
"Mas, aku berangkat dulu." saat gue telah siap, mendekatin Mas Abyan yang duduk di kursi sofa fokusnya ke layar laptop.
Mas Abyan melihat ke arahku dengan tersenyum. "Ay, ada yang ingin Mamas bicarakan."
"Tapi aku telat loh, Mas." jelasku melihat jam saja sudah setengah dua siang.
"Kabarin aja dulu temanmu, bahwa kamu masuk telat." perintah Mas Abyan.
Mungkin Mas Abyan ingin berbicara sesuatu yang penting. "Hmmm, Iya Mas." berjalan duduk di samping Mas abyan berjarak satu meter, mengeluarkan handphone di dalam tas, mengirim pesan pada Bu karu dan teman lainnya.
"Hmmm! Sudah, Mas." ucapku selesai meletakkan lagi handphone ke dalam tas.
"Ay, maaf kita belum bisa langsung pindah ke rumah yang kamu inginkan. Mamas mau melihat dulu rumahnya bersamamu, sebelum di tempati. Mamas nggak mau tempat itu, kurang nyaman bagimu. Kalau soal persawahan lima hektar, Mamas telah menemukan tempat yang cukup bagus di tanam." jelasnya masalah mahar.
Lima hektar bukan sedikit jumlahnya, gue bisa jadi Bos mendadak begini.
Senyumku yang nggak nyaman dengan candaku kemarin soal mahar. "Mas nggak perlu repot-repot, kemarin aku hanya bercanda aja, Mas." jawabku jujur.
"Iya itu candahan kamu, Ay. Tapi ini bukan candahan bagi Mamas." jelasnya sedikit dingin.
Gue menelan saliva. "Hmmm iya, Mas. Maaf."
"Setelah ada waktu, kita melihat rumah dengan beberapa lokasi yang telah Mamas pilih. Kalau sawah tunggu kamu libur atau berhenti bekerja, baru kita bisa berkunjung kesana."
"Hmmm Iya Mas, kalau boleh tau di mana, Mas?" tanyaku kepo, soal rumah.
"Masih dalam kota, nggak terlalu jauh."
"Ini apartemen mau di apain, Mas? Apa kita pisah rumah?" bisa saja begitu.
Mas Abyan tersenyum. "Kamu itu istri Mamas bukan?" tanyanya yang membuat gue bingung. Jangankan rumah, kamar aja kita pisah, Mas. Ingin gue berkata begitu, kesal rasanya.
"Teman, Mas." jawabku jujur.
"Zahra..." panggil Mas Abyan terlihat tidak suka, padahal nyata adanya.
"Hadir, Mas." jawabku bercanda jangan sampai taringnya keluar, ampun gue.
Mas Abyan tersenyum. "Serius, Ay."
"Iya aku lebih serius, Mas." salahnya di mana coba?
__ADS_1
"Apartemen ini hanya tempat singgahan aja, siapa tau kamu dan Mamas jenuh tinggal di sana. Kamu juga bebas di rumah ini, mau apa aja. Mau masuk ke dalam kamar Mamas tidur di sana juga boleh, atau ada keperluan lainya." jelas Mas Abyan.
Gue mau-mau aja di tawarin ke kamarmu Mas, nggak tidur di sana juga kali. Ngajak bermain erotis apa di sana.
"Iya, Mas." langsung gue jawab, tanpa bertanya. Jangan mancing singa sedang tidur pulas.
"Motor kamu juga udah di bawah, kalau nggak tau tempat parkiran tanya sama scurity." jelasnya lagi.
"Alhamdulillah, Iya Mas. Terimakasih." bahagiaku akhirnya bertemu dengan bestie lagi.
"Terus, jika kamu pulang ke apartemen mau masuk, tekan nomor yang Mamas kirim ke ponsel kamu, biar mudah di ingat." sambungnya lagi.
"Iya, Mas."
"Itu aja, Mamas bicarakan."
"Iya, Mas."
"Iya udah kamu ngapain masih di sini."
"Oh iya, Mas." lupa gue, gara-gara fokus sama situasi. "Kalau begitu aku berangkat dulu." Berdiri mendekatin Mas Abyan, mengangkat tangan mengajaknya salaman.
Mas Abyan membalas. "Hati-hati di jalan. Bawa motor pelan-pelan aja asal selamat." ingatnya seperti Bapak takut anaknya kenapa-kenapa.
