Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Sean & Violla


__ADS_3

Hari itu telah tiba, Sean yang sudah menunggu-nunggu kepulangan Violla serta putrnya menjadi bahagia ketika bangun pagi dan melihat tanggal yang telah di tetapkan tentang kepulangan kedua malaikatnya.


"Tunggu ayah sayang, sebentar lagi kita akan bertemu. Dan untuk mu, setelah hari ini. Aku bersumpah akan memanjakan  mu dan menjadikan mu satu-satunya wanita di hidup ku," ucap Sean sambil melihat foto Violla dan putranya yang tengah tersenyum bahagia.


Setelah mengecup foto itu, Sean langsung membersihkan diri lalu membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Sekarang dia sudah tidak lagi tinggal di apartemen, ketika bisnisnya berkembang. Dia memutuskan pindah ke rumah yang lebih besar agar nantinya keluarnya kecilnya bisa nyaman saat tinggal. Pria itu juga membuat taman kanak-kanan mini, seluncuran air dan kolam renang khusus anak untuk putranya.


Sedangkan untuk Violla, dia menyiapkan dapur super besar dan mewah dengan peralatan membuat kue terbaik. Karena melihat Violla sangat suka memasak dan masakannya enak, membuat Sean memutuskan menyiapkan dapur super besar untuk Violla.


Setelah selesai, Sean memutuskan pergi ke bandara. Dia tidak perduli jika harus menunggu berjam-jam di bandara karena baginya hal itu tidak apa-apa mengingat dia sudah menunggu kepulangan keduanya selama 5 tahun.


Sesampainya di bandara, Sean menunggu di kursi tunggu. Tidak ada keluarga dari pihak Violla yang pergi menjemput karena mereka sudah menyerahkannya pada Sean.


"Semoga Ar suka dengan permen ini dan Violla suka dengan bunga ini." Sebelum sampai di bandara, Sean sengaja berhenti di supermarket untuk membelikan permen lalu pergi ke toko Bunga membelikan bunga mawar merah di campur putih.


Setelah menunggu selama 2 jam. Sean akhirnya bisa melihat dengan jelas kehadiran Violla dan putranya, mereka telihat sangat kompak. Dan sangat kebetulan warna pakaian mereka bertiga sama.


"Hai, lama tidak bertemu," sapa Sean saat Violla sedang menunggu jemputan.


Sesaat, dunia Violla menjadi berhenti ketika mendengar suara pria yang sudah 5 tahun dia rindukan. Hatinya bahkan masih tetap berdetak kencang seperti dulu setiap kali mereka bertemu. Pria itu sudah banyak berubah, wajahnya semakin tampan dan dewasa, dia memiliki sikap seorang ayah serta suami saat Violla melihat dengan sangat teliti.


"Apakah aku sangat jelek?" tanya Sean ketika melihat ekspresi Violla.


"T-id- bukan seperti itu. Mengapa anda bisa disini? Apakah anda sedang menunggu pasangan anda?" Violla tidak pernah mendengar kabar tentang Sean sehinga dia berfikir Sean sudah menikah dan saat ini mereka tidak sengaja bertemu karena pria itu sedang menunggu istrinya.


Sean langsung memeluk erat tubuh Violla. Melepaskan semua perasaan rindu serta rasa bersalah karena sudah menyakitinya di masa lalu.


"Maafkan aku, di masa lalu sudah banyak air mata yang keluar dari mu karena kobodohan ku. Dan sekarang aku akan menebusnya, kau tidak perlu memaksan diri. Biarkan aku membuktikan bahwa aku pantas untuk kalian."

__ADS_1


Violla tidak tahu apakah dia harus menangis atau tertawa, di satu sisi dia sangat bahagia karena perasaanya akhirnya terbalaskan, namun disisi lainnya. Dia merasa takut jika harus kembali pada Sean lalu di buang seperti dulu.


"Tolong lepaskan, anak ku membutuhkan ku." Violla sengaja menggunakan putranya sebagai alasan untuk di lepaskan, meskipun sang putra sedang baik-baik saja hanya sedikit bingung dengan kehadiran Sean.


"Anak kita, Arsena adalah milik kita. Jadi jangan ucapakan dia anak mu, aku tahu bahwa ini tidak adil untuk mu. Aku sudah membuang kalian, membiarkan mu mengandung tanpa pendampingan, bahkan aku tidak ada di sisi mu ketika putra kita lahir."


Violla menggelengkan kepalanya, meskipun dia senang karena akhirnya Arsean mendapatkan ayahnya. Tapi dia tidak ingin Sean merebut putranya lalu memisahkanya, sudah cukup 5 tahun dirinya menahan semua rasa terhadap Sean.


"Jangan mencoba menolak, dia tetap anak ku dan aku tidak akan membawanya menjauh dari mu. Bagi ku kalian berdua adalah segalanya."


