
"Yuk, Ay. Istirahat di kamar." ajak Mas Abyan.
Ah sekamar? Bukannya Mas Abyan udah menyetujui keinginanku atau dirinya hanya berpura-pura setuju.
"Kenapa melamun sayang?" ucap Mas Abyan memecahkan lamunanku yang masih duduk, hanya saja tanganku di pegang Mas Abyan.
"Kita sekamar ya, Mas?" berdiri.
"Dua kamar, Ay. Pintunya aja bisa tembus nanti di kunci aja." jelasnya.
"Hmmm, iya Mas."
"Oh ya, pakaian udah di kamar kamu, tinggal mandi aja."
"Iya Mas, makasih."
"Hmmm!" Mas Abyan tersenyum.
***
Dreet dreet dreet.
Getaran handphone di atas meja, mata yang belum terbuka tangan saja mencari handphone, tubuh yang masih berada di dalam selimut tebal menutupi, membuka selimut batas leher melihat layar handphone yang masih belum terlihat jelas warna hijau mengangkat telepon.
"Zahra kamu di mana?" pekik Falisha, membangunkan gue dalam sekejap, rasanya telingaku berdengung.
"Elu bisa nggak sih, kalau bersuara pelan-pelan, masih malam tau." belum sadar.
"Lu masih tidur Ra, ini udah jam delapan tau." teriak Falisha.
Apa? melihat layar handphone, ah gue kesiangan untung hari ini masuk dinas malam.
Ingin merubah posisi kenapa berat banget, tunggu! melihat selimut tebal di samping, membukanya. "Mas Abyan..." pekikku yang langsung duduk, melihatnya tidur santai di belakang gue, lihat semua masih berpakaian lengkap, huuuf... Aman!
"Hmmm, apa sih, Ay. Pagi-pagi udah teriak?" matanya melihatku dengan keadaan terlihat masih mengantuk.
"Zahra elu kenapa?" ingatku telepon Falisha masih tersambung.
"Ah, nggak apa-apa! Elu kenapa nelepon gue?" melirik Mas Abyan kembali memejamkan matanya tangan Mas Abyan memelukku, sedangkan posisinya gue duduk dengan meluruskan ke-dua kaki. Kami berdua yang masih di dalam selimut tebal berwarna putih.
"Elu masih di rumah?" tanya Falisha.
"Ah, di hotel sama Mas Abyan. Kenapa Mik?"
"Lu lupa nama gue?"
Elu nih nggak peka apa di sini ada Mas Abyan. "Oh gue, sama Mas Abyan." memberi kode.
"Oh, ngerti gue. Elu ngapain di sana? Hotel mana?"
"Nginep aja di sini emang nggak boleh?"
"Iya boleh aja! Tapi elu di hotel mana?"
"Di hotel kemarin, waktu ngadain acara."
"Pas banget, gue lagi di kamar seratus dua puluh lantai paling bawah. Ke kamar gue Ra sekarang ada Mika juga."
"Tapikan-"
"Tinggalin aja dulu, Mamas. Ada kabar buruk." paksanya.
Apa? Kabar buruk.
"Ah tunggu sebentar aku izin dulu, tunggu di sana."
"Iya jangan lama-lama."
"Hmmm!" langsung mematikan telepon.
"Siapa, Ay?" masih dengan posisi semula tanpa bergerak dan belum juga membuka mata.
__ADS_1
"Mamas ngapain disini?"
Merapatkan pelukan. "Tidur, Ay."
"Bukannya semalam Mamas tidur di kamar sebelah, lagian pintu aku kunci semua."
"Mamas nggak bisa tidur, terpaksa minta kunci cadangan sama pegawai."
"Kenapa nggak bisa tidur, Mamas sakit?" memegang kening Mas Abyan.
Senyumnya. "Hmmm, kepikiran sama kamu, Ay." masih dengan mata terpejam.
"Emang Mamas mikir apa?"
"Takut kamu sendirian, nggak bisa tidur juga." alasannya.
Hmmm bilang aja nggak mau jauh-jauh dari gue, dasar nggak mau ngaku.
"Hmmm, Mas. Aku ke kamar teman dulu ya, sih Mika yang barusan telepon. Katanya dia lagi butuh pertolongan." bohongku.
Mas Abyan membuka mata, perlahan dirinya duduk, kami berdua berhadapan sangat dekat. Senyumnya, Mas elu bisa ya bikin jantung gue robanahan terus, pagi-pagi bangun tidur lihat ukiran sang maha karya begini. Ingin banget-
Cup!
Mas Abyan mencium bibirku sekilas. "Temuin dulu temanmu, Mamas mau tidur lagi." lanjutnya guling.
