Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 1 Lembur


__ADS_3

POV Zahra


Gue bernama Zahra Aneska usia dua puluh delapan tahun, berstatus sigle. Bekerja sebagai perawat di rumah sakit cempaka satu penyakit dalam. Tidak terasa sudah tujuh tahun berlalu gue di sini, menyibukkan diri dengan berbagai macam hal.


"Ra, elu bisa nggak gantiin gue shift malam." Bu Hasya mendekatiku bersama karyawan lainnya.


"Si Mika masih libur, anak gue sakit. Hanya elu satu-satunya yang bisa di andalkan. Kasihan Ra anak gue, demamnya tinggi banget. Ini aja gue ke pikiran nggak fokus sama pekerjaan." sambungnya lagi meminta bantuan dengan harapan.


"Emang berapa tingginya, Sya?" Bu Ika penasaran.


"Neneknya bilang tiga puluh sembilan, Ka. Barusan aja ngabarin."


"Tinggi banget tuh, Sya. Udah di kasih obat belum?" Bu Risma ikut penasaran dengan kondisi anak Bu Hasya.


"Udah kata neneknya. Sekarang lagi tidur setelah minum obat." jelas Bu Hasya khawatir. "Jadi gimana, Ra. Lu maukan?" sambungnya lagi.


Gue yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan ini. "Iya Bu, mau." menyetujuinya, kasihan Bu Hasya pasti kepikiran dengan anaknya yang sakit. Ibu mana yang rela meninggalkan anaknya sedang sakit, apalagi butuh Ibu kandungan berada di sisinya.


"Makasih ya, Ra. Gue ganti dengan cemilan." rayunya.


Senyumku. "Nggak usah repot-repot Bu! Bawa aja." candaku.


"Elu bikin gue emosi. Entar gue suruh suami gue yang anterin."


"Bercanda, Bu. Besok aja, kalau sudah masuk, beli baksonya." nggak mau ngerepotin Bu Hasya, di tolak seperti biasa dirinya akan memaksa bagaimana pun caranya.


"Ra besok pagi, gantiin gue juga ya?" Bu Ika ikut serta. "Suami gue kerja masuk pagi, Ra. Anak gue siapa yang ngasuh. Tempat titipan pada libur minggu. Keluarga guekan jauh, Ra. Elu tau sendiri." jelasnya.


"Iya Bu." mauku menggantikan Bu Ika.


"Sore juga ya Ra, saudara kandung gue mau ijab qobul habis magrib." sambung Bu Risma. "Enggak enaklah gue sebagai yang paling tua nggak hadir."


"Ra, sepertinya gue besok malam lagi." sambung Bu Hasya melihat jadwal kerja. "Dua ronde ya, Ra. Buat gue."


Melihat wajah-wajah senior penuh harapan, dengan mata yang berbinar-binar.


"Iya gue lembur, nggak apa-apa. Jangan lupa pesangonnya." menyetujui sambil bercanda.


"Oke!" mereka bertiga serentak dengan tangan beremoji ok.


***


Aaah...


Merenggangkan tubuh yang kaku, pegal, lesu, letih, lunglai. Selama dua hari dua malam lembur tidur hanya empat jam.


Hari ini selesai juga kerjaan menggantikan senior yang nggak bisa masuk kerja dengan berbagai alasan.


"Bu, saya pulang dulu." menegur Bu Zabrina sebagai karu (kepala ruangan), kami memanggilnya Bu karu.

__ADS_1


"Oh ya Ra, terimakasih atas kerja samanya." balas Bu Zabrina ramah.


Senyumku "Iya, Bu. Sama-sama." berjalan ke luar ruangan.


"Selamat pagi, Kakek." tegurku pada pasien yang lagi duduk di kursi roda sedang berjemur matahari pagi.


"Pagi, Sus." jawab Kakek tersenyum manis.


Jalan lagi ke parkiran menghampirin motor kesayangan mengambil helm dan memakainya, menghidupkan mesin berangkat.


Meninggalkan rumah sakit menuju rumah Mika, sahabat sekaligus partner kerja di rumah sakit. Dirinya nggak bisa masuk akibat kecelakaan lalu lintas saat pulang kerja shift malam.


"Assalamualaikum." ucapku saat di depan rumah yang sederhana dengan pintu telah terbuka. Sebelum ke sini, tadi sudah mengabari Mika bahwa mau berkunjung ke rumahnya.


