
Tok tok tok.
Masih belum tidur, hanya menutup mata saja mendengar suara ketukan pintu.
Ceklek!
Mas Abyan baru keluar kamar mandi.
Tok tok tok.
Kembali pintu di ketuk, mau berdiri malas biarlah Mas Abyan aja.
Ceklek!
Sepertinya Mas Abyan yang bukain pintu.
"Hmmm, Oma kenapa di sini?"
Ah Oma yang mengetuk, mataku melihat sedikit ke arah pintu. Mas Abyan memakai handuk setengah pinggang, mulai jantung gue robanahan.
"Hayo Zahra, siap-siap." malaikat berbisik.
"Ngapain harus siap-siap?" jin menyambung.
"Eh, kewajiban istri belum terlaksanakan." jelas malaikat.
"Ah, itu mah mudah, nggak perlu siap-siap segala lebay lu." jin terlihat menyepelekan.
"Eh setan, elu tau apa soal itu?" malaikat mulai panas.
"Gue jin bukan setan." bantahnya.
"Sama aja, beda panggilan." ngeyel malaikat.
"Dah terserah elu."
"Ra, siap-siap gih, selagi Mamas berdiri di depan pintu sama Oma. Pahala Ra, pahala."
"Ih tinggal rayu aja apa susahnya sih?" jin terlihat kesal.
"Eh, sebelum melakukan kewajiban harus siap-siap, seperti mandi, memakai parfum agar wangi, berpakaian lebih menarik, ambil wudhu dulu shalat. Minta sama Tuhan agar di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah. Bukan seperti elu jin main sikat main embat apa pun lewat."
"Eh emang gitu yang nikmat."
Dah pusing mendengar perdebatan para makhluk astral. Hus hus pergi sana menepis makhluk yang berdiri di ke-dua bahuku.
Setelahnya fokus kembali melihat Mas Abyan dan Oma Farra.
Senyum Oma, mungkin pikirannya Mas Abyan memakai handuk setengah pinggang, lagi main kuda lumping gitu. "Maaf Oma ganggu, hanya ingin memberi teh jahe kesukaan kamu." memberikan secangkir gelas berukuran sedang, Mas Abyan mengambil. "Udah lama kamu nggak minum, biasanya setiap malam sebelum tidur Oma selalu buatin, semenjak udah nikah Oma takut gangguin kamu."
Senyum Mas Abyan. "Nggak apa-apa Oma, santai aja."
"Zahra mana?" Oma terlihat menyelidiki.
Mas Abyan tersenyum. "Hmmm, tidur."
Oma tersenyum-senyum malu, pastinya berpikir aneh-aneh. "Udah kalau gitu cepatan di minum sekarang, cangkirnya mau Oma bawa ke dapur." pintanya.
"Hmmm, sekarang Oma? Biasanya besok Abyan bawa ke sana."
"Sekarang, cepetan." paksanya.
"Hmmm, iya Oma. Bismillahirrahmanirrahim."
Mas Abyan meneguk habis teh jahe buatan Oma. Gue baru tau, Mas Abyan suka minum itu sebelum tidur. Dirinya nggak bilang, kalau bilang tiap hari gue buatin.
"Alhamdulillah, ini Oma." memberikan cangkir ke Oma.
__ADS_1
"Udah kamu lanjut lagi, Oma mau tidur."
"Hmmm!" Mas Abyan tersenyum.
Memejamkan mata lagi, dengan jantung yang masih bermain robanahan.
Mas Abyan mematikan lampu, dirinya terdengar berjalan ke ruang pakaian. Hmmm mata gue udah ngantuk, terpejam bersama mimpi.
Tibanya ke bangun, ranjang kenapa bergoyang terus, sepertinya Mas Abyan gelisah, dirinya yang biasa tidur anteng ayem, ini kenapa rasanya ada gempa?
Membuka mata, sedikit mengintip Mas Abyan, Apa Mamas sakit lagi?
Mas Abyan tibanya duduk, turun dari atas ranjang pergi ke dalam kamar mandi.
Hmmm, mungkin ke belet pipis.
Melihat jam di dinding, menunjukkan jam setengah sebelas, kalau mati lampu jamnya hidup, hebat ya nggak perlu susah-susah buka handphone melihat jam.
Tidur aja lagi.
Hmmm ke bangun lagi, saat mau balik mencari pose yang nyaman. Biasa kalau tidur sama Mas Abyan, gue kurang terlelap.
Melihat sekilas ke samping, Mas Abyan kemana? Tidak terlihat dirinya tidur di samping gue. Melihat jam jam setengah dua belas. Apa masih di dalam kamar mandi?
Ceklek!
Langsung menutup mata lagi.
Dirinya baru keluar. "Ay, bangun pulang yuk." ajaknya tiba-tiba.
