
Sesampainya di markas, Rafael langsung menuju penjara bawah tanah untuk melihat ketiga pria yang sudah menyakiti adik perempuanya. Rafael bahkan sudah memikirkan pembalasan apa yang pantas ketiga pria itu dapatkan akibat perbuatan mereka.
Saat Rafael telah tiba di depan penjara, ketiga pria yang telah dilukai oleh Mika dan kedua temannya langsung pucat ketika melihat kehadiran Rafael yang terkenal sangat sadis pada orang-orang yang berani menyinggungnya.
“Kalian tahu apa kesalahan kalian?” tanya Rafael.
“Maafkan kami tuan, kami tidak tahu jika wanita itu merupakan adik perempuan anda,” ucap salah satu pria dengan wajah pucat. Ketiga pria itu tidak tahu jika Violla adalah adik perempuan Rafael.
“Sayangnya kalian tidak memiliki hak untuk di lepaskan.” Rafael tidak pernah membiarkan orang-orang yang telah menyakiti orang-orang yang dia sayangi bebas begitu saja. Terkadang dia bahkan membuat mereka menghilang selamanya atau lebih tepatnya mati begitu saja.
“Kami tahu kami salah tuan, tolong beri kami satu kesempatan lagi.” Sang ketua memohon sambil menangis di hadapan Rafael.
Ketika Rafael melihat hal itu, dia terdiam sejenak. Sejujurnya Rafael cukup tertarik dengan kehebatan ketiga pria tersebut dalam ilmu bela diri, andai saja mereka tidak menyinggunya. Mungkin Rafael akan menawarkan mereka menjadi pengawal pribadi keluarganya.
“Tolong beri kami kesempatan satu kali lagi tuan, kami bisa membayar dengan tenaga kami pada anda. Kami bersedia bekerja apa saja untuk anda tanpa harus di bayar.” Sang ketua sudah memilih menjadi pekerja tanpa bayaran untuk Rafael demi menyelamatkan hidup kecil mereka.
“Apa kalian yakin dengan hal itu?” tanya Rafael mulai tertarik.
“Ya tuan, kami benar-benar akan menyerahkan hjdup kami untuk anda,” ucap sang ketua.
“Baiklah, karena kalian sudah memilih hal itu. Maka mulai sekarang kalian akan menjadi pembunuh bayaran untuk keluarga ku, setiap kali ada orang yang berniat menyakiti keluarga ku maka kalian harus membunuh orang itu. Kalian juga akan di bayar jika pekerjaan kalian bagus, namun jika kalian tidak bisa menjalankan misi dengan bagus maka kalian harus menerima konsekuensinya.”
Saat ketiga pria itu mendengar perkataan Rafael, mereka langsung bersemangat. Ketiganya tidak menduga bahwa pria yang terkenal bengis bisa menjadi baik dan memaafkan kesalahan mereka.
“Terima kasih tuan, kami berjanji akan melakukan apa pun yang anda minta dan tidak akan menghianati anda,” ucap sang ketua yang di anggukan oleh kedua anggotanya.
“Baiklah, kalian bisa pergi sekarang. Besok salah satu orang ku akan membawa kalian ke markas, kalian akan tingga bersama orang-orang ku dan tolong jangan melakukan perampokan atau apa pun yang tidak ku perintahkan. Jika sampai aku tahu kalian melakukannya maka kalian bisa langsung mengucapkan selamat tinggal pada hidup kecil kalian.”
__ADS_1
“Baik tuan.”
Setelah mendengar persetujuan ketiga pria tersebut, Rafael langsung pergi dari penjara. Sejujurnya, Rafael tidak pernah melepaskan ketiga pria tersebut dengan mudah. Dia bahkan sudah meminta anggotanya untuk memberi pelajar pada ketiga pria tersebut sebelum menjalankan misi.
Saat Rafael sedang dalam perjalan pulang. Violla yang baru saja mengalami hal yang mengerikan tiba-tiba tersadar, dia bahkan langsung terduduk di atas tempat tidurnya dan mulai merutuki kebodohannya yang masih terlalu terpuruk setelah kejadian tadi siang.
“Tidak, seharusnya aku tidak terpuruk sehingga membuat ibu dan kakak sedih. Aku juga tidak ingin usaha kak Ana untuk membuat ku sembuh sia-sia,” ucap Violla.
