Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 106 Periksa


__ADS_3

Kami semua turun dari dalam mobil yang telah di pesan. Gue nggak tau kalau Oma menyewa satu ruangan di rumah sakit terdekat dari penginapan kami.


Yang lebih anehnya lagi, semua ikut kerumah sakit untuk melihat hasil dari kondisi gue.


Entahlah gue harus berpikir apa dengan semua yang mereka lakukan?


Gue ini mau periksa kehamilan, bukan mau lahiran, ingin sekali gue berteriak gitu. Tapi nggak mungkinlah.


"Selamat siang, Bu, Pak. Silahkan ikuti saya." ucap perawat cantik yang menyambut kami.


Ah gue kangen dengan masa-masa kerja dulu. Kapan-kapan jalan ke rumah sakit tempat gue kerja. Kangen dengan teman-teman seperjuangan. Apalagi dengan canda renyah mereka yang selalu menghibur, dah tambah kangen gue.


"Kenapa, Ay?" Mas Abyan terlihat penasaran dengan setiap reaksiku. Semalam aja, gue di larang itu dan ini. Sama banget, gue seperti orang lumpuh yang nggak bisa apa-apa.


Giliran belum tau hamil, gue di hajar sampai subuh. Untung nih yang di dalam perut kuat tahan banting seperti Ibunya.


Ceklek!


Kami semua masuk, gue melihat ruangan itu cukup besar untuk kami semua yang hadir.


"Dokter Jenny." ucap Dokter Idris langsung bersalaman.


"Kenapa lu di sini?" ucap Dokter Jenny terlihat bahagia.


Mereka berdua tak lama melepaskan salaman.


"Ini mau lihat hasil kandungan dari Zahra istri Mas Abyan." ucap Dokter Idris.


"Oh, Bapak Abyan Angkasa yang terkenal kegantengannya itu." sempatnya memuji Mas Abyan.


Mas Abyan hanya tersenyum-senyum.


"Tau lu ya, dengan laki-laki ganteng?" ucap Dokter Idris.


"Maaf, Bu Zahra. Saya hanya bercanda." ucapnya ramah terlihat Dokter Jenny kurang nyaman dengan gue. Yah emang itu yang harus dirinya lakukan, memuji semua gue secara terang-terangan.


"Nggak apa-apa, Dok. Emang suami saya terkenal begitu. Kalau bisa saya jauh-jauh aja jalannya." gue ikut bercanda.


"Kenapa gitu, Bu?" tanya Dokter Jenny.


Mas Abyan juga melihatku dengan rasa kurang nyaman.


"Kalau jalan sama Mamas, nggak bisa tenang." ucapku jujur.


"Hahaha... Haha..." semuanya tertawa.


"Benar banget. Keluarga angkasa earld group memang luar biasa." ucap Dokter Jenny menahan tawa. "Mari kita periksa sekarang." ajaknya masuk ke dalam tirai yang di dalamnya telah penuh dengan alat dan ranjang. "Yang lain bisa duduk di sana." tunjuknya kursi sofa di sudut dinding. "Kalian bisa melihat layar di televisi aja." tunjuknya lagi televisi berukuran besar di dinding.


"Iya, Dok." jawab Dokter Idris.


Sedangkan gue mengikuti arahan Dokter Jenny.


"Naik ke atas ranjang ya, Bu." ucap perawat membantu gue menaikin ranjang.


Perlahan tidur di sana, dengan jantung gue berdegup kencang banget. Gimana ya hasilnya? Gue benar-benar nggak tau kalau sedang hamil. Minum multivitamin aja nggak! Tapi gue rajin makan buah sih.


"Buka dulu, Bu. Pakaiannya sedikit." perintah Dokter Jenny.


"Iya, Dok." gue mengikuti arahan.


Mulai perawat memberikan sedikit cairan seperti jelly di atas perutku, setelah selesai Dokter Jenny meletakkan alat di perutku.


Melihat layar telivisi, jantung gue semakin goyang hebo di dalam sana.


Perlahan alat itu di gerakkan, terlihat sekali bentuk bayi mungil di sana sedang bergerak perlahan. Masya Allah itu anak gue, entah kenapa air mataku membendung?

__ADS_1


"Ra, anak elu udah besar di dalam sana." ucap Mika.


"Mantap banget, Mamas. Bisa buat tuh janin." ucap Dokter Idris. "Belajar gue." candanya terdengar bahagia.


"Lu Dokter, bisa sendirikan." ucap Mas Abyan membuat gue tersenyum.


"Mamaskan profesor. Lebih pintar dariku." bela Dokter Idris.


"Dokter Idris, bisa diam nggak?" ucap Dokter Jenny yang terlihat kurang fokus dengan pembicaraan Mas Abyan dan Dokter Idris. "Kalau elu mau cepat punya anak. Gue ada resep." sambung Dokter Jenny.


"Apa?" tanya Dokter Idris langsung.


"Nanti kita bahas. Fokus dulu dengan kondisi saat ini." ucap Dokter Jenny memberi kode.


"Oke!" jawab Dokter Idris terdengar santai.


Dokter Jenny kembali menggerakkan alatnya melihat untun di dalam perut gue.


"Puji syukur, janinnya berkembang dengan baik."


"Alhamdulillah." ucap serentak Oma, Ibu, Falisha, Mika, Mas Abyan, Mas Darman, Ayah, Pak Aziz, Hanum, Dokter Idris.


"Huuuf!" Dokter Jenny hanya bisa menarik nafas sambil menggelengkan kepala.