"Waalaikumussalam. Eh, Nak Zahra. Masuk." sambut Ibu kandung Mika bernama Yanti.


"Iya Bu." melepaskan sepatu dan kaos kaki.


"Di dalam kamar masuk aja." perintah Bu Yanti setelah masuk ke dalam rumah.


Senyumku "Iya Bu."


Tok tok tok.


"Mika."


Ceklek!


"Elu nggak apa-apa?" membantu Mika duduk di atas ranjang.


"Nggak apa-apa, masih sedikit ngilu aja di kaki." memegang telapak kaki yang terkilir.


"Udah di urut belum?"


"Udah sama Mbah Maridjan, tetangga sebelah sini."


"Yang lain ada nggak luka?" merasa cemas melihat Mika.


"Lecet sedikit aja sih nggak parah, udah di kasih betadine." jelasnya menunjukkan letak luka di beberapa bagian tubuh.


"Orang yang nabrak elu gimana?"


"Tanggung jawablah, berhubung kondisi gue nggak parah hanya motor aja, jadi dia tanggung jawab benerin motor. Soal lainnya gue nggak minta. Kasihan orang yang nabrak udah tua."


"Oh iya udah kalau gitu, alhamdulillah." legahku, semuanya berjalan baik-baik saja.


"Nih, Nak Zahra. Ayo di minum dulu teh hangatnya." Bu Yanti meletakkan secangkir teh di atas meja kecil.


"Nggak usah repot-repot loh Bu, yang lain ada?" candaku memang telah akrab dengan keluarga Mika.

__ADS_1


"Mau makan dulu. Ibu udah masak soto betawi." tawarnya.


"Boleh, Bu. Asyik." bahagianya gue, kalau Bu Yanti masak. Rasa khas yang membuat perutku langsung lapar. "Elu mau makan nggak?" menawari Mika.


"Udah tadi." jawab Mika santai.


"Bentar gue ke belakang dulu kalau gitu." berdiri dengan cepat menghampirin Bu Yanti.


"Nih, Ibu racik sebentar." fokusnya mengisi mie, sayur, kuah dan lainnya.


"Sedikit aja dulu Bu, gampang nambah."


"Boleh..." senyumnya. "Nih, ambil sendiri nasinya di atas meja." menyerahkan semangkok soto.


"Hmmm, baunya enak." mencium bau dari soto betawi khas Ibu Yanti.


"Bisa aja kamu, Ra." malunya gue puji.


Meletakkan mangkok dulu di atas meja, mengambil piring yang sudah di siapkan mengisi nasi kemudian membawanya ke kamar Mika.


"Makan, Ka."


"Elu kalau makan jangan di tanya."


"Enak sih masakan Ibu elu. Suka gue kalau ke sini."


"Rajin-rajinlah kesini, jangan malu."


"Gimana mau ke sini, kerjaan gue banyak." sambil makan.


"Kasihan gue lihat, elu. Lembur gara-gara gue." Mika terlihat merasa bersalah.


"Bukan elu aja, Bu Hasya, Bu Ika dan Bu Risma ikut jadi satu minta gue ganti shift."


"Berarti lu dinas dua hari dua malam dong."


"Iya mau gimana lagi, anak Bu Hasya demam tinggi, Bu Ika suaminya masuk pagi, nggak ada yang ngasuh, Bu Risma saudari kandungnya ijab qobul. Mau nggak maulah gue lembur, tapi tenang di kasih gantinya."


"Emang mereka ngasih apa sama elu?"


"Bakso satu bungkus, nggak tau Bu Risma sama Bu Ika. Gue juga nggak ada niat minta di kasih gituan, sebagai terimakasih. Nggak di ikutin lu tau sendiri gimana mereka."


"Iya sih, benar juga elu. Sekarang lu pasti ngantuk, udah makan istirahat aja dulu di sini. Di tambah perut kenyang gitu pasti ngantuk banget yakan?"


"Sekarang aman, belum ngantuk gue akibat nih soto Ibu elu enak. Perut kenyang mana boleh tidur, paling sambil jalan entar perut terasa nyaman. Sampai rumah tinggal mandi bobok cantik."


"Awas lu ketiduran saat bawa motor." peringatan Mika.


"Iya, gue jamin nggak bakal kenapa-kenapa."

__ADS_1


"Sip, gue suka elu berpikir selalu positif."


Bersambung...


__ADS_2