
Violla yang mendapatkan ciuman tiba-tiba itu langsung membalasanya. Bukan karena dia pernah mengalami hal yang mengerikan di masa lalu, tapi karena kerinduan selama 5 tahun berpisah membuatnya sesuatu dalam dirinya menguasainya.
Sean yang mendapatkan balasan menjadi bahagia. Menikah dengan Violla adalah tujuan utamanya, dan untuk hal berhubungan selayaknya suami istri di atas ranjang, bukan hal yang paling di tekankan padanya. Tapi jika sang istri mengijinkan, maka dengan sangat bahagia Sean melakukannya. Naluri pria yang sudah di tahannya selama 5 tahun akhirnya menguasainya.
"Apakah kau yakin ingin melakukannya malam ini?" tanya Sean memastikan apakah Violla bersedia atau tidak melakukan tahap selanjutnya.
"Ya, meskipun kesucian ku di renggut oleh pria lain. Tapi aku masih memiliki sebuah impian melakukan malam pertama dengan suami sekaligus pria yang ku cintai."
Sesederhana itu keinginan Violla, meskipun di masa lalu dia tidak yakin apakah Tuhan akan mengambulkannya. Tapi sekarang keinginan itu terkabul karena Tuhan memerikan satu kesempatan padanya.
"Aku akan memberikan malam pertama yang tidak akan pernah bisa kau lupakan dan akan menjadi kenangan indah untuk kita."
"Terima kasih."
Sean tersenyum lalu pergi membuka tirai kaca jendela besar di kamar Violla. Menampilkan cahaya bulan yang sangat terang yang masuk ke dalam kamar dan juga menyinari pohon-pohon yang ada di samping kamar Violla.
"Tampaknya bulan pun mendukung kita malam ini," ucap Sean bahagia.
Setelah selesai dengan jendela, Sean memindahkan tubuh Violla ke sofa lalu mulai mengganti bad cover dengan warna merah menyala. Violla yang melihat itu tersenyum, tidak tahu dari mana pria itu mendapatkan bad cover tersebut.
"Dari mana asal lilin itu?" tanya Violla terkejut.
"Arsean memberikannya pada ku, dia mengatakan bahwa ibunya takut gelap. Dan dia memintaku menyimpan ini untuk berjaga-jaga jika nanti mati lampu. Awalnya ku pikir ini tidak penting, tapi sekarang aku sangat berterima kasih pada putra ku."
Sebelum masuk kamar, Arsean yang di minta menemani neneknya tidur langsung menemui sang ayah dan memberikan lilin. Tapi Arsean tidak tahu bahwa lilin yang ingin dia berikan pada ayahnya ternyata sudah Diana tukar dengan lilin khusus.
Setelah memasang lilin, Sean mematikan lampu kamar lalu mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di ranjang merah mereka. Jika biasanya mereka yang melakukan malam pertama identik dengan warna putih, maka berbeda dengan Sean yang ingin melihat tubuh putih istrinya tanpa memakai sehelai benang pun.
"Tubuh putih mu pasti akan sangat menggoda dengan bad cover warna merah ini," ucap Sean sambil mengelus pipi sang istri yang mulai memerah. "Pipi mu bahkan sudah memerah sebelum aku melakukan hal yang lebih panas," goda Sean.
__ADS_1
Violla mencubit pinggang Sean. Membuat pria itu tertawa, cubitan tersebut sama sekali tidak terasa sakit bahkan terkesan geli.
Setelah selesai bermain-main dengan pipi. Sean mulai mengecup kening, bibir, kedua kelopak mata dan pipi Violla. Membuat sang istri menjadi geli. Puas dengan wajah, Sean mulai turun. Tangannya membuka pyama Violla hingga menampilkan tubuh bagian atas yang masih tertutup pakaian dalam terbuka lebar.
Sean semakin bersemangat dan mulai menyentuh di daerah-daerah sensitif Violla. Permainan mereka akhirnya menjadi semakin panas hingga membuat tubuh Violla terekspos tanpa sehelai benang pun. Membuat Sean tersenyum bahagia lalu mulai membuka seluruh pakaiannya.