Rasa cinta yang sangat dalam dapat membuat mu tidak berdaya. Seperti itulah yang sedang Violla rasakan, dia akui bahwa dirinya sangat bodoh karena hatinya mudah tersentuh akan perlakukan Sean yang telah berubah.


Sean yang melihat bahwa Violla akan menolaknya langsung berjongkok menghadap putranya. Tersenyum lembut, Sean mengecup kening sang putra, memeluknya dengan hangat. Arsean yang baru merasakan pelukan yang sangat hangat dari sang ayah menjadi bingung sekaligus bahagia.


"Hay, Boy. Ini ayah, lama tidak bertemu."


"Apakah paman adalah ayah ku?"


"Ya sayang, ini ayah. Maaf karena tidak ada di samping kalian saat kalian membutuhkan ayah. Ayah benar-benar minta maaf." Sean sedih sekaligus lega. Sedih karena tidak bisa melihat perkembangan putranya dan lega karena mimpinya tentang penolakan Arsean padanya tidak terjadi.


"Tidak apa-apa, Ayah. Ibu mengatakan bahwa ayah sedang mencari uang untuk membelikan Ar mainan, karena sekarang ibu dan Ar telah pulang ayah harus membelikan banyak Ar mainan."


Sean semakin malu pada Violla, kebaikan wanita itu yang berbohong tentang dirinya agar Arsean tidak membencinya semakin membuatnya merasa bersalah dan malu atas kejadian di masa lalu.


"Ya, sekarang ayah juga sengaja membawakan peremen untuk mu. Semoga Ar mau menerimanya, ayah juga membuatkan taman bermain serta kolam renang untuk Ar di rumah. Apakah Ar mau ikut pulang dengan ayah?" Sean tidak akan memberikan Violla waktu untuk menolaknya, dia ingin segera membawa keduanya ke dalam rumah yang sudah dia siapkan 1 tahun yang lalu.


Arsean yang mendengar taman bermain dan kolam renang menjadi gembira, dia bahkan menatap sang ibu. Membuat Violla tidak berdaya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang Bersama ayah, Bu."


"Tidak bisa sayang, kita harus bertemu dengan paman Rafael dan nenek. Apa Ar lupa kalau kita akan bertemu dengan bibi Alana." Violla mencoba membujuk putranya agar tidak ikut dengan Sean.


Arsena menjadi sedih dan memberontak saat mendengar ucapan ibunya. "Tidak mau, Ar mau pulang Bersama ayah. Ar sudah rindu dan ingin bermain dengan ayah seperti anak-anak yang lain, Bu." Meskipun masih kecil, Ar sudah sangat lancar berbicara dan dewasa. Dia bahkan memiliki otak yang sangat pintar mengikuti sang ayah. Sean.


"Biarkan kali ini kalian pulang bersama ku ke rumah, aku  janji akan mengantar kalian ke rumah kak Rafael dan kak Alana besok." Karena sudah mendapatkan izin untuk menjadikan Violla sebagai istrinya, Alana dan Rafael tidak masalah jika Sean memanggil mereka kakak karena bagaimana pun cepat atau lambat mereka akan menjadi keluarga.


"Kakak? Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui selama aku di Negara K." Viola terkejut saat mendengar Sean menyebut Rafael dan Alana kakak.


"Karena kita akan segera menikah, maka aku memutuskan untuk memanggil mereka sebagai kakak. Apakah ada yang salah?"


"Siapa yang ingin menikah dengan mu?" Mekipun senang atas rencana Sean, namun ego Violla masih tetap berkuasa.


"Cepat atau lambat kau akan bersedia menikah dengan ku. Aku juga ingin segera memberikan adik perempuan untuk Arsean."


"Kau!!" Violla sangat malu ketika mendengar ucapan Sean tentang anak kedua.


Sean tersenyum geli saat melihat wajah malu Violla. Memberikan karangan bunga pada Violla, Sean menggendong putranya dengan satu tangan lalu membawa koper milik Violla dan meninggalkan sang wanita di tengah kerumuman.


"Apakah ayah akan memberikan adik untuk Ar?" tanya Ar saat di perjalanan.


"Tentu saja, tapi itu akan terjadi saat Ar sudah lebih dewasa. Saat ini ayah ingin mengajak Ar bermain dan menggantikan waktu yang sudah Ar lalui dengan ibu tanpa kehadiran ayah."


Sean tidak ingin egois, mereka baru saja bertemu dan akan sangat tidak adil jika Arsean mendapatkan adik dengan cepat sebelum menikmati banyak waktu dengannya.


"Arsean sayang, Ayah." Arsean bahagia karena ayahnya akan tetap menjadi miliknya seorang diri.

__ADS_1


"Ayah juga sayang Arsean," ucap Sean lalu mengecup pipi gembul putranya.


__ADS_2