
Keesokan harinya, Sean bangun dengan wajah pucat. Matanya bahkan terlihat membengkak dan terdapat kantung mata yang mulai menghitam akibat tidak bisa tidur, sejujurnya dia juga baru bisa menutup mata ketika jam menunjukkan pukul 4 pagi dan terbangun pada pukul 6 pagi.
"Aku harus bertanya pada Bos kemana perginya Violla." Sean tidak akan membiarkan wanita yang begitu sangat tulus mencintainya pergi jauh darinya. Dia bahkan meletakkan surat dari dari Violla di sebuah kotak kayu yang biasa dia gunakan untuk menempatkan barang berhargnya. Sekarang, barang itu tidak lagi penting, di matanya hal yang paling penting adalah surat Violla.
Bangun dari ranjang, Sean akhirnya merasakan tulang-tulangnya sakit akibat kecelakaan yang dialaminya tadi malam, dia bahkan harus tertatih ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke rumah Alana.
Di depan kaca kamar mandi, terlihat sangat jelas wajah lelahnya. Namun wajah Lelah itu berganti dengan wajah pria ******** miliknya ketika selesai menodai Violla, bayangan itu bahkan terlihat tertawa mengejek ke arahnya. Mengingatkannya tentang semua kejahatnnya pada Violla.
"Sialan!!!" Sean memukul kaca tersebut hingga pecah dan kepalan tangannya berdarah. Sengaja menghancurkan bayangan yang mengerikan tersebut, membuatnya semakin menyesal dan menderita.
Sean terduduk di lantai, meratapi setiap kesalahan yang sudah dia lakukan pada Violla, mengingat kembali masa lalunya yang di buang dan tidak di terima oleh kedua orang tuanya. Membuatnya semakin histeris, dan hamper kehilangan kesadaran.
"Aku menyesal, aku sangat amat menyesal. Kau wanita terbaik yang pernah ku temui, ku mohon kembalilah. Aku akan menebus semua kesalahan ku." Hatinya terasa sangat kosong, Sean merasa semua pencapaiannya selama ini, uang yang selama ini dia kumpulkan dari hasil kerja kerasanya sama sekali tidak berguna. "Aku bersumpah bahwa hanya kau satu-satunya wanita yang bisa menjadi istri ku dan anak kita adalah milik ku."
Dengan penuh tekad, Sean bangun lalu mulai membersihkan dirinya. Selesai mandi, dia tidak lupa membalut semua luka yang ada di tubuhnya termasuk kepalan tanganya yang terluka akibat pecahan kaca.
Setelah selesai dengan lukanya, Sean memutuskan sarapan. Dia tidak ingin menyulitkan Bosnya dan seperti yang di katakana oleh Alana, dia membutuhkan banyak kekuatan untuk menanggung semua penyesalannya. Mungkin mereka benar, penyesalan itu datang terlambat dan saat seseorang yang mencintai kita dengan tulus pergi, maka disitulah kita mulai merasa kehilangan serta penyesalan yang sangat mendalam.
Dengan kecepan normal, Sean melaju ke arah rumah Alana. Sesampainya disana, dia langsung masuk ke dalam rumah dan meminta penjelasan pada Alana tentang keberadaan Violla saat ini.
"Ikut aku ke ruang kerja suami ku." Karena tidak ingin membiarkan kedua anaknya mendengar keadaan bibi kesayangan mereka. Alana memutuskan mencari tempat untuk berbicara.
Sesampainya di ruang kerja, Alana menatap Sean lama. Dia dapat dengan jelas melihat luka tambahan di tangan Sean, namun tidak berusaha bertanya karena itu bukan urusannya.
__ADS_1
"Dia pergi ke luar Negri dan untuk saat ini aku tidak bisa mengetakan Negara mana yang dia tempati."
"Kenapa Bos?" Sean merasa sedih karena Alana tidak berniat memberitahunya tentang keberadaan Violla.
"Karena kau belum sepenuhnya merasakan apa yang sudah dia rasakan selama ini." Alana tidak kejam, dia hanya ingin membiarkan Sean merasakan rasa sakit Violla agar tidak menjadi pria bren*sek kembali. "Tapi aku bisa memberitahu mu seperti apa kehidupannya setelah kau nodai."