"Sepertinya ini janin postur tubuhnya tinggi."


"Alhamdulillah." ucap serentak mereka lagi.


"Semua jari lengkap."


"Alhamdulillah." ucap mereka serentak meramaikan ruangan.


Dokter Jenny berhenti, melepaskan alatnya. Tiba kepalanya keluar sedikit dari tirai.


"Kalian bisa tidak berucap di dalam hati." sepertinya Dokter Jenny benar-benar merasa kesal. "Atau Bapak dan Ibu, bisa tunggu di luar." solusinya.


"Ok! Baiklah." Dokter Jenny kembali melihat gue. "Maaf, Ibu Zahra. Tadi iklan sebentar." ucapnya bercanda.


Gue hanya tersenyum-senyum. Jika lihat Dokter Jenny baik orangnya.


Dokter Jenny meletakkan alat kembali di atas perutku. Tangan satunya lagi, menekan alat.


Jedut jedut jedut!


Terdengar suara detak jantung untun. Masya Allah, air mataku menetes. Gue nggak tau, begini rasanya menjadi seorang ibu.


"Jetak jantung janin, sehat."


"Hiks hiks hiks." terdengar suara tangisan di luar tirai. Apa mereka semua merasa terharu ya?


"Semuanya sehat." ucap Dokter Jenny meletakkan alat. "Silahkan di rapikan kembali pakaian, Ibu Zahra. Kita berbicara di sebelah."


"Iya, Dok." ucap perawat mengelap perutku menggunakan tisu kering, setelahnya membantuku merapikan pakaian.


Gue berdiri perlahan turun dari atas ranjang. Keluar dari dalam tirai.


Melihat semuanya masih menangis, apalagi Mas Abyan.


Gue duduk di hadapan mereka dekat Dokter Jenny.


Mas Abyan berdiri, tibanya duduk di lantai. "Maafkan Mamas, Ay." memegang ke-dua tanganku.


"Mamas duduk di kursi, kenapa di bawah?" gue bingung melihat tingkah laku Mas Abyan.


"Maafkan Mamas selama kamu hamil, Mamas nggak ada dirumah." ucapnya merasa bersalah.

__ADS_1


"Mamas nggak perlu minta maaf. Aku aja baru tau kalau hamil. Lagian nggak ada masalah." jelasku.


"Jadi, kalian semua baru tau kalau, Bu Zahra. Hamil?" tanya Dokter Jenny terlihat penasaran.


Kami semua menganggukkan kepala.


"Usia sudah lima bulan kalian baru tau?" ucap Dokter Jenny membuat gue terkejut.


"Apa?" ucap serentak mereka semua.


"Bukannya baru jalan empat bulan, Dok?" tanyaku.


"Maaf saya lupa tadi bilang, usia kandungan, Bu Zahra. Sebenarnya menghitung masa kehamilan dari haid terakhir Ibu Zahra." jelas Dokter Jenny membuat gue baru sadar.


Terkahir di belikan pembalut sama Mamas lima bulan yang lalu.


"Berarti kurang lebih empat bulan ke depan, Zahra lahiran?" ucap Oma.


"Iya." jawab Dokter Jenny santai. "Gimana ceritanya kalian baru sadar?" Dokter Jenny melihatku. "Termasuk Ibu Zahra."


"Sebenarnya, Dok. Saya itu sibuk dengan pekerjaan, di tambah lupa kapan saya haid. Saya kira terlambat di karenakan stress atau gangguan hormon biasa. Tapi melihat Mas Abyan mual. Semuanya memaksaku tes menggunakan alat, ternyata positif." jelasku sebelum Dokter Jenny salah paham.


"Pak Abyan yang mual, muntah?" Dokter Jenny terlihat bingung.


Gue menganggukkan kepala.


"Luar biasa." ucap Dokter Jenny tersenyum.


"Kata orang zaman dulu, Dok. Tandanya suami itu sangat sayang dan cinta terhadap istrinya. Jadi begitu fenomenanya." ucap Oma membuat gue ingin terbang.


Gue melihat Mas Abyan. "Makanya maafkan Mamas, Ay."


"Aku maafkan, Mas. Tapi, duduk dulu di kursi, jangan begini, rasanya aku seperti Ibu tiri."


"Jangan, Ay."


"Makanya duduk di atas." perintahku.


Mas Abyan mengikuti, duduk di sampingku.


"Gila, ternyata Mamas gue rupa aslinya begini." ucap Falisha mulai menjahili.


"Sama, gue juga baru tau." ucap Hanum.


"Zahra memang bisa mengubah kulkas tiga belas pintu cair." ucap Oma.


"Tuh Oma bisa, berucap kulkas pintunya ada tiga belas." canda Falisha.


"Kulkas tiga belas pintu, Falisha." ucap serentak Oma lainnya.


"Hahaha..." kami semua tertawa.


"Alhamdulillah, intinya kesehatan Zahra dalam keadaan baik-baik saja." ucap Ibu.


"Sekarang Zahra harus pindah kerumah, Oma." ucap Oma.


"Di rumah aja, Oma." tolakku yang ingin bebas.


"Siapa yang menemanimu kalau Abyan lembur?" ucap Oma.


"Pak Amin, kan ada, Oma." jelasku.


"Aku akan kerja dari rumah, Oma." ucap Mas Abyan. "Kalau ada hal yang penting paling Ayah yang handle." sambungnya lagi.


Semuanya tersenyum. "Oke, Ayah setuju." ucap Ayah.

__ADS_1


"Alhamdulillah."


Bersambung...


__ADS_2