
Duduk di kursi sofa, menunggu Pak Abyan menyelesaikan pekerjaannya sebentar di balkon. Memainkan handphone dulu, ternyata Bu karu membalas pesan pagi ini.
Beliau sudah tau alasanku yang sesungguhnya, karena Pak Aziz asisten Pak Abyan menemuinya pagi kemarin secara pribadi, setelah gue pulang kerja sepertinya. Jelas pernikahan ini hanya Bu karu yang tau atas permintaan Pak Abyan.
Syukurlah, mungkin Pak Abyan banyak pertimbangan sebelum memutuskan untuk memberi tahukan pada semua orang bahwa gue yang di nikahinya.
Mungkin selain gosip yang beredar tidak jelas akan berdatangan, bisa ajakan hal lain terjadi, takut mencoreng nama baik semua.
Lihat lagi pesan, ternyata group semalam masih ramai. Gue baca perlahan, semua keluarga sedang membahas pernikahan gue, mereka meminta maaf atas semuanya. Hanya gue baca, bingung harus jawab apa? Air mata gue membendung seketika, sulit di percaya pulang kerja bau asem, bau terasi, bau tengik. Hayati jadi istri orang. Step by stepnya tuh nggak ada, langsung aja ijab qobul tanpa perundingan. Sisanya beginilah, pacaran setelah menikah, entah ada atau enggak cinta itu di antara kami berdua nantinya.
"Yuk kita berangkat." ajak Pak Abyan telah siap membawa tas berisi laptop dan lainnya.
"Iya Pak."
Kami berdua berjalan ke luar ruangan, tibalah di depan mobil.
"Pak kita belum bayar?" ingatku belum bayar telah menginap disini sama makan juga.
Senyum Pak Abyan. "Kamu lupa?" tanyanya mengingatkan gue kembali.
Lupa apa? Gue berpikir sejenak mencari jawaban. Oh iya Pak Abyan, kan keluarga angkasa earl group yang mencakup perhotelan, beberapa rumah sakit, dan dunia entertainment. Berarti gratis dong, milik pribadi. Tapikan Pak Abyan aja, gue orang lain.
"Tapi Pak saya belum bayar."
"Kamu siapa saya?" tanya Pak Abyan balik.
"Istri!"
"Terus kalau istri saya?"
Senyumku. "Iya Pak." itu saja jawabanku, lanjut berdebat nggak berangkat lagi kita berdua. Disisi lain alhamdulillah gratis.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita berangkat." ajaknya yang masuk ke dalam mobil.
Gue ikut aja, kemana di bawa. Sekarang lari aja nggak bisa.
Selama di perjalanan kami berdua hanya diam, tidak tau harus berbicara apa.Jangan tanya jantungku yang selalu shalawatan di dalam sana. Sungguh malu yang di rasa. Melihat luar jendela mobil, ternyata tiba juga di depan gerbang yang tinggi, Scurity datang membuka pagar, mobil masuk halaman rumah, berhenti di teras depan.
"Ayo kita masuk." Pak Abyan melepas sabuk pengaman, mengajak keluar.
Jalan kami berdua masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum." serentak kami berdua ucapkan saat memasuki rumah mewah nan megah itu.
__ADS_1
Wanita cantik setengah paru baya, terlihat sangat modis dan masih awet muda menghampiri gue dan Pak Abyan dengan bahagia.
"Waalaikumussalam, anak perempuanku akhirnya datang." langsungnya memelukku dengan hangat, serta cupika cipiki kami berpadu.
"Ini Ibu, Nak. Panggil Ibu Sari." ucapnya bahagia menyambut dengan rasa sayang seperti gue anak kandungnya sendiri.
Sudah lama gue tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu, air mataku sekilas hampir membendung.
"Iya, Bu. Kenalkan, nama saya Zahra Aneska." legahnya melihat mertua yang tidak terlihat seperti sinetron ikan terbang.
"Iya, Nak." jawabnya dengan tersenyum.
Berjalan ke arah sesosok laki-laki paruh baya, namun terlihat segar dan ramah.
"Selamat pagi menjelang siang, Ayah." tegurku duluan. "Nama saya Zahra Aneska." salamku dengan mencium punggung tangannya.
Senyumnya dengan mengelus kepalaku dengan lembut. "Salam kenal anakku, panggil saya Ayah Dameer."
Anggukkan kecil ku berikan, sungguh terharu Tuhan memberikan orang tua baru di kehidupanku sekarang ini.
Jalan lagi, kamu!
Terkejutnya melihat sahabat dengan tersenyum manis serta wajah yang menggemaskan.
Falisha mengelus bahuku dengan santai. "Salam kenal. Selamat datang, namaku Falisha. Aku adik Mas Abyan." memberitahu dengan kalimat hanya dirinya yang tau tentangku. Falisha juga berpura-pura baru mengenal.
Terkejut sih Falisha nggak pernah cerita adik Pak Abyan.
