
"Mengapa mereka harus datang setelah aku sudah tidak lagi menginginkannya. Mengapa mereka harus mengganggu kehidupan ku yang telah nyaman dalam kesendirian!!!" Sean marah pada dirinya yang masih saja memiliki perasaan untuk kedua orang tua yang sudah membuatnya kecewa.
Jika boleh jujur, Sean masih tetap seorang anak yang membutuhkan kasih sayang keluarga. Dia masih memiliki impan hidup bersama dengan keluarga yang utuh seperti kebanyakan anak. Bisa bercengkrama dengan ayahnya dan menikmati hasil makanan dari ibunya, tapi sayangnya itu hanyalah sebuah cita-cita yang tidak akan pernah terjadi untuk Sean miliki.
Akibat pertemuan tidak menyenangkan tadi, Sean menjadi tidak baik. Dirinya kehilangan kesabaran sehingga menghancurkan apartemennya, memecahkan beberapa vas bunga serta meja kaca yang ada di ruang tamu.
Pada akhirnya, apartemen tersebut menjadi hancur beratakan. Namun Sean sama sekali tidak ingin berhenti hingga ruangan tersebut tidak lahi berbentuk.
Saat Sean masih di kuasai amarah, tiba-tiba saja bel apartemennya berbunyi pertanda ada seseorang yang ingin bertemu. Sesaat, pria itu berhenti, dia yang masih enggan bertemu orang lain memutuskan mengabaikannya. Namun hal itu sama sekali tidak membuat si tamu pergi, orang tersebut bahkan semakin sering memencet bel hingga membuat Sean kesal.
"Apa yang ingin kau lakuka." ucapan Sean terhenti saat melihat siapa tamu tersebut.
"Halo guru, apakah aku mengganggu mu?" Violla yang sangat merindukan gurunya memutuskan untuk berkunjung setelah mendapatkan alamat apartemen pria tersebut dari Mika.
"Untuk apa kau datatang ke apartemen ku?"
"Aku hanya ingin berkunjung, apakah guru sedang sibuk?"
Sean yang masih dalam kondisi kesal menjadi tidak waras, melihat kecantikan Violla. Dia langsung menariknya masuk dan mulai memberikan kecupan di wajah wanita tersebut, membuat Violla yang sudah menarih perasaan lebih pada Sean hanya diam serta pasrah.
Katakanlah cinta memang tidak bias mengalahkan logika, begitu pula dengan Violla yang sudah mencintai Sean. Pria pertama yang mampu membuatnya nyaman serta bahagia setiap kali mereka Bersama. Pria yang menghadirkan senyum yang sudah lama hilang dari wajahnya akibat kejadian di masa lalu.
Ciuman itu menjadi semakin intens ketika menyadari bahwa Violla mulai membalasnya. Wanita itu tidak merasa trauma ketika di sentuh oleh Sean, membuatnya semakin yakin bahwa Sean merupakan pengecualian untuknya.
__ADS_1
Sean yang tidak pernah menyentuh atau bahkan berciuman dengan wanita selama 27 tahun usianya, membuat sisi prianya semakin liar. Dia tampak terlihat se[erti seeokor singa yang baru saja mendapatkan mangsa setelah tidak makan selama satu minggu, begitu mengerikan serta kasar.
"Guru... ini salah," ucap Violla ketika tangan besar Sean mulai menyentuh bagian sensitifnya. Meskipun dia tidak msalah dengan tindakan pria tersebut ketika berciuman, namun untuk hal yang lebih membuat Violla masih sedikit belum siap.
Sean yang sudah di luputi hawa nafsu tidak lagi mendengar ucapan Violla, baginya sekarang. Memusakan dahaganya yang sudah lama dia tahan adalah hal yang sangat penting.
"Guru..." Violla berusaha melawan, namun dia sama sekali tidak bias karena kekuatan Sean yang lebih besar darinya.
Mendapat perlawanan dari Violla, membuat Sean semakin ganas. Dia bahkan mengigit bibir bagian bawah Violla hingga mengeluarkan darah, tangannya juga semakin berani, menyusup ke dalam bagian dalam pakaian lalu menyentuh sesuatu yang membuat Violla sedikit geli.
