
Waktu berjalan dengan cepat, hari adalah waktu yang sudah di tentukan oleh Violla dan Alana untuk berangkat ke Negara K. Semua berkas serta beberapa surat menetap sudah di selesaikan, Violla juga telah meminta izin pada kakak dan ibunya mengenai kepergiannya yang cukup mendadak.
"Apa kau sudah menyiapkan semua barang-barang mu?" tanya Alana.
"Sudah kak, pakain yang telah ku beli juga sudah masuk ke dalam koper. Begitu juga dengan susu ibu hamil dan vitamin."
Alana menjadi semakin sedih ketika melihat Violla akan pergi dalam kondisi mengandung, meskipun dia sudah meminta anggotanya menjaga sang adik angkat selama di Negara K. Namun entah mengapa hatinya masih belum iklas melihat kepergiannya yang akan terjadi dalam beberapa jam lagi.
"Baiklah, aku sudah selesai. Ayo kita ke bawah untuk pamit pada kakak dan ibu."
"Oke."
Setelah itu, Alana membantu Violla membawa kopernya. Ketika mereka sudah tiba di bawah, entah mengapa suasana menjadi sangat dinging dan membuat Violla serta Alana merasa tidak enak.
"Ibu, kakak. Aku pamit," ucap Violla memasang wajah bahagia.
Rafael yang mendengar perkataan adiknya sama sekali tidak bergeming, wajahnya bahkan semakin dinging saat Violla mendekat dan ingin meminta pelukan selamat tinggal.
"Mengapa kakak menatap ku seperti itu?" tanya Violla cemas.
"Katakan pada ku yang sebenarnya, apa alasan mu pergi meninggalkan Negara ini tiba-tiba?" Tidak menjawab pertanyaan sang adik, Rafael sebaliknya memberikan pertanyaan kembali.
"T-tentu saja untuk mencari pengalam kak, lagi pula saat di sana aku akan bekerja di perusahaan kak Ana. Jadi kakak dan ibu tidak perlu cemas pada ku." Violla menjadi gugup saat mendengar pertanyaan kakaknya yang terlihat seperti tahu apa yang tengah dia smnunyikan.
__ADS_1
"Apakah kau yakin hanya itu?"
"Iya kak."
"Lalu jelaskan apa maksud dari foto-foto ini," ucap Rafael sambal melemparkan map kuning kepada sang adik yang berisi foto-foto Violla yang sedang memeriksa kandungnya bersama Alana.
Melihat foto-foto yang berserakan membuat wajah Violla menjadi pucat, sang ibu bahan tidak kuat melihatnya dan jatuh pingsan. Dia tidak pernah tahu bahwa putrinya sedang mengandung anak dari pria lain tanpa sepengetahuan mereka.
"I-ini pasti salah kak," ucap Violla gugup.
"SALAH!!!! Apakah menurut mu mata ku salah karena tidak bisa mengenali tubuh adik ku sendiri. Begitu maksud mu," bentak Rafael hingga membuat Violla jatuh ke lantai.
Alana yang melihat kemarahan Rafael menjadi tidak senang, seharunya sebagai seorang kakak. Rafael memberikan pelukan untuk menenangkan Violla bukan memarahinya.
"Hentikan Rafeal!!! Kau membuatnya takut. Apakah kau tidak tahu bahwa ibu hamil tidak bisa di bentak." Alana segera membantu Violla untuk bangun.
Rafael yang selama ini tidak pernah marah atau bahkan membentak Alana tiba-tiba melakukannya, hal itu membuat Violla semakin tertekan karena membuat Alana masuk dalam masalahnya.
"Tidak kak, jangan bentak kak Ana. Ini salah ku yang memintanya untuk menjaga rahasia ini."
"Bagus, akhirnya kau sadar juga. Kalian memang cocok untuk berteman, sekarang kau juga akhirnya kembali ke pekerjaan lama mu sebagai wanita penghibur. Bedanya sekarang pria itu berhasil membuat mu hamil." Rafael yang sudah sangat emosi melupakan perasaan sang adik, dia bahkan dengan tega menyebut Violla sebagai wanita panggilan.