Sean akhirnya sadar, jika dia ingin mendapatkan maaf Violla. Terlebih dulu dia harus mendapatkan maaf Dari Bosnya.
Melihat bahwa Seam hanya diam membuat Alana melanjutkan, "Kandungnya cukup lemah, jika sampai dia keguguran. Maka mau tidak mau rahimnya akan di angkat. Apakah kau tahu kenapa dia bisa seperti itu?"
"Tidak Bos." Sean menjadi semakin sedih dan menyesal karena sudah membuar Violla menanggung semuanya sendirian.
"Itu karena di masa lalu dia pernah mengalami keguguran. Dan kau benar, dia hanya seorang wanita penghibur, tidak berhak bahagia dan rela di sentuh oleh banyak pria."
Alana mengabaikan ucapan Sean, baginya. Ucapannya belum sepenuhnya bisa membuat Sean menyesali semua perbuatannya.
"Dan apakah kau tahu, sebelum hari pernikahan itu. Athaya datang ke rumahnya lalu menghinanya karena sudah merebut Carl dari Mika. Bukankah itu sangat keterlaluan, dia adalah seorang korban namun di perlakukan seperti seorang penjahat." Alana masih marah dengan perlakukan Athaya. Dia tidak menduga jika wanita baik seperti Athaya bisa tidak tahu diri karena sudah bahagia dengan Lukas.
Sean terpana, dia tidak menduga bahwa Athaya tega memperlakukan Violla seperti itu. Dia bahkan sedikit marah padanya, meskipun benar jika Athaya marah dengan pernikahan tersebut. Tapi dia tidak berhak menghakimi Violla karena semuanya terjadi karena kebodohannya dan sikap pahlawan kesiangan Mika.
"Kau pasti tidak akan tahu bukan, hari itu. Tiba-tiba saja perutnya sakit dan bayi yang ada di kandungannya hampir menghilangan akibat tekanan yang di berikan Athaya. Untungnya Rafael langsung menghubungi ku, jika saja dia terlambat maka selamanya Violla tidak akan bisa menjadi seorang ibu."
Itu benar, karena tekanan yang di berikan Athaya. Violla hampir keguguran, darah sudah membasahi kedua kakinya menandakan akan keluarnya sang calon bayi yang masih belum terbentuk sempurna.
__ADS_1
"Aku menyesal, Bos." Sean tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya jika anaknya dan Violla dalam masalah.
"Jangan ucapkan itu di hadapan ku, seharusnya kau mengatakannya di hadapan Violla dan anak mu."
"Aku tahu Bos, maka dari itu aku ingin menemui mereka dan meminta maaf secara langsung. Aku juga berjanji akan memperbaiki semuanya."
Alana menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju. "Tidak, belum saatnya kau menemui mereka karena Violla masih belum sanggup bertemu dengan mu."
"Lalu kapan aku bisa bertemu dengannya, Bos?"
"Tunggu hingga luka itu sembuh dan dia sudah berani pulang."
"Tapi itu terlalu lama dan aku takut saat dia pulang. Dia dan anak ku sudah mendapatkan pengganti ku."
"Maka kau harus banyak-banyak berdoa agar Tuhan menjodohkan mu dengannya."
Jawaban tepat Alana membungkam Sean, pria itu tahu bahwa dia tidak akan bisa bertemu Violla hingga waktu yang tidak ditentukan. Dan hal itu membuatnya semakin cemas.
"Sekarang pergilah, kau harus melajutkan hidup mu. Jika nanti dia sudah ingin kembali dan kau masih bersedia menunggunya, maka aku akan memberitahu mu." Alana pergi meninggalkan Sean sendirian di ruang kerja, memberikannya banyak waktu untuk menentukan pilihannya, apakah harus tetap menunggu atau menyerah dan melajutkan hidupnya.
Sean menggelengkan kepalanya ketika memikirkan pilihan untuk menyerah. Dia tidak akan pernah menyerah dan tetap memilih bertahan menunggu kepulangan Violla.
"Aku tidak akan menyerah Bos, Violla harus menjadi milik ku. Apa pun yang terjadi di masa depan dia harus tetap menjadi milik ku dan mencintai ku selamanya."
__ADS_1