Violla yang sudah kehabisan kekuatan serta mulai mengikuti permainan Sean menjadi pasrah. Dia juga tidak menyangis atau bahkan jijik ketika di sentuh oleh pria yang dicintinya.
Pergulatan keduanya menjadi semakin panas saat Sean berhasil membuka dres selutut tanpa lengan yang di gunakan Violla. Tubuh wanita itu juga tereskpose meninggalkan sepasang pakaian dalam berwarna putih.
Setelah selesai membuka pakaian, Sean membawa Violla ke kamarnya. Naluri prianya menginginkan hal yang lebih, maka dia akan membuat Violla berada di bawahnya hingga dia puas.
"Hari ini kau harus memuaskan ku," ucap Sean sambil membuka seluruh pakiannya. Membuat Violla menjadi malu ketika melihat tubuh seksi serta dada berotot Sean.
"Aku takut nanti hamil guru," ucap Violla sedikit gugup.
"Tidak perlu takit, aku mengeluarkannya di luar."
Mendengar ucapan Sean, membuat hati Violla menjadi sakit. Jika saja pria itu mengatakan bahwa dirinya akan bertanggung jawab, maka Violla tidak akan masalah, namun sayangnya hal itu hanya ilusi karena Sean tampak tidak berniat hidup bersamanya, wanita yang sudah menjadi sampah akibat perbuatan keluarganya di masa lalu.
__ADS_1
"Sepertinya kita tidak perlu melanjutannya guru, aku tidak ingin guru nantinya membencu ku."
"Diam!! kau yang sudah dating pada ku, jadi sekarang kau harus menerima akibatnya." Setelah mengatakan hal itu, Sean melanjutkan keguatannya hingga membuat mereka saling menyatu, menyisahkan air mata di kedua pelupuk mata Violla.
Violla benar-benar menyesal karena sudah mengijinkan Sean menyentuhnya, seharusnya dia menolak dan pergi. Bukan membiarkannya serta ikut dalam permainan pria itu.
Di tengah tangisan dan penyesalan, Violla tiba-tiba saja kehilangan akal sehatnya akibat permainan Sean yang cukup kasar namun sangat menyenangkan untuk tubuhnya yang sudah lama tidak di sentuh. Dia menyukainya bukan karena dia ingin tidur dengan pria lain seperti di masa lalu, namun karena pria yang menyentuhnya merupakan pria yang dia cintai sehingga tubuh serta hatinya mengijinkan untuk di sentuh.
Setelah berkali-kali di buat merasakan sesuatu yang di sebut surga dunia. Sean akhirnya melepaskan tubuhnya lalu berbaring di sebelah Violla dengan posisi memunggunginya karena terlalu Lelah akibat pergulatan mereka.
Violla yang juga sama lelahnya tiba-tiba tersadar dan merasa jijik pada tubuhnya yang tidak bisa menolak keinginan otaknya. Dia bahkan menyebut dirinya kotor setelah di sentuh dengan suka rela.
'kenapa aku sangat bodoh, jika nanti kakak dan ibu tahu, Bagaiman aku bisa menjelaskannya pada mereka' batin Violla.
Tangisannya menjadi semakin kencang ketika membayangkan bagaimana ekspresi kecewa dari sang kakak serta ibunya, terutama Alana, sang kakak angkat. Dia yang sudah bersumpah untuk tidak membuat malu keluarganya serta melihat tatapan kecewa Alana menjadi semakin terpukul.
Sean yang awalnya sedang tertidur pulas menjadi terganggu dengan suara tangisan Violla, dia masih belum menyadari bahwa sudah menodai seorang wanita menjadi terkejut saat melihat punggu polos Violla di sertai suara tangisan yang membuat iba.
"Apa yang kau lakukan di kamar ku dan mengapa kau bisa berbaring disini tanpa pakaian sedikit pun," ucap Sean terkejut.
Violla tertegun saat mendengar ucapan Sean yang bisa di simpulkan bahwa dia tidak sadar jika sudah menyentuhnya hingga berulang kali. "Apakah guru tidak ingat apa yang sudah terjadi?" tanya Violla tanpa membalikan tubuhnya menghadap Sean.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakana. Lagi pula apa yang sudah ku buat hingga kau bisa tidur di kamar tanpa sehelai pakaian." Sean masih belum sadar bahwa dirinya juga sama polosnya dengan Violla.
__ADS_1