
"Ra, gue antar sampai sini ya. Lu masuk aja naik lift nomor seratus lima puluh. Gue ada kerjaan." ucap Falisha yang berada di dalam mobil, sedangkan gue sudah turun dan berdiri di sampingnya.
"Iya Sha, makasih ya?"
"Iya sama-sama, dada." ucap Falisha yang melaju pergi dengan mobil mewahnya.
Gue yang berdiri di luar, langsung masuk ke dalam mengikuti arahan dari Falisha
"Mas, aku sudah di depan." mengirim pesan.
Beberapa saat Mas Abyan membuka pintu. "Masuk, Ay." senyum Mas Abyan menyambutku.
Apartemen yang cukup luas, bersih, dan rapi, lihatku pada rumah baru lagi.
"Kamar kamu di sana, Ay. Kamar Mamas di sana." tunjuknya berhadapan dengan dua kamar berpintu berwarna hitam.
"Kita pisah kamar sekarang ya, Mas?" tanyaku dengan pasti, takut menduga-duga tak benar.
"Kamu mau kita sekamar?" tanya Mas Abyan dengan tersenyum.
"Aku ikut aja, Mas."
"Kamu nyamannya di mana?"
Ada rasa kurang menyenangkan terletak di tengah-tengah kami, tapi ada juga rasa nyaman bahwa Mas Abyan menghormatiku sebagai teman.
Apa yang harus gue jawab?
"Mas, aku ke kamar dulu ya ganti pakaian." bingungku ingin menjawab apa?
"Di sana sudah ada kopermu dan pakaian tambahan di lemari. Ibu nyusunnya tadi."
"Iya Mas, terimakasih" ucapku berjalan ke arah kamar.
Mas Abyan hanya mengangguk saja.
Jika Ibu menyusun pakaian gue, apa beliau tau tetang kami pisah kamar?
Masuk ke dalam kamar, menutupnya dengan rapat. Melihat kamar baru, lebih luas dan lebih bagus dari tempatku kemarin. Tapi terlihat hampa.
Air mata seketika luruh, Tuhan memberiku tempat yang baru lagi, setelah berpindah-pindah rumah. Rasa syukur sudah mempunyai kamar sendiri tanpa bergabung dengan saudari, sepupu, atau sanak keluarga lainnya.
Kamar yang luas, namun terlihat kosong.
Itulah gue, kosong tanpa arah.
Gue yang berusia dua puluh delapan tahun sebentar lagi dia puluh sembilan tahun dengan kondisi yang sudah menjadi istri orang.
Dulunya hidup di atur keluarga, sekarang di atur suami.
Sudah sebesar ini, gue masih berada di dalam sangkar terkurung dengan jeruji besi. Inginku terbang melintasi dunia, mengepakkan sayapku dengan lebar, menikmati setiap momen-momen indah di sana.
__ADS_1
Tapi gue takut dengan dunia yang kejam ini. Takutku mengalahkan semuanya, sampai terjun ke dasar lautan tenggelam bersama mimpi.
Mengganti pakaian, dengan nyaman keluar kamar. Melihat sekeliling tidak menemukan Mas Abyan di mana-mana, mungkin dirinya sedang berada di dalam kamar juga.
Gue masih berdiri di depan pintu kamar dengan penglihatanku melihat ke arah pintu kamar Mas Abyan.
Seketika menyadari, kamar yang kosong itu bukan gue aja, tapi di hadapanku juga,
Namun penuh dengan rahasia. Pernahku membaca sebuah buku, berjudul kamar kosong. Dalam pembahasannya, penuh dengan kisah horor, tapi berbanding terbalik dengan kamar kosong di hadapanku.
Ternyata di ketahui kamar itu berisi seseorang laki-laki dengan rahasia menyedihkan. Sulit di laluinya sama sepertiku.
Ingin rasanya masuk ke dalam sana, mendapatkan rahasia baru lainnya.
Menjalani dengan hati-hati mendekati secara perlahan.
Seharusnya gue berterima kasih pada laki-laki tersebut, saat ini dirinya telah melindungiku menggantikan keluargaku. Bukan mencari cela untuk membuka privasinya.
***
Selesai shalat magrib dan beristirahat penuh, gue langsung menguncir rambut yang sebatas bahu dengan gaya kuncir kuda.
Hijab langsunganku di letakkan di atas bahu, siapa tau jika ada tamu diri ini tak berlari-lari seperti di kejar hantu.