"Ay, bangun." suaranya bergetar.
Pura-pura membuka mata seperti orang yang bangun dari tidur.
"Kenapa pulang sekarang, Mas?" duduk perlahan.
"Ayo jangan banyak tanya? Apa kamu mau tinggal di sini aja?" rambut Mas Abyan terlihat basah, airnya saja masih mengalir ke bagian leher.
Mamas kenapa sih, ngajak pulang malam-malam begini?
Mas Abyan menekan telepon. "Pak, siapkan mobil sekarang juga. Saya mau pulang ada urusan." mematikan telepon, sedangkan gue memakai hijab, memasukkan handphone ke dalam tas. Mengambil paper bag berisi pakaian kotor dan bersih.
"Ayo, Ay. Cepat." nafasnya terdengar naik turun, begitu cepat.
"Ah iya, Mas. Udah."
Ceklek!
Mas Abyan jalan keluar begitu cepat, gue yang mengikuti dari belakang sedikit berlarian.
Ceklek!
Membuka pintu keluar rumah, Mas Abyan masuk ke dalam mobil gue mengikuti duduk di sampingnya.
"Mas, kita nggak bilang dulu ke lainnya?"
Mas Abyan hanya diam, wajahnya terlihat merah, pakaian basah, nafas yang tidak beraturan.
"Pak, bilang sama yang lain saya pulang." ucap Mas Abyan pada Pak scurity.
"Iya, Tuan." jawabnya ramah.
Pagar di buka, Mas Abyan langsung menekan pedal gas. Dirinya biasa membawa mobil pelan-pelan ini ngalahin pembalap internasional.
"Mas pelan-pelan, bawa mobilnya." memegang dashboard mobil, takut Mas Abyan berhenti mendadak gue bisa-bisa terbentur.
Mas Abyan diam tanpa menjawab. "Mamas sakit ya?"
__ADS_1
"Jangan banyak tanya, Ay. Mamas lagi fokus." bicara Mas Abyan terdengar menahan sesuatu.
"Ah iya, Mas."
Ya Allah semoga kami selamat sampai tujuan, untung ini jalan mulai sepi karena udah malam.
Sebentar saja mobil sampai di depan pintu pagar.
Tin...
Mas Abyan meminta Pak Amin membukakan pagar.
Tin tin tin.
"Sabar, Mas." melihat Mas Abyan tidak sabaran.
Pintu pagar di buka oleh Pak Amin yang terlihat masih mengantuk.
Mas Abyan langsung membawa mobil masuk, setelah sampai dirinya secepat mungkin keluar dari dalam mobil.
Mengikuti dari belakang, tibanya Mas Abyan berhenti sejenak memegang pintu, pakaian basah entah oleh keringat atau mandi tadi, wajahnya memerah dan nafas yang tidak beraturan.
"Mamas, sakit?" memegang kening Mas Abyan.
Tangan gue di tepis Mas Abyan. "Jangan sentuh Mamas sedikit pun." perintahnya. "Buka pintu."
"Hmmm, iya Mas." menekan tombol huruf membuka pintu.
Mas Abyan berjalan ke dalam rumah, dirinya terlihat sedikit melompat-lompat, lari di tempat, tibanya push up.
Melihat Mas Abyan, aneh banget. Mamas kesurupan apa ya? Ah jika iya serius nih, gue panggil Pak Amin aja kali ya?
"Mamas masih kesurupan?" tanyaku langsung, Eh masa orang kesurupan di tanya sih?
"Ay, teknik apa yang bisa menghilangkan panas di tubuh?" tanyanya membuat gue bingung.
"Hmmm, hidupkan AC." solusiku.
"Udah."
"Buka pakaian."
"Udah tadi."
"Hmmm berendam di air dingin."
"Udah"
"Hmmm," mikir gue apa ya?
"Eh tunggu-tunggu! Mamas sakit lagi?"
"Ah lebih baik kamu masuk ke dalam kamar sekalian di kunci." Mas Abyan jalan ke arah kamar.
"Mamas kenapa sih?" pekikku yang aneh melihat Mas Abyan.
"Mamas sepertinya di beri obat perangsang, lebih baik kamu masuk ke dalam kamar."
Dup!
Menutup pintu begitu kuat.
Apa, obat perangsang? Jangan-jangan dari minuman yang Oma kasih tadi.
Tapi kenapa Mas Abyan nggak ngap gue, malah di tahan? Bukannya bahaya, bisa merusak syaraf bahkan bisa putus kalau dosis yang di berikan terlalu tinggi.
Huuuf!
__ADS_1
Lebih baik gue siap-siap, membantu Mas Abyan, bismillahirrahmanirrahim. Jalan masuk ke dalam kamar meletakkan tas kecil masuk ke dalam kamar mandi.
Bersambung...