Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 119 Olahraga ~ TAMAT~


__ADS_3

Hari ini di nyatakan seratus persen sembuh oleh Mas Abyan dan Dokter lainya. Rasa legahku mendengar perkataan mereka.


Perjuanganku menjalankan pengobatan membuahkan hasil.


Mobil berhenti di depan rumah. Kami semua turun, gue menggendong Azri, sedangkan Falisha yang menawarkan diri mengendong Adam. Pak Aziz membawa mobil di belakang, agar Mas Abyan nggak perlu mengantar Falisha pulang.


"Wah, si kembar pulang." Bi Ning dan Pak Amin langsung menghampiri.


"Alhamdulillah semuanya sehat." Pak Amin terlihat begitu bahagia.


"Alhamdulillah." ucap Mas Abyan mengambil Adam di tangan Falisha.


"Gantengnya." ucap Bi Ning melihat ke-dua anak kami. "Eh Pak, kalau di perhatikan. Azri mirip Nak Abyan, kalau Adam mirip Nak Zahra." jelas Bi Ning yang sudah tau nama anak kami, dirinya sering datang ke rumah sakit mengantarkan makanan.


"Iya, Bu. Benar." Pak Amin melihat baby boy.


"Mas, Mbak. Aku pulang dulu ya." ucap Falisha.


Melihat Falisha. "Oh iya, hati-hati di jalan Sha. Terimakasih nganterin sampai rumah." ucapku merasa nyaman di bantu Falisha, padahal dirinya sedang hamil butuh istirahat. Tapi dirinya yang mati-matian mau nganterin sampai rumah. Alasannya sih ngidam dan tambah semangat.


"Iya, Mbak. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam." ucap kami serentak.


Falisha dan Pak Aziz pergi keluar.


"Ay, bawa Azri dan Adam tidur di kamar." perintah Mas Abyan yang sudah berdiri di depan kamarnya dulu.


"Kenapa nggak tidur di kamar utama, Mas?" masa mereka tidur di kamar sendiri. Gimana kalau tengah malam mau makan? Masa gue nggak tidur setiap malam.


Bi Ning membuka pintu kamar. "Siang aja, Ay. Malamnya tidur sama kita." jelas Mas Abyan.


Oh gitu, kirain setiap malam jadi kelelawar gue.


Berjalan masuk ke dalam kamar, melihat ruangan merasa aneh, perasaan ini kamar nggak di bentuk gini. "Kapan Mamas merubah kamar ini?"


"Waktu kamu belum sadar, Ay." jelas Mas Abyan meletakkan Adam di ranjang minimalis dengan lingkaran penyangga kayu, di dalamnya sangat luas, sepertinya gue bisa ikut tidur juga di dalam sana.


Meletakkan Azri di ranjang satunya yang telah di siapkan.


Mereka pisah tempat, sepertinya takut berantem kalau tidur berdekatan. Lucunya membayangkan mereka kalau sudah besar nanti memiliki kamarnya masing-masing. Hmmm, apakah seperti Mas Abyan yang suka rapi, atau sebaliknya.


"Enaknya melihat mereka tidur." ucap Bi Ning masih tersenyum-senyum melihat Azri dan Adam.


"Ayo Ay, mandi. Hari sudah sore." ajak Mas Abyan yang berjalan keluar.


"Azri dan Adam gimana, Mas?"


"Ada Bibi yang jaga. Lagian di kamar ini di lengkapi cctv, kita bisa lihat dari kamar, Ay." jelas Mas Abyan, dirinya melihat Bi Ning. "Bi, jika Adam dan Azri terdengar nangis, ikuti arahan yang kemarin saya jelaskan." Mas Abyan menunjuk tombol di dinding.


Bi Ning tersenyum sambil mengangkat jari jempolnya. "Siap, Nak."

__ADS_1


"Ayo, Ay." Mas Abyan jalan keluar ruangan, gue mengikuti.


Mas Abyan membuka pintu.


Kami masuk menutup pintu.


Melihat kamar, nggak ada yang berubah sih.


"Ay, mandi yuk." ajak Mas Abyan.


"Mas, aku, ‘kan udah sembuh total. Nggak perlu di mandiin lagi." melepas hijab langsungan dan meletakkan di dalam wadah pakaian kotor.


Mas Abyan membuka jam tangan, dan pakaian atasannya. Entah kenapa jantung gue detaknya meningkat, melihat tubuh atletis Mas Abyan.


Mas Abyan berjalan mendekat. "Ay..." memelukku dari belakang.


