
“Jangan khawatir, meskipun dia tahu. Dia tetap tidak akan bisa berbuat banyak hal karena aku adalah keponakan ibu mertuanya.”
Pria itu benar, dia merupakan keponakan dari Eillen sehingga dia bertindak sangat arogan. Namun dia tidak tahu bahwa Alana bukan tipe manusia yang akan perduli dengan kekeluargaan saat menghukum orang-orang yang menyinggunya.
Saat para bawahan mendengar perkataan sang Bos, mereka menjadi tenang dan melanjutkan minum anggur serta berbicara tentang langkah selanjutnya dalam menguras habis uang perusahaan.
Waktu berjalan dengan cepat, tepat 2 jam berlalu. Kelompok tersebut akhirnya pergi dari kamar, Sean yang melihat hal itu langsung keluar dari tempat persembunyian untuk mengambil alat-alat yang telah dipasang. Sedangkan Violla, wanita itu memutuskan duduk di lantai karena kakinya telah mati rasa akibat berdiri selama 2 jam.
Setelah Sean selesai mengambil alat-alatnya, dia yang ingin pergi tiba-tiba terhenti saat melihat Violla yang sedang terduduk di lantai sambil meluruskan kedua kakinya.
“Apakah kau baik-baik saja?”
“Ya guru, apakah semuanya telah selesai?”
“Sudah, ayo kita pergi.”
“Baik guru,” ucap Violla patuh.
Saat Sean melihat kepatuhan Violla, dia menjadi bersimpati dan memutuskan mengajak wanita itu makan malam bersama di retoran favoritnya.
“Kita akan makan malam di restoran favorit ku, anggap itu sebagai pernghargaan untuk mu karena patuh saat misi,” ucap Sean setelah mereka keluardari kamar.
“Terima kasih guru, kebetulan aku sangat lapar setelah melakukan misi,” ucap Violla bahagia.
Sean hanya tersenyum dan memilih mengabaikan perkataan Violla, pria itu juga masih tetap memegang lengan Violla secara tidak sadar hingga mereka sampai di parkiran. Violla yang mengetahui hal itu tersenyum bahagia dan tidak berusaha menegur Sean.
Setibanya mereka di parkiran, Sean melepaskan genggamannya dan meminta Violla naik motor agar mereka bisa segera tiba di restoran.
Tidak memakan waktu yang lama, keduanya akhirnya tiba di retoran. Para pelayan yang telah mengenal Sean langsung menyambut pria itu dan bertanya siapa Violla.
“Apakah ini kekasih anda tuan?” tanya sang pelayan.
“Tidak,” ucap Sean.
“Benarkah, tapi ini kali pertama tuan membawa seorang wanita ke restoran ini.”
Saat Violla mendengar perkataan pelayan tersebut, dia langsung tersenyum dan memutuskan tidak berbicara. Sedangkan Sean, pria itu sedikit malu ketika mendengar ucapan jujur sang pelayan.
“Tolong siapkan makanan terenak di retoran ini pada kami,” ucap Sean mengalihkan.
“Baik tuan,” ucap sang pelayan paham.
Setelah pelayan tersebut pergi, Sean memutuskan memainkan ponselnya agar Violla tidak tahu bahwa dia sedang malu. Violla yang melihat hal itu tidak berusaha menggangu sang guru karena dia juga tengah sibuk memberitahu kakak serta ibunya jika dirinya pulang terlambat.
Saat keduanya sedang sibuk dengan ponsel masing-masing, sang pelayan akhirnya datang sambil membawa makanan yang di pesan oleh Sean.
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Sean.
“Sama-sama tuan, selamat menikmai hidangan kami,” ucap sang pelayan sopan.
Setelah itu, sang pelayan meninggalkan keduanya dengan aneka makanan lezat yang menjadi favorite para pelanggan terutama Sean. Violla yang mencium aroma makanan menjadi semakin lapar hingga Sean mendengar suara perut Violla.
“Sepertinya kau sudah sangat kelaparan,” ucap Sean setelah tertawa kecil.
“Tidak, ini bukan suara perut ku guru,” ucap Violla malu.
“Lalu?”
Violla terdiam saat mendengar pertanyaan Sean, sejujurnya tingkat lapar Violla meningkat setelah mencium aroma makanan yang sangat enak. Wanita itu juga baru pertama kali melakukan tindakan memalukan tersebut di hadapan Sean.
“Guru, aku sudah sangat lapar,” ucap Violla mengalihkan.
“Baiklah, ayo kita makan.”
Setelah mengatakan hal itu, Sean dan Violla memulai makan malam mereka. Beberapa kali Sean juga merekomendasikan makanan yang menurutnya sangat enak dan bagaimana cara menikmati makanan-makanan tersebut.
