Istri Kecil Ku Yang Hebat

Istri Kecil Ku Yang Hebat
Episode 215


__ADS_3

Setelah selesai periksa kandungan, Carl dan Violla memutuskan untuk pergi ke sebuah taman. Namun sebelum tiba, Violla meminta dibelikan permen kapas serta beberapa cemilan pada Carl. Sang pria yang sudah berjanji menjadi suami satu hari setuju dan langsung membelikan apa saja yang di minta Violla.


"Apakah belum cukup?" Saat ini keduanya sedang berbelanja di sebuah super market, membuat semua pelanggan yang berbelajan menjadi iri karena penampilan kasih sayang di berikan oleh Carl pada Violla.


"Sudah, sekarang mari kita pergi sebelum kaki ku dengan sangat kurang ajar berjalan menuju lemari es krim itu." Wajah kesal Violla yang menggemaskan saat menucapkan hal tersebut membuat Carl tertawa pelan dan mengelus puncak kepala wanita itu. Membuat siapa pun semakin iri pada Violla.


"Baiklah, sekarang mari kita membayar belanjaan ini. Dan untuk anak ayah, jangan coba-coba membuat ibu mu menjadi tidak tahu diri dengan mengambil es krim." Setelah mengatakan hal itu, Carl mendorong troli meninggalkan Violla yang tertegun saat mendengar perkataan menyentuh Carl untuknya.


'Tidak sayang, dia bukan ayah mu. Kita tidak boleh mengambilnya dan membuatnya semakin menderita dengan hidup bersama kita.' batin Violla. Sesaat, wanita itu ingin bersikap egois dengan mengambil dan membuat Carl menjadi miliknya. Namun dia akhirnya sadar bahwa itu salah dan dia tidak berhak atas Carl. 'Setelah ini, semuanya akan kembali membaik dan kau akan bahagia Carl. Maaf karena sudah membuat mu menjadi milik ku untuk hari ini,' janji Violla dalam hati lalu pergi mengahampiri Carl yang sedang mengantri.


Sesampainya di samping Carl. Violla meletakkan satu bungkus makanan di kerangjang agar pria itu tidak curiga mengapa dia tidak langsung menemuinya.


"Maaf, saat aku sedang berjalan. Tiba-tiba saja bayi kita ingin makanan ini," ucap Violla dengan wajah tidak berdosa.


"Lagi-lagi kau harus di jadikan alasan untuk ibu mu nak," ucap Carl sambil menyentuh perut Violla secara tidak sadar, namun tangannya langsung ditarik kembali karena takut Violla merasa tidak nyaman.


"Terima kasih, setidaknya dia pernah di sentuh oleh seseorang yang tidak membenci kehadirannya," ucap Violla dengan suara pelan.


Carl tersenyum saat mendengarnya, dia bahkan mengulanginya. Bukan karena dia muali mencintai Violla namun karena dia ingin Violla dan bayinya bahagia karena masih ada yang tidak membenci mereka seperti yang di sebutkan Violla.


Setelah selesai membayar belajaan, keduanya langsung menuju taman dan duduk di bawah pohon berlaskan karpet yang sengaja di bawa Violla dari rumah.


"Ingat untuk tidak memakan bungkusan yang sudah ku singkirkan," ucap Carl.


Violla yang sudah berencana mengambil diam-diam makanan yang sudah di pilih Carl menjadi sedih dan memperlihatkan wajah menggemaskan hingga membuat Carl tertawa.

__ADS_1


"Jangan pasang wajah seperti itu, karena aku tidak akan membiarkan mu mencurinya, lagi pula kau sudah memiliki banyak jenis permen. Jadi sekarang habiskan milik mu dan jangan pernah meminta milik ku."


"Sayang, lihatlah ayah mu. Dia sangat kejam pada ibu." Violla sengaja mengadu pada anaknya di hadapan Carl.


"Tidak nak, ayah tidak kejam. Jangan dengarkan ibu mu."


"Ayah mu bahkan tidak ingin mengakuinya, ibu benar-benar sedih."


"Jangan dengarkan ibu mu sayang, ayah melakukan ini agar kau tetap aman di dalam sana. Jadi dengankan ayah dan teruslah tumbuh sehingga kita bisa bermain di masa depan. Kau juga harus menjadi sekutu ayah," ucap Carl selayaknya seorang ayah.


Violla bahagia ketika melihat Carl yang sangat serius dalam memenuhi janjinya. Pria itu sama sekali melakukannya dengan benar tanpa ada satu hal pun yang cacat.