"Hmmm."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam."
***
Motor kesayangan telah gue parkirkan di belakang apartemen, bertemu dengannya lagi membuatku tenang. Motor ini adalah gaji pertama gue sebagai penulis dan menjadi karyawan di rumah sakit.
Sedih gue kalau mengingat hal itu.
Gaji dari seratus persen, hanya gue ambil lima puluh persen saja. Sisanya di beri ke panti dan sanak saudara. Jika gue tidur di rumah mereka, uang bayaran perbulan selalu di setor dengan alasan untuk makan gue sehari-hari dan lainnya.
Padahal pakaian di laundry, paling pakaian dalam aja di sikat sendiri. Makan juga banyak di luar, atau masak sendiri. Tapi gue hanya bisa memaklumi aja, hitung-hitung membantu mereka dengan ekonomi di bilang kaya enggak, di bilang miskin juga enggak.
Perjuangan gue mendapatkan motor ini butuh waktu dan tenaga yang lebih keras saat itu.
__ADS_1
Jika motor ini adalah makhluk hidup, mungkin lebih tau bagaimana mencari uang dengan hujan, dan panas selalu menyertai setiap harinya kami lalui bersama.
Gue letakkan motor kesayangan di tempat khusus kendaraan, atas arahan Mas Abyan.
Mengambil kantong plastik berwarna hitam, yang berada di dalam jok motor.
Membawa dua bungkus bakso ke dalam apartemen. Jika Mas Abyan tidak suka, tinggal gue letakkan di dalam kulkas, besok bisa di hangatkan kembali. Selesaikan masalah baksonya, takut di makan atau enggak.
Tadinya ingin membeli satu bungkus saja, ingat sudah punya teman halal di rumah, sekalian di belikan juga.
Hebat ya gue sekarang punya teman, nggak tanggung-tanggung di beri Tuhan pengusaha sukses. Teman hidup pula, sepertinya Tuhan nggak mau gue hidup susah lagi, terimakasih ya Allah.
Sekarang gue bersuami aja ya, sadar gue yang kemarin-kemarin masih bermimpi. Di bangunkan oleh perang dingin tadi siang.
Sampai di depan pintu, menekan tombol huruf untuk membukanya. Kunci di sini memakai smart door lock, pakai huruf. Dulu gue pakai kunci manual, besi. Sekarang berbeda, nggak takut lagi ketinggalan kunci kalau kemana-mana, juga nggak ribet.
Tapi itulah, mahal harganya. Mau irit yah pakai yang manual aja sih walau ribet.
Penglihatan gue pertama kali, melihat wajah ganteng suami gue sedang fokus ke layar laptop, dengan beberapa dokumen yang berserakan di atas meja.
Mas Abyan tersenyum manis, melihat ke arah gue, saat menutup pintu. Capek gue pulang kerja, melihat Mas Abyan tiba-tiba hilang entah ke mana.
"Lagi sibuk ya, Mas?" tanyaku mendekatinya.
"Ini barusan aja selesai." Mas Abyan melihat ke arah bawaanku. "Itu apa, Ay?" penasarannya.
Ku angkat plastik hitam di tangan. "Dua bungkus bakso, Mamas mau nggak?" tawarku.
Senyumnya. "Mamas mau."
"Iya udah, aku ke kamar dulu ganti pakaian, baru kita makan." inginku berjalan, tapi berhenti kembali melihat ke arah Mas Abyan. "Mamas udah makan nasi belum?" biasanya orang Indonesia kalau belum makan nasi, belum makan.
"Udah, Ay." jawab Mas Abyan sambil membereskan dokumen. "Kamu Ay, sudah makan nasi belum?" baliknya bertanya.
"Sudah juga Mas, di kantin rumah sakit tadi." berjalan ke arah meja makan, meletakan bungkusan plastik hitam.
"Aku ke kamar dulu Mas, tunggu sebentar."
"Hmmm!" senyumnya melihatku.
Jalan ke kamar, menutup pedal pintu, meletakkan tas di atas ranjang. Jalan langsung ke kamar mandi membersihkan tubuh dulu sebentar, sebelum bertemu Mas Abyan, karena bau keringat. Cukup waktu pertama bertemu aja, gue nggak mandi di tambah bau tubuh yang mungkin Mas Abyan menyadari hal itu. Bisa jadi juga, parfum yang gue semprot menutupi semua bau.
__ADS_1
Bersambung...