Violla yang mendengar setiap rekomendasi dari Sean menjadi bahagia, sejujurnya dia sudah mulai sadar bahwa Sean berbeda dari pria lain dan dia juga mulai menyukai setiap tindakan pria itu ketika mereka beriteraksi.
“Apakah guru sering makan disini?” tanya Violla.
“Dengan siapa guru sering makan disini?”
“Terkadang aku akan mangajak Carl atau anggota Balck Lion lainnya dan terkadang aku datang sendirian,” ucap Sean.
“Kenapa guru tidak pernah mengajak kekasih guru?”
“Aku terlalu sibuk untuk menjalin hubungan dan sebagian dari mereka hanya mencintai uang ku, jadi ku pikir tidak ada yang pantas untuk ku ajak makan bersama.”
Ketika Violla mendengar perkataan Sean, dia menjadi paham dan ingin bertanya kembali. Namun hal itu harus dia lupakan karena melihat wanita yang pernah dia bela baru saja masuk ke dalam restoran bersama seorang pria yang lebih pantas disebut ayah dari pada kekasih.
“Guru, bukankah itu mantan kekasih guru,” ucap Violla.
Sean yang mendengar perkataan Violla langsung melihat ke arah tempat yang di tunjuk oleh Violla. Sean melihat bukan karena dia cemburu namun karena dia penasaran siapa lagi korban wanita itu.
" Kau ternyata ingat dengan wanita itu, " ucap Sean.
"Tentu saja, tapi mengapa dia datang ke restoran dengan pria yang telihat seperti ayahnya."
"Pria itu kekasihnya, lebih tepatnya sugar dady."
" Apa itu sugar dady, Guru?"
__ADS_1
"Kau tidak mengetahuinya," ucap Sean terkejut.
"Tidak guru, jadi sekarang guru harus mengatakan apa itu sugar dady."
"Baiklah, sugar dady merupakan pria kaya yang sudah menikah namun suka dengan wanita muda."
"Oh, bukankah itu hal yg jahat guru. Bagaiamana jika istrinya tahu dan mengapa wanita itu bersedia menjadi wanita simpanan pria yang telah menikah."
" Semuanya karena uang, wanita itu memiliki gaya hidup kelas atas sehingga dia akan melakukan apa saja untuk memenuhi gaya hidupnya."
"Dia wanita yang mengerikan, Guru,"
"Sekarang kau sudah tahu apa alasan ku mengabaikannya,"
"Sudah guru, maaf karena aku sudah memuduh mu pria jahat."
"Tidak masalah."
“Tapi guru, apakah guru tidak cemburu saat melihat makan malam dengan pria lain?” tanya Violla.
“Mengapa aku harus cemburu, lagi pula kami bukan siapa-siapa lagi. Jadi untuk apa aku cemburu,” ucap Sean.
“Bukankah itu sedikit keterlaluan mengingat kalian baru saja putus, apakah guru tidak pernah mencintai wanita itu sehingga guru dengan mudah melupakannya?”
“cinta atau tidaknya itu sudah tidak penting, lagi pula aku merupakan tipe orang yang akan langsung melupakan mereka yang sudah menyakiti ku.”
Violla akhirnya bungkam ketika mendengar penjelasan Sean, dia juga setuju dengan perkataan Sean mengenai melupakan orang yang sudah menyakiti.
Setelah selesai makan malam, Sean mengajak Violla pulang. Bagaimana pun pria itu tidak ingin Rafael berfikir bahwa dia pria tidak baik karena membawa Violla hingga larut malam.
Sesampainya di kediaman, Violla mengucapkan terima kasih lalu pergi ketika Sean telah menghilang dari pandangannya. Rafael yang mendengar suara motor Sean langsung keluar dari rumah.
“Apa yang kalian lakukan hingga pulang larut malam?” tanya Rafael.
Saat Violla mendengar perkataan sang kakak tiba-tiba, dia langsung terkejut dan menatap horor kakaknya karena sudah membuatnya terkejut.
“Kapan kakak datang? Mengapa aku tidak sadar jika kakak ada di samping ku,” ucap Violla.
“5 menit yang lalu, bagaimana bisa kau mengetahui kehadiran ku saat sedang melihat kepergian Sean hingga sosoknya telah hilang,” goda Rafael.
“Kakak menyebalkan,” ucap Violla lalu pergi meninggalkan sang kakak dengan wajah malu.
Rafael yang melihat tingkah malu sang adik hanya bisa tersenyum, sejujurnya dia sangat senang ketika tahu bahwa adiknya telah menjadi wanita normal dan bisa jatuh cinta pada seorang pria.
“Semoga saja kau tidak menyakiti adik ku Sean, jika sampai aku tahu kau menyakitinya maka jangan salahkan aku membunuh mu,” ucap Rafael sebelum masuk ke dalam rumah.
__ADS_1