
Ceklek!
"Assalamu'alaikum." masuk ke dalam kamar Amel dan Tama atas arahan Bi Tanti.
"Aunty..." pekik ke-dua anak kembar yang berlarianku.
Langsung duduk agar sama rata dengan mereka, kami saling berpelukan.
"Aunty ayo masuk, kumpul sama kita." tariknya tanganku setelah berpelukan.
Kenapa ya mereka, jadi ingin bersama gue?
Jalan masuk melihat dua ruangan, satunya tempat tidur satunya lagi ruang bermain. Bagus juga kalau di buat begini, anak-anak jadi nggak bosan, mereka juga bisa mengatur mana tempat bermain mana tempat tidur keren habis yang buat rancangannya, sempat-sempatnya gue menilai isi ruangan.
"Aunty naik sini." ajak Amel duduk di atas ranjang.
"Hmmm, kalian mau tidur?" ikut duduk di atas ranjang.
"Bentar lagi." jawab Tama.
"Terus kalian mau apa?" tanyaku bingung ngapain disini, masa duduk aja.
"Aunty bacain dongeng dong, kata Ayah Abyan, Aunty bisa baca dongeng dengan bagus dan menarik, kami penasaran." ucap Amel.
Masa Mas Abyan bilang gitu ke anak-anak?
"Eh tunggu dulu! Ayah Abyan bilang apa aja sama kalian?" sekalian keponya.
Mereka berdua saling lirik satu sama lain, gue tambah penasaran.
"Hayo jangan ada rahasia diantara kita." pancingku agar mereka berbicara,
Mereka masih lirik satu sama lain, dah tambah penasaran gue, apa sih yang sebenarnya mereka rahasiakan?
__ADS_1
"Iya udah Aunty keluar aja, kita nggak jadilah baca dongengnya." puraku merajuk, sambil sedikit berdiri.
"Aunty mau kemana?" mereka berdua langsung memegang tanganku.
Anak kembar memang suka kompak ya, serunya gemas lagi, ingin banget memegang pipi mereka yang berisi itu.
"Aunty mau keluar, Amel sama Tama nggak mau cerita." nadaku semakin terdengar sedih.
"Iya Aunty kami cerita, tapi janji ya, jangan bilang sama Ayah Abyan." bisik Tama.
"Oh oke!" jawabku balik berbisik. "Coba cerita sekarang Aunty mau dengar." membujuk lagi.
"Ayah Abyan cerita katanya Aunty itu baik orangnya, sayang sama Ayah. Terus kata Ayah, Aunty sebentar lagi akan melahirkan bayi yang gemas seperti kami." ceritanya begitu bahagia. "Amel dan aku mau adik, tapi Bunda Hanum sama Ayah Darman nggak kasih katanya cukup kami berdua aja. Kita berdua sedih Aunty, teman-teman di sekolah memamerkan adik mereka, sedangkan kami hanya bisa diam. Kami bilang sama Ayah Abyan. Kata Ayah, nanti Aunty yang buat untuk kami." jelasnya panjang kali lebar membuat gue hanya menelan saliva.
Maksudnya Mas Abyan itu menghibur mereka aja atau benaran dengan ucapannya?
Jadi teringat malam ini tidur bersama Mas Abyan, jangan-jangan. Ah bisa gila gue mikirnya jauh kesana.
"Hmmm." hanya itu saja responku.
"Tapi Aunty janji jangan bicara sama Ayah Abyan, ini rahasia." ucap Tama.
"Hmmm." nggak janji gue, hanya bisa tersenyum puraku mengiyakan.
"Ayo tidur." ajakku
Mereka berdua mengikuti. "Aunty bukunya ada di situ." tunjuk Amel lemari kecil di sudut dinding.
Berdiri mencari buku tersebut, membuka lemari dapat buku yang menarik berjudul putri Angsa, sepertinya menarik ini aja deh.
Menutup lemari, jalanku mendekati Tama dan Amel yang sudah tidur di ranjang masing-masing.
Duduk di tengah-tengah antara mereka, dengan kursi yang memang telah di sediakan di sana.