"Tidak adil, ibu yang sudah mengandung mu. Jadi kau harus menjadi sekutu ibu, kita harus mengalahkan ayah mu di masa depan, Sayang."


"Ayah akan menggendong mu kemana pun jika kau mau jadi sekutu ayah untuk menjahili dan membuat ibu menangis karena tidak di beri es krim sayang. Di masa depan kita akan menjadi penguasa es krim sehingga ibu mu harus membayar kita ketika ingin makan es krim."


Carl yang melihat tawa bahagia Violla menjadi bangga akan dirinya, dia bangga karena bisa menjadi alasan Violla yang sudah banyak menderita bisa tertawa lepas sekaligus bahagia.


"Jangan terlalu lebar ketika rertawa, nanti jika ada seekor burung kecil lewat dan secara tidak sengaja masuk ke dalam mulut mu. Apakah kau tidak kasihan dengan hidup kecilnya?" Carl mengelus puncak kepala Violla dengan lembut.


"Oh astaga, maafkan aku. Sekarang aku akan menutup mulut ku agar burung kecil itu tidak sial," ucap Violla sambil menahan tawanya.


Saat keduanya sedang bercanda, tiba-tiba saja ponsel Carl berdering menandakan sebuah pesan masuk. Karena takut itu berasal dari sang Bos, Carl langsung mengeluarkannya namun wajahnya menjadi datar ketika melihat siapa yang telah mengirim pesan padanya. Violla yang melihat perubahan serta membaca pesan dari Mika tersenyum paham.


"Balas 'Ya' padanya, jangan biarkan dia mengkhawatirkan hal yang tidak perlu di khawatirkan," ucap Violla.

__ADS_1


Carl langsung menutup ponselnya saat tahu Violla melihat pesannya. "Tidak perlu, bukankah dia yang membuat kita menjadi seperti ini. Jadi sekarang untuk apa dia masih saja menghungi ku dan menanyakan hal yang tidak ada kaitannya dengannya. Seharusnya sekarang dia tidak lagi mengganggu kita dan memulai hidup barunya."


"Kau membencinya?"


"Tidak, awalnya mungkin aku tidak bisa menerima keputusan yang membuat mu dan aku menderita. Namun sekarang aku tidak lagi memikirkannya dan memutuskan melupakannya serta membuka cerita baru tentang kita."


"Kau pria yang baik, seharusnya kau tidak perlu menerima pernikahan ini. Bagaimana pun, seperti yang kau katakan, kita akan sama-sama menderita setelah pernikahan ini."


Carl setuju dengan ucapan Violla, seharusnya dia menolaknya. Namun sekarang itu bukan lagi hal yang penting, setidaknya Violla wanita yang lebih baik dari Mika. Wanita yang selalu memikirkan perasaan orang lain tanpa pernah mencampakan pria yang akan menjadi suaminya.


"Aku akan berusaha membuka hati ku untuk mu, jadi sekarang tolong tunggu aku."


Violla menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Carl, dia tidak ingin menyakiti Carl lagi. Meskipun dia cukup kecewa dengan tindakan Mika yang tidak meminta pendapatnya, namun dia tidak akan membuat Carl hidup bersama wanita sepertinya.


"Bersabarlah, setelah ini kita semua akan bahagia. Terima kasih karena sudah bersedia menjadi suami ku dalam satu hari. Terima kasih karena sudah menjadi ayah yang baik dan tidak membenci anak ku dalam satu hari ini. Doa ku untuk mu, semoga kita semua bahagia dan kau bisa hidup dengannya untuk selamanya," ucap Violla dengan wajah sedih.


"Apa maksud mu, Violla?" tanya Carl bingung.


"Kau akan tahu jika waktunya sudah tiba. Sekarang mari kita pulang, bukankah kau harus kembali bekerja." Violla kembali ceria.


Carl yang sedang dalam suasana hati yang tidak baik karena pesan dari Mika dan ucapan misterius Violla hanya mengangguk setuju. Dia tidak ingin terlalu banyak bertanya karena itu membuat Violla semakin sedih.


"Baiklah, ayo pergi. Apa kau ingin ku antar pulang?"


"Tidak perlu, jika kau mengatar ku pulang, lalu aku akan mengantur mu kembali dan kita akan melakukannya hingga malam hari," goda Violla.

__ADS_1


"Dasar gadis bodoh," ucap Carl lalu tertawa.


__ADS_2