
Dua hari setelah kedatangan Athaya. Tiba-tiba saja hari ini Violla keluar dari kamar dengan penampilan yang rapi, membuat Rafael dan sang ibu terkejut sekaligus penasaran akan kemana Violla pergi.
"Kemana kau akan pergi sayang?"
Violla tersenyum lalu menjelaskan kemana dia pergi pada keluarganya. "Aku akan pergi ke dokter kandungan, hari ini adalah jadwal pemeriksaan untuk bayi ku." Violla tersenyum bahagia sambil mengusap perutnya yang mulai menampilakan perubahan.
"Bersama siapa?" Kali ini Rafaeal yang bertanya.
"Bersama Carl, Kak. Dia sudah setuju untuk menemani ku." Sejujurnya, Violla yang memaksa sedikit Carl agar bersedia menemaninya cek kandungan.
"Mengapa tidak bersama kakak saja. Bukankah kakak juga harus tahu seperti apa perkembangan calon keponakan kakak." Rafael tidak ingin adiknya di sakiti lagi oleh pria lain, termasuk Carl. Dia tahu bahwa pria itu tidak mencintai sang adik dan mungkin di paksa oleh Violla menemani ke dokter kandungan.
"Tidak perlu kak, kali ini biarkan aku melakukan apa yang ku inginkan. Kakak dan ibu juga tidak perlu khawatir, Carl, pria yang baik sehingga tidak mungkin melukai ku."
Melihat bahwa Violla sangat ingin di temani oleh Carl membuat Rafael dan Diana memutuskan mengijinkannya. Mereka tahu keinginan di temani oleh seorang pria merupakan keinginan seorang ibu hamil yang ingin di temani oleh suaminya, dan itu wajar untuk wanita hamil seperti Violla.
"Baiklah, tapi ingat untuk menjaga diri mu. Jika sesuatu terjadi kau harus langsung menghubungi kakak."
"Siap kak, kalau begitu aku pergi," ucap Violla lalu mulai mengecup kedua pipi kakak dan ibunya.
"Hati-hati di jalan sayang," pesan sang ibu.
Setelah selesai berpamitan, Violla langsung keluar dari rumah lalu menyetir mobil menuju markas Black Lion untuk menjemput Carl. Dan sesampainya di tempat, pria itu bergegas masuk agar tidak terlalu lama melihat wajah Mika.
"Kau tidak keberatankan jika hari ini menemani ku?"
__ADS_1
"Tidak, lagi pula sebentar lagi kita akan menikah. Jadi anggap saja ini sebagai awal pendekatan kita,' ucap Carl terpaksa.
"Terima kasih, apakah aku boleh meminta satu hal dari mu?'
"Tentu, katakan saja apa yang kau ingin minta?"
"Untuk hari ini, tolong berpura-puralah mencintai ku dan menganggap ku istri mu serta anak ini adalah milik mu."
Sesaat, suasana mibil menjadi hening saat Carl mendengar permintaan Violla yang terdengar sangat sederhana namun mengandung banyak kesedihan dan kesulitan untuknya. Bagaimana pun dia mungkin tidak akan bisa mencintai Violla, namun dia pasti berusaha menjadi suami serta ayah yang baik untuk keduanya.
"Apakah permintaan ku sangat keterlaluan?" Violla merasa tidak enak karena meminta hal yang tidak akan mungkin bisa Carl lakukan untuknya.
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak mengerti mengapa kau meminta hal semacam itu sedangkan kita akan segera menikah. Mungkin aku tidak bisa mencintai mu, tapi aku akan berusaha menjadi suami serta ayah yang baik untuk kalian berdua." Carl benar, dia tidak paham dengan permintaan Violla yang ingin di perlakukan selayaknya seorang wanita yang di inginkan serta di cintai hanya dalam satu hari.
"Tidak ada alasan, aku hanya ingin merasakan bagaimana indahnya memiliki pria yang mencintai dan menjadi suami ku meskipun aku sadar bahwa dia sama sekali tidak mencintai ku dan hanya berpura-pura demi mengabulkan permintaan ku."
"Baik, aku akan menjadi pria dan suami yang baik serta ayah yang sangat mencintai anak ini." Meskipun Carl tahu itu salah, namun entah mengapa hatinya tidak bisa membiarkan Violla menangis hari ini. Dia ingin membuat wanita itu bahagia dan tersenyum seperti dulu lagi.
"Terima kasih, bolehkah aku menyandarkan kepala ku di bahu mu?" Meskipun sudah mendapat izin, Violla tetap menghormati Carl dan tidak melakukan apa yang tidak disukai oleh pria itu.
"Tentu, kau bisa menyandarkannya sepuas mu." Carl tidak akan menolaknya karena permintaan itu sama sekali tidak membuatnya risih, malah sebaliknya. Hatinya semakin sedih melihat penderitaan Violla.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi harmonis. Carl membawa mobil dengan hati-hati dan Violla menyandarkan kepalanya di bahu pria itu hingga mereka mencapai rumah sakit.
Ketika sedang pemeriksaan, sang dokter yang biasanya melihat kehadiran Violla dengan Alana sedikit terkejut melihat kehadiran Carl yang menggantikan Alana.
__ADS_1
"Apakah dia suami anda, Nyonya?"
"Ya, Dok. Bukankah dia sangat tampan," ucap Violla dengan senyum bahagia.
Sang dokter yang tidak tahu tentang perjanjian keduanya tersenyum dan mengangguk setuju. "Kalian tampak sangat cocok, tampan dan cantik. Sudah pasti anak kalian akan sama baiknya dengan kalian." Puji sang dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Carl.
Karena sudah sepakat, Carl juga melakukan tugasnya. Dia menampilkan tatapan penuh kasih sayang dan memuja pada Violla, membuat siapa pun yang melihat keduanya merasa kagum.
"Baiklah, kondisi kandungan anda sedikit dalam masalah. Apakah anda tidak melakukan apa yang ku minta?"
"Maaf dok, saya terlalu bersemangat atas kehamilan dan kepulangan suami saya. Jadi lupa dengan kodisi kandungan saya, tapi saya berjanji akan melakukan apa yang anda minta." Violla sengaja menutupi masalah yang sedang dia hadapi pada sang dokter.
"Kali ini anda harus melakukanya dengan baik, jangan sampai anda keguguran untuk kedua kalinya karena itu bisa membuat Rahim anda di angkat."
Mendengar ancaman sang dokter membuat Violla menjadi cemas. Carl yang tahu jika Violla pernah mengalami keguguran di masa lalu ikut cemas dan mencoba memberikan kekuatan agar tidak cemas dengan menggenggam tangan wanita itu.
Dan benar saja, detik itu juga Violla kembali tenang atas tindakan sederhana Carl. Tindakan yang selama ini sangat dia impikan namun berasal dari Sean.
"Saya akan menjaga istri saya dok, maaf karena sudah membuat anda kesulitan akibat ketelodaran saya dan istri saya."
Mungkin cinta akan sulit diberikan Carl pada Violla, namun dia akan berusaha menerima kehadiran Violla dan anaknya. Perasaan Carl juga mulai timbul rasa ingin melindungi wanita yang sudah banyak menderita.
"Senang karena anda paham, Tuan. Jadi sekarang tolong jaga kesehatan dan awasi istri serta anak anda dengan baik. Jangan biarkan dia stress dan terlalu banyak fikiran."
__ADS_1
"Baik dok."