Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

"Baik, aku akan mengatar kalian. Tapi kau harus tahu bahwa hanya kau yang akan menjadi istri ku dan Ar tetap putra pertama ku."


Setelah itu, Sean mengambil jaket lalu kunci mobil. Ketika semuanya telah selesai, pria itu menggendong Arsean dan mengambil koper yang ada di tangan Violla.


Violla yang di tinggalkan sendirian menjadi semakin berat melangkah. Dia merasa sangat bersalah pada Sea, pria yang sudah banyak berubah deminya lagi-lagi tersakiti oleh keegoisannya.


Dlam perjalanan, Sean yang masih dengan wajah sendunya tidak berusaha membujuk Violla agar tidak pulang. Pria itu tahu bahwa mereka membutuhkan waktu untuk berfikir dengan jernih.


Arsean yang kelelahan karena menangis akhirnya tertidur di pangkuan sang ibu. Bekas air mata di kedua pipinya bahkan masih terlihat jelas dan membuat Violla semakin merasa bersalah.


Sesampainya di rumah Rafael, Sean membatu Violla membawa koper sedangkan dia menggendong Arsean masuk ke dalam rumah. Diana yang melihat kehadiran ketiga orang tersebut dalam keadaan yang tidak baik menjadi cemas.


"Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Diana.


Sean hanya tersenyum tipis lalu pergi ke kamar Violla untuk meletakan koper wanita itu. Sedangkan Violla yang masih setia menggendong putranya hanya menunduk sedih, tidak berani melihat wajah ibunya.


"Aku pulang dulu, Bu," ucap Sean setelah selesai dengan koper Violla, pria itu juga tidak lupa memberikan kecupan di kening Arsean dan Violla lalu pergi meninggalkan rumah Rafael. Membuat Diana menjadi semakin penasaran.


"Sebaiknya letakan Arsean ke ranjang dan basuh wajah mu. Jika kau sudah ingin berbicara dengan ibu, maka jangan ragu-ragu datang pada ibu." Diana tidak ingin memaksa putrinya berbicara karena dia tahu bahwa Violla masih belum siap untuk bercerita padanya.


"Baik, Bu."


Setelah itu, Violla pergi meninggalkan Diana. Suasana rumah yang sempat dia rindukan ketika di Negara K sudah menghilang, digantikan kerinduang pada suasan di rumah Sean.

__ADS_1


Waktu berjalan dengan cepat, saat makan malam tiba. Rafael yang sudah mendengar berita kepulangan Violla dari sang ibu tidak berusaha bertanya banyak hal. Dia hanya fokus menghibur keponakannya yang sedang sedih karena tidak menemui ayahnya dimana pun.


Setelah makan malam, Diana yang sudah tidak bisa menahan rasa pensarannya memutuskan datang ke kamar sang putri untuk bertanya. Arsean yang sedang dibawa Rafael ke kamarnya membuat pembicaraan mereka tidak akan terganggu.


"Boleh ibu masuk, Nak?"


Violla yang tengah melamun di balkon kamarnya terkejut saat mendengar suara ibunya. Dia juga langsung membukakan pintu dan membiarkan ibunya masuk. Kedunya lalu duduk di sofa kecil milik Violla.


"Apakah kalian habis bertengkar?"


Mendengar ucapan ibunya, membuat Violla menghembuskan nafasnya dengan kasar. Air matanya bahkan mulai membasahi kedua pipinya.


"Kau tahu, setiap hubungan pasti akan mengalami pertengkaran. Jika kau tidak bisa menangani hal sekecil itu maka kau tidak akan pernah bisa menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Jadi, mulai sekarang. Apa pun masalah yang terjadi pada kalian berdua, mulailah mencoba bertanya pada Sean. Dia pria yang baik sayang, kau tidak akan menyesal menyerahkan hidup mu padanya."


"Apakah tindakan ku salah Bu?"


"Lari dari masalah merupakan hal yang salah, Sayang. Seharusnya kau membiarkan Sean menjelaskan jika kau merasa tindakannya telah membuat mu tidak bahagia. Bukan meninggalkannya tanpa memberikan kesempatan padanya, sudah cukup dia menderita seperti mu di masa lalu, Nak. Berikan dia satu kesempatan untuk menebus semua kesalahannya di masa lalu pada mu."


