sedih.


"Aku dan putra ku akan pergi, kami tidak pantas tinggal di rumah ini. Dan kita juga tidak memiliki hubungan, hal itu bisa membuat reputasi mu menjadi buruk. Jadi sebaiknya kami pulang ke rumah kak Rafael." Violla berusaha untuk tidak menangis, dia bahkan merasa sangat bersalah dengan tangisan putranya.


"Kalian berhak tinggal disini dan besok kita akan menikah jika kau ingin. Jadi ku mohon jangan pergi, apakah kau tidak kasihan melihat Arsean yang menangis."


"Dia sudah pernah berpisah dengan Ayahnya, jadi itu bukan hal yang sulit. Besok dia pasti akan kembali tenang setelah pulang besama ku."

__ADS_1


"Tidak, kalian tidak boleh pergi. Sudah cukup 5 tahun tanpa kelian, jadi ku mohon tetaplah disini," pinta Sean dengan wajah sedih.


"Kami tetap akan pergi, sekarang jangan halangi jalan ku."


Saat Violla akan pergi sambal menarik tangan putra serta kopernya. Sean dengan cepat menghentikannya, pria itu bahkan memeluk tubuhnya agar tidak pergi darinya. Arsean yang melihat hal itu menjadi semakin sedih, meskipun dia tidak tahu apa yang telah terjadi, namun dia merasa bahwa ayah dan ibunya sedang bertengkar.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, jika kau telah membuat mu tersingggung tanpa ku sadar maka kau boleh memukul atau bahkan memarahi ku. Tapi tolong jangan hokum aku dengan meninggalkan ku."


Violla menjadi semakin sedih, dia juga tidak ingin meninggalkan rumah yang baru 2 hari ditempatinya Bersama sang putra. Tapi ucapan Lili masih saja membakas di hatinya hingga membuatnya enggan tetap tinggal.


"Lepaskan, biarkan aku dan Ar pergi."


"Tidak, kau tidak boleh pergi membawa Ar."


"Dia putra ku, jadi aku berhak membawanya."


"Dia juga putra ku, dan kau calon istri ku. Jadi kau tidak boleh meninggalkan ku."


"Aku tidak pantas menjadi istri mu. Aku wanita Kotor, dan kau berhak mendapatkan istri yang baik, bukan seperti ku."


Sean yang mendengar perkataan Violla. Secara perlahan, Sean akhirnya mulai paham apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia tidak diberi kesempatan untuk mencari tahu lebih detail karena Violla menuntut segera pulang ke rumah kakaknya.


"Sekarang biarkan aku dan Ar pulang, aku tidak akan melarang mu bertemu dengan Ar. Dan tolong anggap saja aku tidak ada, carilah wanita baik-baik untuk menjadi istri mu, aku benar-benar tidak pantas menjadi istri mu."


Tangisan Violla menyadarkan Sean bahwa wanita itu sedang mengalami pergulatan batin. Memilih bertaham atau pergi. Mengiklaskan atau memaksa.


 

__ADS_1


 


__ADS_2