
Sesampainya di kamar, Violla tercengang ketika melihat penampilan kamar untuk putranya. Banyak foto serta lukisan tentang dirinya serta sang putra terpampang di dinding, Sean bahkan sengaja membuat lukisan putranya yang baru saja terlahir ke dunia.
Tidak hanya lukisan dan foto, di dalamnya juga ada banyak mainan serta furniture motor mahal. Seperti hobi Sean yang secara tidak sengaja menurun kepada Arsean. Putranya sangat menyukai mainan berbentuk motor sejak usianya 3 tahun.
"Berapa banyak yang tidak ku ketahui tentang mu selama 5 tahun ini." Violla tidak tahu seperti apa kehidupan Sean dan bagaimana Tuhan sudah memberikannya hukuman setelah menyakitinya serta putra mereka.
Setelah puas melihat, Violla memutuskan mandi. Dia butuh mandi dan sangat terbantu ketika melihat beberapa pakaian rumah yang nyaman serta pakaian dalam dan juga perlengkapan mandi yang sudah Sean siapkan untuknya serta sang putra.
"Bagaimana bisa pria itu tahu ukuran ku." Violla benar-benar terpana saat melihat ukuran pakaian dalam serta pakaian santai yang sesuai dengan ukurannya. Dia bahkan malu ketika membayangkan bagaimana Sean memilih pakaian-pakaian itu, tidak bisa di bayangkan seperti apa penjual pakaian itu menangani Sean.
Puas dengan pakaian tersebut membuat Violla semangat mandi, dia juga menyempatkan diri melakukan perawatan yang selama ini jarang dia lakukan karena harus merawat Arsean dan bekerja di perusahaan Alana.
Berendam di bathup dengan air yang sudah di campur susu dan sabun wangi membuat fikirin Violla kembali tenang. Dia bisa berfikir jernih tentang perubahan Sean serta dari mana pria itu mendapatkan uang hingga bisa membeli rumah mewah serta membangun wahana mini untuk putra mereka.
Selama di Negara K, Violla benar-benar menutup telinga tentang Sean, Mika dan Athaya. Hanya beberapa kali saling menyapa dengan Carl. Meskipun pria itu sudah menjadi ayah, namun dia masih tetap menyapanya dan sering bertanya tentang kondisi Arsean.
Untuk luka yang di berikan oleh Athaya dan Mika. Violla sudah memaafkannya, hanya saja dia memutuskan tidak lagi ingin akrab dengan mereka karena dia tidak ingin mengingat kejadian dulu ketika Mika dengan sombongnya memberikan calon suaminya padanya meskipun pada akhirnya dia menyesalinya lalu ucapan menyakitkan Athaya yang terlalu membela Mika tanpa mendengarkan penjelasan atau bahkan bertanya tentang kejadian sebenarnya.
Bukan pendendam, hanya saja. Violla tidak ingin lagi berhubungan dengan orang-orang yang telah menyakitinya. Mengenai Sean, jujur Violla sudah beniat akan menjauh namun sepertinya itu tidak bisa karena Arsean membutuhkan sosok Sean dan dia terlambat menyadari kedatangan Sean di bandara.
Tidak ingin menyakiti putranya adalah salah satu alasan Violla bersedia berdamai dengan Sean, meskipun cintanya masih tetap sama. Tapi Violla ingin memulai hidup barunya, dan berfikir bahwa kepulangannya tidak akan pernah bertemu Sean lagi, namun sekali lagi. Tuhan tidak mendengarkan doanya tetapi mengambulkan keinginan serta hal yang di butuhkan putranya.
Setelah 30 menit berendam, Violla mulai membasuh tubuhnya lalu menggunakan pakaian yang sudah di siapakan oleh Sean. Bicara tentang pakaian, Violla yang sedang tidak ingin bertemu Sean karena kejadian salah sangka tadi memutuskan untuk tidak megambil kopernya yang tertinggal di lantai bawah.
Usai memakai pakaian, Violla yang ingin beristirahat sejenak menjadi terganggu dengan suara-suara Sean dan Ar yang tengah sibuk di dapur. Keduanya sangat kompak dalam hal memasak, dan siapa pun yang melihatnya menjadi ikut bahagia.
"Sepertinya aku tidak akan bisa tidur, mungkin lebih baik aku menghubungi kakak dan kak Ana."
Violla mengambil ponselnya yang kebetulan berada di tas kecilnya lalu memberitahu tentang keberadaanya pada keluarganya termasuk Alana.
__ADS_1
"Kami sudah tahu, jika memang Sean mengatakan besok maka kau harus menginap di sana," ucap Rafael dengan santai lalu memutuskan sambungan telepon.
Violla yang ingin protes menjadi kesal saat melihat tingkah laku kakaknya yang menyebalkan, dan hal yang paling menyebalkan terjadi lagi saat ponsel Alana dan Devan tidak bisa di hubungi.
"Mereka benar-benar membuang ku," ucap Violla sedih.
