
POV Zahra
Aah...
Perlahan membuka mata, hmmm! Silaunya.
mengedipkan mata sesekali agar bisa melihat dimana gue sekarang.
Tubuhku begitu ringan, bayangan terlintas kecelakaan terjadi menimpahku.
Apa mungkin, gue telah mati?
Melihat sekeliling mencari tau di mana gue sekarang?
Mataku berhenti, melihat Mas Abyan tengah berdiri di dekat jendela, dengan tersenyum manis menggendong bayi mungil di tangannya.
Apa itu anak kami?
Perlahan jari tangan Mas Abyan mengelus lembut pipi mungil yang terlihat sedang tidur di dekapannya.
Apa sekarang gue bisa melihat mereka seperti ini saja?
Apa gue sekarang telah mati?
"Oeeek... Oeeek..."
Ah suara bayi lagi?
Mas Abyan langsung melihat box bayi di dekatnya.
Ah... Anak kami kembar. Alhamdulillah ya Allah.
Air mataku tidak bisa di tahan lagi, mengalir begitu saja.
Mas Abyan melihatku.
"Ay..." panggilnya lembut, melihatku.
Ah... Gue masih hidupkah?
Mas Abyan tersenyum, matanya memerah, meletakkan bayi mungil di tangannya di dalam box, secara perlahan mendekatiku.
Langsungnya memeluk, isak tangis, tubuh Mas Abyan bergetar hebat.
Kami menangis bersama, jujur rasa ini tidak bisa di percaya, Tuhan memberikanku untuk hidup kembali.
Pelukan Mas Abyan semakin kuat. "Mas-Mas, aku nggak bisa bernafas." dipeluk Mas Abyan begitu kuat.
Mas Abyan duduk. "Ay..." wajahnya memerah. "Apa yang sakit, Ay?" dirinya memeriksaku dengan raut wajah begitu cemas.
Hanya bisa tersenyum melihat Mas Abyan begitu paniknya. "Mas, kamu meluk aku, atau mau bunuh aku secara perlahan sih?" candaku agar Mas Abyan merasa santai.
"Ay, serius?"
"Serius, Mas."
"Alhamdulillah." ucap Mas Abyan memejamkan mata, aliran air itu begitu deras. Rasa legah terlihat di dirinya.
"Mas, itu anak kita?" tunjukku pada box bayi.
Mas Abyan tersenyum. "Iya, Ay. Anak kita kembar. Berjenis kelamin laki-laki semua."
Apa?
"Kembar berapa, Mas?"
Mas Abyan mengangkat jarinya berbentuk angka dua.
Apa?
__ADS_1
Du-dua.
Gue mau lihat. "Ay..." Mas Abyan menahanku saat ingin berdiri.
"Pelan-pelan, kondisi kamu masih dalam pemulihan, lepas alat dulu baru bisa duduk." Mas Abyan mengingatiku.
Benar adanya, selang di mulutku, oksigen masih menempel di hidung, serta alat lainnya memenuhi tubuhku.
Ini kalau di perhatikan, gue sekarat tadinya. Masa gue bisa selamat.
"Berapa lama, aku tidur di rumah sakit, Mas?" ingin tauku.
"Dua bulan, Ay." jawab Mas Abyan menahan air matanya.
Apa?
Dua bulan gue tidur di sini.
Itu arwah gue kemana selama ini?
"Sebentar Mamas, bawa anak kita ke sini." Mas Abyan berdiri mendekati box bayi untuk di bawa mendekatiku.
Mas Abyan mengambil anak kami seperti dirinya telah biasa membawa bayi di tangannya.
Mendekati ke wajahku.
Hmmm, gantengnya.
Mencium lembut pipi mungil, ya Allah terimakasih telah memberikanku dua malaikat ini untukku.
"Ganteng seperti kamu, Mas." melihat Mas Abyan.
Mas Abyan hanya tersenyum-senyum. "Seperti kamu, Ay."
Bisa ya Mas Abyan gombal di kondisi begini.
"Lebih tepat, kita berdua, Ay."
"Lebih tepat ke arah Mamas." jujurku.
Mas Abyan semakin tersenyum-senyum. "Membuatnya kita berdua, Ay. Masa Mamas sendiri, mana bisa." jelas Mas Abyan ada benarnya. Tapi, ah sudahlah.
"Siapa namanya, Mas?" siapa tau Mas Abyan telah memberi nama.
Mas Abyan meletakkan anak kami di dalam box, secara perlahan. "Belum, Ay. Mamas mau kamu sendiri yang memberikan namanya." Mas Abyan duduk di sampingku.
"Kenapa aku, Mas?" ingin tauku. Nama bukanlah sebuah masalah untukku, yang penting mereka sehat dan selamat.
"Mamas mau kamu yang menentukan. Mamas nggak begitu pintar memilih sebuah nama yang bagus." Mas Abyan terlihat bohong.
Baiklah kalau memang Mas Abyan menyerahkan padaku.
"Anak pertama kita, sudah jelas namanya Azrio pertama ningrajaya. Ke-dua namanya Adam dwi angkasa. Gimana Mas, menurut kamu?"