Suka Mas Abyan main nyosor lagi.
"Ay, kenapa?"
Cup!
Membalas, mencium bibir Mas Abyan, langsung berdiri.
"Ay kurang." cepatnya duduk, ingin mengambil tanganku tapi nggak sampai.
Berlari ke kamar mandi dengan cepat. "Telat Mas entar aja." menutup pintu.
Gemes banget melihat Mas Abyan. Gini ya rasanya punya pacar halal.
Aduh gue harus cepat, ke kamar Falisha, ada apa sih mereka berdua di sini? Kabar buruk apa yang di ucapnya tadi?
Dengan cepat mandi tidak butuh waktu lama, selesai memakai handuk kimono lupa mengambil pakaian gara-gara Mas Abyan.
Tok tok tok.
"Ay cepatan keluar." pekik Mas Abyan.
Kenapa sih? Untung gue udah selesai.
Ceklek!
"Kenapa Mas?"
Mas Abyan langsung aja masuk ke dalam kamar membuka resleting celana.
"Mas, ngapain?" Langsung jalan keluar.
"Kebelet, Ay." masihnya di dalam kamar mandi.
"Di kamar Mamas ‘kan ada."
"Lupa, Ay. Nggak bisa di tahan lagi." teriaknya.
Jantung gue di buat olahraga aja pagi-pagi.
"Udah, Ay." keluar kamar mandi.
Mengambil paper bag di atas meja. "Kamu belum berpakaian, Ay?"
Mas Abyan melihatku masih menggunakan handuk kimono lengan pendek batas lutut, dengan rambut yang basah.
__ADS_1
"Lupa ambil Mas."
Jangan bilang Mas Abyan.
Senyumnya. "Maaf, Ay. Mamas mengganggu tadi." berjalan mendekat.
"Iya udah aku ke kamar mandi dulu." melihat Mas Abyan berjalan mendekat bulu kuduk gue berdiri.
"Ay..." menarik tanganku langsungnya memeluk dengan erat, kami berdua saling berhadapan, tanganku memegang dadanya, melihat Mas Abyan sedikit ke atas. Tubuhnya yang tinggi membuat gue susah untuk melihat wajah Mas Abyan.
"Mas."
"Boleh nggak cium sekali lagi?" pintanya.
Kondisinya gue masih memakai handuk loh, Mas. Jangan bilang-
Cup!
Mas Abyan langsung mencium bibirku, lidahnya yang mengabsen semua yang ada di dalam. Ciuman panas itu lagi yang dirinya lakukan, tangan Mas Abyan membuka ikatan handuk kimono yang di pakai.
"Mas..." melepas paksa ciuman Mas Abyan.
"Kenapa, Ay?"
"Mas lupa dengan janji kita?" ini harus di hentikan, kalau tidak semuanya sia-sia.
Senyum Mas Abyan melepaskan pelukan, kembalinya mengikat handukku.
"Maaf ada setan lewat." inginnya berjalan ke kamar sebelah.
"Mas..." panggilku.
Mas Abyan berhenti, senyumnya. "Hmmm, kenapa, Ay?" melihatku.
"Mamas menahannya atau-"
Deert deert deert.
Handphoneku kembali bergetar. "Angkatlah telepon kamu, Mamas ada kerjaan." jalannya cepat ke kamar sebelah dengan menutup pintu.
Apa gue keterlaluan ya menunda hak Mas Abyan?
Deert deert deert.
Ah sudahlah, berjalan ke arah meja mengambil handphone melihat tulisan Falisha, langsung mengangkatnya.
"Halo, Sha."
"Ra lama banget sih lu?"
"Mandi bentar, ini mau pakai pakaian."
"Elu habis mandi wajib ya?"
"Mandi pagi biasa dan belum ngapa-ngapain hanya tidur aja." jelasku.
"Bohong loh ya?"
"Nggak percaya ke Dokter kandungan kita."
"Oh iya udah cepetan kesini, nanti aja bahas elu mau ke dokter kandungan, sekarang ini lebih penting kami berdua."
"Iya iya sabar! Emang kenapa sih elu nyuruh gue kesana? Ganggu aja."
"Lu bisa lanjutin nanti, masalahnya ini darurat banget."
"Serius lu?" bikin penasaran.
"Serius cepatan." pintanya.
"Ah iya tunggu! lima menit lagi gue kesana." mematikan handphone, ada apa sih Falisha dan Mika, mereka nggak pernah seperti ini. Berjalan ke kamar mandi memakai pakaian yang sudah di siapkan.
__ADS_1
Bersambung...