Alana yang mendengar kata-kata mengerikan Rafael dan air mata Violla menjadi marah. Namun kali ini amarah juga dating dari sisi lainnya, Quenza yang sudah lama tidak muncul.
__ADS_1
Mendekat dengan Rafael, Quenza yang mengambil alih tubuh Alana memberikan tamparan yang sangat kuat di wajah pria itu hingga membuat wajah Rafael membiru dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Apakah kau tidak malu saat menghina adik mu sendiri" Apakah kau puas karena sudah menyebut adik mu wanita penghibur," ucap Quenza dingin. "Cihh, bagaimana bisa pria seperti mu menjadi kakak dari Violla. Tidak hanya gagal menjadi sosok kakak di masa lalu, sekarang kau bahkan dengan tidak tahu malunya mengatakan bahwa adik mu memiliki profesi sebagai wanita penghibur. Apakah kau tidak pernah introfeksi diri mu sendiri? apakah kau pernah bertanya mengapa dia menjadi seperti sekarang dan apa saja yang sudah dia alami selama kau hidup sebagai seorang pangeran sedangkan dia harus dijadikan alat pemuas nafsu oleh keluarga mu sendiri."
Sesaat, Rafeal terdiam dan tidak bisa berkutika setelah mendengar ucapan Quenza. Dia bahkan mulai menyesali semua perbuatannya yang sudah membiarkan adiknya menderita sejak di masa muda hingga sekarang.
"Apakah kau tahu bahwa dia pernah mengalami keguguran dan hampir meninggal karena dijadikan alat pemuas nafsu oleh ibu tiri mu!! Apakah kau pernah bertanya bagaimana kondisinya saat sedang hamil tanpa ada yang menemaninya?"
Rafael masih setia dengan kediamannya saat mendapatkan begitu banyak pertanyaan dari Quenza. Dia bahkan terkejut saat mengetahui bahwa adik perempuanya pernah mengalami hal yang menyeramkan seperti itu.
"Apa kau tahu bahwa setelah dia tahu bahwa dia hamil, dia hampir bunuh diri karena tidak ingin membuat kau dan bibi malu. Tapi semua itu tidak jadi dia lakukan karena dia sadar bahwa itu bukan pilihan yang baik dan mungkin akan menjadi awal penderitaan untuk mu serta bibi."
Diana yang baru saja sadar menjadi menangis dan berlari memeluk putrinya. Dia tidak menduga jika putrinya hampir bunuh diri hanya karena takut membuat mereka malu.
"Violla, Putri ibu. Mengapa hal seperti ini harus terjadi pada mu, Sayang. Mengapa kau harus menutupi berita bahagia seperti ini dari ibu dan kakak mu, apakah bagi mu kami tidak berrti sehingga kau menyembunyikannya serta hampir melakukan hal bodoh seperti itu."
Violla yang di peluk hanya bisa menangis, dia tidak menduga jika rahasia yang sudah dia simpan rapat-rapat akan terbongkar sebelum anaknya lahir.
"Seharunya kau memberikan pelukan untuknya, bukan hinaan serta mengingatkannya tentang masa lalunya. Saat ini dia lebih membutuhkan dukung agar kandungannya tetap sehat," ucap Alana yang sudah kembali mengambil alih.
"A-aku hanya terkejut dan tidak menduga jika adik permpuan yang sudah sangat ku jaga selama ini hamil. Ironisnya aku tidak tahu siapa yang sudah membuatnya seperti ini," ucap Rafael lemah. "Aku gagal menjadi kakak yang baik untuknya."
Alana tahu bahwa luapan emosi Rafael hanya sementara dan itu akibat dari kekecewaan pada dirinya sendiri karena sudah gagal menjaga Violla.
__ADS_1
"Jika aku mengatakan siapa sang ayah dari janin itu, apakah kau bisa berjanji untuk tidak akan membunuhnya." Karena sudah terbongkar, Alana memutuskan memberitahu Rafael siapa pria yang sudah membuat Violla hamil.
"Aku akan berjanji, aku hanya ingin memintanya bertanggung jawab. Jika pun tidak bisa selamanya, setidaknya dia harus menjadi sosok ayah untuk anak Violla."