Melihat bahwa dia tidak memiliki kegiatan apa pun, membuat Violla dengan berat hati memutuskan turun ke lanate bawah untuk melihat aktivitas goreng ayam yang di lakukan dou Arsean.
Ketika berada di bawah, Violla yang pertama kali menginjakkan kakinya di dapur sekali lagi terpana. Ruangan dapur hampir sama besarnya dengan ruangan tamu, terususun pula banyak alat membuat kue dengan lemari pendingin berukuran besar berjumlah 2.
"Ibu," panggil Arsean yang membuat Violla kembali sadar.
Sean yang tahu jika Violla akan terpana dengan ukuran dapur hanya tersenyum dan terus menggoreng hasil kreasi ayam mereka. Membiarkan sang putra membawa ibunya untuk duduk di meja makan.
"Apa ibu sudah lapar?" tanya Arsean dengan wajah di penuhi tepung. Sama halnya dengan Sean yang juga memiliki noda tepung serta percikan minyak panas.
Violla tersenyum lalu mengusap wajah putranya, membuat Sean menjadi iri namun tidak berusaha meminta di perlakukan hal yang sama dengan putranya karena itu belum saatnya.
"Apakah Ar juga kena?" tanya Violla mengalihkan.
"Tidak, ayah melarang Ar mendekat. Apakah ibu tidak ingin mengobati tangan ayah dan menghapus noda tepung di wajah ayah seperti Ar." Arsean tidak mudah di manipulasi, sehingga membuat Violla menjadi kewalahan dan secara paksa melakukan apa yang putranya inginkan untuk memperlihatkan bahwa ayah dan ibunya baik-baik saja.
"Ibu akan melakukannya," ucap Violla lalu berjalan mendekati Sean.
"Tetaplah disana, nanti kau akan terkena minyak panas ini. Aku tidak apa-apa dengan noda serta percikan ini."
"Jangan terlalu berfikir banyak, aku melakukannya untuk Arsean," bisik Violla agar tidak terdengar oleh putranya.
Meskipun sedikit sedih, namun Sean tidak lagi mencoba melarang. Dia hanya mudur sedikit jauh dari gorengan tersebut agar Violla tidak terkena minyak panas.
__ADS_1
Violla menjadi gugup saat berdekatan dengan Sean, posisi mereka bahkan sangat intim. Membuat keduanya menjadi malu sekaligus salah tingkah. Sentuhan tangan halus Violla membuat Sean hampir terlena dan menggenggam tangan itu.
"Baiklah, aku sudah selesai," ucap Violla setelah selesai mengoleskan salep di tangan dan membersihkan noda tepung di wajah Sean.
"Terima kasih."
Violla hanya berdehem sebagai balasan lalu berjalan menuju putranya yang sedang bermain dengan miniatur motor yang diberikan oleh Sean ketika dirinya berada di kamar.
"Apa Ar senang disini?" tanya Violla.
"Ya, Ar sangat senang. Bisa memasak Bersama ayah dan ayah juga memberikan mainan yang sudah lama Ar inginkan. Apakah kita boleh tetap disini, Bu?"
Hati Violla sakit saat melihat kebahagiaan yang baru pertama kali Arsean perlihatkan padanya ketika menceritakan tentang Sean. Dia juga sedih dengan permintaan sang putra yang ingin tinggal di rumah ayah kandungnya, sedangkan dia dan Sean masih belum menikah atau memiliki hubungan yang jelas.
"Makanan sudah siap, sebentar lagi ayah akan menyajikannya di meja," ucap Sean yang berusaha membantu Violla yang sedih akan pertanyaan putranya.
"Biar Ar ambilkan piringnya, Ayah."
"Baik sayang, ambil di tempat yang ayah tunjukan tadi."
"Siap."
---------------------------------------------
TOLONG JANGAN HAKIMI VIOLLA TENTANG PERASAANNYA SAMA MIKA DAN ATHAYA, BUKAN DENDAM YANG BUAT DIA MENJAUH TAPI KARENA DIA GK MAU LAGI MEMILIKI HUBUNGAN DENGAN MEREKA YANG MENGATAKAN SAHABAT NAMUN SAMA SEKALI TIDAK TAHU TENTANG PERASAAN SAHABATNYA.
DAN UNTUK PERASAN VIOLLA KE SEAN, JANGAN ANGGAP DIA BODOH KARNA BIARIN ANAKNYA DEKET SAMA AYAHNYA, DIA CUMAN PENGEN MEMBERIKAN KELUARGA YANG UTUH UNTUK ANAKNYA, LAGI PULA SEAN UDH BERUBAH DAN GK SALAH KASI KESEMPATAN UNTUK SEA BAHAGIAKAN ARSEAN.
__ADS_1
SENGAJA BUAT PENJELASAN BIAR KALIAN TIDAK MENGHAKIMI VIOLLA DAN SEAN LAGI. WKWKWKWK MAAFKAN AUTOR YANG BANYAK MAUNYA.