Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
S2 Sean Violla


__ADS_3

Setelah selesai berbicara, Sean mengajak Violla ke lapangan yang berada di dekat danau samping rumah Alana. Pria itu memang sengaja mengaja melakukan hal itu karena dia ingin meminta Violla berlari sebanyak 2 putaran sebagai pemanasan.


“Sekarang kau harus melakukan pemanasan sebelum mulai berlatih ilmu bela diri,” ucap Sean.


“Baik guru, apa yang akan ku lakukan untuk pemanasan?” tanya Violla antusias.


Saat Sean melihat Violla yang sangat antusias dalam belajar ilmu bela diri, dia langsung tersenyum licik dan berniat memberikan sedikit pembalasan kecil karena sudah membuatnya malu di depan umum.


“Sekarang kau harus lari mengelilingi lapangan ini sebanyak 2 putaran, aku akan mengikuti mu dari belakang dengan motor listrik ini,” ucap Sean dengan wajah idak berdosa.


Ketika Violla mendengar perkataan guru barunya, dia langsung melihat ke lapangan yang di maksud Sean. Saat dia melihat bagaiman lebarnya lapangan tersebut, Violla menjadi tercengang dan meminta keringan dari sang guru.


“Guru, tidak bisakan aku berlari 1 putaran saja. Ini terlalu jauh dan aku berfikir bahwa aku tidak akan sanggup,” ucap Violla dengan wajah sedih.


“Tidak bisa, kau harus melakukannya. Bagaimana pun ini resiko yang harus kau ambil ketika kau memutuskan untuk belajar ilmu bela diri.”


“Tapi ini terlalu jauh guru, bagaimana jika nanti akau jatuh pingsan. Apakah guru bersedia menggendong ku?”


“Aku tidak akan membiarkan mu pingsan saat berlari,”


“Tapi guru.”


“Lakukan atau kau bisa mencari guru lain, tapi ku sarankan pada mu. Jika kau mencari guru baru, mungkin kau tidak akan menemukan guru sebaik diri ku.” Sean sengaja memberikan ancaman pada Violla karena dia tidak ingin di marahi oleh sang Bos jika tahu bahwa dirinya sedang membuly Violla.


“Baik guru, aku akan melakukannya. Aku juga tidak ingin mencari guru lain.” Violla takut dengan ancaman yang di berikan oleh Sean.


“Bagus, kalau begitu. Sekarang kau bisa memulai pemanasan,” ucap Sean.


“Baik guru.”


Setelah mengatakan hal itu, Violla mulai berlari mengikuti jalur yang di arahkan oleh sang guru. Sedangkan Sean mengikuti wanita itu dari belakang dengan motor listriknya.


Satu jam kemudian, Violla yang sudah tidak sanggup berlari lagi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas rumput. Kakinya sudah sangat lelah dan tidak sanggup lagi untuk berdiri, hal itu membuat Sean berhenti lalu mendatangi Violla.


“Luruskan kaki mu,” ucap Sean.


Violla yang sedang lelah hanya memutuskan mengikuti perkataan Sean tanpa suara. Dia memang benar-benar lelah dan tidak memiliki kekuatan untuk berbicara lagi, sedangkan Sean yang melihat tindakan penurut Violla tersenyum kecil. Pria itu merasa lucu saat melihat wajah lelah Violla.


“Apakah sudah baikan?” tanya Sean.


“Belum guru, aku bahkan butuh minum sekarang,” ucap Violla polos.


Saat Sean mendengar perkataan Violla, dia langsung paham dan memberikan air mineral yang sengaja dia siapkan saat mengambil motor listrik.


“Ambil ini,” ucap Sean lalu melempar botol mineral pada Violla.


“Terima kasih guru.” Setelah mengucapkan terima kasih, Violla langsung meminum air mineral tersebut hingga habis. Sean yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum dan tidak berusaha mencegahnya.

__ADS_1


“Ini sangat luar biasa guru,” ucap Violla setelah selesai minum.


“Baiklah, karena kau sudah selesai berlari maka kita akan mengakhiri pelatihan hari ini, ingat besok kau tidak boleh terlambat datang untuk latihan. Kita akan memulai latihan pada jam 8 pagi di sini,” ucap Sean.


“Baik guru,” ucap Violla patuh.


“Kalau begitu kau bisa kembali.”


Saat Violla mendengar perkataan Sean, dia menjadi bingung karena kakinya masih belum sanggup untuk berjalan. Sean yang melihat hal itu menjadi bertanya.


“Ada apa?”


“Kaki ku masih belum siap untuk berjalan guru,” ucap Violla sedih, wajahnya bahkan terlihat seperti anak kecil yang baru saja di tinggal pergi oleh orang tuanya.


“Kau bisa memanggil tuan Rafael untuk menjemput mu.”


“Kakak sedang sibuk bekerja, Guru.”