Gue mempunyai sahabat dekat dua orang perempuan yaitu Falisha dan Mika. Kami dekat cukup lama sekitar tiga belas tahun lamanya.
Semenjak memasuki bangku kuliah mengajukan tulisan ke perusahaan entertainment lewat email, beberapa saat sedang dalam masa pemeriksaan dokumen yang gue buat. Ternyata mereka suka dan menawarkan tulisanku untuk di jadikan sebuah film drama. Falisha yang lebih tua satu tahun dariku sudah menjalani pekerjaan marketing saat itu, saling berinteraksi menyangkut tulisan, akhirnya jadi sahabat.
Sekarang jabatannya menjadi general manager di perusahaan perfilman milik angkasa earld group.
Otaknya yang pintar, kuliah di universitas terkenal, sambil kerja bisa Falisha kerjakan. Gue kira dengan hal itu Falisha bisa bekerja dan naik jabatan. Dirinya menutupi dari kami selama ini, awas ya! Lepas ini jangan anggap gue bestie lagi.
Flashback
Gue yang baru lulus sekolah menengah atas, bercita-cita menjadi penulis.
"Ma, besok aku mau tes kuliah di universitas." memberitahu pada Ibu kandungku, saat kami sedang duduk santai di ruang tamu.
__ADS_1
"Emang mau ngambil jurusan apa?" tanya Bi Nur.
"Jurusan sastra Bi." jawabku gugup, takut nggak boleh.
"Mau jadi apa kamu setelah lulus sarjana?" tanya Bi Rosida.
"Mau jadi penulis, Bi."
Nafas kasar yang gue dengar dari Bi Rosida. "Kerja jadi penulis nggak tetap, Ra. Mau makan apa, kamu? Siapa yang tanggung hidup, kamu? Jangan berharap sama laki-laki yang menjadi suamimu kelak. Belum tentu selamanya. Bisa ajakan di ambil pelakor atau di ambil Tuhan." jelasnya panjang lebar.
"Tapikan-"
"Benar kata Bibimu, Zahra. Lihat Yayumu Dina, suaminya saja di ambil pelakor. Sekarang dia kesusahan mencari kerja untuk anaknya." sambung Mama Wati.
"Tapikan Ma, semua orang nggak sama." bela Papa Awan.
"Iya memang berbeda, jika sama bagaimana? Kamu nggak kasihan sama Zahra nanti. Cukup Dina saja jadi bebanmu. Iya kamu masih hidup, jika telah tiada bagaimana? Siapa yang menanggungnya?" jelas Bi Nur.
Gue hanya bisa diam dan pasrah.
"Benar, Pa. Apa kata Bi Nur. Kita masih hidup bisa menanggung mereka. Gimana kalau kita tidak mampu lagi atau bisa saja kematian duluan yang datang?" sambung lagi Mama Wati.
"Masuk sekolah bidan atau perawat. Kamu bisa kerja di rumah sakit. Kalau jadi pegawai negeri sipil tambah bagus loh, Ra." Bi Maryam memberi solusi.
"Papa pikir memang benar, sudahlah ambil jurusan di antara dua pilihan itu aja ya, Nak. Ini semua demi kebaikanmu." putus Papa Awan.
Gue hanya menganggukkan kepala, menahan perihnya luka, cita-cita selama ini sia-sia.
Tulisan yang gue ciptakan sendiri, seperti tidak berguna.
Beberapa hari kemudian setelah gue tes masuk kuliah masuklah ke jurusan keperawatan di salah satu universitas swasta, sedangkan negeri tidak lulus.
Duduk termenung melihat layar komputer, terlintas di media sosial menerima penulis baru saat itu, ada juga tawaran perusahaan untuk menjadikan tulisan sebagai film. Tersedia email mereka yang sudah gue simpan. Memilih mana yang cocok di hati, ternyata gue pilih yang langsung perusahaan terkenal, mungkin saingan gue banyak diluar sana, tapi gue yakin bahwa usaha tidak mengkhianati hasil.
Akhirnya kuliah perawat oke, jadi penulis oke. Tapi nama gue sedikit berbeda kalau jadi penulis, takut di serbu para fans lagi dinas megang suntikkan, bukan penakan nggak enak guenya. Walau sama-sama runcing yang satu tajam yang satu tumpul. Di pecat lagi ada, di buang deh sama keluarga gue ke lingkar hitam di luar planet sana.
***
Senyumku mengusap bahu. "Iya salam kenal juga, namaku Zahra Aneska." melepaskan pelukan, kembali ke samping Pak Abyan hanya mereka bertiga yang menyambut kami.
Apa Pak Abyan dan Falisha aja bersaudara kandung, atau ada yang lain? Mencuri pandangan ke sudut ruangan.
__ADS_1
"Ayo, Nak. Duduk dulu." ajak Ayah Dameer mengajak duduk di kursi sofa berwarna hijau tosca.
Bersambung...