
Setelah makan siang bersama, Sean mengajak sang putra pergi ke kolam renang dan di ikuti oleh Violla. Sesampainya di kolam, Arsean yang tidak pernah merasakan bermain seluncuran air menjadi sangat antusias.
"Ayah, Ar ingin bermain seluncuran."
"Kalau begitu ayo kita bermain."
Sean langsung membawa putranya ke arena seluncuran air lalu mulai bermain. Tawa keduanya membuat Violla yang duduk di kursi santai pinggir kolam menjadi terharu, sudah lama dia ingin melihat wajah bahagia putranya dan akhirnya hal tersebut terjadi. Dan hal tersebut terjadi setelah mereka bertemu dengan Sean, membuat Violla semakin dilemma.
Tawa kedua Arsean mengisi seluruh kolam renang. Setelah selesai main seluncuran, Ar mengajak sang ayah bermain bola di air. Meminta Violla menjadi wasit untuk mereka.
"Ayah, Ar ingin bermain bola air."
"Baik sayang, kalau begitu sekarang kita bermain bola dan ibu menjadi wasit untuk kita."
"Setuju. Ibu harus menjadi wasit untuk Ar dan Ayah."
Violla yang mendengar permintaan kedua Arsean tersebut hanya bias mengangguk pasrah. "Baiklah, ibu akan menjadi wasit."
Setelah itu, permainan langsung di mulai, Sean yang tidak ingin putranya sedih berpura-pura kalah dan hal itu di ketahui oleh Violla, namun dia tidak berusaha membongkarnya karena bagaimana pun Sean hanya ingin membahagiakan putranya yang tidak pernah bermain bola di air.
Permainan itu akhirnya selesai dengan skor tertinggi di pegang oleh Arsean. Pria kecil yang tidak tahu kemenangannya adalah hasil rekayasa sang ayah menjadi sangat bahagia, dia bahkan meminta hadiah pada ayahnya.
"Ayah, Arsean menang. Jadi sekarang Ar ingin meminta hadiah pada ayah."
"Selamat atas kemenangannya sayang, tentu saja. Katakan apa yang Ar inginkan."
Saat ini, keduanya sudah keluar dari kolam renang dan duduk di pinggir kolam untuk beristirahat. Violla juga tidak lupa memberikan handuk pada keduanya serta mengambilkan the hangat agar Arsean dan Sean tidak masuk angin.
__ADS_1
"Ar ingin ayah dan ibu tidak lagi berpisah. Ar ingin tetap bersama dengan ayah dan ibu, seperti teman-teman Ar yang ada di Negara K."
Permintaan itu sangat sederhana, tidak membutuhkan uang atau bahkan perjuangan yang keras. Namun permintaan itu mampu membuat Violla dan Sean menjadi sangat sedih, Violla bahkan harus membalikan kepalanya agar sang putra tidak melihat air matanya.
Sama halnya dengan Violla. Sean tidak bisa menahan air matanya, dia menangis di pelukan sang putra, merutuki semua kesalahannya di masa lalu. Andai dulu dia tidak bodoh, mungkin putranya tidak akan pernah merasakan iri karena tidak memiliki seorang ayah.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah benar-benar bersalah karena sudah membuat mu dan ibu mu hidup sendirian."
Arsean yang masih belum paham dan tidak tahu cerita masa lalu kedua orang tuanya menjadi bingung. Dia bahkan menjadi semakin bingung ketika melihat ayahnya menangis.
"Mengapa ayah meminta maaf? Dan mengapa ayah menangis seperti ibu yang setiap malam menangis setelah Ar bertanya tentang ayah?"
Tanpa sepengetahuan Violla, putranya sering melihatnya menangis setelah bertanya tentang Sean dan kapan mereka akan bertemu. Hal itu juga membuat Ar menjadi dewasa dengan cepat, memutuskan tidak lagi bertanya adalah hal yang di putuskan Ar.
Violla semakin tidak tahan, dia tidak tahu bahwa air matanya di masa lalu membuat putranya menjadi dewasa lebih cepat. Violla bahkan mulai menyesal atas kecengengannya.