Mas Abyan memegang tanganku. "Mamas setuju." senyumnya.
Entah hari ini kenapa begitu lebih bahagia ya? Terimakasih ya Allah. Mataku melihat ruangan.
"Kita di rumah sakit ya, Mas?"
"Iya, Ay. Soalnya di sini kita bisa melakukan tindakan apapun jika kamu kenapa-napa." Mas Abyan mengusap lembut tanganku.
"Semuanya kemana?" kenapa hanya ada Mas Abyan?
"Semuanya baru aja pulang, Ay. Falisha dan Mika sedang hamil."
Apa? "Alhamdulillah, jadi?" ingin tauku selanjutnya gimana kabar mereka.
"Mereka dalam fase mual dan muntah yang cukup parah. Berbeda denganmu, Ay. Sampai-sampai mereka berdua di infus nggak masuk makan maupun minum." jelas Mas Abyan membuatku merasa sedih, membayangkan kondisi mereka. "Terus mereka pulang?"
__ADS_1
"Katanya mau ke sini lagi, temani Mamas seperti biasa. Ada Oma, Ibu, Bi Nur, Bi Rosida dan lainnya. Saling gantian ngasuh baby boy." jelas Mas Abyan terlihat bahagia.
"Terimakasih ya, Mas?" nggak tau harus apa untuk membalas mereka semua.
"Ay, jangan berpikir hal lain. Pikirkan cara kamu sehat seperti biasa, itu sudah membalas kami semua. Mamas nggak tau harus apa, jik-"
"Mas..." putusku sebelum Mas Abyan menangis lagi. "Nggak akan terjadi apa-apa." usahaku menenangkan Mas Abyan.
Mas Abyan tersenyum manis, memberikan kode bahwa ucapanku benar.
"Mas, kapan ini alat lepas?" membahas ke hal lain. Lagian gue risih dengan kondisi begini.
"Sebentar Mamas lihat dulu." ucap Mas Abyan membuatku terkejut.
"Emang dokternya kemana?" masa Mas Abyan yang memeriksa kondisiku, entar salah gimana? Gue nggak mau jadi bahan percobaan.
"Sebentar." Mas Abyan jalan keluar ruangan.
Ceklek!
Mas Abyan masuk dengan Dokter Idris.
"Alhamdulillah." ucap Dokter Idris. "Ini benar-benar berhasil. Hebat banget loh, Mas." Dokter Idris terlihat bahagia.
Mas Abyan hebat, maksudnya apa?
"Ini semua berhasil atas bantuan elu dan lainnya juga." ucap Mas Abyan.
"Tapi, Mas. Kalau bukan elu yang turun langsung. Semua ini nggak akan terjadi." jelas Dokter Idris membuatku nggak ngerti.
"Maksud kalian apa?" langsung aja bertanya dari pada bingung dengan situasi.
"Ra, Mas Abyan yang langsung operasi elu. Dengan kondisi elu yang terbilang hanya tiga puluh persen untuk selamat." jelas Dokter Idris.
Apa? Maksudnya Mas Abyan.
"Iya, Mamas ini. Mempunyai IQ dan QS tertinggi. Dirinya juga gil-" Dokter Idris memutuskan ucapannya tiba-tiba.
Melihat Mas Abyan tersenyum-senyum.
Aneh dengan mereka berdua.
"Jangan ada ke bohongan di antar kita." tekanku melihat reaksi mereka berdua, curiga gue.
"Intinya operasi yang kami jalankan berhasil. Lebih baik, kamu perbanyak istirahat dan terapi untuk beberapa hari ke depan." jelas Dokter Idris membuatku semakin curiga.
"Lebih baik nggak usah sembuh, dari pada kalian berbohong gini." candaku agar mereka mau mengaku, pasti ada yang di sembunyikan.
"Ay..."
"Tolong ceritakan, Mas." melihat Mas Abyan penuh harapan.
"Baiklah, jika kamu ingin tau. Mamas turun tangan untuk operasi kamu, Ay."
Apa? Sehebat itu Mas Abyan.
"Saat Idris mempertanyakan apa Mamas akan memilih antara kamu dan anak kita. Mamas nggak tinggal diam. Mamas mempunyai kelebihan dalam hal tertentu, jadi Mamas berusaha walau hasilnya akan gagal. Tapi Tuhan memberikan jalan bahwa kamu selamat dan anak kita juga." sambung Mas Abyan.
Masya Allah sehebat itu Mas Abyan.
"Kami semua di bantai Mas Abyan operasi kamu sampai delapan jam di ruangan. Kalau itu gue, pasti nggak bisa." jelas Dokter Idris.
Apa?
"Tapi tenang kami semua telah di bayar dengan setimpal oleh Mamas." ucap Dokter Idris tersenyum. "Sisanya nanti kita bahas lagi. Sekarang kita periksa semua kondisi kamu dan melepaskan alatnya." jelas Dokter Idris kembali.
"Hmmm." itu saja yang bisaku jawab, nggak tau harus berkata apalagi.
Bersambung...
__ADS_1