__ADS_1
Mulai membuka buku. "Pada suatu hari, terdapat Angsa putih yang sedang berenang di danau yang bersih dan tenang, cincau burung di atas langit menambahkan kenyamanan terletak di sana, menundukkan kepala Angsa putih mulanya memejamkan mata." melihat sebentar ke arah Amel dan Tama yang masih melihatku. "Terus." sambung lagi ceritanya. "Tibanya danau yang tenang bergetar hebat, sampai-sampai membangunkan Angsa putih yang terlelap tidur. Angsa putih melihat cahaya yang keluar dalam air menghampirinya, tibalah cahaya tadi berubah menjadi peri kecil yang anggun dan menarik."
"Berarti perinya wanita ya, Aunty?" tanya Tama yang belum tidur.
"Sepertinya begitu." jawabku.
"Nggak ada laki-laki ya Aunty?"
"Sebentar Aunty baca dulu." melihat pada tulisan ternyata tidak ada, terpaksa gue mengarang sendiri.
"Hmmm, ada." senyumku melihat Tama.
"Hmmm, baiklah ceritakan Aunty." pinta Tama.
"Terus Peri yang sangat ganteng menghampiri, Maaf Aini aku terlambat ucap Peri laki-laki tadi, Iya jangan terlambat lagi ya Amon jawab peri Aini. Iya jawab peri Amon. Angsa putih hanya terdiam melihat dua peri datang menghampirinya, Ada apa kalian di sini? tanya Angsa putih langsung. Wahai putri maukah dirimu kembali ke masa lalumu yang menjadi manusia kembali, tawar sang peri Amon. Apa kalian bisa mengubahku kembali? tanya Angsa putih. Kami bisa mengubah wujudmu seperti semula, asal ada janji yang harus kamu tepati ucap Peri Aini. Apa itu? tanya Angsa putih. Kamu harus bertemu dengan pangeran Harry di kurung nenek sihir di paviliun tengah hutan, dirinya akan dijadikan sebagai suaminya tapi pangeran Harry tidak mau, jawab Peri Amon." fokusku membaca dan menghayati isi cerita yang menarik itu.
"Apa yang harus saya lakukan agar menyelamatkan pangeran Harry? tanya Angsa putih. Kamu bisa terbang ke paviliun melepaskan ikatan pada tangan pangeran Harry, janji kami setelah itu akan merubahmu kembali menjadi manusia kembali ucap peri Amon. Baiklah aku setuju ucap Angsa putih, dirinya mulai mengepakkan sayapnya terbang tinggi menuju paviliun yang berada di tengah hutan, lihatnya di dekat jendela mencari keberadaan pangeran Harry. Itu dia ucap Angsa putih akhirnya menemukan sang pangeran, diamnya menghampiri. Melepaskan ikatan di tangan Pangeran Harry mari pangeran ikut aku, ucap Angsa putih mengajak sih pangeran keluar paviliun, akhirnya mereka bisa pergi jauh dan terlepas dari nenek sihir. Terimakasih Angsa kamu telah menyelamatkanku, ucap Pangeran Harry. Sama-sama pangeran, jawab Angsa putih. Para peri datang menghampiri tugasmu telah selesai, ucap peri Aini. Mari Amon kita rubah Angsa putih seperti sediakala sambung peri Aini. Baiklah Bim salabim adakadabra, sinar putih mengelilingi Angsa putih, sekejap saja Angsa putih berubah menjadi wanita yang sangat cantik. Pangeran Harry langsung tertarik pada putri Angsa, maukah kau menikah denganku? Ajaknya."
"Aku mau." bisik Mas Abyan di telingaku.
Langsung melihat kebelakang. "Mereka udah tidur, ayo ke kamar sudah malam." ucap Mas Abyan kembali berbisik, merapikan selimut Amel dan Tama.
Melihat Amel dan Tama, ternyata telah tidur. Alhamdulillah selesai juga mengasuh mereka. Semudah itu ya?
"Ayo, Ay." Mas Abyan menarik tanganku.
"Ah iya Mas, aku letakin buku ini dulu." melepaskan tangan Mas Abyan, berdiri jalan ke lemari meletakkan buku ke tempat semula.
"Udah selesai ya Mas acaranya?" tanyaku berjalan mengikuti Mas Abyan ke arah ruangan sebelah menuju pintu luar.
"Semua udah selesai, pada masuk ke kamar masing-masing." jelasnya.
Secepat itu! Apa mungkin gue yang nggak sadar diri berlama-lama di dalam kamar?
__ADS_1
Bersambung...