Ketika Sean mendengar perkataan Violla, dia menjadi ikut bingung. Namun saat pria itu sedang bingung, Violla tiba-tiba mengusulkan sesuatu yang membuat Sean gugup.


“Bagaimana jika guru mengantar ku pulang,” ucap Violla.


“Kau meminta guru mu sendiri mengantar mu pulang, apakah kau tidak sadar bahwa itu hal yang tidak pantas mengingat aku seorang guru.”


“Tapi hanya guru yang saat ini berada di dekat ku, apakah guru tega meninggalkan ku sendirian disini. Jika nanti para penjaga menggoda ku bagaimana,” ucap Violla polos.


“Tidak akan ada yang mau menggoda wanita manja seperti mu,” ejek Sean.


“Tapi sayangnya aku tidak,” ucap Sean tidak sadar.


“Benarkan, lalu tipe wanita seperti apa yang guru suka?” tanya Violla antusias.


“Mengapa aku harus memberitahu mu?”


“Karena aku adalah murid guru dan kita harus saling terbuka.”


“Aku tidak suka melakukan hal seperti itu.”


“Ayolah guru, katakan seperti apa tipe wanita yang guru suka.”


“Aku tidak mau mengatakannya.”


Saat Violla melihat bahwa Sean tidak berniat memberitahunya, dia langsung melihat Sean dengan tatapan manis. Hal itu memuat Sean gugup dan terpaksa mengatakannya wanita idemannya secara asal.


“Dia harus cantik dan lembut, aku juga tidak suka jika dia menggunakan pakaian yang kekurangan bahan serta genit di hadapan pria lain.”


“Apakah aku termasuk dalam tipe wanita guru?” tanya Violla polos, wanita itu berniat menggoda Sean.

__ADS_1


“Tidak,” ucap Sean tegas.


“Menarik, aku akan memuat guru mengatakan ‘ya’ di masa depan,” ucap Violla bangga.


“Hanya dalam mimpi mu,” ucap Sean mallu.


“Dan mimpi itu akan terjadi guru.”


Sean yang mendnegar hal itu memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju motor listriknya. Dia sengaja melakukannya karena tidak ingin Violla melihat wajah malunya.


“Aku akan membuktikannya guru,” ucap Violla tidak menyerah.


“Apa kau ingin pulang? Jika tidak maka aku akan meninggalkan mu disini,” ucap Sean mengalihkan.


“Guru akan mengantar ku?” tanya Violla.


“Jika kau ingin tetep disana aku akan pulang,” ucap Sean lalu menghidupkan motor listriknya. Violla yang melihat itu langsung bahagia dan memutuskan berdiri.


“Tinggu aku guru,” ucap Violla sambil berdiri.


Setelah selesai, Violla langsung naik ke atas motor listri Sean dan memegang pakaian Sean agar tidak jatuh. Sean yang melihat hal itu tersenyum karena Violla tidak melakukan tindakannya berlebihan seperti memeluknya.


“Ayo jalan guru,” teriak Violla bersemangat.


Sean tersenyum saat mendengar teriakan Violla, entah mengapa. Suara teriakan Violla terdengar seperti suara gadis kecil yang sedang bahagia karena di ajak jalan-jalan.


Setelah mendengar teriakan Violla. Sean langsung menjalankan motor listriknya, ketika mereka sedang di perjalan keluar dari kediaman Alana. Para penjaga menatap mereka dengan tatap aneh sambil tersenyum geli.


Beberapa menit berlalu, keduanya akhirnya tiba di depan rumah Rafael. Nyonya Diana yang kebetulan sedang duduk di teras rumah langsung menyambut mereka dengan ramah. Wanita paruh baya tersebut sudah mengenal Sean dengan baik sehingga dia tidak merasa keberatan ketika melihat putrinya di antar pulang.


“Ibu, aku kembali,” ucap Violla.


“Bagaimana dengan tujuan mu?”


“Berhasil bu, kak Alana juga memilihkan guru untuk ku dan dia adalah kak Sean,” ucap Violla bahagia.


“Ibu senang mendengarnya, terima kasih karena sudah bersedia menjadi guru Violla, Sean," ucap Violla.


“Tidak perlu berterima kasih nyonya, bagaimana pun Bos sudah meminta ku maka aku pasti akan melakukannya dengan senang hati,” ucap Sean sopan.


“Kau pria yang baik, kalau begitu. Apakah kau ingin singgah atau minum teh sebentar?”


“Sepertinya tidak untuk sekarang nyonya, hari ini aku harus mengurus sesuatu yang cukup penting,” tolak Sean.


“Baiklah kalau begitu, kita bisa melakukannya di masa depan. Hati-hati di jalan dan terima kasih telah mengantar Violla pulang.”


“Sama-sama nyonya, kalau begitu aku pamit.”

__ADS_1


“Hati-hati guru,” ucap Violla.


Sean yang mendengar perkataan Violla hanya mengangguk paham lalu pergi meninggalkan kediaman Rafael.


__ADS_2