"Ar percaya pada ayah, Ar juga ingin ibu ikut dalam pelukan kita ayah. Seperti teman-teman Ar di peluk oleh kedua orang tuanya."
Violla yang sedang menghapus air matanya langsung menghampiri kedua Arsean lalu masuk ke dalam pelukan hangat itu. Sean yang akhirnya bisa memeluk Violla kembali berjanji pada dirinya tidak akan membuat Violla pergi lagi.
"Ini sangat hangat, Ayah, Ibu." Arsean tersenyum bahagia di pelukan sang ibu dan ayah. Dia sudah lama memimpikan momen seperti ini, momen yang selalu di lakukan oleh teman-temannya di Negara K, kini akhirnya dia bisa merasakannya juga.
Arsean kecil yang tidak pernah mendapatkan pelukan hangat oleh orang tua lengkap menjadi sangat bahagia, ucapannya juga membuat Violla dan Sean semakin menangis. Karena keegoisan, satu makhluk yang tidak berdosa telah terluka.
"Maafkan aku," bisik Sean di telinga Violla sambil mengelus punggung wanita itu.
Violla hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa atau memberikan tanggap seperti apa. Saat ini fikirannya masih bingung, apakah dirinya harus memberikan kesempatan untuk Sean masuk ke hidupnya atau tidak.
__ADS_1
Setelah acara pelukan yang penuh air mata dan kebahagiaan untuk Arsean. Ketiga orang tersebut memutuskan untuk mandi lalu, mata mengantuk Arsean juga membuat Sean menghentikan permainan itu.
"Ayah, Ar ingin mandi bersama, Ayah."
"Tentu sayang, sekarang ikut ayah ke kamar dan kita akan mandi di sana."
Setelah itu, Sean membawa putranya ke kamarnya untuk mulai mandi. Sedangkan Violla memutuskan manid kembali kerena basah dengan pelukan keduanya.
Saat melakukan mandi bersama, beberapa kali Arsean bercerita tentang hidupnya selama di Negara K dan Sean sibuk menjadi pendengar sambil membantu putranya mandi. Ketika mandi itu telah selesai, Sean membawa Ar yang di balut handuk ke kamar Violla untuk berpakaian.
Violla yang melihat kehadiran kedua Ar yang sama-sama memakai handuk membuat wajah Violla memerah saat secara tidak sengaja matanya menatap bagian dada telanjang Sean yang sangat menggoda.
"Mengapa kalian memakai handuk saat masuk."
Sean yang sudah terbiasa melakukan hal itu menjadi tersadar dan malu karena membuat Violla melihat bentuk tubuhnya. Dia bahkan merutuki kebodohannya karena sudah melupakan keberadaan Violla.
"Maaf, aku hanya ingin mengantarkan Ar untuk berpakaian." Sean tersenyum malu, menampilkan gigi putihnya. Senyum indah itu membuat Violla terpana dan sepakat bahwa senyum Sean sangat mirip dengan senyum putranya.
Violla hanya mendendengus kesal, membuat Arsean yang mulai mengantuk akibat kelelahan menjadi tertawa karena wajah malu ayahnya serta wajah kesal sang ibu. Anehnya, tawa pria kecil itu membuat Violla serta Sean menjadi ikut bahagia dan melupakan kejadian barusan.
"Baiklah, sekarang Ar harus menggunakan pakaian lalu tidur."
Arsean menganggukan kepalanya, membuat Sean tersenyum lalu mengecup kening sang putra lalu pergi meninggalkan Violla yang masih dengan wajah merah akibat penampilan Sean yang sangat berani namun membuatnya tergoda.
---------------------
SEBELUMNYA, AUTOR MINTA MAAF KARENA CUMAN BISA UP SATU BAB KARENA HARI INI AUTOR ADA URUSAN KE KOTA JADI PULANGNYA SORE DAN BUAT AUTOR CAPEK SEHINGGA MEMPENGARUHI FIKIRAN AUTOR YANG JADI GK FOKUS TAPI AUTOR USAHAIN BESOK SIANG UP KEMBALI.
__ADS_1