Udah ngerti gue kalau begini.


"Mamas sudah puasa lama, Ay." ucapnya pelan di telingaku.


"Mas, nanti Azri dan Adam nangis gimana?" melepaskan pelukan Mas Abyan, mencari letak telivisi agar melihat Adam dan Azri.


"Cari apa, Ay?"


Oh itu dia. "Itu Mas, takut Azri dan Adam nangis." tunjukku televisi berukuran sedang di dinding di belakang Mas Abyan.


Kami berdua melihat ke-dua malaikat itu tertidur pulas.


Mas Abyan kembali memelukku. "Mau nambah nggak, Ay?" ucap Mas Abyan terlihat nakal mencium leherku dengan lembut.


"Mas, aku melahirkan dengan jalur operasi. Terus, anak kita masih kecil, Mas." menikmati kecupan Mas Abyan.


Mas Abyan melepaskan pelukan dan membalik tubuhku agar menghadap dirinya.


"Terimakasih, Ay. Telah memberikan Mamas kebahagiaan seperti ini." Mas Abyan merapatkan tubuh kami.


Melepaskan pelukan, Mas Abyan. "Mas sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan." mulai pikiranku teringat dengan kesempurnaan Mas Abyan.


"Kenapa, Ay?"tanyanya perlahan mendekat, sedangku perlahan mundur.


"Jawab jujur, Mas." ingin tauku.


"Ay, kenapa menjauh?" tanyanya terlihat semakin kebingungan.


Mataku melihat Mas Abyan hanya menggunakan celana dasar dengan atasan polos begini. Kenapa dirinya terlihat lebih menarik? Apalagi bentuk ototnya, hmmm! Bisa gila gue di beri sesembahan begini.


"Mas, berhenti!" pintaku.


Mas Abyan mengikuti.


"Mas, kamu manusia, ‘kan?" pertanyaan konyol yang pernah gue ucapkan.

__ADS_1


Mas Abyan tersenyum, gerakan matanya terlihat jelas dirinya merasa geli. "Coba kamu perhatikan Mamas, manusia bukan?"


Mas, jangan bikin nih jantung ngajak olahraga ekstrim deh.


"Penampilannya manusia. Tapi kenapa Mamas bisa semuanya?" jujurku.


Mas Abyan beraksi begitu menggemaskan, senyum-senyum sendiri, melipatkan kedua tangannya. "Hmmm! Mamas dulunya suka bereksperimen dalam sesuatu yang nggak bisa di jelaskan satu persatu, karena sekarang-" Mas Abyan ingin memelukku.


Oh dirinya tidak bisa karena dengan cepat gue duduk dan menjauhinya.


"Karena apa, Mas?" menjahilinya.


Mas Abyan terlihat kesal, tidak bisa mendapatkanku.


"Ay..." ucapnya mengejarku.


"Jawab dulu, Mas." lariku begitu cepat.


Kenapa setelah melahirkan dan menjalankan terapi, nih tubuh lebih ringan? Kalau di perhatikan begini, kami dulu pernah kejar-kejaran saat Mas Abyan kepergok dengan Siska.


"Ay... Kalau dapat nggak bisa lepas, jadi menyerahlah." ancam Mas Abyan yang dirinya berhenti di seberang ranjang.


Dengan cepat berlarian masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


"Ay, buka." Mas Abyan mengetuk pintu.


"Mas, nanti Azri dan Adam bangun." jelasku menjahili Mas Abyan.


"Ada Bi Ning, Ay. Lagian kamu udah stok di kulkas jika Adam dan Azri lapar." teriak Mas Abyan.


"Nggaklah, Mas. Kasihan mereka." nggak mau gue menelantarkan anak. Walau ada Bu Ning.


"Ayolah, Ay. Sebentar aja." Mas Abyan terdengar frustasi.


"Sebentar apa, Mas?" puraku tak tau, sebahagia ini menjahili Mas Abyan.


"Udah lama, Ay. Nggak olahraga." jawab Mas Abyan.


"Mamas tinggal ke tempat fitness, banyak di sana macam-macam olahraga." inginku menang.


"Oh, jadi kamu mau, Mamas ke sana. Bermain dengan yang lain." ucap Mas Abyan membuatku langsung membuka pintu.


"Maksud Mamas?" nggak mau gue.


Mas Abyan langsung memelukku. "Dapat." menutup pintu kamar mandi.


"Mas sebentar ya?" pintaku.


Mas Abyan tersenyum mengangguk pelan.


...~Tamat~...

__ADS_1


__ADS_2