Semenjak Mas Abyan ceramah kemarin, dan membukanya langsung, jadinya tak segan lagi membuka aurat walau hanya sebatas rambut.
Berjalan keluar kamar, menuju dapur minimalis modern membuka kulkas, siapa tau bisa memasak untuk makan malam. Ternyata kulkas itu penuh berisi berbagai macam bahan makanan dengan ukuran besar dua pintu, mungkin Mas Abyan atau Ibu Sari yang mengisinya.
Memasang celemek di tubuh, biar nggak kecipratan sama masakan.
Di pikir-pikir, apa boleh gue main masak di rumah milik Mas Abyan? Tapikan, Mas Abyan suami gue. Sudahlah masa bodoh kalau nanti Mas Abyan marah. Mencari alat masak yang di letakkan di atas lemari.
Gue tau kalau Mas Abyan tinggi. Jadi barangnya pada di letak di lemari atas, tapi gue mau masak gimana ngambilnya?
Lihat sekeliling ternyata ada kursi, di dekat meja makan.
Menarik kursi ke depan lemari atas, naik mengambil wajan, tibalah Mas Abyan dari belakang mengambilnya langsung. Seketika jantungku berdegup kencang. "Ya Allah Mas." pekikku turun dari kursi.
"Kenapa, Ay?" melihat ke arahku.
Jarak kami berdua benar-benar dekat.
"Mas, bilang dong kalau di belakang." omelku.
"Lupa, Ay. Soalnya kamu terlalu fokus mikirnya. Lagian kenapa naik kursi? Di ujung sana ada tangga khusus yang tingginya di bawah Mamas." tunjuknya di ujung dinding terselip di sana.
"Iya udah, sekarang minggir. Sini wajannya." ambil paksa di tangan Mas Abyan.
"Masak apa, Ay?" berdiri di sampingku.
"Masak Ayam goreng, sama sayur katuk. Mamas mau?" fokusku mengiris bawang. Sayurnya telah di petik tersimpan rapi di dalam kantong plastik, jadi gue masak tinggal seng.
__ADS_1
"Apa aja, Ay. Mamas makan." senyumnya melihatku.
Gila nih jantung gue goyang hebo di senyumin terus. Ada rasa aneh saat senyum itu terpancarkan.
"Iya udah Mamas tunggu di sana dulu, aku masak sebentar." tunjukku ke kursi sofa depan televisi berukuran besar.
"Nggak mau di bantuin?" tawarnya.
"Nggak Mas, bentar aja kok."
CUP!
"Mas tunggu." senyumnya meninggalkan gue yang diam berdiri, akibat ciuman mendarat tepat di pipiku.
"Ay..." tangan Mas Abyan melambai.
Gue tersadar, gila nih Mas Abyan main nyosor aja.
"Nggak apa-apa, Mas." malasku berkomentar dengan wajah datar.
Dengan cepat gue masak, geli sumpah. Jantung nih detaknya nggak beraturan nggak berhenti-henti goyang dumang.
Beberapa menit saja masakan sederhanaku hidangkan.
"Yuk, Mas. Makan." ajakku saat piring Mas Abyan sudahku isi.
"Hmmm!" berjalan mendekati dan duduk di hadapanku.
"Besok kerja masuk apa, Ay?" tanyanya yang sadar gue masih marah kalau di perhatikan.
Padahal gue malu di cium perdana oleh laki-laki. Rasanya ingin lompat-lompat, jungkir balik.
Kenapa jadi gatel gini gue?
"Sore, Mas." jawabku seadanya tanpa balik bertanya.
"Pulang Mas jemput ya?"
"Itu, Mas. Rencana besok pagi aku mau ke rumah bibi, ambil sisa barang sama motor Mas." izinku sebelum pergi besok.
"Mas anterin ya?" tawarnya.
"Nggak Mas, barangku dikit kok." jawabku menolak.
"Enggak enaklah, Ay. Mamasnya." nada yang sedikit manja.
"Kalau Mamas ikut, berati pulangnya aku bawa motor, nggak papa seperti itu?"
"Kamu tetap ikut Mamas, hanya saja motor kamu di bawa sama orang suruhan Mamas." jelasnya.
Gue ngerasa Mas Abyan aneh, apa dia mendekatiku secara halus, atau hanya sekedar bentuk tanggung jawab sebagai suami. Berpikirku sambil mengunyah makanan.
__ADS_1
Bersambung...