Violla tidak ingin kemali terpuruk sehingga menjadi gila seperti dulu. Baginya kisah di masa lalu sudah cukup untuk membuatnya menderita, lagi pula dia tidak terluka dan di lecehkan. Jadi dia merasa beruntung karena memiliki sahabat seperti Mika yang selalu ada untuknya.
“Aku harus belajar bela diri agar bisa melindungi diri ku sendiri.” Violla sudah bertekad untuk menjadi hebat seperti Mika. “Dan hanya kak Ana yang bisa membantu ku,” ucap Violla.
Setelah memikirkan semuanya, Violla memutuskan untuk meminta Alana membantunya belajar bela diri. Dia harus kuat agar tidak merepotkan orang lain.
“Besok aku harus bertemu kak Ana.”
Waktu berjalan dengan cepat, keesokan harinya. Violla bangun cepat dan keluar setelah dengan penampilan rapi. Hal itu membuat sang ibu dan kakak laki-laki bertanya-tanya, mereka bahkan tidak melihat adanya ketakutan atau bahkan rasa sedih seperti dulu di wajah Violla.
“Kemana kau akan pergi sayang?” tanya sang ibu.
“Aku akan pergi ke kediaman kak Ana bu, aku sudah memutuskan untuk belajar ilmu bela diri agar bisa melindungi diri ku sendiri sehingga tidak merepotkan orang lain lagi,” ucap Violla.
Ketika Rafael dan sang ibu mendengar perkataan Violla, keduanya langsung terkejut dengan keputusan wanita itu. Rafael bersama sang ibu juga tidak menduga jika Violla sama sekali tidak trauma seperti dulu.
“Kau serius sayang?”
“Ya bu, bagaimana pun tidak selamanya aku mengandalkan kakak dan yang lainnya. Jadi ku putuskan untuk belajar ilmu beladiri, kalian juga tidak perlu khawatir. Aku sama sekali tidak trauma dengan kejadian semalam, bagaimana pun kak Ana sudah bersusah payah membantu ku untuk sembuh. Jadi ku pikir akan sangat keterlaluan jika aku terlalu terbawa susana,” ucap Violla.
__ADS_1
Saat Rafael mendengar perkataan sang adik, dia langsung memeluknya. Rafael tidak menduga jika adik perempuanya sudah dewasa dan lebih bijaksana setelah kejadian di masa lalu.
“Kakak akan mendukung mu, kau boleh belajar ilmu bela diri. Jika memang Alana tidak bisa mengajari mu maka kakak akan menjadi guru untuk mu,” ucap Rafael setelah melepas pelukan mereka.
“Tidak perlu kak, lagi pula jika aku meminta kakak mengajari ku. Maka waktu kakak beristirahat tidak banyak, lebih baik aku meminta kak Ana membantu ku,” ucap Violla. Wanita itu tahu bagaimana sibuknya Rafael di perusahaan yang baru saja berkembang.
“Baiklah, jika itu memang keputuskan mu maka kakak dan ibu akan mendukung. Tapi ingat untuk menjaga diri,” ucap Rafael, pria itu merasa sangat bahagia ketika melihat keputusan adiknya yang ingin belajar ilmu bela diri yang notabennya sangat di perlukan untuk melindungi diri ketika sedang di depan umum. Terlebih lagi mereka merupakan pendatang yang cukup sukses di Negara A, hal itu akan membuat mereka selalu di buru oleh orang-orang yang iri dengan kesuksesan mereka.
“Baik kak.”
Violla merasa sangat beruntung karena memiliki kakak laki-laki yang hebat seperti Rafael dan keluarga yang hangat seperti keluarga Wesly. Keluarga besar itu bahkan tidak malu mengakui mereka sebagai kerabat dekat di depan umum.
“Baiklah, sekarang kita harus sarapan. Bagaimana pun hari ini adalah hari yang baru untuk Violla,” ucap sang ibu.
“Baik bu,” ucap Rafael dan Violla kompak.
Violla dan Rafael mengikuti ibunya menju ruang makan, pada akhirnya mereka melakukan sarapan dengan suasana hangat setelah bertahun-tahun berpisah.
Setelah selesai sarapan, Violla langsung pamit menuju kediaman Alana pada sang kakak dan ibu.
“Aku pergi dulu,” pamit Violla.
“Baiklah, hati-hati di jalan sayang,” ucap sang ibu.
“Jangan terlalu memaksakan diri mu,” ucap Rafae.
“Oke.”
__ADS_1
Setelah itu, Violla pergi meninggalkan rumah dan berjalan menuju kediaman Alana yang letaknya berada di samping kediaman mereka.