Tubuhnya yang tegap dengam dada bidang serta perut menawan membaut Violla malu. Jari-jarinya bahkan mulai menulusuri bagian perut serta dada Sean.
"Apakah menurut mu warna kulit ku aneh?"
"Tidak, ini terlihat sangat eksotis dan aku menyukainya."
"Terima kasih." Entah kenapa, warna kulit Sean sama sekali berbeda dengan kebanyakan warna kulir pria di Negara A. Dengan warna sawo matang membuatnya terlihat lebih menggoda di mata Violla.
Setelah selesai dengan pembicaraan. Sean mulai memposisikan tubuhnya di anatar sang istri lalu memulai tugasnya. Membuat Viollla menahan sakit karena sudah lama tidak melakukan hal semacam itu meskipun. Sudah pernah melahirkan.
"Terima kasih sayang," ucap Sean lalu mengecup kening Violla dan berbaring di sampingnya dengan posisi memeluk tubuh polos sang istri.
Ketika Violla dan Sean sudah resmi menjadi suami istri dalam artian sebenarnya. Sang ibu bersama seorang wanita seksi sedang berdiskusi tentang bagaimana mendapatkan Sean serta memisahkannya dari Violla.
"Apakah rencana itu akan berhasil, Bibi?"
"Tentu sayang, jika kita memberitahu masa lalu wanita itu pada Sean. Maka Sean akan meninggalkannya dan kau bisa langsung merayu Sean."
Clora sangat yakin jika putranya masih belum mengetahui masa lalu Violla. Dia bahkan berfikir pernikahan itu terjadi karena Rafael yang memaksanya.
"Baik, Bi. Aku tidak akan mengecewakan mu. Dan setelah ini, hidup kita akan berubah, aku juga tidak perlu merayu pria tua agar bisa memenuhi kebutuhan ku."
Alesa, yang merupakan keponakan Clora. Memiliki pekerjaan yang sama dengan sang bibi, sama-sama menjadi wanita penggoda hanya untuk memenuhi gaya hidupnya.
__ADS_1
"Bibi percaya pada mu, tapi jangan lupa untuk membawa bibi tinggal di rumah mewah itu setelah kau resmi menjadi istrinya."
Kedua sangat yakin jika rencana mereka berhasil. Tapi sayangnya, mereka akan di kecewakan dengan tindakan kejam Sean pada mereka.
"Pasti, Bi."
Ketika kedua wanita itu sedang mendiskusikan rencana mereka. Jauh di sebuah rumah mewah, seorang pria paruh baya juga sedang berdiskusi dengan istri serta putranya.
"Ayah harus bisa segera mendapatkan simpatik pria itu agar perusahaan kita bisa tetap berdiri."
Perusahaan yang sudah berdiri selama bertahun-tahun tiba-tiba mendapatkan masalah karena ketidak becusan sang pewaris. Membuat semua keluarga menjadi cemas.
"Diamlah!!! Jika saja kau berguna. Mungkin saat ini perusahaan masih akan baik-baik saja." Kesal, itu sudah pasti. Pria paruh baya itu bahkan mulai menyesali perbuatannya di masa lalu yang menolak Sean.
"Ayah membentak ku?"
"Ya, sekarang aku menyesal karena membesarkan pria tidak berguna seperti mu. Tidak hanya membuat masalah, kau juga membuat keluarga kita dalam ketakutan."
Sang istri yang tidak terima putranya di bentak menjadi angkat bicara.
"Sudah cukup. Ini bukan kesalahannya, jadi kau tidak perlu membentaknya."
"Terusakan saja, manjakan putra mu dan kau akan tahu seperti apa hidup kita setelah ini. Aku benar-benar menyesal menikah dengan wanita tidak berguna seperti mu."
"Coba katakan sekali lagi!!!!"
"Kau tidak berguna dan aku menyesal menikah dengan mu. Jadi sekarang, kau harus bersiap-siap menjadi miskin karena ulah putra kesayangan mu dan aku akan membawa pulang Sean untuk di jadikan pendukung ku."
Setelah itu, pria paruh baya tersebut langsung pergi menuji ruang kerjanya. Meninggalkan istri dan putranya yang masih tercengang dengan perkataan pria itu.
__ADS_1