"Apa maksud, Ibu?" tanya Violla ketika mendengar bahwa Sean pernah menderita di masa lalu.


"Setelah kau pergi, dia kehilangan kewarasannya dan sering berhalusinasi tentang mu, Nak. Untungnya Alana bersedia menjaga serta merawatnya, jika saja Alana tidak bersedia. Mungkin saat ini kau sudah tidak bisa melihatnya dan Ar tidak akan pernah bertemu dengan ayahnya."


Violla terpana ketika mendengar apa yang telah terjadi pada Sean, dia tidak menduga jika pria sehebat Sean akan mendapatkan karma yang mengerikan seperti itu.

__ADS_1


"Selama 7 bulan menjadi tidak warasa. Sean akhirnya bisa tersadar saat Alana secara sengaja mendengarkan tangisan Arsean yang pertama. Dia juga memberikan foto-foto kalian berdua pada Sean sebagai obat rindunya pada kalian berdua." Diana berhenti sejenak lalu melanjutkan. "Dan yang paling membuat ibu bangga padanya, setelah kembali normal. Dia memilih membuka sebuah perusahaan dan membangun sebuah rumah untuk mu serta Arsean, dia begitu setia menunggu mu selama 5 tahun. Apakah menurut mu pengorbanannya pada mu masih belum cukup?"


Akhirnya Violla tahu mengapa Sean memiliki banyak foto tentangnya dan sang putra, dia bahkan pernah melihat sebuah lukisan putranya yang paling indah di rumah Sean. Dan sekarang, Violla juga sadar bahwa perusahaan serta rumah itu merupakan hasil jerih payah Sean yang sengaja disiapkan untuknya dan Arsean.


"Aku tidak tahu jika dia pernah mengalami hal seperti itu, Bu."


"Itu karena Alana tidak ingin memberitahu kita. Sejujurnya, ibu bisa mengatahui keadaan Sean di masa lalu karena pelayan Alana. Dan ibu juga baru tahu dari cerita Alana bahwa Sean pernah mengalami hal yang sama dengan kalian, kedua orang tuanya menolak kehadirannya. Hanya Alana yang bersedia merawatnya dan memberikannya pekerjaan yang baik. Jadi, kau pasti tahu dari mana pria itu mendapatkan sifat bre*gseknya seperti di masa lalu."


Sekarang Violla akhirnya tahu bahwa hidup Sean tidak semudah yang dia pikirkan, pria itu bahkan pernah mengalami hal yang mengerikan di masa lalu sepertinya dirinya dan sang kakak.


"Aku menyesal, Bu. Ini semua karena sifat kekanak-kanakan ku, aku begitu cemburu dan terbawa suasana ketika sekretarisnya datang ke rumah lalu menghina ku dan putra ku. Seharusnya aku tidak menyakiti Sean, sekarang dia pasti membenci ku."


Violla sangat menyesal, Sean sudah berusaha dengan kerasa menjadi suami dan ayah yang baik untuknya serta sang putra, namun dengan teganya dia menyakiti hati pria itu.


"Sebaiknya besok kau meminta maaf padanya, ibu percaya di tidak akan membenci mu. Cintanya pada kalian berdua begitu besar, jika memang dia mudah di rayu dan tidak sungguh-sungguh mencintai mu, mungkin saat ini dia sudah menikah dengan wanita lain."


Diana akhirnya tahu bahwa permasalahan yang tengah terjadi bukan karena Sean. Semuanya karena kecemburan putrinya serta kata-kata kasar wanita yang menjadi sekretaris Sean.


"Ya, Bu. Besok aku akan meminta maaf padanya, aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya."


"Itu baru putri ibu, sekarang tidur lah. Ingat bahwa kau sudah memiliki putra yang masih membutuhkan mu dan pria yang tetap mencintai mu hingga saat ini."


"Baik, Bu."

__ADS_1


Setelah itu, Diana pergi meninggalkan Violla di kamar. Memberikan banyak waktu pada Violla untuk merenungi kesalahannya.


__ADS_2